
Luna langsung menemani Nyonya Kamaratih ke Singapura bersama Dayat untuk berobat. Dengan sedikit berat hati harus meninggalkan mama juga adiknya. Belum lagi meninggalkan butik dan terutama gak ketemu Damar meski hanya sementara waktu.
Seminggu pun berlalu tanpa terasa. Luna sibuk menemani Nyonya Kamaratih di rumah sakit. Namun, kerinduannya kepada Damar gak akan terlupakan. Apalagi Damar belum menelponnya juga. Masalahnya perbedaan waktu yang membuat Luna ragu untuk menghubungi Damar lebih dulu.
Apa Damar kepincut gadis lain, ya? Awas aja kalau macam-macam! Luna sudah sengit aja membayangkan apa yang dilakukan Damar.
Tapi, Luna gak berhenti cemas juga dan menanyakannya kepada Dayat. Saat ini mereka sedang makan siang di cafe rumah sakit.
"Apa Damar menghubungimu, mang?" tanya Luna yang sudah gak bisa menahan kerinduannya.
"Tidak, nona. Mungkin Tuan Damar masih sibuk!" jawab Dayat singkat. Dia juga merasa aneh karena Damar juga gak menghubunginya terlebih Nona Luna.
Luna terdiam. Damar tidak biasanya seperti ini.
"I-iya. Mungkin dia memang sibuk. Tapi masa sih sama sekali gak ada waktu menelpon atau kirim pesan!" gerutu Luna, "hasil pemeriksaan Nyonya Kamaratih akan diberikan sekarang. Apa menurutmu keadaannya baik-baik saja?"
Luna beralih soal kondisi Nyonya Kamaratih agar gak terlalu memikirkan sikap Damar.
Dayat terdiam. Sepertinya dia harus jujur soal kondisi Nyonya Kamaratih sekarang.
"Sebenarnya penyakit nyonya sudah terdeteksi dari beberapa bulan yang lalu. Apa nona ingat waktu kita bertemu di rumah sakit? Saat itu nyonya pingsan dan nona menolongnya!"
Luna berusaha mengingat pada waktu yang dikatakan Dayat.
"Iya, aku ingat. Apa yang terjadi saat itu?"
Dayat menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Sebenarnya saat itu nyonya sudah divonis menderita penyakit kanker. Tapi, nyonya gak mau Tuan Damar tahu jadi merahasiakannya. Untuk sementara hanya berobat ke rumah sakit terdekat padahal dokter sudah menyarankan untuk kemotherapi," ungkap Dayat.
Luna terdiam. Kanker! Penyakit itu sangat berbahaya dan Nyonya Kamaratih memilih untuk menyembunyikannya.
"Astaga, mang! Penyakit itu sangat serius. Kenapa Damar gak boleh tahu?"
__ADS_1
Luna benar-benar terkejut. Apalagi Nyonya Kamaratih gak kelihatan sakit parah.
"Nyonya gak mau Tuan Damar mengundurkan pernikahannya dengan nona. Nyonya takut gak punya waktu melihat kalian menikah!"
Luna gak mampu menahan air matanya. Kalau di depan Nyonya Kamaratih gak mungkin bisa menumpahkan kesedihannya.
"Tapi, Damar harus tahu masalah sepenting ini. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika mengetahuinya. Lebih baik menunggu sampai Nyonya Kamartih benar-benar sembuh!"
Tanpa terasa airmatanya mengalir. Entah kenapa hatinya menjadi selemah itu. Mungkin karena tahu penyakit Kanker sangat susah sembuhnya.
"Maaf, nona. Itulah sebabnya Nyonya Kamaratih menyembunyikan penyakitnya. Terlebih lagi karena nona juga gak mau menikah kalau mengetahuinya!"
"Baiklah! Aku akan menemani Nyonya Kamaratih sampai sembuh!" tekad Luna sambil menyeka airmatanya.
"Bukan gitu, nona. Setelah kemo sekali, nyonya berniat akan pulang dan menyiapkan pernikahan nona dan Tuan Damar. Setelah tiga bulan baru akan kesini lagi!"
Luna tercengang mendengar rencana Nyonya Kamaratih.
"Kenapa seperti itu? Aku alan bicara langsung dengannya. Aku janji akan menemaninya sampai berapa lama pun!"
Luna terdiam dan menarik napas panjang. Apakah terus menutupi kabar buruk itu dari Damar? Luna semakin gak menentu.
*****
"Hai, Prilly cantiiiq!"
Jion datang juga ke butik Luna. Dia harus membuat beberapa jas untuk keperluan foto.
"Hallo, Jion Sayang. Sombong ya, ga pernah kesini. Aku dengan kamu lagi dekat sama Yuki, ya?"
Jion tertawa kecil. Kabar cepat sekali beredar. Padahal terakhir bertemu Yuki adalah saat pertunangan Luna seminggu yang lalu.
"Kamu kan tahu gosip. Aku hanya mengantar Yuki. Aku kesini juga mau menanyakan Luna kenapa aku gak diundang? Apa dia masih marah?"
__ADS_1
Jion menghempaskan tubuhnya di sofa sambil memerhatikan keadaan butik. Tempat itu gak terlalu besar tapi lumayan nyaman.
"Buat apa ngundang kamu? Lagian kamu juga pasti datang meski gak diundang!" celetuk Sarah yang duduk sedikit jauh.
"Aakh, Kak Sarah. Sebenarnya aku memang malas datang karena Luna gak ngundang, kok!" bela Jion pada dirinya sendiri. Padahal dia pasti datang juga meski hanya melihatnya dari kejauhan.
"Iya, iya. Memangnya kamu mau foto dengan tema apa, say? Aku bisΓ membuatkan gambarnya dengan sekejap mata!" cetus Prilly.
"Tentu aja summer dong, Prilly Cantiiq. Buatkan aku setelan yang sangat bergairah seperti diriku!"
"Oke, saay. Tunggu aja lima menit, ya!" Prilly langsung negambil pensil dan buku designnya.
"Sekarang Lunanya dimana? Apa dia gak kesini?" Jion mulai mencari Luna. Memang itulah maksud awalnya.
"Luna ke Singapura sama mamahnya Tuan Damar sejak hari pertunangannya!" jawab Sarah setelah melirik Prilly sedang serius.
"Ke Singapura? Sama Damar juga?" Jion sangat terkejut Luna pergi bersama Damar.
"Tuan Damar gak ikut. Luna pergi untuk mengantar Nyonya Kamaratih berobat!"
"Apa Nyonya Kamaratih sakit? Sewaktu di acara pertunangan Luna, beliau terlihat sehat dan cantik!"
"Apa kamu naksir sama Nyonya Kamaratih juga?" tanya Sarah sedikit menggoda.
"Kalau kami bertemu sepuluh tahun yang lalu mungkin aku tergoda juga!" jawab Jion santai.
"Hei! Saat itu kan kamu masih sama Luna! Emang dasar mata keranjang!" teriak Prilly tiba-tiba.
Jion tertawa lebar. Waktu itu memang dirinya masih mata keranjang!
*****
Sementara itu, Damar sudah sampai ke suatu tempat bersama Ikhsan. Tempat itu adalah kantor polisi. Apa yang akan dia lakukan di tempat itu? Apa Damar akan di penjara???
__ADS_1
π€π€π€π€π€