TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
JEBAKAN MAUT #3


__ADS_3

Lima belas menit sebelum Luna sampai di hotel.


Sony tengah melihat ke luar jendela ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Darimana Luna mengetahui kode di pintu? Aakh, biarkan saja! Semuanya akan menjadi lebih mudah.


"Hai, sayang. Akhirnya kamu datang juga!" ucap Sony sambil membalikkan badannya.


Namun, alangkah terkejutnya Sony setelah melihat bukan Luna yang ada di hadapannya.


"Iya, sayang. Aku datang untuk memberimu pelajaran!" ucap perempuan itu yang langsung menusukkan sebilah pisau yang dipegangnya ke perut Sony.


"Ka-kamu ...."


Sony melotot ketika pisau itu menancap di perutnya, darah langsung muncrat dan membasahi lantai. Gak lama kemudian tubuhnya pun ambruk. Sony masih merasakan sakit demikian sangat. Dia melihat perempuan itu tersenyum tipis dan pergi begitu saja.


Tak lama kemudian, Luna datang. Sony masih bisa melihatnya dengan jelas. Dia ingin memberitahu siapa yang sudah menusuknya. Namun, lidahnya terasa kaku. Sedetik kemudian, pandangannya menjadi gelap.


*****


Damar sangat terkejut ketika melihat siaran langsung di tv soal percobaan pembunuhan di sebuah hotel. Tersangkanya adalah seorang perempuan berinisial L. Hatinya gak menentu. Jangan-jangan ....


"Tuan Damar! Apa melihat berita di tv? Apa tersangka perempuan itu adalah Luna?" Sarah langsung menghubungi Damar dari hapenya.


"Iya, aku melihatnya juga. Wajah perempuan itu diblur tapi aku masih bisa mengenalinya! Aku akan menghubungi pengacara dan menemuinya di kantor polisi!" jawab Damar yang segera bergerak cepat. Dia gak percaya kalau Luna sampai melakukan perbuatan jahat itu. Kalau pun sampai terjadi, Luna pasti punya alasan kuat.


"Aku sudah curiga pasti terjadi sesuatu! Aku juga mau ke kantor polisi," ucap Sarah lagi sambil menutup hapenya. Dia pun bergegas menuju ke kantor polisi.


Damar segera menghubungi pengacara dan Rani. Tetapi hape Rani gak bisa dihubungi. Dia pun menghubungi Mang Dayat.


"Rani kemana, mang? Hapenya gak bisa dihubungi!" tanyanya begitu tersambung dengan hape Dayat.


"Bu Rani sedang keluar kota, tuan. Mungkin disana gak ada signal. Memangnya ada apa, tuan?" Dayat malah kepo.


"Tolong jaga mamaku aja, mang. Jangan melihat berita di tv dulu. Nanti aku akan jelaskan kalau sudah di rumah! Kalau Rani sudah pulang tolong hubungi aku!" jelas Damar.


Gak menunggu lama, Damar segera menuju ke kantor polisi. Pengacaranya juga sudah ke sana. Namanya adalah Ikhsan. Dia adalah pengacara perusahaannya.


Aakh, Luna! Mengapa sampai seperti ini. Bukankah lebih mudah menerima lamarannya dan semua berjalan lancar. Tapi, Damar gak mau menyalahkan Luna. Dia pasti punya alasan sendiri.


*****

__ADS_1


Yuki masih berada di kantornya. Saat ini, Luna pasti sudah bertemu pamannya. Ada seorang lagi yang akan memergoki mereka. Yuki sedikit menyesal karena gak melihat peristiwa itu. Pasti menyenang melihat Luna mengalami kejadian seperti dulu.


Tiba-tiba, hapenya bunyi. Pasti dari istri pamannya yaitu Yulia.


"Bagaimana, tante. Apa perempuan itu sudah mendapatkan pelajaran?"


"Selingkuhan ommu itu sudah menusuknya, Ki. Sepertinya perempuan itu sudah meminta sesuatu tapi Sony gak mau melakukannya!" jelas Yulia.


Yuki tertegun mendengar berita itu, "ba-bagaimana bisa seperti itu, tante? Mengapa Luna melakukannya?" tanya Yuki dengan suara gemetar.


Yuki gak menyangka sampai seperti itu. Sebelumnya, dia memang sengaja memberitahu istri omnya itu kalau Luna akan menemui suaminya. Mengira kalau Luna akan tertangkap basah sudah selingkuh dengan omnya. Seperti kejadian waktu dulu.Tapi tidak separah ini!


"Apa kamu gak kelewatan? Aku tahu kamu terlibat dengan semua ini. Luna gak mungkin melukai pamanmu, semut aja gak tega dilukainya!"


Tiba-tiba, Jion muncul. Dia melihat berita soal Luna ketika masih di dalam pesawat. Sebuah kado sudah disiapkan untuk Luna. Tapi peristiwa mengerikan itu keburu terjadi.


"Apa salahku? Aku gak tahu apa-apa. Luna sudah melukai pamanku. Kalau sampai meninggal, dia harus mendekam dipenjara selamanya!" sahut Yuki yang merasa gak bersalah.


"Aku tahu semua rahasiamu, Yuki. Masalah Luna ketika masih kerja di perusahaan papamu. Saat itu, kamu sudah mengatakan kebohongan. Sekarang kamu juga pasti terlibat. Kali ini, aku gak akan diam saja!" gertak Jion.


Yuki semakin pucat. Ancaman Jion sepertinya gak main-main.


"Aku salah sudah mengenalmu, Yuki. Aku sudah dibutakan dengan materi dan melupakan perasaanku sendiri. Kini aku sadar, Luna adalah segalanya bagiku!"


Tiba-tiba, Yuki tertawa. Walaupun matanya basah.


"Pergilah! Temui perempuan itu di dalam penjara!" ucapnya tanpa keraguan. Dia sama sekali gak menyesali apapun yang sudah terjadi. Luna sudah hancur. Damar pasti gak akan menerimanya, begitu juga Nyonya Kamaratih. Dia gak akan mau mempunyai menantu seorang tahanan!


"Ya! Aku akan menemui luna. Apa kamu tahu? Aku menyimpan video kejadian dulu. Aku akan mengirimkannya kepada papamu!" ungkap Jion sebelum pergi.


Yuki kembali gemetar. Tidak! Jion pasti berbohong. Video Cctv itu sudah dihapus. Mana mungkin Jion memilikinya. Dia pasti hanya menggertaknya aja.


*****


Laras sampai juga di rumah sakit. Beberapa media juga sudah berkumpul. Sebenarnya Laras ingin ke kantor polisi dan mencari tahu siapa perempuan tersangka itu. Dia merasa pernah melihatnya.


"Laras!" Terdengar seseorang nemanggilnya. Laras menoleh dan melihat dokter Raffi baru saja akan pulang.


"Oh iya, dok. Apa dokter sudah mau pulang?" tanya Laras ketika melihat Raffi membawa tas kerjanya.

__ADS_1


"Iya, Ras. Apa ada kecelakaan lagi? Tapi, aku lagi gak bertugas!"


"Gak apa-apa, dok. Lebih baik dokter pulang aja dan istirahat. Tadi ada laki-laki korban penusukan. Kami akan menyiarkannya," ucap Laras yang gak mau Raffi kecapean.


"Aku akan melihatnya sebentar! Kamu tunggu aja disini," ujar Raffi yang kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Laras gak sempat melarangnya. Padahal dia gak mau merepotkan dokter Raffi. Gak lama kemudian, wanita yang mengaku istri korban muncul. Wajahnya sangat aneh dan selalu tersenyum. Dia gak kelihatan sedih sama sekali. Laras yakin wanita itu menyembunyikan sesuatu!


Raffi menuju ke ruang Ugd dan mencari pasien korban penusukan yang diceritakan Laras. Gak lama kemudian, dia melihat seorang laki-laki yang sedang ditangani dokter.


"Bagaimana kondisi pasien ini, dokter Tarra?" tanya Raffi kepada dokter Tarra yang sedang bertugas di Ugd.


"Pasien tertusuk pisau di perutnya, dok. Tapi tidak sampai mengenai organ dalam. Dia hanya kekurangan banyak darah! Kemungkinan hidupnya hanya enam puluh persen," jawab dokter Tarra sambil membersihkan luka bekas tusukan pisau diperut pasien itu.


"Apa perlu aku bantu, dok?"


"Tidak usah, dok. Saya masih bisa menanganinya," sahut dokter Tarra lagi. Kondisi pasien itu memang tidak terlalu parah. Dia hanya pingsan karena banyak darah yang keluar dari tubuhnya.


"Baiklah, dok. Saya permisi dulu!"


Dokter Tarra hanya mengangguk dan kembali serius menangani pasiennya.


Laras sedikit tenang ketika dokter Raffi keluar dari ruang Ugd.


"Bagaimana kondisinya, dok?" tanya Laras begitu Raffi sampai didekatnya.


"Kondisinya gak terlalu parah. Pisau itu tidak mengenai organ dalam tapi banyak mengeluarkan darah. Aku akan menunggumu sampai selesai siaran!"


Laras tercengang mendengar perkataan Raffi, "tapi, dok. Saya akan menunggu sampai laki-laki itu selesai dioperasi! Dokter pulang aja. Saya gak apa-apa, kok!"


Raffi terdiam. Laras kelihatan sangat lelah. Dia gak tega meninggalkannya sendirian.


"Jagalah kesehatanmu, Ras. Besok temui aku di ruang kantorku. Aku akan memeriksa kondisi kesehatanmu!" ujar Raffi yang gak bisa menyembunyikan kesehatannya.


"Baik, dok. Sudah pulang, sana!" sahut Laras sambil sedikit mendorong Raffi.


Raffi terpaksa meninggalkan Laras. Tubuh Laras semakin kurus. Mungkin dia kecapean karena selalu siaran di lapangan. Aakh! Kenapa Raffi jadi sangat mencemaskannya, ya?


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2