
Rani sangat shock setelah bertemu Agung di kantor polisi dan sudah memanfaatkannya. Entah bagaimana hubungan Rani dengan si kecil Syakira dan Syaqil. Padahal Rani sudah terlanjur jatuh cinta pada mereka.
Sejak Tuan Damar masuk ke dalam sel, pekerjaan Rani tambah banyak. Apalagi Mang Dayat juga tidak ada di sisinya. Untung saja, Rani sudah terbiasa melakukan banyak pekerjaan. Hanya saja ada beberapa bagian yang gak bisa dilakukannya terutama kalau ada tanda tangan Tuan Damar. Mau gak mau Rani harus kembali ke kantor polisi dan bertemu Agung lagi.
"Biar aku antarkan kamu langsung ke Tuan Damar, Ran!" ujar Agung.
"Tidak usah, pak. Saya akan masuk bersama Tuan Ikhsan. Dia adalah pengacara Tuan Damar!" tolak Rani yang memang datang bersama Ikhsan.
"Oh, begitu. Syakira selalu menanyakanmu. Apa kamu pulang larut malam terus? Kamu juga harus menjaga kesehatanmu!" ucap Agung lagi yang memang sengaja agar bisa dekat dengan Rani lebih lama.
"Saya baik-baik saja, pak. Untuk sementara ini, saya gak bisa menemui anak-anak bapak," jawab Rani sesopan mungkin.
Gak lama kemudian Ikhsan muncul. Dia merasa kalau polisi itu sedang pdkt dengan Rani. Tentu aja dia gak menyukainya.
"Ayo, kita sudah bisa bertemu dengan Tuan Damar, Nona Rani. Permisi, pak!" ujar Ikhsan yang segera membawa tas kerja Rani.
"Baik, tuan. Permisi, pak!"
Agung hanya mengangguk dan melihat kepergian Rani. Dia jadi teringat puterinya yang selalu merengek untuk bertemu Rani. Namun, pagi-pagi sekali Rani sudah berangkat kerja dan larut malam baru pulang.
Sudah dua minggu, Rani seperti menjauhi Agung. Apalagi sekarang, setelah tahu kalau dia adalah seorang penegak hukum. Tapi, Agung gak akan melepaskan Rani begitu saja karena anak-anaknya, tidak! Dirinya terlanjur nyaman dengannya.
*****
Luna gak bisa memejamkan mata. Bayangan Damar yang terlihat kurus membuatnya selalu mengeluarkan airmata.
"Kamu ini kenapa sih, Lun? Pulang-pulang malah jadi melow begitu? Apa ada hal buruk dengan Nyonya Kamaratih? Apa sakitnya parah?" tanya Sarah ketika Luna mampir ke butiknya. Dia menebak Luna sedih karena kondisi calon mertuanya.
Luna segera menghapus airmata di pipinya. Yang dikatakan Sarah juga salah satu kesedihannya.
"Iya, kak. Nyonya Kamaratih terkena kanker tapi gak mau memberitahukan Damar!" jawab Luna. Hadeh! Luna keceplosan. Padahal semua tahu kalau Damar ikut dengannya ke Singapura.
__ADS_1
"Bukannya Tuan Damar juga pergi dengan kamu dan mamahnya?" Sarah merasa ada yang aneh dengan ucapan Luna.
"Sebenarnya, Damar gak ikut dengan kami. Tapi, dia sedang bekerja di luar kota!" Luna terpaksa berbohong.
"Bagaimana sih Tuan Damar? Masa kamu yang menjaga mamahnya sementara dia malah bekerja. Jadi itu yang membuat kamu sedih? Apa kamu sudah bertemu dengannya?" Sarah jadi prihatin melihat Luna yang sangat sedih dengan kelakuan Tuan Damar.
"Gak apa-apa, kak. Saya sedih karena Damar gak tahu tentang penyakit mamahnya. Nyonya Kamaratih gak mau membuat Damar khawatir dan melupakan pekerjaannya," sahut Luna.
"Jadi, kamu harus memberitahukannya. Kalau terjadi hal buruk, kasihan Tuan Damar gak bisa bertemu dengan mamahnya!"
"Iya, kak. Tapi gak sekarang. Sepertinya Damar sangat sibuk!"
Sarah hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Luna. Baru sekarang Sarah melihatnya sebingung itu. Bahkan ketika masuk ke sel kantor polisi, sikapnya selalu tenang.
"Bagaimana dengan orderan Tuan Ken dan istrinya. Apa sudah selesai?" tanya Luna ketika teringat orderan gaun pengantin temannya Damar.
"Aiiiih! Itu sudah diambil sama Tuan Ken dari kemarin, saay. Semuanya perfect! Mereka pasti akan jadi ratu dan raja paling the best!" sanjung Prilly kepada dirinya sendiri.
"Acara pernikahannya kapan? Seharusnya minggu kemarin kan?" Luna baru ingat waktu pernikahan Tuan Ken.
"Diundur lagi, say. Acaranya dua hari lagi. Kasihan Nona Ara, semua diatur sama produsernya!" sahut Prilly lagi sambil duduk di samping Luna.
"Mungkin aku bisa hadir. Tapi, entah kalau Damar," ucap Luna lirih. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Lihatlah kamu ini, say. Wajahmu tambah tirus dan tubuhmu juga kurus. Seharusnya kamu bahagia karena sudah bertunangan dengan Ceo setampan Tuan Damar. Kenapa kamu malah seperti ini?"
Prilly mengusap pipi Luna lembut. Dia sangat merisaukan atasan sekaligus bestienya itu. Sangat kelihatan kalau Luna kehilangan banyak berat badan.
"Sebenarnya Tuan Damar itu ada dimana sih? Pekerjaannya terlalu padat. Apa dia satu-satunya pewaris Grup Santika?" tanya Sarah yang merasakan.Tuan Damar terlalu sibuk.
Luna diam saja. Dia teringat dengan Mang Dayat. Meski dia bukan saudara tapi Damar sangat mempercayainya. Namun saat ini, Nyonya Kamaratih sedang memerlukannya.
__ADS_1
"Damar adalah anak tunggal. Ayahnya meninggal ketika dia masih kecil dan Nyonya Kamaratih tidak pernah menikah lagi!" jelas Luna soal Damar.
"Kalau kamu menikah pun harus siap dengan kondisi seperti ini, saaay. Pasti kamu sering ditinggalin Tuan Damar!" ucap Prilly lagi dengan penuh kecemasan.
"Aku gak ada masalah dengan itu. Yang penting Damar baik-baik saja dan selalu sehat. Semua pekerjaan pasti ada resikonya," jawab Luna sesuai dengan dirinya karena juga seorang pekerja keras.
*****
Tuan Arya ikut menjadi cemas dengan keadaan Luna meskipun tidak mengatakan apapun. Malah itu yang membuatnya cemas. Mungkin juga karena ada istri mudanya sehingga membuat Luna gak jadi mengatakan maksudnya.
"Maaf, tuan. Ada sesuatu yang harus saya bicarakan mengenai Nyonya Saskia," ujar seorang laki-laki yang baru aja masuk ke ruangan Tuan Arya. Dia adalah Toni, direktur keuangan.
"Ada apa dengannya?" Tuan Arya agak terkejut nama istri mudanya disebut.
Toni mengeluarkan berkas dari dalam tas kemudian memberikannya kepada Tuan Arya.
"Ada permintaan pengambilan dana sebesar satu milyar atas nama Nyonya Saskia. Apa tuan yang memberikannya izin? Kalau tuan tahu, saya gak akan meresponnya," jelas Toni yang biasa ketat masalah keuangan perusahaan.
"Dia tidak mengatakan apapun padaku. Apa ada alasan pengambilan dana itu?"
"Tidak ada, tuan. Jadi, apa saya respon atau dipending. Sekarang pihak bank sedang menunggu kabar," ucap Toni lagi.
Tuan Arya terdiam. Untuk apa Saskia meminta dana seperti itu. Dia bisa memintanya langsung tanpa melalui perusahaan.
"Berikan aja tapi dengan alasan jelas!"
"Baik, tuan!"
Tuan Arya hanya terdiam meski Toni sudah keluar dari ruangan. Itulah yang dirisaukannya. Uang dan kekayaan pasti akan merubah seseorang. Dulu, Saskia adalah gadis yang sederhana dan perhatian. Dia tidak pernah meminta apapun kecuali diberikan. Nyatanya, sekarang sifatnya berubah. Tuan Arya merasa bosan selalu bertemu dengan wanita seperti itu. Hanya ada satu wanita yang tidak berubah sampai sekarang. Dia adalah Mira, mamahnya Luna.
❤❤❤❤❤
__ADS_1