
Yuki memenuhi permintaan mamahnya untuk menemui Tuan Arya bersama Jion. Entah kenapa Yuki merasa gugup. Biasanya dia selalu bersemangat setiap mau bertemu dengan papahnya.
"Tenanglah! Nanti aku yang akan bicara dengan Tuan Arya!" ucap Jion berusaha menenangkan Yuki yang kelihatan gelisah. Dia pun menggenggam tangan Yuki erat.
Yuki belum mengatakan kalau dia bukanlah anak kandung Tuan Arya. Apakah Jion gak jadi menikahinya jika tahu soal itu? Yuki harus mengatakannya apapun yang akan terjadi!
"Tunggu, Jion!" ujar Yuki.
"Ada apa?" Jion segera membatalkan niatnya untuk keluar dari mobil.
"Aku mau mengatakan sesuatu padamu. Sebenarnya ... aku bukanlah puteri kandung Tuan Arya!"
Deg! Jion tertegun mendengar ucapan Yuki. Apakah dia salah dengar?
"Apa maksud kamu, Ki?" tanyanya lagi.
"Aku bukanlah puteri kandung Tuan Arya. Bukankah ucapanku sangat jelas?" tegas Yuki.
Jion tersenyum. Dia pun kembali menggenggam tangan Yuki.
"Kita mendengarnya, Ki. Aku mencintaimu bukan karena kamu adalah puteri Tuan Arya. Jadi, kita bicarakan nanti dan sekarang kita hanya akan meminta restunya aja. Oke!"
Yuki masih belum pede. Karena dia bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang perempuan tanpa ayah! Tanpa terasa airmatanya mengalir.
Jion mengusap airmata yang mengalir di pipi Yuki.
"Percayalah! Apapun yang terjadi dan siapapun diri kamu sebenarnya, aku akan menyayangimu apa adanya!" ucapnya lembut.
Yuki mendongak. Mencoba mencari ketulusan di mata Jion. Sesaat kemudian, kesedihan dan keresahan Yuki pun menghilang.
Akhirnya, Yuki yakin melangkah bersama Jion untuk menemui Tuan Arya. Dia akan menghadapi apapun yang terjadi selama ada Jion disisinya.
Seperti biasa Jion selalu menjadi magnet. Siapapun tahu siapa dirinya. Apalagi sinetronnya sudah mulai tayang di televisi. Yuki berusaha tenang dan bersikap senormal mungkin. Meski dia tetap saja mendengar bisikan dan tatapan aneh kepadanya.
Namun, begitu sampai di ruang kerja Tuan Arya, Yuki malah kehilangan kata-kata. Apalagi ketika melihat ada istri muda papahnya di situ.
"Hallo, Yuki. Apa kabar? Sejak aku bekerja disini, aku gak pernah melihatmu!" ucap Saskia santai. Usia mereka memang gak berbeda jauh. Seperti seorang kakak dan adik saja.
"Aku baik, tante!"
"Kamu, Jion kan? Artis sinetron yang terkenal itu? Ada apa kalian kemari?" selidik Saskia lagi.
Tuan Arya hanya diam saja. Dia sudah tahu maksud kedatangan Yuki bersama Jion.
Yuki kembali ngehang. Gak tahu apa yang akan dikatakan selanjutnya. Kehadiran Saskia benar-benar membuatnya semakin gugup. Dulu dia sangat membenci Saskia karena sudah menikah dengan papahnya yang masih suamu mamahnya.
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya adalah Jion. Kedatangan Kami mau meminta restu karena sebentar lagi kami akan menikah!" jelas Jion.
"Menikah? Kamu mau menikah lagi, Yuki. Apa kamu gak trauma dengan pernikahan kamu yang dulu?"
Kali ini, Yuki gak bisa menahan kesabarannya lagi.
"Maaf, saya mau bicara dengan papa! Jadi harap nyonya menyimpan pikiran nyonya dulu!" tegasnya.
Saskia menjadi pucat mendengar ucapan Yuki.
"Lihatlah, pih! Yuki masih saja merendahkan aku!" ucap Saskia yang mengadu kepada Tuan Arya.
"Sebaiknya kamu pergi saja! Kami mau bicara dulu!"
"Papih!"
Saskia gak menyangka siaminya malah menyuruhnya meninggalkan mereka. Namun, Saskia gak bisa membantahnya dan memilih pergi.
"Jadi, nama kamu Jion? Sebelumnya aku mendengar ada berita kalau kamu akan menikah dengan Luna. Bahkan sampai rumah dan butik Luna dikerumuni wartawan. Sekarang kamu datang dan mengatakan akan menikah dengan Yuki. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
Jion menarik napas panjang. Ternyata Tuan Arya mendengar berita soal Luna juga.
"Maaf, tuan. Itu hanya salah faham. Sepertinya ada seseorang yang membuat berita hoax itu. Saya dan Luna hanya makan malam biasa seperti kawan lama. Namun beritanya malah jadi berbeda. Sekarang saya hanya akan memberitahu kejadian sebenarnya kepada tuan. Kami sudah yakin untuk mengarungi bahtera rumah tangga!" jelas Jion lantang tanpa keraguan sedikitpun.
Tuan Arya tersenyum. Sikap Jion cukup membuatnya terkesan. Sebenarnya dia tahu siapa dalang yang menyebarkan berita hoax itu. Dia adalah istri mudanya sendiri.
"Ba-baik, tuan. Saya akan melaksanakan niat saya dengan sebaik-baiknya!" Kata-kata Jion jadi sedikit kaku seperti tentara.
Yuki gak bingung. Kata-kata Jion memang bagus, namun sikapnya malah membuat Yuki ingin tertawa.
"Bagaimana keadaan mamahmu, Ki? Aku dengar belum lama ini dia sakit?"
"Oh, iya pah. Sakit lambung mamah kumat jadi sempat pingsan di rumah papahnya Jion!"
"Di rumah papahnya Jion? Siapa nama orangtua kamu?"
"Mamah saya sudah lama meninggal, tuan. Hanya ada papah saya namanya Tuan Kenta!"
"Tuan Kenta?" Tuan Arya seperti mengenal nama itu. Namun dia gak mau memikirkannya dulu. "Mumpung kalian disini, ayo kita makan siang bersama!"
Yuki sangat terkejut mendengar ucapan papahnya. Sikapnya jadi sedikit lumer di depan Jion.
"Maaf, pah. Mungkin lain waktu aja!" jawab Yuki yang teringat kalau Saskia pasti akan ikut juga.
"Tenanglah! Saskia gak perlu ikut. Kita bertiga saja yang pergi. Bagaimana Jion? Apa kamu mau?"
__ADS_1
"I-iya, tuan. Saya mau!"
Yuki melotot mendengar jawaban Jion. Sementara Jion memberi kode agar Yuki menyetujuinya juga. Hadeh! Kenapa Jion malah jadi pro kepada Tuan Arya? Meski begitu, Yuki tambah yakin untuk melangkah pasti. Cahaya baru sudah menantinya.
*****
Acara pernikahan kawan Damar sudah selesai. Damar sengaja mengajak Luna mampir ke pantai sebelum pulang.
"Ayolah, kita ke pantai dulu. Sudah lama aku gak jalan-jalan berdua dengan kamu. Mumpung hari ini aku free!" ajak Damar di tengah perjalanan.
"Ke pantai? Dengan gaun seperti ini? Pulang dulu aja deh. Aku akan ganti baju dulu! Bisa pingsan kepanasan aku kalau pakai gaun ini. Lagi pula pasti banyak yang menertawakan aku karena sudah saltum!" sahut Luna.
Damar tertawa. Sikap Luna seperti cacing kepanasan.
"Kita kan bisa mampir di toko dan membeli baju pantai. Apa susahnya sih? Padahal kamu malah jadi paling cantik dengan gaun itu!"
"Damar! Bukan paling cantik! Mereka pasti mengira kalau aku kurang waras!"
"Gak kok, sayang. Aku malah kurang waras karena sudah tergila-gila padamu!"
"Maksud kamu, aku yang membuatmu gila juga gitu?"
Eeeh! Kok Luna malah berpikiran kayak gitu? Damar jadi kelimpungan.
"Bukan begitu, sayang!" Damar gak tahu harus berkata apa lagi.
Padahal Luna hanya bercanda saja. Tentu saja dia sangat senang bisa berduaan ke pantai. Mereka seperti anak abg yang lagi pdkt aja!
Bener kan yang dikatakan Luna. Banyak pasang mata yang memerhatikan mereka ketika sudah sampai di lokasi pantai. Apalagi make up Luna memang cukup tebal dan bertambah kinclong ketika terkena sinar matahari.
"Buka jas kamu!"
"Buat apa?"
"Pokoknya buka aja! Aku mau pakai," sahut Luna lagi.
"Nanti kamu malah tambah panas!"
"Bukan buat aku pakai, kok. Tapi buat menutupi wajahku!"
Luna gak sabaran juga dan segera menarik jas Damar. Dia pun menutupi wajahnya dengan jas itu kemudian berjalan tanpa tahu tujuan. Beberapa kali sepatunya tertancap di pasir. Sampai akhirnya Luna membuka sepatunya dan bertelanjang kaki.
"Dimana tokonya? Aku mau cepat mengganti gaun ini. Nanti kotor juga kena pasir!" ucapnya sambil mengangkat gaunnya tinggi-tinggi.
Damar geleng-geleng kepala melihat kelakuan Luna yang kerepotan seperti anak kecil. Membuat Damar jadi tambah bucin aja!
__ADS_1
❤❤❤❤❤