
Seminggu kemudian. Luna sudah menyiapkan rencana agar gak jadi dinner dengan si bocah ingusan. Damar memang cukup ganteng, muda dan CEO sukses. Namun, Luna gak suka sikapnya yang agak kelewatan. Memang sih, waktu itu Damar sudah menolongnya. Tapi, untuk bertemu lagi, Luna merasa gak sanggup.
"Hei! Kenapa bengong aja!" Sarah muncul mengagetkan Luna yang sedang melamun.
"Aakh, Kak Sarah. Bikin aku kaget aja. Apa ada undangan dinner dari si bocah ingusan, kak?" tanya Luna ketika teringat malam ini adalah jadwal dinnernya.
"Bocah ingusan? Siapa dia?" tanya Sarah pura-pura gak tahu.
"Ya dialah, kak. Tuan Damar!"
"Luna, Luna. Cowok seganteng dan sekaya itu kamu panggil bocah ingusan. Terus menurutmu yang seperti pangeran itu kayak gimana?" tanya Sarah lagi sambil geleng-geleng kepala.
"Yang bisa membuatku mabuk kepayang lah, kak. Bukannya membuatku mabuk laut dan buat perutku mual melulu!" jawab Luna ringan. Namun perutnya juga lantas aja mules.
"Nah! Baru ngomongin dia aja perutku langsung bereaksi!" lanjut Luna seraya berlari ke toilet.
"Hati-hati looh, Lun. Itu tanda-tanda kena pelet looh!" teriak Sarah. Luna malah mengeluarkan lidahnya sebelum menghilang dibalik pintu. Sarah cekikikan melihat tingkahnya.
Usia Luna memang sudah diujung tanduk. Kalau saja, pacarnya dulu gak selingkuh. Mungkin Luna sudah memiliki seorang anak.
Menjelang sore, belum ada kabar apapun soal dinner dengan Damar. Luna sedikit lega. Mungkin Damar belum kembali dari luar negeri.
"Ada kabar nih, Lun. Acara dinner dengan Tuan Damar dibatalkan. Katanya ada hal yang lebih penting!" Sarah muncul dengan membawa kabar baik.
"Wah! Kabar baik sekali itu, kak. Sebenarnya aku juga ada janji dengan seseorang. Dia adalah putera seorang wanita yang aku tolong di rumah sakit. Baiklah, aku pulang duluan, ya! Kalau sampe dinner itu jadi, bilang aja aku juga punya hal yang lebih penting!" celetuk Luna yang ingin membalas dendam.
"Bagaimana dengan asisten buat Prilly. Apa dia sudah boleh masuk kerja?" tanya Sarah lagi.
"Oke ajalah. Kalau memang Prilly cocok sama dia, besok suruh masuk aja! Udah aah, aku mau luluran dulu!" jawab Luna seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Apa kamu gak khawatir kalau anak wanita itu jelek dan tua. Apa kamu masih mau sama dia, Lun?"
"Yah, lihat aja nanti, deh!" sahut Luna santai.
Sarah kembali geleng-geleng kepala. Sebenarnya Luna itu sedang menjebak atau sudah terjebak, sih??? Kita lihat aja kejadian selanjutnya.
*****
Luna sudah selesai mandi dan sedang memilih baju yang cukup bagus. Aah, dia gak mau terlalu cantik. Kalau anak wanita itu sampai jatuh cinta padanya, bisa bahaya! Luna kan cuman sekedar mencari alasan agar gak ketemu si bocah ingusan.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Lun? Ga biasanya kamu pulang cepat?" Mama Luna muncul. Kondisi kesehatannya sudah membaik dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Luna ada janji sama teman, mah. Mungkin Luna pulang agak malam!" jawab Luna masih sibuk dengan baju-bajunya.
"Lihat, mah. Baju mana yang bagus menurut mamah?" tanya Luna lagi.
Mama Luna mengerutkan keningnya. Gak biasanya Luna meminta pendapatnya.
"Bagus yang pink, Lun. Biar kamu kelihatan segar. Kalau coklat kamu seperti anak pramuka!" jawab Mama Luna.
Luna tersenyum. Akhirnya dia bisa mendapatkan baju yang akan dia pakai.
"Makasih ya, mah. Luna mau pakai yang ini aja, deh!" ucap Luna seraya mengambil baju yang berwarna coklat.
"Eeeh, kenapa pakai yang itu!" teriak mamanya. Tapi Luna cuman cengengesan aja. Dasar, Luna!
*****
Tepat jam delapan malam. Luna sudah berada di depan Hotel Santika. Aakh, kenapa janjiannya di sana sih?! Pikir Luna kesal. Kenangan bersama si bocah ingusan jadi kembali diingatnya. Tapi, bocah ingusan itu kan lagi di luar negeri! Luna bisa bernapas lega memikirkannya.
Baru saja Luna masuk ke ruang lobby hotel, dia melihat sosok laki-laki yang sangat dibenci. Dia adalah Jion.
Sepertinya Jion bisa melihat Luna yang sedang mengendap-endap dari cermin di depannya. Dia tersenyum licik. Meskipun Jion sudah berpisah dari Luna namun dia selalu merindukannya. Sikap dan tingkah laku Luna yang selalu melekat dalam ingatannya.
Jion membiarkan Luna pergi. Belum saatnya untuk bertemu. Dia masih bersama produser yang akan menangani video klip lagu terbarunya.
"Ada apa, Jion? Mukamu itu kayak habis ngeliat hantu!" bisik Simon, dia adalah managernya.
"Bukan hantu, Mon. Tapi, bidadari!" jawab Jion dengan senyuman serigalanya.
"Kali ini jangan main-main lagi, yon. Semuanya sudah aku pertaruhkan untuk konser ini!" ungkap Simon lagi cemas. Dia sangat tahu kelemahan Jion yaitu perempuan.
Usia Jion yang tidak lagi muda sudah kehilangan banyak penggemarnya. Sangat beruntung Jion bisa bersolo karir sekarang ini. Meskipun Simon banyak mengeluarkan uang tapi harapannya masih ada.
Luna bisa bernapas lega setelah berada di area restoran. Sudah jam delapan tepat. Jangan-jangan cowok asing itu sudah menunggunya.
"Apa kursi buat Nona Luna sudah ada, pak?" tanya Luna kepada Cs restoran.
"Sebentar saya periksa, Nyonya!"
__ADS_1
Luna langsung melotot mendengar perkataan pelayan itu. Emangnya dia kelihatan tua apa? Tapi, ada baiknya sih. Cowok itu pasti gak akan menyukainya!
"Oh sudah ada, Nyonya. Silakan masuk dan kursi Nyonya ada di nomor lima dekat air mancur!" ucap pelayan itu lagi.
"Oke, terima kasih!" jawab Luna singkat. Dia kurang suka juga sih dipanggil Nyonya. Apa memang dia kelihatan setua itu.
Setelah menemukan kursinya, Luna tidak melihat siapapun di sana. Masih ada waktu untuk memastikan sesuatu. Dia pun mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya.
"Gak ada yang salah dengan riasanku. Aku tetap kelihatan cantik. Kenapa pelayan itu memanggilku nyonya, ya?" tanya Luna pelan.
Tiba-tiba, dari dalam cermin Luna melihat seorang laki-laki ada di belakangnya. Luna sangat terkejut dan segera berdiri. Mengira kalau laki-laki itu adalah cowok yang akan dia temui.
"Hai, sayang. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Luna terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ternyata laki-laki itu adalah Jion.
"Ka-kamu yang sedang apa di sini?" Luna malah balik bertanya. Moodnya langsung hilang setelah bertemu dengan Jion.
Jion sangat tahu kalau Luna masih menyukainya. Sebenarnya dulu mereka sedang hot-hotnya, tapi Jion malah selingkuh dengan model yang menghilang entah kemana.
"Kamu cantik sekali malam ini, Lun. Apa kamu mau bertemu dengan calon suamimu? Dia pasti gendut dan jelek, kan?" bisik Jion tepat ditelinga Luna. Dia tahu kelemahan Luna di sana.
Luna langsung merinding. Tubuhnya pun menjadi lemas. Jion masih ingat kelemahannya.
"Bagaimana kamu tahu soal cowok yang akan aku temui?" tanya Luna penasaran.
Jion terbahak, "emang seperti itulah kalau perempuan tua sudah putus asa. Dia mau aja menikah dengan siapapun meski orang itu tua dan jelek!" ejek Jion. Mulutnya masih saja setajam silet.
Muka Luna langsung merah mendengar ucapan Jion. Tanpa sadar dia pun melayangkan tangannya untuk menampar Jion. Akan tetapi Jion malah berhasil menangkapnya.
"Ternyata sifatmu masih sama ya, sayang. Cepat sekali naik darah. Sudahlah! Kembali aja denganku dari pada dengan laki-laki jelek itu!" ucap Jion lagi.
Tubuh Luna gemetaran menahan amarah. Matanya mulai basah. Jion selalu berhasil mengintimidasinya.
"Lepaskan tangan gadis itu!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Luna menoleh dan wajahnya langsung pucat. Ternyata yang datang adalah Damar!!!
❤❤❤❤❤
__ADS_1