
Acara pertunangan Luna dengan Damar akan dilangsungkan esok hari. Luna menunggu saat itu dengan hati penuh debar. Walaupun bukan hari pernikahan, tetap saja membuatnya gelisah.
Ada sesuatu yang harus Luna lakukan agar hatinya menjadi tenang. Walaupun Yuki sering menyakitinya, Luna berharap dia bisa datang di acara pertunangannya esok.
"Hallo, Yuki!" ucap Luna mengawali pembicaraan lewat hapenya dengan Yuki.
Yuki agak ragu mengangkat telpon Luna. Namun, dia penasaran apa yang akan dikatakannya.
"Iya, Lun. Ada apa?" jawab Yuki setenang mungkin.
"Besok adalah hari pertunanganku dengan Damar. Kamu datang, ya. Ajak mamah dan puterimu juga!" terang Luna.
Acar pertunangan? Yuki menebak pasti papahnya juga ada di sana.
"Baiklah, Lun. Selamat, ya. Kalau mamah mungkin gak bisa datang karena kesehatannya sedang kurang baik!" sahut Yuki yang enggan melihat kebersamaan papahnya dengan Luna. Rasa iri itu masih ada.
"Aku tunggu, ya. Untuk mamahmu, semoga cepat pulih kesehatannya!" ucap Luna lagi.
"Terima kasih, Lun!"
Luna menutup hapenya. Hatinya menjadi lebih lega setelah bicara dengan Yuki meski sedikit kaku. Dari dulu, Luna gak pernah ingin membalas dendam meskipun Yuki selalu menyakitinya.
Luna menatap gaun indah yang tergantung di depan lemari. Gaun yang mencerminkan perasaannya. Setelah sekian lama menutup hati yang terlanjur terluka, akhirnya menemukan cinta sejati. Damar mampu mencairkan kebekuan hatinya dan memberikan cinta dengan penuh ketulusan.
Anehnya, terakhir ini Damar jarang menelponnya. Biasanya juga muncul tiba-tiba. Luna ingin tahu keadaannya sekarang. Apa ke kantornya aja, ya? Aakh! Malah jadi heboh aja nanti. Lagian besok juga ketemu. Apa Damar kesal karena Luna selalu ketiduran kalau lagi videocall?
Luna memukul kepalanya. Dasar, Luna! Kenapa juga selalu molor kalau sedang telponan dengan Damar! Luna hanya bisa menyesali dirinya.
"Pakeeet!"
terdengar suara tukang paket. Siapa yang sudah memesan barang? Mamahnya memang gak di rumah karena harus membeli keperluan memasak ke pasar. Luna sudah melarangnya karena besok juga banyak makanan. Tapi, mamahnya bilang buat selamatan sekitar rumah aja.
"Luky! Ada tukang paket di depan!" teriak Luna. Gak ada jawaban. Mungkin dia ikut dengan mamahnya.
Dengan sedikit malas, Luna turun juga ke bawah. Dia melihat tukang paketnya memegang sebuah rangkaian bunga besar yang menutupi wajahnya.
"Paket buat siapa, bang?" tanya Luna penasaran.
"Buat Nona Luna!" jawab tukang paket itu tanpa menunjukan wajahnya.
"Haduh! Pasti dari Tuan Damar, ya? Ngapain juga ngirim bunga segala? Besok kan juga banyak di lokasi acara!" celetuk Luna.
__ADS_1
"Katanya Tuan Damar kangen berat, non!"
"Aach, abang bisa aja. Emang abang kenal sama Tuan Damar?" tanya Luna sambil tertawa kecil.
"Kenal dong, non. Sampai dalam-dalamnya!"
Eeh! Kok omongan tukang paket itu jadi ngelantur, ya? Luna mulai curiga. Dia pun merebut bunga yang dipegangnya. Ternyata dia sangat tampan seperti pangeran.
"Astaga, Damar! Bikin aku geregetan aja, sih?! Ngapain kamu kesini? Besok juga ketemu!"
Tuh kan, bener. Ternyata tukang paket itu adalah Damar. Dia cuman cengengesan setelah pranknya ketahuan.
"Habisnya aku kangen, sayaaang. Aku capek aah!"
Damar langsung nyelonong masuk ke rumah, sementara Luna masih terbengong-bengong.
"Mamah gak ada di rumah. Kalau tahu kamu kesini pasti marah. Pamali tahu! Katanya pernikahannya gagal kalau dilanggar. Seharusnya kita gak boleh ketemu sampai hari h nya!" celetuk Luna yang sedikit sewot dengan kedatangan Damar. Padahal mah hatinya kesenengan juga, seeeh ....
"Aach, itu kan cuma mitos. Aku kangen ...," rengek Damar seperti anak kecil melihat permen dan siap menyantapnya. Dia pun segera memeluk Luna setelah memindahkan bunga yang dipegangnya.
"Lagian, kenapa gak telepon aja?" Luna gak tega melepaskan pelukan Damar. Dia sendiri juga merasakan kerinduan itu.
Luna jadi malu sendiri. Kebiasaan yang gak bisa dirubah. Mungkin karena Damar terlalu nyaman sehingga membuatnya cepat ketiduran.
"Kayaknya kamu lagi sibuk di kantor, ya? Biasanya gak sampai malam bener pulangnya!"
Damar terdiam. Saat ini, gak bisa menceritakannya kepada Luna.Semua akan terjawab setelah acara pertunangannya nanti.
"Iya! Aku mengejar waktu agar hari ini dan besok fokus buat acara kita nanti. Hari ini aku mau ke hotel dan melihat kesiapan lokasinya. Apa kamu mau ikut?"
Luna berpikir keras. Ikut aja, Luna! Jangan percaya mitos yang sudah dilanggar juga.
"Bagaimana dengan mistosnya? Kalau terbukti benar gimana? Apa kita masih bisa menikah? Aku takut kalau ...."
Luna menghentikan ucapannya ketika Damar menutup mulutnya dengan ujung jari.
"Jangan katakan yang nggak-nggak! Aku janji akan bersamamu selamanya. Seharusnya kamu mempercayai janjiku!" bisik Damar tepat di telinga Luna.
Bisikan maut itu membuat Luna merinding dan pasrah.
"Ya udah, aku ikut. Aku ganti baju dulu. Tapi, kamu jangan ngintip, ya!"
__ADS_1
Damar tertawa lebar. Sudah hampir menikah aja sikap Luna masih kaku seperti itu.
"Oke, okeee!" jawab Damar memastikan.
Luna pun segera berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya. Dia harus siap dalam lima menit sebelum Damar menerobos kamarnya.
*****
Jion tahu kalau besok Luna akan bertunangan. Luna memang gak mengundangnya. Kalaupun diundang, Jion akan memilih tidak datang. Bukan karena tidak mau melihat kebahagiaan Luna. Namun karena gak mau merasakan kesedihan karena sudah kehilangan impiannya.
Ya! Dulu, Jion sudah menyiapkan lamaran mewah di hotel Santika. Ketika sedang menyiapkannya, Jion bertemu dengan Angela. Sampai akhirnya, Jion sendiri yang sudah menghancurkan impiannya.
"Kamu gak usah sering-sering kesini, Jion. Nanti ada media yang melihat, karirmu bisa hancur lagi!"
Suara Angela membuyarkan lamunan Jion. Saat ini, Jion memang sedang di pusat rehabilitasi Narkoba tempat Angela dirawat.
"Besok Luna akan bertunangan!" Jion malah membicarakan soal Luna.
Angela terdiam. Ternyata Jion masih memikirkan Luna.
"Apa kasusnya sudah selesai?"
"Orang yang menipu Luna sudah ditemukan. Tapi perusahaan Luna gak bisa kembali!"
"Aku dengar Luna akan menjadi direktur di perusahaan besar. Hebat ya. Disaat terjatuh selalu ada orang yang membantunya!"
Jion mendongak, "itu karena Luna selalu memikirkan orang lain, bahkan disaat sedang terpuruk!"
Angela tersenyum tipis. Dia ingat saat Luna masih di dalam penjara. Sikapnya selalu cuek.
"Ketika aku bertemu dengannya di penjara, sikapnya terkesan sombong. Dia juga gak menyebutkan namanya sama sekali. Aku tahunya dari polisi!" ucap Angela lagi dengan sedikit sinis.
Jion menatap Angela tajam. Dia sangat tahu siapa Luna. Yang dikatakan Angela adalah omong kosong.
"Apa kamu tahu, Lunalah yang mengatakan kalau kamu ada di penjara. Bahkan dia memintaku untuk membantumu. Seperti inilah dirimu! Selalu memandang rendah orang lain!"
Jion langsung membalikan badannya dan melangkah pergi. Dia merasa sia-sia sudah membantu Angela. Sifatnya gak pernah berubah.
Angela hanya terpaku meski Jion sudah gak kelihatan lagi. Ternyata, Luna sudah membantunya selama ini. Sedangkan Angela malah mengatakan keburukan Luna. Yang jelas, hatinyalah yang sudah menjadi hitam!
❤❤❤❤❤
__ADS_1