
"Aku lapar!" rengek Luna setelah selesai mandi.
Damar saflok dengan rambut Luna yang masih basah. Pikirannya mulai gak menentu.
"Ayo makan diluar aja!" ajak Damar yang ingin menghilangkan otak mesumnya.
"Males, aach. Kamu kan pinter masak. Ayo masakin aku pasta!"
Hadeh! Damar harus segera sadar. Mungkin dengan memasak pikiran kotornya akan hilang.
"Iya-iya! Tapi keringkan dulu rambutmu!"
"Eeh, apa hubungannya rambutku sama masak?"
"Jelas adalah! Aku jadi gak konsen masak kalau rambutmu seperti itu! Bagaimana kalau rambutmu itu rontok dan masuk ke dalam masakanku?"
Penjelasan Damar masuk akal juga. Sepertinya Luna harus mengalah.
"Ya, sudah! Aku akan keringkan. Tapi kalau sudah selesai, pastaku udah siap, ya!"
"Siap, nyonya besar!" sahut Damar sambil memberi hormat. Dia sangat merindukan saat seperti itu dan ingin secepatnya menghalalkan Luna kemudian mereka akan menikmati hidup berdua selamanya.
*****
"Seharusnya kamu dirawat di rumah sakit. Kenapa harus pulang?"
Dokter Han sangat khawatir dengan keputusan Anna yang gak mau dirawat di rumah sakit. Entah mengapa Anna seperti itu?
"Aku baik-baik saja! Mungkin hanya sedikit lelah," jawab Anna lirih. Jiwa dan raganya memang terasa sangat lelah. Sekian lama bertahan dan menggenggam impian. Kini semuanya hilang tak bersisa.
"Aku mau pulang," ucapnya lagi sambil menarik napas panjang.
"Pulang? Kemana? Disini kamu bisa berobat. Aku tidak bisa menemanimu disana. Kau kan tahu pekerjaanku sangat padat!" ujar dokter Han. Terdengar suara helaan napasnya juga. Seperti gak ingin Anna pergi.
"Aku gak punya harapan hidup lagi disini. Setidaknya aku bisa bernapas lega kalau bersama orang tuaku," sahut Anna sambil memejamkan mata setelah merebahkan tubuhnya di kasur.
"Apa aku gak ada artinya bagimu? Aku juga keluargamu!"
Anna membuka mata dan menatap suaminya itu lekat.
__ADS_1
"Ikutlah denganku!" ucap Anna tanpa ragu.
"Ikut denganmu? Apa yang bisa aku lakukan disana? Hidupku ada disini!" sahut dokter Han tegas.
Anna kembali menarik napas panjang. Hidup mereka memang sangat berbeda. Anna sudah memutuskan sesuatu, meski berat tetap akan dia lakukan.
*****
"Damar sama Luna mana, Yat?" Nyonya Kamaratih sudah sadar benar. Dia gak melihat Luna ataupun Damar di dekatnya.
"Nona Luna sama Damar istirahat di apartemen, bu. Nanti sore juga kesini!"
"Apa Luna baik-baik saja? Aku khawatir kalau kemunculan Anna membuatnya bingung!"
"Nona Luna baik-baik saja, bu. Dia mengerti kalau Nona Anna hanya bagian dari masa lalu Damar!" jawab Dayat sedikit berbohong. Padahal dia tahu kalau Luna hampir saja meninggalkan Damar.
"Bagaimana dengan Damar? Aku tahu dia pasti sangat marah dengan perbuatanku dulu! Anna juga mengatakan mereka akan bersama lagi!"
Nyonya Kamaratih semakin khawatir kalau terjadi hal buruk dengan hubungan Damar dan Luna.
Dayat gak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Hanya Damar sendiri yang tahu apa keputusannya. Dayat memang khawatir kalau Damar kembali kepada Nona Anna. Tapi semalam, dia tahu kalau Damar sangat mengkhawatirkannya.
Dayat melirik Luna yang sedang terpejam meski dalam keadaan duduk.
"Nona Luna sudah tidur. Dia sepertinya sangat kelelahan!"
"Tolong jaga dia, kak. Aku takut dia pergi lagi. Suruh aja dia istirahat di apartemen besok pagi!"
"Baiklah! Aku akan menyuruhnya besok pagi. Sekarang sudah larut malam juga!"
Sepertinya saat itu Damar sedang bersama Anna. Besok baru ketahuan apa yang terjadi dengannya dan Luna.
*****
Rani semakin khawatir setelah tahu kalau Anna, mantan pacar Damar sudah meninggal ternyata masih hidup. Mang Dayat baru menceritakannya tadi pagi. Rani tahu cerita soal mantan Damar itu. Bahkan Damar selalu mengunci pintu hatinya karena masih memikirkannya. Apakah Damar akan kembali kepadanya? Bagaimana dengan nasib Luna? Apakah pernikahan mereka gak jadi dilakukan?
"Ada apa, Ran? Kenapa bengong begitu?"
Suara Bibik Rani membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Aach! Gak ada apa-apa, bik! Oh iya, hari ini aku akan pulang malam jadi bibik kalau mau tidur gak usah menungguku!"
"Kamu mau kemana?"
"Gak kemana-mana, bik. Tuan Damar sedang keluar kota. Jadi aku yang mengurus semua pekerjaannya!" jawab Rani sambil menghabiskan teh manisnya.
"Kemarin Syakira kesini dan mencarimu. Katanya sudah beberapa hari ini gak bertemu denganmu. Kasihan dia, sepertinya sangat mengharapkanmu menjadi mamahnya!"
Rani terdiam. Itulah yang ditakutkan Rani. Hidupnya adalah bekerja dan bekerja. Bagaimana nanti setelah menjadi mamahnya Syakira, dia pasti akan sering meninggalkannya.
"Aku gak tahu harus bagaimana, bik. Gak ada lagi yang bisa mengurus perusahaan. Tuan Damar sedang sibuk dengan mamahnya yang sedang sakit. Begitu juga dengan Mang Dayat yang selalu menemani Nyonya Kamaratih. Mereka seperti gak peduli dengan perusahaannya!"
"Tuan Damar dan Nyonya Kamaratih sudah sangat mempercayaimu, Ran. Hanya saja, kamu kan punya kehidupan pribadi. Seharusnya mereka memikirkanmu juga!"
Rani terdiam. Yang dikatakan bibiknya benar. Dia juga punya kehidupan sendiri. Yaitu bersama Syakira dan si kecil Syaqil.
"Aku bingung, bik. Mas Agung gak pernah melamarku langsung. Hanya Syakira yang selalu mengatakan kalau aku menjadi mamahnya. Bagaimana dengan perasaan Mas Agung? Apakah dia menginginkanku menjadi istrinya? Apa dia mencintaiku?" gumam Rani lirih. Dia meragukan perasaan Agung kepadanya.
"Mungkin Agung menunggu waktu yang tepat, Ran. Kamunya juga sibuk terus!"
Ya! Rani juga menyadari keadaannya. Dia gak bisa menutup mata jika perusahaan tidak ada yang mengurusi. Namun kerinduan memeluk si kecil Syakira juga gak bisa dilupakan.
"Ibuuuk!"
Baru saja Rani akan masuk ke dalam mobilnya, Si cantik Syakira berlari ke arahnya.
"Sayang? Kamu sudah bangun?" tanya Rani setelah memeluknya.
"Sudah dong, bu. Aku sudah menunggu hari ini. Katanya papah akan melamar ibu hari ini. Makanya aku gak bisa tidur dari semalam!" ungkap si cantik Syakira dengan gaya anak kecilnya yang lugu.
"Melamar? Aach, papahmu cuma bercanda aja. Lagipula ibuk kan mau bekerja. Jadi gak sempat bertemu papahmu!" sahut Rani yang gak mau kegeeran.
"Beneran kok, bu. Tunggu aja deh! Nanti malam kan papah pulang. Pasti papah akan melamar ibu untuk menjadi mamahku!" ujar Syakira yang masih bergelayut manja.
"Iya, sayang. Lihat aja nanti, ya! Aku mau berangkat kerja dulu," ucap Rani sambil melepaskan tangan Syakira.
"Tapi, aku masih kangen!"
Syakira malah semakin kencang memeluk Rani. Hadeh! Rani galau lagi deh.
__ADS_1
❤❤❤❤❤