TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
JEJAK YANG TERTINGGAL #2


__ADS_3

"Apa kamu sudah mendapatkan rekaman Cctv itu, mang?"


Damar langsung menanyakan soal Cctv kepada Dayat. Dia sama sekali gak bisa memejamkan mata dan segera menemuinya.


"Ada, tuan. Tapi, hanya sebagian. Katanya rekaman Cctv yang tepat di depan kamar Tkp sudah dihapus," jawab Dayat lugas.


"Ayo kita lihat sekarang di kamarku. Apa Rani sudah pulang?"


"Sudah, tuan. Sekarang sedang istirahat!"


"Katakan padanya untuk pending semua jadwalku hari ini. Aku ingin fokus mengurus soal Luna!"


"Baik, tuan!"


Dayat segera mengikuti langkah Damar menuju ke kamarnya.


"Kalian mau kemana? Apa sudah sarapan?" Nyonya Kamaratih memergoki kedua puteranya itu di depan kamarnya.


Dayat hanya menunduk dan gak berani menjawab.


"Nanti, mah!" jawab Damar singkat dan kembali melangkah.


Nyonya Kamaratih khawatir dengan keduanya. Meskipun senang mereka selalu bersama. Benar yang dikatakan Dayat. Jika Damar tahu siapa Dayat, belum tentu mereka sedekat itu.


Rani segera membuka hapenya setelah selesai dicas. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat beberapa pesan dari Dayat dan juga Tuan Damar.


"Nona Luna mendapat masalah di Hotel Horizon?" Dia pun segera mencari tahu soal itu di google. Tubuhnya gemetar ketika mengetahui terjadi penyerangan yang di lakukan oleh seorang wanita berinisial L.


Rani pun segera keluar kamarnya dan menemui Tuan Damar. Namun, ketika membuka pintu yang ada adalah Mang Dayat.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Dayat yang masih mencemaskan Rani.


"Apa yang terjadi dengan Nona Luna, mang?" tanya Rani yang malah mencemaskan Luna.


"Kata Tuan Damar, ibu harus ke kantor dan mengcancel semua jadwalnya. Hari ini Tuan Damar fokus mengurus masalah Nona Luna!" jelas Dayat.


"Aku harus menemui Tuan Damar!" ujar Rani yang berniat ke kamar Tuan Damar.

__ADS_1


Tiba-tiba, Dayat menghadang jalannya.


"Maaf, bu. Tuan Damar gak bisa diganggu dulu!"


Wajah Rani berubah. Dia gak suka dengan sikap Dayat yang sudah mengaturnya.


"Banyak yang harus aku bicarakan dengan Tuan Damar. Apa hakmu melarangku!"


Deg! Dayat terdiam. Sikap Rani berubah dalam waktu singkat.


"Maaf, bu. Itu pesan Tuan Damar. Nanti beliau yang akan menelpon langsung! Ibu Rani silakan memesan taksi saja karena saya juga gak bisa mengantar!" ungkap Dayat dengan tatapan tajam. Dia sangat tahu sekarang Damar pasti sibuk melihat rekaman Cctv.


"Baiklah, kalau begitu!" sahut Rani sambil nyelonong pergi.


Dayat hanya melihat kepergian Rani. Maaf, Ran. Aku juga harus membantu Tuan Damar!


Gak lama kemudian Dayat sudah ada di dalam kamar Damar.


"Apa Rani sudah berangkat ke kantor?" tanya Damar ketika dayat muncul. Dia masih serius mengamati rekaman Cctv yang diberikan Dayat dari laptopnya.


"Iya nanti aku akan menelponnya. Lihatlah! Apa video ini ada yang janggal? Disini tertera jam tujuh malam berarti sebelum Luna sampai di hotel!"


Dayat membungkuk dan ikut mengamati video itu, "iya, tuan. Tuan Sony sudah datang dan berbicara dengan senior resepsionis yang saya lihat tadi! Sepertinya mereka sangat dekat," sahut Dayat.


"Iya, sepertinya resepsionis itu gak kembali lagi ke mejanya! Perempuan itu bukankah istrinya Sony? Dia langsung naik lift!" Damar menunjukan seorang perempuan yang baru datang.


"Iya, benar. Dia istrinya Tuan Sony. Saya melihatnya di tv. Tapi, dia datang sebelum Nona Luna. Mengapa ketika diwawancara mengatakan kalau dia baru datang dan melihat Nona Luna sudah menusuk suaminya?"


"Iya, sangat aneh. Lihatlah! Dia keluar lagi dengan wajah pucat dan menelpon seseorang! Aku ingin tahu dia sedang menepon siapa!"


Damar memperbesar volume suaranya sampai beberapa kali lipat.


"Halo, Yuki! Aku sudah di hotel Horizon! Aku melihat perempuan itu sudah menusuk suamiku!" ucap istrinya Tuan Sony.


Damar sangat terkejut ketika mendengar perempuan itu menyebut nama Yuki.


"Astaga! Dia menelpon Yuki! Jadi Yuki mengetahui soal itu!" gumam Damar.

__ADS_1


"Tapi, tuan. Nona Luna belum sampai. Berarti istri Tuan Sony sendiri yang sudah menyerangnya. Bukan Nona Luna!"


Damar tertegun. Yang dikatakan Dayat memang benar. Luna belum sampai ketika penusukan itu terjadi.


"Aku akan menghubungi Ikhsan. Aku rasa Luna bisa keluar dari kantor polisi hari ini!"


Damar segera menghubungi pengacaranya yaitu Ikhsan. Dia percaya kalau luna gak bersalah. Rekaman Cctv itu adalah buktinya!


*****


Luna baru membuka mata ketika seorang polisi membawakan sarapan. Segelas susu dan sepotong roti sudah ada di depannya. Namun Luna gak punya nafsu makan.


"Makanlah! Kamu bisa mati kelaparan kalau gak makan!" ucap Angela yang makan dengan lahap. Dia seperti sudah gak makan selama seminggu. Dalam waktu singkat, makanan itu pun ludes.


"Apa kamu masih lapar? Makanlah punyaku!" ucap Luna ketika melihat Angela kelihatan masih lapar.


"Apa boleh? Kamu juga harus makan. Kejahatan itu dimulai dari rasa lapar!"


"Aku gak apa-apa, kok! Makanlah," Luna menyodorkan nampan makanannya.


"Okelah! Aku masih gemetaran kalau cuma sepotong roti aja yang masuk. Makasih, ya! Oh, iya. Siapa namamu?"


Ternyata selama ini, Angela gak tahu nama Luna.


"Nona Luna! Anda boleh keluar!" teriak seorang polisi sambil membuka pintu jeruji.


Angela tertegun. Nama perempuan yang diajak bicara itu adalah Luna! Apakah dia Luna yang sama seperti dalam ceritanya? Mantan pacar Jion?


"Ba-baik, pak. Aku permisi dulu ya, Angela!" ucap Luna sebelum pergi.


"Tunggu! A-apa kamu Luna mantan pacarnya Jion?"


Luna mengangguk pelan. Dia terpaksa mengakui status memalukan itu.


Angela hanya bengong dengan sepotong roti di dalam mulutnya. Setelah bercerita banyak, akhirnya dia tahu siapa Luna. Tapi, apakah benar Luna seorang pembunuh?


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2