
Luna tak bisa membendung airmatanya lagi. Dia sudah tenggelam dalam kebimbangan tiada akhir. Hanya bisa menahan perasaannya meski ingin sekali mengungkapkannya dalam kata-kata.
"Ada apa? Kamu gak mau jauh dariku, ya?" tanya Damar yang menyadari Luna malah menangis ketika memasuki area bandara.
"Kalau sudah senggang, cepatlah menyusul. Aku gak kuat kalau sendirian!" Luna terpaksa ngomong lebay. Dia tidak tahu alasan apa yang diucapkan lagi.
Damar tertawa kecil. Dia sudah tahu kalau Luna maunya nempel seperti perangko dengannya.
"Iya-iya! Aku harus menghadiri pengadilan dulu. Kasus tempo hari sudah akan disidang. Aku wajib hadir agar semuanya berjalan lancar!" jelas Damar yang menyesal karena belum bisa mendampingi Luna dan juga mamahnya.
"Tapi, janji kamu akan menyusul secepatnya, ya!" ucap Luna lagi sambil menyeka airmatanya.
"Iya, sayang. Aku janji!" Damar hampir saja melepas stir mobil dan memeluk Luna. Namun, dia gak bisa melakukannya.
Luna melambaikan tangan sebelum memasuki area bandara khusus penumpang. Dia hanya bisa menarik napas panjang begitu melihat Damar semakin jauh. Berharap semuanya akan kembali normal dan pernikahan mereka akan berlangsung dengan penuh kebahagiaan.
Damar masih berdiri ditempatnya semula meski Luna sudah gak kelihatan.. Sebenarnya, semalam dia menelpon Dayat untuk mengabarkan keberangkatan Luna ke Singapura. Namun, kabar buruk malah disampaikan Dayat soal kondisi mamahnya.
"Hallo, mang. Nona Luna akan kembali besok. Aku belum bisa menyusul karena masih ada sidang yang harus aku hadiri!"
"Baik, tuan. Tapi, apakah Nona Luna gak mengatakan apa-apa?"
"Soal apa?"
"Nyonya melarang Nona Luna mengatakannya kepada tuan soal kondisi kesehatan nyonya. Sebenarnya nyonya sakit kanker, tuan. Sebaiknya tuan menemui nyonya secepatnya!" ungkap Dayat. Dia terpaksa mengatakannya karena khawatir Damar gak bisa melihat mamahnya lagi.
"Kanker? Separah itu? Apakah baru terdeteksi disana?" tanya Damar penuh kecemasan.
"Iya, tuan. Tapi dari dulu dokter juga menyarankan untuk memeriksanya lebih mendetail tapi nyonya gak mau. Sampai akhirnya kankernya sudah menyebar!" jelas Dayat lagi.
"Astaga! Kenapa aku tidak tahu soal itu. Aku akan kesana secepatnya!"
Damar sangat menyesal karena tidak bisa menemui mamahnya secepatnya. Dia tidak bisa keluar negeri sampai kasusnya selesai.
Namun, ketika tadi melihat Luna menangis, Damar hampir saja luluh. Dia bisa saja langsung pergi bersama Luna. Hanya saja, Damar hanya bisa memasang senyumannya agar Luna tidak semakin sedih. Kenyataannya hati Damarlah yang sedang menangis.
*****
Denny terduduk lemas di sofa apartemennya. Harapan untuk membalas dendamnya sudah sirna. Seharusnya yang dia rencanakan berjalan lancar. Ternyata Tuan Kenta tidak bisa dilawan. Dia jauh lebih licik dari perkiraannya.
"Sepertinya aku akan kembali ke luar negeri bersama mamah. Disini aku sudah tidak punya harapan lagi!" ucap Denny lirih. Dia teringat ketika pertama kali datang. Mencoba mengenal keluarga kakaknya dengan menutupi indentitas aslinya. Seiring jalan, Denny malah serakah dan menginginkan semuanya.
"Baiklah, Den. Ikut pulang saja sama mamah. Dulu ataupun sekarang sama saja. Apalagi Jessy selalu menanyakan kamu. Seharusnya sekarang kalian sudah menikah!" ungkap Mamah Denny.
__ADS_1
Jessy? Gadis bule yang mewarnai hari-harinya sejak kecil. Mereka berjanji akan menikah jika sudah dewasa. Denny bahkan hampir melupakannya. Ketika sosok Gina sekretaris Tuan Kenta sudah membuatnya lupa diri. Mengira kalau Gina adalah masa depannya. Ternyata dia adalah kaki tangan Tuan Kenta.
Saat itu, Denny baru pertama masuk kerja di perusahaan Tuan Kenta. Dia yang lulusan universitas luar negeri yang mendapatkan tempat spesial. Hanya saja, Denny masih belum bisa beradaptasi dengan kebiasaan disini.
Denny yang tidak terbiasa makan di kantin memilih untuk menahan lapar sampai jam pulang. Suatu ketika, dimeja kerjanya selalu ada makanan dan dia tidak tahu siapa yang meletakannya. Seminggu kemudian, Denny sengaja menunggu sampai orang pembawa makanan itu muncul. Ternyata dia adalah Gina. Denny mulai memerhatikannya sampai akhirnya menyadari kalau sudah jatuh cinta.
Sedangkan Jessy, hanya seperti kawan masa kecil tanpa perasaan cinta. Dia selalu ada disaat Denny kesulitan di sekolah bahkan sampai di kampus. Denny terlambat menyadari kalau Jessy benar-benar jatuh cinta kepadanya.
"Iya, mah. Denny hampir melupakannya. Apa Jessy masih mau memulainya dari awal lagi?"
"Tentu saja Jessy mau, Den. Dia selalu menunggumu!"
Denny terdiam dan menarik napas panjang. Ya! Harapannya disini sudah sirna. Mungkin harapan itu masih ada di tempat yang berbeda.
*****
"Apa? Yuki anaknya Tuan Kenta? Apa mamah gak salah?" tanya Yuki yang sangat terkejut mendengar ucapan mamahnya.
Mamah Yuki menarik napas panjang. Akhirnya dia harus mengatakan kejadian yang sebenarnya.
"Lihatlah dokumen ini, Ki. Ini adalah hasil tes Dna kamu dan Tuan Kenta. Kecocokannya hampir seratus persen. Papahmu adalah Tuan Kenta!"
Yuki tertegun membaca dokumen yang disodorkan mamahnya. Yang dikatakan mamahnya benar. Di sana tertulis hasil tes Dna dirinya dan Tuan Kenta.
Nyonya Arana menarik napas panjang. Aib itu terpaksa terungkap.
"Mamah dan Tuan Kenta sudah berhubungan lama sejak kami kuliah. Dia gak tahu kalau mamah sudah menikah dengan Tuan Arya. Malam itu adalah perpisahan kami. Dia sudah membuat mamah mabuk sehingga melakukan hubungan itu!"
Yuki merasa dadanya sangat panas. Dia gak menyangka mamahnya melakukan perbuatan itu.
"Kenapa mamah melakukannya? Mamah kan sudah menikah?!"
"Mamah gak tahu kalau Tuan Kenta sudah melakukan perbuatan itu, Ki. Ketika mamah hamil, ternyata papahmu baru mengatakan kalau dia itu mandul dan gak bisa punya anak. Saat itu mamah sangat bingung," jelas Nyonya Arana yang tidak bisa menahan kesedihannya lagi. Airmatanya pun tumpah.
"Pantas papah gak pernah menyayangi Yuki. Sampai saat papah mengatakan kalau Yuki bukanlah anaknya, aku masih berharap kalau perkataannya salah. Kini, Yuki baru yakin kalau hanyalah anak haram!"
Yuki langsung terisak. Dadanya terasa sangat sakit.
Nyonya Arana juga gak bisa menahan kesedihannya lagi. Sekian lama menutupi kenyataan itu, kini semua sudah terbuka.
"Tapi mamah selalu menyayangimu, Ki. Sampai kapanpun kamu adalah anak mamah!"
Nyonya Arana memeluk Yuki erat. Mereka pun menangis bersama.
__ADS_1
Tiba-tiba, Yuki mendongak. Sepertinya dia memikirkan sesuatu.
"Berarti Yuki dan Jion itu bersaudara dong, mah? Kenapa mamah baru mengatakannya sekarang?" tanyanya penuh kebingungan. Padahal mereka hampir saja menikah.
Nyonya Arana menghapus airmatanya. Sebuah senyuman malah menghias sudut bibirnya. Yuki semakin kebingungan melihat sikap mamahnya.
"Ternyata Jion juga bukanlah putera kandung Tuan Kenta. Nanti Jion saja yang mengatakannya padamu. Hubunganmu dengan Jion aman, Ki. Kalian bisa menikah kapanpun juga!"
Yuki semakin bingung. Kisah hidupnya dengan Jion seperti takdir yang menyatukan mereka.
Gak lama kemudian Jion muncul. Dia sangat lelah dengan kejadian yang dilaluinya di kantor. Dadanya masih saja bergemuruh seperti abis berperang. Kini, dia harus menjelaskan semuanya kepada Yuki.
"Aku baru tahu kalau aku bukanlah anak papahku, Ki. Aku juga mengetahui kalau kamu adalah puteri kandung papahku. Aneh, ya? Kenapa banyak hal yang terhubung dengan kita!" ucap Jion yang masih keheranan dengan takdir mereka.
Yuki mengangguk pelan. Namun sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
"Meski begitu aku sangat senang kalau kita bukanlah saudara kandung. Aku sangat takut kalau kamu adalah kakakku!" ucap Yuki yang merasa sangat tenang.
Jion pun tertawa kecil, "mungkin kita ini saudara kembar tapi bukan sedarah yang terpisah!"
Yuki menatap Jion. Aneh sekali kata-katanya.
"Ini bukanlah sinetron, Jion!"
Jion kembali tertawa, "iya-iya. Hanya saja otakku ini dipenuhi dengan cerita sinetron di televisi. Apa aku jadi penulis aja, ya!"
"Eeh! Kenapa malah mikirin gituan sih?
"Mungkin aja aku punya bakat menulis skenario film. Anehnya, barusan diangkat menjadi Ceo. Bisa saja sineteronnya berjudul Artis menjadi Ceo ternyata menikahi saudara kembarnya!"
"Jion!" Yuki semakin kesal dengan sikap Jion dan bersiap menghadiahkan sebuah cubitan
Jion semakin terbahak apalagi bisa menghindari serangan Yuki.
"Aku serius, Ki. Tadi siang aku dari kantor. Kamu tahu kan Denny asisten papahku? Ternyata dia adalah adik mamahku dan mau mengambil alih perusahaan. Terpaksa aku turun tangan dan menerima tugas baruku menjadi Ceo!"
Yuki menatap Jion lekat. Raut wajahnya kelihatan serius.
"Apa benar seperti itu, Jion?" tanya Yuki masih gak percaya.
"Beneran! Lihat aja nanti. Mampirlah ke kantorku. Kamu akan mengetahui kalau ucapanku benar!"
Jion menarik napas panjang. Dadanya terasa ringan. Kehadiran Yuki membuat hatinya menjadi tenang. Jalan panjang masih harus dilalui mereka. Berharap semua akan indah pada waktunya.
__ADS_1
❤❤❤❤❤