
Dayat segera menuju ke tempat yang ditunjukan Tuan Damar. Hotel Horizon nampak sepi karena hari belum lagi pagi. Para pengunjung tertidur lelap setelah kejadian menggemparkan semalam. Mereka gak mengira waktu liburan malah menjadi hari yang mengenaskan.
Untung saja, Dayat mempunyai jaringan bawah tanah. Semenjak bekerja dengan Tuan Damar, dia jadi pandai nelakukan papaun yang di luar nalar. Terkadang ada aja pesaing bisnis yang melakukan kegiatan yang akan merugikan perusahaan Tuan Damar. Dayat bisa menjegal mereka sebelum bertindak apapun.
Ya! Dayat bersedia menjadi garda terdepan bagi Tuan Damar yang bukan hanya atasan tetapi juga seorang saudaranya. Begitu juga dengan Nona Luna. Dayat tahu kalau Damar mencintainya, berarti harus menjaganya juga.
Dua orang laki-laki berseragam sekuriti mendatangi Dayat di parkiran. Keduanya pun masuk ke dalam mobil Dayat.
"Apa yang bisa saya bantu, pak?" tanya seorang dari mereka.
"Kalian tahu kan soal kejadian semalam. Aku mau video Cctv yang berkaitan dengan kejadian itu. Mulai dari lobby sampai kamar Tuan Sony. Tapi, ingat! Video itu hanya rekaman saja. Yang asli biar diambil polisi!" terang Dayat.
Kedua sekuriti itu saling pandang. Kemudian mereka pun mengangguk.
"Baik, pak. Saya akan lakukan. Tunggu sampai satu jam, kami akan mendapatkan rekaman video itu!"
Keduanya pun keluar lagi dari mobil Dayat dan langsung kembali ke hotel.
Akan tetapi, Dayat gak bisa diam saja. Dia ingin tahu seperti apa suasana di dalam hotel itu.
Gak lama kemudian, Dayat sudah berada di dalam lobby hotel. Dia melihat beberapa resepsionis yang sedang bertugas. Semuanya rapih dan cantik.
"Selamat pagi," sapa Dayat ketika sudah sampai di meja resepsionis.
"Selamat pagi, pak. Ada yang bisa saya bantu?" sahut seorang dari resepsionis itu.
"Saya mau bertemu dengan seorang kawan bernama Tuan Martinus. Dia baru saja tiba semalam. Apa bisa beritahu kalau saya menunggunya? Soalnya hapenya gak bisa dihubungi!" ujar Dayat yang berpura-pura menanyakan seseorang.
"Baik, pak. Mohon tunggu sebentar!" Gadis itu memeriksa kedatangan pengunjung dari layar komputer.
"Baik! Saya akan tunggu disini," sahut Dayat sambil mengamati sekitar tempat itu. Interior hotel itu lumayan bagus. Tapi lebih mewah hotel Santika.
"Maaf, pak. Tidak ada pengunjung bernama Martinus!"
"Benarkah? Katanya dia akan menginap disini. Saya khawatir padanya karena mendengar kejadian semalam disini. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
Kedua resepsionis itu saling pandang, "iya, pak. Mungkin teman bapak gak jadi menginap disini. Soalnya semalam terjadi penyerangan pada salah satu pengunjung!"
Dayat manggut-manggut. Tapi dia belum berniat pergi.
"Apa kalian gak tahu kejadiannya? Disini kan ada Cctv! Apa pengunjung yang diserang itu baru pertama datang kesini?" selidik Dayat lagi.
"Oh itu, Tuan Sony adalah pengunjung tetap disini, pak. Dia ...." Tiba-tiba, gadis itu menghentikan bicaranya. Seorang perempuan yang kelihatan atasannya muncul.
"Maaf, pak. Kami sudah menyerahkan kejadian semalam kepada kepolisian! Kami dilarang membicaralannya kepada siapapun!" ujar senior resepsionis itu dengan wajah yang kelihatan gak senang.
"Baiklah, terima kasih! Maaf, saya sudah mengganggu!" Dayat membalikan badannya dan pergi. Masih setengah jam lagi. Dia akan menunggu di lobby sebentar sambil mengamati sekitar.
Dia merasa aneh dengan senior resepsionis itu. Sikapnya seperti sedang menutupi sesuatu. Mungkin karena tugasnya saja.
Dayat duduk di pojokan ruangan. Dia kembali memikirkan perkataan resepsionis itu. Tuan Sony adalah pelanggan tetap di hotel itu. Berarti, mereka sudah mengenalnya, terutama para senior.
Sementara itu, kedua orang sekuriti yang tadi bertemu Dayat masih ada di ruang kendali Cctv. Mereka bisa bekerja sama dengan sekuriti disana.
__ADS_1
"Rekaman Cctv di depan ruang Tuan Sony sudah gak ada pak. Saya baru datang dan semalam orang lain yang berjaga!" jelas sekuriti bagian Cctv.
"Kenapa bisa begitu? Polisi gak mungkin menghapusnya!"
"Saya rasa bukan, pak! Tapi masih ada rekaman Cctv di lobby. Hanya itu yang saya bisa berikan!"
"Oke. Itu sudah cukup. Tapi, Tuan Sony sepertinya sudah sering kesini. Apa kalian bisa mendapatkan rekaman Cctvnya dari sebelum kejadian semalam?"
"Bisa, pak. Tapi gak bisa sekarang. Mjngkin besok baru bisa saya lakukan!"
"Kalau bisa sekarang, mumpung kamu masih bertugas. Kalau sudah diganti aku sangsi kalau masih ada!"
Kedua sekuriti itu pun pergi. Sementara sekuriti bagian Cctv mulai mencari rekaman lama yang tersimpan di dalam box.
Tiba-tiba ada pesan masuk di hape Dayat. Diapun segera membaca pesan itu. Ternyata dari sekuriti yang tadi ditemuinya.
--Kami sudah di parkiran, pak
--oke, aku kesana!
Dayat segera beranjak dari tempat duduknya menuju ke parkiran. Dia sempat melihat senior resepsionis yang tadi bicara dengannya. Wajahnya sangat pucat. Mungkin karena dari semalam bertugas dan belum istirahat.
"Apa kalian mendapatkan video itu?" tanya Dayat ketika sudah ada di dalam mobil bersama kedua sekuriti yang tadi bersamanya.
"Ada yang aneh, pak. Rekaman Cctv bagian dalam sudah dihapus. Kami hanya mendapat rekaman Cctv yang ada di lobby dan di depan lift!" terang seorang dari sekuriti itu.
"Baiklah! Aku akan melihatnya nanti. Terima kasih atas bantuannya!"
Kedua sekuriti itu pun keluar dari dalam mobil. Dayat sengaja memarkirkan mobilnya di daerah yang gak ada Cctvnya. Dengan begitu pertemuan mereka gak akan diketahui siapapun.
Dayat harus cepat sampai di rumah. Tuan Damar harus melihatnya sebelum pergi.
*****
Rani sudah bersiap untuk pulang. Dia terpaksa meninggalkan Syakira yang masih tidur.
"Maaf, saya harus pulang duluan!" ujar Rani ketika mobil sewaannya sudah sampai.
Agung langsung mengangguk, "hati-hatilah! Maaf kalau sudah merepotkanmu," sahutnya.
"Kalau ada waktu senggang saya akan menjenguk Syakira. Semoga dia cepat sembuh seperti semula," ucap Rani lagi yang merasa berat untuk pergi jika mengingat gadis kecil itu.
"Syakira anak yang kuat. Sebentar lagi juga kembali ceria. Jangan terlalu mengkhawatirkannya!"
Rani segera masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba, terdengar suara dari dalam rumah.
"Ibuuu, aku ikut!"
Itu adalah suara Syakira yang ternyata sudah bangun. Dia sampai berlari ketika tahu Rani akan pergi.
Namun, Rani sudah ada di dalam mobil. Jika keluar lagi, dia gak akan tega untuk pergi.
"Aku pergi dulu ya, sayang. Nanti kita bertemu lagi!" ucap Rani sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"Jangan pergi, ibuuu. Jangan pergi ...."
Syakira bersiap untuk menyusul mobil yang membawa Rani. Tapi ayahnya segera menahannya. Gadis kecil itu terus meronta.
Mobil sudah berjalan dan semakin jauh. Rani gak mau menoleh ke belakang. Tanpa terasa air matanya menetes. Ada sesuatu bergemuruh di dalam hatinya. Maafkan aku, Syakira!
Dayat sampai di rumah berbarengan dengan Rani yang baru turun dari mobil. Dayat melihat mata Rani sembab seperti habis menangis. Dia mulai mencemaskannya.
"Ada apa, bu? Apa hape ibu rusak? Aku menelpon sejak semalam!" tanya Dayat kembali formal.
"Hapeku mati karena lupa gak bawa carger. Lagipula semalam juga gak ada signal. Apa yang terjadi? Apa Tuan Damar mencariku?" Rani merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Masuklah dulu. Nanti Tuan Damar yang jelaskan!" ujar Dayat sambil membawa tas Rani.
Rani segera mengukuti Dayat. Makanya Rani selalu gelisah apalagi hapenya mati sejak semalam.
"Apa kamu baru pulang, Ran?"
Nyonya Kamaratih langsung menyambut Rani dengan pertanyaan.
"I-iya, nyonya. Maaf semalam gak memberi kabar!" jawab Rani sambil menunduk.
"Apa yang terjadi denganmu? Matamu sembab begitu?"
Nah! Perasaan Rani benar. Nyonya Kamaratih bisa melihat wajahnya padahal Rani sudah menunduk.
"Hanya kurang tidur, nyonya!"
"Sudahlah! Cepatlah istirahat. Nanti Tuan Damar akan mencarimu!"
Dayat tahu sifat ibunya. Dia segera menarik tangan Rani masuk ke dalam rumah.
Nyonya Kamaratih hanya diam saja melihat apa yang dilakukan Dayat. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi. Apa soal Damar?
*****
Luna akhirnya tertidur ketika sudah gak bisa menahan rasa kantuknya. Dia pun tertidur sambil duduk dengan kaki dan tangan terlipat.
Angela malah gak bisa memejamkan mata. Tubuhnya tremor karena reaksi kecanduannya dengan narkoba. Bayangan Jion terlintas di kepalanya. Dia adalah salah satu sebab mengapa Angela terikat dengan obat-obatan terlarang itu.
Malam itu, Jion menangisi mantan pacarnya yang bernama Luna. Padahal mereka sudah berpisah selama setahun. Jion jadi sering mabuk-mabukan dan karirnya berantakan.
"Mengapa kamu masih memikirkan dia, Jion. Apa arti aku di hatimu?"
Jion tertawa padahal airmatanya mengalir. Saat itu dia sedang mabuk.
"Aku sangat mencintainya! Mengapa aku sampai membuat sakit hatinya dengan berhubungan denganmu? Kamu gak ada artinya dan hanya ada Luna di hatiku!" ungkap Jion.
Angela sangat sakit hati mendengar ucapan Jion. Padahal selama ini mereka selalu bersama. Angela sudah menyerahkan jiwa dan raganya untuk Jion.
Sejak malam itu, Angela mulai menjauhi Jion. Dia lebih sering berkumpul dengan teman-temannya sesama model. Mereka yang mengenalkan narkoba padanya. Ketika sedang memakai obat itu, Angela merasa hatinya tenang. Dia gak peduli lagi dengan perasaannya kepada Jion. Tapi, Angela sudah terikat dengan obat-obatan terlarang. Sampai akhirnya berakhir di penjara!
❤❤❤❤❤
__ADS_1