
Luna merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewah seperti di istana. Kamar tidur yang sangat nyaman dengan warna biru muda kesukaannya. Membuat matanya dimanjakan dan terlelap dalam sekejap mata.
Ketika tertidur, Luna memimpikan seorang laki-laki bak pangeran sedang menantinya di ruang dansa. Dia sangat tampan dengan setelan jas berwarna putih. Wajahnya bersinar dan penuh kharisma. Luna sepertinya gak asing dengan laki-laki itu. Dia adalah Damar!
Anehnya, Luna merasa senang melihat Damar. Biasanya, dia selalu saja kesal karena sikap Damar yang di luar nalar. Kali ini, Luna merasa sangat tenang seperti berada di atas air yang mengalir.
Penampilan Luna tidak kalah cantik. Gaun putih yang indah menghiasi tubuhnya seperti cinderrela di dunia dongeng. Wajahnya pun bersinar meski hanya memakai make-up tipis.
Damar pun mengulurkan tangannya dan mengajak Luna berdansa. Tentu saja Luna gak menolak dan menyambutnya dengan suka cita. Mereka berdansa dengan alunan musik yang entah dari mana.
"Kamu sangat cantik, Luna. Aku mencintaimu," bisik Damar lembut yang membuat Luna merinding.
"Aku mencintaimu juga, Damar!" jawab Luna dengan senyuman lebar.
Wajah Damar semakin dekat seakan ingin mencium Luna. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Tiba-tiba, wajah Damar berubah menyeramkan seperti vampire dengan taring yang sangat tajam. Secepat kilat, Damar menancapkan taringnya di leher Luna dan menghisap darahnya dengan buas.
"Aaaagh!" teriak Luna kencang dan membuatnya terbangun.
Ternyata matahari sudah muncul dan menembus tirai jendela. Jiaaah! Luna ternyata bangun kesiangan. Gadis itu pun mencari hapenya di atas kasur untuk melihat jam. Namun, sampai beberapa saat, hape itu tidak ketemu juga.
Luna kembali mengingat dimana hapenya. Semalam dia masih memegangnya ketika masuk ke kamar Damar. Haduh! Ternyata Luna sudah menaruh hapenya di meja yang ada di dalam kamar tidur Damar.
Setelah merapikan tempat tidur, Luna mengendap-endap ke kamar tidur Damar. Mungkin dia sudah berangkat ke bandara. Katanya Damar akan pergi pagi-pagi.
Suasana rumah masih sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Kebetulan sekali. Luna bisa ke kamar Damar dengan leluasa.
Perlahan, Luna membuka pintu kamar tidur Damar. Ternyata pintu itu gak dikunci. Mungkin Damar memang sudah pergi jadi dia gak menguncinya lagi.
Luna tersenyum lebar ketika melihat hapenya ada di atas meja. Untung saja, Damar gak tahu. Bisa saja dia melakukan hal buruk lagi jika mengetahuinya.
Baru saja Luna berniat pergi, tapi malah memikirkan sesuatu. Dia harus mengabadikan suasana kamar tidur Damar yang seperti perpustakaan. Mana ada kamar seperti itu!
Luna pun menyalakan hapenya. Untung batrenya masih menyala. Dia pun membuka kamera yang ada di hapenya dan memotret ruangan itu.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Damar yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawah.
Luna sangat terkejut dengan kemunculan Damar. Apalagi, penampilannya sangat vulgar. Dia pun segera membalikan badannya.
"Maaf! Aku hanya mengambil hapeku yang ketinggalan!" jawab Luna yang langsung kabur.
Damar hanya bengong aja seperti sudah tertangkap basah yang memang dalam keadaan basah dan setengah telanjang!!!
*****
"Luky, mamah mana? Semalam kakak gak pulang, mamah nyariin gak?" tanya Luna yang langsung menghubungi Luky lewat hape.
__ADS_1
"Nanyain sih, tadi. Aku mau berangkat sekolah, kak!" jawab Luky santai.
"Bentar dulu! Mana mamah? Kakak mau ngomong!" ucap Luna lagi.
"Mah, Kak Luna mau ngomong nih! Dia semalam nginap di rumah pacarnya!" teriak Luky.
Luna melotot mendengar teriakan adiknya. Haduh. Mulut Luky memang bocor!
"Ada apa, Lun?" tanya Mama Luna.
"Mah, Luna ada dirumah teman Luna. Besok baru pulang, ya!" jelas Luna.
"Iya, gak apa-apa. Lebih lama juga gak apa-apa!" jawab Mama Luna yang malah gak mengkhawatirkan Luna sama sekali.
"Eeh, beneran kok besok Luna pulang, mah! Mah!"
Ternyata hapenya langsung dimatikan. "Mama dan anak sama aja!" gerutu Luna.
Luna melihat jam di layar hapenya. Untung masih pagi jadi gak terlalu malu kalau kesiangan. Luna teringat tadi sempat memotret kamar Damar. Dia ingin melihat hasilnya.
Tiba-tiba wajah Luna memerah. Ternyata, Luna sudah memotret Damar yang baru saja keluar dari kamar mandi!
"Apa yang kamu lihat sampai seperti itu?" tanya Damar yang baru datang. Dia sudah rapi dan tampan dengan pakaian kerjanya.
"Aakh, enggak. Cuma melihat jam aja. Aku kira sudah siang!" jawab Luna seraya menyembunyikan hape di belakangnya.
Luna menahan napas. Tubuh Damar sangat wangi bukan hanya karena aroma parfum. Luna hampir aja gak sadarkan diri.
Damar bisa merebut hape Luna dengan mudah karena postur tubuhnya yang tinggi. Sementara Luna bertubuh mungil dan tingginya hanya sebahu Damar.
Mata Damar melotot ketika melihat ada foto dirinya yang hampir setengah telanjang di dalam hape Luna. Dia pun segera menghapusnya.
"Aku gak tahu kalau otakmu itu ngeres, ya. Sepertinya kamu sudah kelamaan jomblo!" celetuk Damar seraya mengembalikan hape Luna.
"Maaf, aku gak sengaja. Aku cuma berniat memotret kamarmu yang sangat aneh. Masa sih kamar tidur kayak perpustakaan. Dimana-mana ada buku!" kilah Luna.
"Suka-suka akulah! Awas, jangan masuk ke kamarku lagi!" ancam Damar.
"Salahnya sendiri kenapa pintu kamarmu gak dikunci!" celetuk Luna lagi.
Damar terdiam dan memikirkan perkataan Luna. Semalam dia sengaja tidak mengunci pintu kamarnya. Damar melihat hape Luna di atas meja. Luna pasti akan kembali untuk mengambilnya. Tapi sampai Damar tertidur, Luna gak muncul juga.
"Ada apa ribut-ribut, sih? Apa kalian sudah sarapan?"
Mama Damar muncul di atas kursi roda dengan di dorong oleh seorang pelayan perempuan yang cukup muda. Luna melihat pelayan itu berdandan sangat rapi dan cantik. Hhmmm, ini pasti kesukaan Damar!
__ADS_1
"Belum, mah. Damar baru saja turun! Tadi ada insident sedikit," jawab Damar yang sangat aneh dengan tatapan Luna yang melotot kepadanya.
"Ya, sudah. Sarapan dulu sebelum berangkat. Ajaklah Luna. Mamah sudah sarapan di kamar dan mau ke taman! Apa tidurmu nyenyak, sayang?" tanya Mama Luna lembut.
"Oh iya, Nyonya. Semalam tidur saya sangat nyenyak sampai kesiangan. Biasanya saya selalu bangun masih gelap, Nyonya," jawab Luna yang sedikit malu.
"Hhmmm, saya kurang suka kamu memanggil saya seperti itu. Panggil mamah aja seperti Damar, ya!" jelas Mama Damar.
Sesaat Luna tertegun. Dia bukan siapa-siapa tapi sudah disuruh memanggil mamah. Mau gak mau, Luna harus mengikuti kemauan Mama Damar.
"Baik, mah!" jawab Luna sedikit kaku.
Tak berapa lama, Luna sudah berada di meja makan bersama Damar. Di atas meja sudah tersedia berbagai kue, roti tawar dan berbagai toping juga semangkuk bubur kacang hijau.
Luna mengambil semangkuk kacang hijau dan selembar roti tawar. Kemudian mencelupkan roti tawar itu ke dalam bubur.
Damar melihat apa yang dilakukan Luna. Dia gak pernah melihat orang makan bubur seperti itu.
"Apa lihat-lihat?!" sergap Luna dengan mulut yang masih penuh.
"Cara makanmu sangat aneh! Apa enak makan bubur dengan roti seperti itu?" tanya Damar penasaran.
"Emangnya kamu gak pernah makan seperti ini?" tanya Luna.
Damar langsung menggeleng.
Luna pun kembali mencelupkan sepotong roti ke dalam bubur kacang hijau.
"Ini sangat enak, kok. Coba aja!" Luna menyodorkan roti yang basah itu kepada Damar.
Damar langsung menghindar, apalagi melihat kuah bubur yang menetes dari roti.
"Aku gak suka! Kamu aja yang makan!" ujar Damar setengah histeris. Dia sangat takut bajunya kotor.
Luna merasa sangat aneh dengan sikap Damar, " ya sudah. Oh iya, besok kamu cepat pulang!"
"Kenapa? Emangnya kamu kangen sama aku?"
"Jangan geer! Aku ada meeting di kantor. Ada perusahaan luar negeri yang mau mengorder produkku!" jawab Luna sambil memasukan sepotong kue ke dalam mulutnya.
"Oh, bagus dong! Bilang sama mamah aja kalau mau pulang! Aku rasa keadaan mamah sudah membaik setelah melihatmu. Aku gak bisa memastikan akan pulang kapan," sahut Damar seraya mengoleskan selai di atas sepotong roti tawar.
"Jelaslah, siapapun yang melihatku pasti akan merasakan energi positif!" celetuk Luna.
Damar hanya tersenyum mendengar perkataan Luna. Ini pertama kali ada yang menemaninya sarapan. Sejak kecil, Damar selalu sarapan sendirian. Mamahnya selalu sarapan di kantor. Bahkan sekarang, malah sarapan di kamarnya. Sesaat, Damar merasakan energi positif yang dipancarkan dari Luna, membuat hatinya berbunga-bunga. Apakah Damar sudah jatuh cinta?
__ADS_1
❤❤❤❤❤