
Yuki terpaksa memenuhi permintaan Tuan Kenta agar mereka makan dulu sebelum pulang. Lagi pula mamahnya harus mengisi perutnya agar gak pingsan lagi.
Tidak ada pertanyaan atau pembicaraan serius. Di meja makan semuanya hanya diam saja. Yuki merasa suasana itu sangat aneh. Mamahnya juga kelihatan sangat gugup seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" cetus Jion setelah selesai makan, "mari, nyonya!"
"Oh, iya. Terima kasih!" jawab Nyonya Arana dengan sebuah senyuman kecil.
"Datanglah kesini, kapanpun kamu mau. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian!" celetuk Tuan Kenta sebelum Nyonya Arana masuk ke dalam mobil.
Nyonya Arana diam saja. Pikirannya masih kalut dan gak tahu harus berbuat apa. Sekilas, dia menoleh dan melihat Tuan Kenta terakhir kali. Pernikahan puterinya dengan putera Tuan Arana tidak mungkin terjadi!
Nyonya Arana memejamkan matanya. Dia hanya ingin tidur dan melupakan kenyataan itu. Sepertinya Jion cukup baik untuk puterinya. Namun, sampai kapanpun mereka gak akan pernah bersatu.
"Sebenarnya siapa Tuan Kenta itu, mah? Selain dia itu papahnya Jion. Sepertinya Tuan Kenta mengenal mamah!" tanya Yuki ketika mobil sudah jalan cukup jauh.
"Entahlah! Katanya Tuan Kenta mengenal mamah. Tapi mamah lupa sama sekali!" jawab Nyonya Arana tanpa membuka matanya.
Yuki gak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat yakin mamahnya nenyimpan sesuatu.
Jion juga diam saja namun hatinya bergemuruh. Dia sangat marah dengan niat papahnya yang ikut campur dalam kehidupannya. Apalagi alasannya adalah untuk melancarkan perusahaannya.
Tuan Kenta mencari album keluarganya yang tersimpan di gudang. Orang tuanya sudah lama meninggal bahkan sebelum bertemu dengan Arana. Namun, dia sangat ingat wajah mamahnya yang sangat mirip dengan Yuki.
"Maaf, tuan. Apa perlu saya bantu? Apa yang tuan cari?" tanya Denny yang melihat Tuan Kenta membongkar isi gudang.
"Tidak usah! Pergilah. Besok pagi bawakan dokumen perusahaan Bintang Grup!" sahut Tuan Kenta yang masih mengobrak-abrik barang-barang.
"Baik, tuan. Saya permisi dulu!"
Denny melangkah pergi meski Tuan Kenta gak menjawab. Dia merasa sangat aneh dengan sikap bosnya itu yang sangat berubah setelah mengenal Nyonya Arana. Pasti ada sesuatu diantara mereka.
Gak lama kemudian Tuan Kenta menemukan album tua keluarganya dulu. Album itu sudah usang dan beberapa fotonya gak kelihatan jelas. Dia melihat sebuah foto ketika sedang digendong mamahnya saat masih kecil. Wajah mamahnya saat itu sangat mirip dengan Yuki. Jangan-jangan, apakah Yuki adalah putrinya?
*****
Luna terbangun ketika mendengar suara orang sedang mengobrol. Dia melihat jam dinding dan sudah menunjukan jam tujuh.
__ADS_1
Astaga! Luna kesiangan. Tapi, mamahnya mengobrol dengan siapa? Biasanya adiknya sudah berangkat sekolah kalau jam segini.
Luna segera mandi dan berdandan. Hari ini, dia akan ke dokter untuk melepaskan perban dan melihat hasil rongsen. Tiba-tiba, hapenya bunyi.
"Hallo, ada apa?" tanya Luna ketika tahu Damar yang menelpon.
"Masa sedatar itu, sih. Aku kan calon suamimu," sahut Damar yang kurang semangat mendengar ucapan Luna.
Luna memang gak bisa ngomong basa basi. Tapi, kalau Damar sudah komplain, Luna harus berubah.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Luna lebih lembut.
Damar tersenyum mendengar ucapan Luna yang berbeda dari yang pertama.
"Aku minta maaf gak bisa mengantarkan kamu ke rumah sakit. Mang Dayat juga lagi mengantar mamah ke rumah sakit, Rani juga sedang ke luar kota. Jadi gak ada yang menggantikan aku di kantor!" jelas Damar yang menyesal gak bisa mengantar Luna.
"Iya, Sayang. Gak apa-apa, kok. Aku bisa pergi sendiri!"
"Eeh, jangan. Minta mamahmu menemani kamu. Aku takut terjadi hal buruk lagi denganmu!" icap Damar cemas.
"Oke, Sayang. Hati-hati, ya. Tunggu, ada yang kelupaan!"
Aakh! Mudus lama. Luna sudah hapal kebiasaan Damar.
"Iya, muaaach!" ucap Luna sebelum mematikan hapenya.
Perhatian Luna kembali kepada suara berisik dibawah. Mamahnya tertawa cukup keras dan juga suara seorang pria!
Luna segera turun ke ruangan bawah. Kemudian dia sangat terkejut melihat mamahnya mengobrol dengan seorang pria.
"Selamat pagi," tegur Luna.
Laki-laki itu pun menoleh. Ternyata dia adalah Tuan Arya.
"Selamat pagi, Luna!"
"Tuan Arya? Apa ada hal penting, pagi-pagi sudah kesini, Tuan?" tanya Luna yang cemas jika terjadi hal buruk.
__ADS_1
Tuan Arya tertawa kecil, "gak ada apa-apa. Kebetulan aku lewat sini dan mampir untuk melihat keadaanmu. Eeh malah dibikinin sarapan. Apa kamu sudah baikan?"
"Hari ini saya mau ke rumah sakit, tuan. Apa mamah bisa mengantar? Tadi Damar telpon gak bisa mengantar karena ga ada orang dikantornya!"
"Ya, sudah sama mamah aja. Lagian mamah gak ada acara, kok!"
"Oke! Aku akan mengantar kalian!" cetus Tuan Arya yang membuat Luna dan mamahnya terkejut. "Kenapa kalian bengong! Ayo, kita berangkat!"
Yah! Begitulah. Akhirnya Luna pergi ke rumah sakit bersama mamahnya dan diantar Tuan Arya. Luna juga gak bisa menolak bantuannya. Tidak dulu, atau pun sekarang.
Ternyata, seseorang tengah memerhatikan setiap gerak gerik Luna. Laki-laki itu terus saja memotret mereka dari jauh. Namun, anak buah Tuan Arya juga ada di sekitar mereka. Dia tahu kalau ada orang lain mengikuti majikannya.
-- Ada orang yang mengikuti tuan dan memotret dari jauh, tuan!
Tuan Arya melihat pesan di hapenya sebelum berangkat.
-- Selidiki siapa yang sudah mengirimnya.
-- Baik, tuan.
Anak buah Tuan Arya membiarkan orang yang sudah mengikuti majikannya. Siapa yang sudah mengirim orang itu? Apakah anak buah Tuan Kenta?
Gak lama kemudian, Luna sampai juga di rumah sakit dan bertemu dengan dokter Raffi. Bukan hanya mamahnya, Tuan Arya juga terus mendampingi Luna sampai ke ruang prakter dokter Raffi.
"Jadi, anda adalah ayah dan ibunya, Nona Luna?" tanya dokter Raffi yang baru bertemu keluarga Luna.
Luna bingung harua menjawab apa begitu juga mamahnya. Sementara Tuan Arya hanya tertawa saja.
"Ya, saya bisa juga menjadi papahnya Luna. Saya sudah menganggapnya sebagai puteri saya sendiri!" sahut Tuan Arya. Dia malah senang mendengarnya.
"Oh, maaf kalau saya salah tebak. Tuan memang sangat berkharisma dan sangat pantas menjadi orang tua Nona Luna!" dokter Raffi sangat menyesal karena sudah salah tebak.
"Tentu saja! Kalau menikah nanti, saya pasti yang akan mendampingi Luna. Iya, kan?" tanya Tuan Arya antara serius dan bercanda.
Mamah Luna ikut tertawa juga karena tahu Tuan Arya hanya bercanda. Sementara Luna hanya diam saja. Seandainya Tuan Arya benar papahnya, pasti akan sangat menyenangkan.
❤❤❤❤❤
__ADS_1