TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
JINAK MERPATI #2


__ADS_3

luna tertegun melihat seorang wanita setengah tua yang sedang terbaring di tempat tidur. Ternyata, wanita yang mau menjodohkan Luna dengan puteranya adalah mamanya Damar.


Damar duduk di samping mamanya dan membisikan sesuatu, "mah! Ini Damar sudah datang bersama Luna," ucapnya.


Nyonya Kamaratih membuka mata dan sebuah senyuman menghiasi sudut bibirnya. Wajahnya yang pucat sedikit merona.


"Nak Luna, kamu sudah di sini?" tanyanya seraya bangun dari tidurnya.


"I-iya, nyonya. Sebaiknya nyonya tiduran aja," jawab luna dengan suara sedikit gemetar. Perasaannya menjadi berbeda ketika belum mengetahui siapa Nyonya itu. Seperti ada sesuatu yang membuatnya gemetaran.


"Maaf mengganggumu malam-malam seperti ini. Mamah takut tidak bisa bertemu denganmu lagi. Kondisi mamah sudah tidak baik tapi ingin mendengar dari mulutmu sendiri soal Damar. Apa kamu mau menikah dengannya?" tanya Nyonya Kamaratih lebih jelas.


Luna semakin gugup. Dia gak mau membuat Nyonya Kamaratih kecewa yang bisa membuatnya bertambah sakit.


"Tapi, Nyonya. Bagaimana dengan putera nyonya sendiri. Usia saya lebih tua lima tahun darinya. Saya takut, nanti akan menjadi masalah," jawab Luna berusaha jujur meski banyak alasan yang gak bisa diucapkan.


"Lima tahun? Tapi saya melihatmu kelihatan sebaya dengan Damar. Berarti kamu pandai merawat diri!"


Damar tersenyum mendengar perkataan mamanya. Dia tahu kalau Luna sengaja mengatakan perbedaan usia mereka. Tetapi mamanya malah mengatakan sebaliknya.


Luna bertambah gugup. Dia mencari alasan lain agar bisa menunda perjodohan lain.


"Mamah ingin akhir bulan ini kalian bisa menikah. Minggu depan ajaklah keluargamu kesini. Biar saya bisa mengenal keluargamu lebih dekat lagi! Dua hari ini tinggallah disini. Damar akan pergi keluar kota," terang Nyonya Kamaratih.


Luna langsung terperangah. Dua hari tinggal di rumah Damar! Memang sih Damarnya ga ada, tapi Luna tetap merasa canggung.


"Iya, nyonya!" jawab Luna singkat. Lidahnya tiba-tiba menjadi kaku.


Damar sangat senang nelihat Luna seperti merpati yang sudah jinak. Kali ini, Luna gak akan bisa terbang lagi!


"Baiklah, mama senang kamu mau menikah dengan Damar. Dia itu terlalu dingin apalagi dengan perempuan. Kamu harus banyak bersabar dengannya, ya. Ayahnya sudah meninggal sejak kecil dan harus bisa mandiri karena saya tinggal bekerja. Sebenarnya, Damar itu sangat kesepian," ungkap Nyonya Kamaratih.


Luna mendengarkan dengan seksama. Pantas aja sikap Damar agak kasar!

__ADS_1


Damar menjadi sedikit gugup dan pura-pura gak mendengar perkataan mamanya.


"Baiklah, mah. Damar mau istirahat dulu, ya. Besok mau berangkat pagi!" ucap Damar yang berniat ingin pergi.


"Tunggu, Damar. Mamah juga mau tidur lagi. Sekalian antarkan Nak Luna ke kamarnya! Nah, istirahatlah, Nak Luna."


Eeh! Mengapa Damar yang mengantarkan Luna ke kamarnya. Sesaat Luna jadi parno.


"Baik, Nyonya. Saya pergi dulu. Istirahatlah!"


"Jangan berpikir yang gak-gak! Aku bukanlah serigala pemakan kelinci!" ujar Damar ketika langkah Luna semakin pelan.


Luna melotot. Kebiasaan Damar mulai lagi.


"Aku bukanlah kelinci, tahu! Tapi merpati yang bisa terbang kapan saja aku mau!'


Damar menghentikan langkahnya dan menatap Luna tajam. Wajahnya semakin mendekat membuat Luna jadi salting.


Melihat Luna gelisah malah membuat Damar merasa menang.


"Kau! Jangan kurang ajar!" ucap Luna mengira kalau Damar melakukan hal yang buruk.


Beberapa detik, Damar gak bergerak pada posisinya. Luna mulai berkeringat dingin ketika wajahnya hanya tinggal beberapa centi aja. Membuat Luna menahan napas.


"Apa karena jomblo terlalu lama membuatmu jadi punya pikiran kotor?" Damar menjentikan ujung jarinya ke kening Luna.


"Kamu! Aku lebih tua, tahu!" Luna semakin sewot dengan kelakuan Damar. Keningnya menjadi merah dan lumayan sakit.


"Jangan usia kamu jadikan alasan melulu. Kamu kan dengar perkataan mamaku. Wajahmu itu tidak kelihatan lebih tua dariku!" jelas Damar yang kembali melangkah.


"Bisa jadi karena kamu yang kelihatan lebih tua!" celetuk Luna.


"Apa yang kamu bilang?"

__ADS_1


"Gak! Aku gak ngomong apa-apa kok!" sahut Luna berbohong.


Tak lama kemudian, Damar berhenti di depan pintu kamar. Pasti itu adalah kamar untuk Luna.


"Makasih ya sudah diantar. Met malam!"


Luna langsung nyelonong masuk ke dalam kamar itu. Namun langkahnya terhenti ketika berada di dalam. Ruangan itu bukan seperti sebuah kamar, melainkan seperti perpustakaan dengan banyak buku di berbagai tempat. Luna tersadar kalau itu bukan kamarnya, tapi kamar tidur Damar!


"Apa kamu mau tidur bersamaku? Karena kamar tidurmu ada di sana!" Damar menunjuk ke depan kamarnya.


Aduh! Luna aku bisa menahan malu lagi. Mukanya langsung merah seperti udang rebus.


"Oh, iya. Makasih, ya!"


Luna langsung kabur tanpa melihat Damar lagi. Pasti saat ini, dia sedang menertawainya.


"Tunggu!" teriak Damar.


"Apa lagi, sih?!" tanya Luna kesal.


"Kunci kamar itu masih sama aku. Apa kamu bisa masuk tanpa melewati pintu seperti hantu?"


Akhirnya, Luna menyerah begitu mendengar perkataan Damar. Kali ini, dia mengaku kalah. Dia pun mendongak dan melihat Damar menyodorkan kunci dengan tatapan aneh.


"Mana kuncinya?" tanya Luna pelan.


"Kamu bisa membukanya sendiri, gak?" tanya Damar seraya memberikan kunci kamar Luna.


"Aku akan mencobanya," sahut Luna sambil berjalan menuju ke kamarnya. Dia pun segera memasukan kunci ke dalam lubangnya.


Damar masih berdiri di tempatnya sambil memerhatikan apa yang dilakukan Luna. Dia baru bisa lega ketika Luna bisa membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.


Luna segera menutup pintu dan mengunci kamarnya. Dia takut kalau Damar masuk dan melakukan perbuatan jahat. Bagaimana kalau Damar memperkosanya? Luna menutupi dadanya dengan tas dan membayangkan yang tidak-tidak. Dasar Luna!

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2