
Damar melihat mobil Tuan Arya masih di depan rumah Luna. Fix deeh! Dia juga akan menginap.
"Kayaknya masih ada Tuan Arya. Ini kan sudah jam sebelas lewat. Pokoknya, aku juga akan menginap!" tegas Damar.
Luna gak bisa membantah omongan Damar. Dia juga heran kenapa Tuan Arya belum pulang juga.
"Kenapa kalian pulang malam sekali?" sambut Mamah Luna yang masih cemas.
"Maaf, mah. Tadi banyak pekerjaan di kantor. Selamat malam Tuan Arya. Tuan juga masih disini padahal sudah malam," tegur Damar sekaligus menyindir.
"Oh, selamat malam juga. Aku akan menginap disini!" jawab Tuan Arya.
"Oh, sama dong. Saya juga akan menginap disini!"
Luna dan mamahnya saling pandang. Mereka sama-sama bingung melihat kelakuan dua laki-laki berbeda generasi itu.
"Sebaiknya Tuan pulang. Pasti istri tuan sedang menunggu. Dia pasti sangat cemas karena jam segini tuan belum pulang! Saya gak enak kalau dia tahu tuan di sini!" jelas Mamah Luna yang mengusir Tuan Arya secara halus.
"Bagaimana kalau para wartawan itu balik lagi?" tanya Tuan Arya yang mencari alasan agar bisa menginap.
"Saya ada di sini juga kok, tuan!" sergap Damar.
Luna malah memelototinya, "kamu juga pulang aja. Aku udah gak apa-apa, kok!"
"Iya, Nak Damar juga pasti capek!"
"Iya, mah. Sebentar juga pulang. Katanya Luna mau membuatkan saya teh. Iya kan, Lun?"
"Aku juga mau teh!" ucap Tuan Arya gak mau kalah.
"Tapi tuan sudah banyak minum teh bahkan sudah dua kali makan!" ungkap Mamah Luna.
Tuan Arya jadi malu sendiri. Apalagi Luna dan Damar melihatnya dengan tatapan aneh.
"Iya-iya. Aku akan menunggu sopirku dulu!"
Akhirnya Tuan Arya menyerah juga. Dia pun memanggil sopirnya lewat hape yang ternyata masih menunggu di dalam mobil. Terpaksa deh Tuan Arya pergi juga!
"Aku mau mandi sebentar. Kalau teh kamu sudah habis, langsung pulang aja!" ucap Luna setelah membuatkan Damar segelas teh manis hangat.
"Iya, tehnya juga masih panas!" jawab Damar sambil meniup teh yang dibiarkan Luna.
__ADS_1
Luna merasa tenang. Damar pasti akan pergi juga. Setelah mandi, dia pun kembali dan mengira sudah gak ada Damar. Dilihatnya gelas teh sudah kosong.
"Damar sudah pulang ya, mah?"
Mamah Luna datang setelah mengunci pintu.
"Masih ada di kamar Luky. Katanya mau mengobrol sebentar!" jawab Mamah Luna sambil membetulkan tirai jendela.
"Sebentar? Terus, kenapa mamah mengunci pintu?" tanya Luna keheranan.
"Mungkin Nak Damar sekarang sudah tidur. Biarkan aja, Lun. Kasihan dia kecapean!"
Luna cuma bisa bengong. Dasar Damar! Bisa aja yang dilakukannya agar gak jadi pulang. Dia pun segera menuju ke kamar Luky dan membuka pintunya.
"Ssttt! Jangan berisik. Kak Damar sudah tidur!"
Luky malah memarahi Luna padahal belum mengatakan apapun. Di lihatnya, Damar sudah tergeletak di tempat tidur Luky.
"Terus kamu mau kemana?" tanya Luna ketika Luky malah keluar dari kamarnya.
"Aku lapar! Mau cari makanan!" jawab Luky sambil melangkah menuruni anak tangga.
Luna baru ingat kalau Damar belum sempat makan malam. Baru sehari bebas, dia sudah banyak melakukan pekerjaan. Luna menyesal karena kurang memerhatikan nya. Besok dia akan menebusnya.
*****
"Aku mau langsung tidur. Jangan ganggu aku!" sahut Tuan Arya sambil melangkah menuju kamar pribadinya.
"Tapi, pih. Tadi papih kemana aja? Aku sangat khawatir!"
Tuan Arya gak mengatakan apapun lagi. Dia hanya ingin cepat memejamkan mata.
Saskia gak mau diam saja. Dia tetap membuntuti suaminya. Dia ingin Tuan Arya gak mencurigainya lagi.
"Aku temani ya, pih. Aku bisa memijat papih agar cepat tidur!"
Gak ada jawaban. Saskia gak peduli. Tuan Arya gak akan mengusirnya dari tempat tidur. Namun, baru saja Saskia akan masuk, Tuan Arya langsung menutup pintu. Saskia mencoba membukanya tapi pintu kamar itu sudah dikunci.
Jika sudah seperti itu, Saskia gak bisa berbuat apa-apa lagi. Sebenarnya, kenapa Tuan Arya sering kali ke rumah Luna. Apa dia dan Luna mempunyai hubungan rahasia. Tapi kemarin malah jadi pendamping Luna di hari pertunangannya, bahkan di hari pernikahannya nanti.
Saskia masuk ke kamarnya dengan banyak pertanyaan. Sepertinya dia akan mengubah strategi agar bisa mendapatkan hati Tuan Arya lagi.
__ADS_1
*****
Rani ikut menjadi pusing setelah tahu berita hoax soal Luna dan Jion. Baru saja selesai satu kasus sekarang ada kasus yang baru. Itulah yang dia gak sukai setelah Tuan Damar bertemu Nona Luna. Selalu saja ada masalah yang terjadi dengan keduanya.
Baru saja, Rani akan memejamkan mata, terdengar suara panggilan dari hapenya. Siapa yang sudah menghubunginya? Apa Tuan Damar?
Ternyata yang menghubunginya adalah Agung. Rani enggan membuka hapenya. Namun, dia malah gak bisa tidur karena perasaannya gak enak. Akhirnya menghubungi Agung balik.
"Ada apa, mas? Maaf tadi saya lagi di kamar mandi," tanya Rani yang penasaran juga.
"Maaf mengganggu, Ran. Syakira lagi sakit panas. Dia mengigau dan memanggilmu terus menerus. Apa kamu bisa kesini sebentar?"
"Syakira sakit? Baik, mas. Saya akan kesana secepatnya!" ucap Rani yang langsung beranjak dari tempat tidur. Dia khawatir dengan keadaan Syakira. Dulu juga dia pernah sakit sewaktu liburan. Namun Rani gak secemas sekarang.
Agung sudah menunggu di luar rumah agar bisa menjemput Rani. Namun, Ranilah yang berlari kearahnya.
"Di mana Syakira, Mas?"
"Di kamar tidurnya. Aku sudah memberinya obat! Tapi panasnya belum turun juga. Malahan dia menyebut namamu terus menerus!" jelas Agung.
Rani segera berjalan menuju kamar Syakira tanpa menghiraukan Agung. Perasaannya sangat cemas dan ingin melihat Syakira secepatnya.
Dilihatnya, si kecil Syakira terbaring di tempat tidur sambil menggigil. Rani segera mengjampirinya dan memegang keningnya.
"Astaga, mas. Syakira panas sekali. Kita harus membawanya ke dokter!"
"Tadi sore sudah ke klinik, katanya kalau panas lagi dikompres aja!"
"Ya sudah. Lebih baik mas diluar saja. Saya akan memeluk Syakira!"
"Maksudmu apa?" tanya Agung gak ngerti.
"Saya akan memeluknya tanpa baju agar panasnya berkurang. Jadi mas diluar saja!"
"Apakah aman? Aku takut kalau kamu ikut sakit!"
"Aku gak apa-apa kok, mas!"
Agung gak bisa mengatakan apapun lagi. Dia menuruti perkataan Rani dan keluar dari kamar Syakira.
Sementara itu, Rani membuka baju Syakira dan juga bajunya, kemudian memeluk gadis kecil itu erat. Syakira berhenti bergumam setelah berada di dalam pelukan Rani dan langsung tertidur pulas. Begitu juga Rani yang ikut terlelap.
__ADS_1
Agung hanya bisa menunggu dengan penuh kecemasan di ruang tamu. Hubungannya dengan Rani merenggang setelah ketahuan pekerjaan aslinya yang seorang anggota polisi. Namun bagi puterinya, Rani adalah pengganti kekosongan hatinya yang merindukan sosok seorang ibu. Agung gak bisa memaksakan hati seorang anak kecil. Syakira sudah terlanjur memilih Rani.
❤❤❤❤❤