TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MELEPASKAN IMPIAN #3


__ADS_3

Akhirnya kondisi Nyonya Kamaratih stabil juga meski belum bisa keluar dari ICU. Damar, Dayat juga Luna bisa bernapas lega.


"Aku mau pergi sebentar. Tadi aku meninggalkan koperku di lobby!" ucap Luna yang baru akan beranjak pergi.


"Tunggu!" cegah Damar.


"Ada apa?"


"Aku saja yang mengambil kopermu. Kamu tetaplah disini!" sahut Damar yang gak mau kehilangan Luna lagi.


"Aku saja yang mengambilnya!" Dayat juga menawarkan dirinya.


"Biar aku aja, kak. Tolong jaga mamah sebentar!"


Damar langsung melangkah pergi tanpa menunggu persetujuan Dayat lagi.


Luna gak sempat mencegah Damar. Dia sedikit cemas karrna Anna ada di lobby. Damar pasti akan bertemu dengannya.


Dayat melihat wajah Luna yang dipenuhi kecemasan.


"Saya senang nona kembali lagi. Sebenarnya tadi tuan muda. Maksud saya, Damar mencari nona kemana-mana bahkan sampai ke apartemen!" ungkap Dayat berharap bisa mengurangi kecemasan Luna.


"Benarkah? Aku mengira kalau Damar akan kembali lagi bersama Anna. Itulah yang dikatakannya tadi siang. Makanya aku berniat untuk pergi," jelas Luna.


"Seharusnya nona jangan percaya dengan Nona Anna. Dia pasti punya maksud tertentu karena sudah berbohong! Damar gak pernah punya niat sedikit pun untuk bersamanya lagi!" lanjut Dayat yang menahan diri agar gak mengatakan pembicaraan Anna dengan ibunya.

__ADS_1


Luna mendongak. Dia seperti memikirkan sesuatu, "apa mulai sekarang aku boleh memanggil kakak juga. Meskipun kita ini sepantaran!" celetuk Luna yang malah membicarakan hal lain.


"Seperti biasa juga gak apa-apa, non. Saya gak terpengaruh sama sekali!" sahut Dayat.


Luna tersenyum. Dia melihat ketulusan di hati Dayat. Dia tidak menginginkan apapun kecuali keluarga.


*****


Anna masih duduk di tempatnya semula. Koper Luna juga ada bersamanya. Dia mengambilnya ketika Luna pergi begitu saja.


Wajahnya sedikit pucat dan tangannya mulai bergetar. Sudah waktunya minum obat. Namun, Anna lupa membawa obatnya. Kejadian hari ini membuatnya sangat terpengaruh. Begitu juga kondisi kesehatannya yang belum sembuh benar. Ya! Anna berbohong kepada Nyonya Kamaratih kalau dia sudah sembuh total.


"Apa kamu yakin mau menemui Nyonya Kamaratih, Anna?" tanya seorang laki-laki setengah tua berwajah oriental dengan bahasanya yang masih kaku. Sepertinya dia juga mengetahui apa yang terjadi pada Anna. Dia adalah dokter yang merawat Anna sejak pertama berobat di rumah sakit. Lima tahun kemudian mereka menikah.


Sebelum menemui Nyonya Kamaratih, Anna menemui suaminya, dokter Han. Usia mereka memang cukup jauh. Namun, Anna terpaksa menikahi dokter Han agar bisa lebih lama tinggal di Singapura.


"Ingatlah dengan penyakitmu. Kanker paru-paru bukanlah penyakit biasa. Sudah hampir sepuluh tahun kamu berobat dan hasilnya cukup baik. Namun, jika kamu banyak pikiran bisa mempengaruhi kesehatanmu!" jelas dokter Han.


"Selama sepuluh tahun aku bisa menahannya. Aku akan baik-baik saja selama satu hari ini saja!"


Anna sudah tidak bisa dicegah lagi. Rasa sakit yang ditahannya selama ini tidak sebanding dengan pengorbanannya. Mereka juga harus menderita!


Damar sudah sampai di lobby rumah sakit. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari koper Luna yang ketinggalan. Sepertinya koper itu sudah dipindahkan orang lain.


"Apa kamu mencari koper Kak Luna, Damar?"

__ADS_1


Damar tertegun mendengar suara itu dan segera menoleh. Di hadapannya sudah berdiri Anna sambil membawa koper milik Luna.


"Oh, iya. Aku memang mencari koper itu. Terima kasih!" ucap Damar seraya mengambil koper yang dipegang Anna. Dia pun segera membalikan badan untuk kembali menemui Luna.


"Tunggu, Damar. Aku mau bicara!" ucap Anna seraya menarik tangan Damar.


Spontan Damar sangat terkejut. Namun, dia juga harus menyesaikan sesuatu dengan Anna secepatnya.


"Ada apa?" tanya Damar ketika sudah berada di koridor yang sepi.


"Aku sangat merindukanmu, Damar. Selama sepuluh tahun ini aku menahan perasaanku karena tidak bisa menemuimu. Mamahmu yang sudah memisahkan kita. Sudah waktunya kita bersama lagi seperti dulu!" ungkap Anna dengan mata berkaca-kaca. Meskipun sudah menikah dengan dokter Han, Anna masih berharap bisa bersama Damar lagi.


Damar menarik napas panjang. Hatinya masih bergemuruh. Peristiwa di rumah sakit waktu itu kembali terbayang. Bagaimana hatinya hancur mengetahui kenyataan kalau Anna sudah meninggal. Mulai saat itu, Damar harus mengatasi traumanya sendirian. Sampai akhirnya memilih tinggal di luar negeri agar bisa melupakan kesedihannya.


Kini, Anna muncul di hadapannya. Senyuman dan kecantikannya tidak berubah sama sekali. Bahkan dada Damar sempat berdegup seperti pertama melihatnya dulu.


"Maafkan aku, Anna. Aku sudah menjelaskanmu bahwa aku sudah bertunangan dengan Luna. Tidak ada yang aku jelaskan lagi. Hubungan kita sudah lama berakhir. Sepertinya aku harus pergi sekarang juga!"


Damar merasa tidak nyaman bersama Anna lebih lama. Dia sangat takut Luna pergi lagi. Namun baru saja dia akan pergi, tiba-tiba Anna terhuyung dan hampir jatuh.


"Anna!"


Damar segera menangkap tubuh Anna sebelum jatuh.


"Anna, Anna ...," panggilnya.

__ADS_1


Gak ada jawaban. Anna benar-benar pingsan!!!


😱😱😱😱😱


__ADS_2