TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
JEJAK YANG TERTINGGAL #3


__ADS_3

Luna dibawa ke sebuah ruangan kecil. Dia mengira kalau Damar yang akan menemuinya.


"Jion?!"


Ternyata Jion yang datang.


"Apa kabar kamu, Luna? Apa kamu gak knapa-napa?" tanya Jion dengan wajah penuh khawatir.


"A-aku baik-baik aja. Apa yang kamu lakukan di sini?"


Jion tersenyum dan duduk di sebelah Luna. Namun, Luna malah menjauhinya.


"Aku sangat mencemaskanmu, Lun. Aku gak bisa tidur kalau belum bertemu langsung denganmu!" ungkap Jion sungguh-sungguh.


"Aku baik-baik aja, Jion. Damar akan melakukan apapun sampai aku keluar dari tempat ini," jawab Luna yang menyinggung soal Damar..


Jion menarik napas panjang. Nama itu lagi yang disebut Luna.


"Aku rasa Yuki tahul semua yang terjadi padamu. Soal perusahaanmu dan kejadian ini!"


Luna terdiam. Dia juga tahu Yuki terlibat dalam kebangkrutan perusahaannya. Tapi soal Pak Sony? Dia kan pamannya sendiri!


"Bagaimana bisa? Apa dia mau pamannya sendiri mati?" tanya Luna heran.


"Entahlah! Yang jelas, dia tahu kalau kamu akan menemui Pak Sony di hotel. Aku rasa dia yang sudah memberitahu istrinya Pak Sony juga!"


Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dikatakan Jion. Sesuatu itu akan membebaskan Luna dari semua tuduhan dalam sekejap mata.


"Terima kasih kamu sudah khawatir, Jion. Tapi, ada seseorang yang lebih kamu cemaskan. Aku bertemu Angela di dalam. Dia terlibat dalam penyalahgunaan Narkoba. Temuilah dia!" ucap Luna ketika teringat Angela.


"Angela? Aku sudah lama gak bertemu dengannya! Lagipula untuk apa aku menemuinya. Diantara kami sudah gak ada hubungan apa-apa!" kilah Jion. Dia ingat gara-gara Angela, Luna jadi minta putus. Padahal saat itu, Angelalah yang selalu menempel padanya.


"Maaf, waktunya sudah habis!" seorang petugas polisi muncul.


"Tapi kami belum bicara banyak, pak!" cetus Jion.


"Pengacara Nona Luna sudah datang. Jadi silakan anda keluar!"


Jion sangat cemas. Bahkan dia belum mengungkapkan soal video Luna dan Pak Sony dulu.

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan pergi. Tenanglah, Lun. Aku juga akan melakukan apapun agar kamu bisa keluar!"


Jion terpaksa meninggalkan Luna. Di ruang tunggu, dia melihat Damar dan seorang laki-laki, mungkin pengacaranya.


Damar gak kaget melihat Jion. Dia sudah mendengar kalau proyek filmnya sudah selesai.


"Apa kabarmu, Tuan Damar? Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Jion lebih formal. Iya lah! Damar kan sponsor dari fimnya.


Damar mengangguk dan menyuruh Ikhsan pergi lebih dahulu.


"Ada apa?" tanya Damar setelah tinggal mereka berdua.


"Aku gak bisa melakukan banyak buat Luna. Tapi aku menyimpan ini. Jika Tuan Sony sadar dan menuduh Luna, tunjukan video ini. Dulu dia juga pernah menjebak Luna, kejadian sekarang bisa juga jebakan yang sama!" ungkap Jion sambil menyodorkan sebuah flashdisk.


Damar menerima flashdisk yang diberikan Jion. Dia masih gak mengerti mengapa Jion masih mencintai Luna.


"Bagaimana kalian bertemu dulu? Apa Luna yang mengungkapkan perasaannya duluan?" Damar kepo juga.


Jion tertawa kecil, "mana mungkin Luna yang mengatakan cinta duluan. Susah payah aku mengejarnya sampai akhirnya Luna menerima cintaku! Hanya saja, aku terkena starsyndrom dan menyakiti hatinya. Sampai sekarang aku sangat menyesalinya!" terang Jion dengan suara bergetar. Penyesalan yang datang terlambat.


Damar terdiam. Berarti Luna memang sulit untuk ditaklukan. Apapun yang akan terjadi, Damar juga gak mau kehilangannya.


*****


"Apa kabar, nyonya? Apa keadaan nyonya baik-baik aja? Saya turut prihatin dengan Luna. Sekarang dia sedang di kantor polisi karena hampir membunuh orang!" ungkap Yuki tanpa basa basi lagi.


"Apa maksudmu? Luna di kantor polisi?!"


Nyonya Kamaratih sangat terkejut dengan perkataan Yuki. Hampir seminggu ini, Luna memang gak menemuinya.


"Jadi, nyonya belum tahu? Perusahaan Luna sudah bangkrut dan sekarang menjadi seorang narapidana karena percobaan pembunuhan. Apa nyonya masih menginginkannya menjadi menantu nyonya?"


Nyonya Kamaratih terdiam. Terakhir ini Damar dan Dayat memang kelihatan sibuk. Tapi mereka gak mengatakan apapun soal Luna.


"Aku menyukai Luna bukan karena perusahaannya. Jika hal buruk terjadi padanya gak serta merta aku membencinya. Apa kira aku gak tahu perusahaanmu juga gak sehat? Kamu seharusnya berpikir lebih bijak, Yuki!"


Yuki merasa perkataan Nyonya Kamaratih seperti pukulan yang menohok. Ternyata, dia tahu keadaan perusahaan Yuki sebenarnya.


"Ma-maaf, nyonya. Saya hanya ingin mengabarkan apa yang terjadi dengan Luna. Kasihan dia mengalami banyak masalah terakhir ini!" ujar Yuki yang pura-pura bersimpati kepada Luna.

__ADS_1


"Seperti itulah manusia. Gak selamanya ada di atas atau di bawah. Seperti roda yang berputar semua akan mengalaminya juga. Terima kasih perhatianmu. Tapi sebaiknya kamu mendukung Luna bukannya malah mengoloknya!"


Deg! Jantung Yuki beberapa kali dihantam dengan perkataan Nyonya Kamaratih. Dia memang selalu begitu. Ternyata Yuki gak bisa menghancurkan pemikirannya. Sudah saatnya untuk menyerah!


Nyonya Kamaratih hanya diam saja di depan rumah setelah Yuki pergi. Dia akan menunggu Damar pulang dan meminta penjelasannya soal musibah yang terjadi pada Luna.


Gak lama kemudian, mobil Damar muncul. Namun yang datang hanya Dayat.


"Damar kemana, yat?"


"Masih ada urusan, nyonya!" jawab Dayat singkat.


"Tidak ada orang disini. Jangan panggil aku dengan sebutan nyonya!" Nyonya Kamaratih mulai gak enak mendengar Dayat memanggilnya seperti itu.


"Saya sudah terbiasa, nyonya. Maaf saya mau mengambil berkas Tuan Damar!" Dayat berniat mau pergi.


"Tunggu! Aku sudah tahu apa yang terjadi pada Luna," ucapnya.


Dayat tertegun dan menghentikan langkahnya, "darimana nyonya bisa tahu? Bukankah gak melihat tv atau hape?"


"Tadi Yuki kesini. Kenapa kalian menutupinya dariku?"


"Nanti Tuan Damar yang akan menjelaskannya, nyonya!" Dayat gak bisa mengatakan apapun. Yang lebih berhak bercerita adalah Damar.


"Aku harus tahu apapun yang terjadi pada Luna. Dia adalah calon menantuku! Mengapa sampai terjadi peristiwa mengerikan itu dan dipenjara?"


"Saya kurang tahu pasti nyonya. Sekarang Tuan Damar sedang mengupayakan yang terbaik untuk Nona Luna," sahut Dayat.


"Tuan Damar? Dayat, dia itu adikmu! Rencananya setelah pernikahan Damar dengan Luna, aku akan mengatakan siapa kamu sebenarnya!"


Dayat mendongak dan menatap ibunya lekat.


"Jangan katakan apapun, saya sudah cukup baik seperti ini! Gak ada bedanya jika Damar tahu. Saya tetap menjadi pesuruhnya!"


"Dayat! Jika kamu mau, ibu akan mengangkatmu menjadi manager. Itu adalah salah satu impian ibu. Melihat kamu dan adikmu sebanding!"


Dayat menggeleng, "tidak, bu. Kalau ibu mengatakannya kepada Damar, saya akan pergi!" ancam Dayat.


Nyonya Kamaratih hanya diam saja melihat Dayat pergi. Tubuhnya gemetaran. Untung aja dia duduk di kursi roda, kalau berdiri pasti sudah tumbang. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Jejak masa lalunya gak bisa dihapus atau pun diterangkan!

__ADS_1


*****


__ADS_2