
Luna memutuskan untuk memasuki kamar tidur Damar setelah banyak perdebatan di dalam hatinya. Lagipula, gak akan terjadi apapun setelahnya. Masa sih dia akan dipaksa menikahi Damar walaupun cuma masuk ke dalam kamarnya?
Seperti yang dilihatnya kemarin, kamar tidur Damar dipenuhi buku-buku. Mungkin buku itu berjumlah ribuan. Luna malas menghitungnya! Yang jelas gak ada ruang kosong di sekeliling ruangan itu.
Luna melihat buku itu satu persatu. Hanya ada buku-buku ilmu pengetahuan. Berarti Damar termasuk kutu buku juga. Apa gak ada novel ya?
Kemudian matanya melihat sesuatu di atas meja. Aha! Sebuah laptop. Tanpa sadar Luna tersenyum lebar seperti melihat berlian.
Dia pun segera duduk di kursi yang ada di depan meja. Laptop itu sepertinya keluaran lama. Tapi, gak apa yang penting masih bisa menyala. Luna pun segera membuka laptop itu kemudian menyalakannya.
Seperti yang Luna kira, laptop itu memang sudah lawas. Dia akan mencoba membuka emailnya. Namun, perhatiannya tertuju kepada foto yang tersimpan. Luna pun membukanya.
Luna tercengang begitu melihat foto-foto yang ada di dalam laptop itu. Di sana ada foto Damar yang masih muda dan memakai seragam SMA dengan seorang gadis yang mirip Luna!
Dengan tangan gemetar, Luna memperbesar foto itu. Apa matanya salah lihat, ya? Gadis berseragam SMA itu sangat mirip dengannya! Luna jadi teringat cerita Mama Damar kalau Damar gak bisa move on dari pacarnya yang sudah meninggal. Jadi, dia adalah gadis itu.
Luna seperti melihat dirinya sendiri ketika masih SMA dulu. Anehnya, dia bersama Damar yang usianya berbeda lima tahun. Harusnya, saat itu Damar masih duduk di bangku SMP.
Pantas aja, Damar gak bisa move on. Dia pasti sangat mencintai gadis itu. Luna merasa hatinya bergemuruh melihat Damar bisa tertawa bersama gadis itu. Gila kamu Luna! Apa kamu cemburu?
Luna buru-buru menutup laptop itu. Dia baru tersadar mengapa Damar ingin menikahinya. Bisa jadi karena wajah Luna mirip dengan pacarnya dulu.
Dengan tubuh yang masih gemetar, Luna segera keluar dari kamar Damar. Pikirannya benar-benar kalut. Jika sebabnya adalah karena wajahnya sama dengan pacar Damar, Luna gak mau melakukan pernikahan itu.
Luna merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya benar-benar kacau. Dia teringat ketika pertama kali bertemu dengan Damar. Saat itu Damar tertegun melihat Luna. Seperti melihat sesuatu yang luar biasa. Ternyata, Damar melihat wajah Luna yang sangat mirip dengan pacarnya yang sudah meninggal.
Tiba-tiba, mata Luna basah. Mengapa dia merasa sangat sedih? Gila kamu, Lun. Setua itu masih gak bisa mengendalikan perasaan!
__ADS_1
Sudah hampir tiga jam sejak Damar pergi. Mungkin saat ini, dia sudah berada di luar negeri. Luna ingin sekali memastikan kegelisahan hatinya. Tapi, dia gak berani untuk menanyakan. Damar pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Tiba-tiba, handphone Luna berdering. Luna sangat terkejut terlebih setelah tahu kalau yang menghubunginya adalah CEO MENYEBALKAN. Sangat kebetulan, Damar meneleponnya. Apakah pikiran mereka terhubung?
"Ada apa?" tanya Luna pelan. Dia pun segera menghapus sisa air matanya.
"Apa kamu sudah pulang? Apa masih di rumahku?" tanya Damar yang baru saja sampai di hotel. Bahkan dia belum sempat merapikan pakaiannya di dalam koper.
"Masih di rumahmu. Mamamu lagi istirahat!" jawab Luna datar. Hatinya masih saja bergemuruh.
"Aku gak menanyakan mama. Mang Dayat selalu melaporkan keadaan mama padaku. Aku hanya ingin tahu keadaanmu. Apa kamu sudah makan?" ungkap Damar penuh perhatian. Dia merasa tidak enak meninggalkan Luna sendirian di rumahnya.
"Belum!" jawab Luna singkat.
Damar merasa telah terjadi sesuatu dengan Luna. Biasanya dia selalu cerewet.
"Gak apa-apa, aku belum lapar!" sahut Luna yang masih kesal. Bayangan gadis di foto bersama Damar terlintas. Damar pasti sangat bahagia ketika bersamanya.
Damar terdiam. Kata-kata Luna sangat berbeda. Suaranya parau seperti sedang menangis.
"Apa kamu lagi menangis? Jangan-jangan, kamu kangen ya sama aku?" tanya Damar sedikit bercanda.
"Eeeh! Siapa yang nangis? Apalagi kangen sama orang menyebalkan seperti kamu! Aku lagi rebahan tahu, makanya suaraku agak serak!" jawab Luna sewot. Meskipun yang dikatakan Damar ada benarnya. Luna sempat menangis. Entah mengapa bisa seperti itu? Luna aja gak ngerti dengan dirinya sendiri.
"Ooh, aku kira kamu lagi merindukan aku. Kalau kamu mau nyusul aja kesini!"
"Iikh, ngapain? Kerjaan aku banyak, tahu!" sahut Luna yang sudah kembali ngegas.
__ADS_1
Damar tersenyum. Usahanya berhasil. Suara Luna sudah kembali seperti semula.
"Kalau bosan bacalah buku di kamarku. Kamu bisa menemukan banyak buku bagus di sana!"
"Buku bagus apanya, gak ada novel sama sekali!" sahut Luna keceplosan. Aakh! Kenapa juga Luna mengatakan soal itu.
"Eeh! Apa kamu udah masuk ke kamarku?" tanya Damar ketika menyadari ucapan Luna.
"I-iya juga sih. Mama kamu yang nyuruh, kok. Tapi aku menyesal masuk ke kamar kamu!"
Akhirnya Damar tahu kalau Luna sudah masuk ke dalam kamarnya. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu.
"Apa kamu sudah membuka laptopku?" tanya Damar sedikit cemas. Dia sangat tahu kalau ada sesuatu di laptop itu.
"Laptop mana? Ooh kotak dekil itu! Ngapain aku membukanya? Emangnya ada apa sih di dalam laptop itu? Apa ada rahasia?" tanya Luna penasaran dengan jawaban Damar.
"Rahasia apa? Itu memang laptop jadul sewaktu aku SMA. Banyak kenangan tersimpan di dalamnya!"
Luna terdiam. Ya, kenangan yang tidak bisa dilupakan.
Damar pun jadi ikut terdiam. Laptop itu sering digunakan untuk belajar sewaktu SMA. Saat itu ada seseorang yang selalu menemaninya belajar. Dia adalah Anna.
Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Luna malah tertidur sementara Damar masih mengenang masa SMAnya yang sangat indah bersama Anna.
Damar tersadar ketika mendengar suara dengkur dari hapenya. Itu pasti suara Luna yang sudah tertidur. Damar tersenyum. Kenangannya buyar seketika. Dia malah ingin bertemu Luna secepatnya.
❤❤❤❤❤
__ADS_1