TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
SEBUAH RAHASIA #1


__ADS_3

Dayat sampai di rumah terlebih dahulu. Mungkin taksi yang ditumpangi Rani terjebak macat. Dia gak bisa berbohong kalau sangat mencemaskan Rani. Apalagi, mendengar kalau Nyonya Kamaratih menyuruhnya pindah.


"Damar mana, Yat? Bukankah kamu menjemputnya dari kantor? Seharusnya dia pulang bersamamu. Bagaimana kalau terjadi hal buruk padanya?!" tanya Nyonya Kamaratih yang sangat cemas.


Ternyata Nyonya Kamaratih belum tidur. Dia selalu tahu kalau ada sesuatu yang terjadi.


Dayat menatap Nyonya Kamaratih lekat. Sekarang, dia gak akan menunduk lagi.


"Apa Rani harus pindah, bu?"


Nyonya Kamaratih sangat terkejut dengan panggilan Dayat yang berubah.


"Jangan panggil aku seperti itu. Dulu, kamu memilih menjadi orang lain. Jadi, tetaplah seperti itu!" tegasnya. Sepertinya, mereka berdua menyimpan sebuah rahasia.


"Dulu, saya adalah anak yang sangat lugu. Hanya anak kampung yang ingin tinggal di kota bersama ibunya. Tapi kenyataan berbeda karena sang ibu sudah punya keluarga lain. Saya harus apa? Mengaku sebagai anak dari perempuan itu? Kalau begitu, pasti sejak lama saya sudah tinggal di jalanan!" ungkap Dayat yang mengungkapkan sebagian cerita masa lalunya.


Wajah Nyonya Kamaratih seketika menjadi pucat.


"Ka-kamu, jangan mengira aku sejahat itu!" katanya dengan suara gemetar, "ayahmu hanya orang kampung yang gak punya masa depan. Aku bekerja di kota untuk menghidupi kalian. Nyatanya, ayahmu malah menyuruhku pulang dan kembali melarat. Aku punya pilihan dan impian. Jadi, aku mengambil jalanku sendiri!" jelas Nyonya Kamaratih lagi yang ternyata adalah Ibu dari Dayat.


"Saya juga punya impian dengan gadis yang saya cintai. Jadi, jangan renggut impian itu!" tegas Dayat.


Nyonya Kamaratih tertawa kecil mendengar ucapan Dayat yang ternyata puteranya sendiri.


"Siapa perempuan itu? Rani? Apa kamu buta dan gak mendengar sampai gak tahu siapa yang disukai Rani? Dia menyukai Damar!"


Dayat tertegun. Sebenarnya dia tahu sikap Rani berubah ketika Nona Luna datang. Sangat jelas kalau Rani gak menyukai Nona Luna.


"Setidaknya jangan jauhkan saya darinya, bu. Saya gak minta apa-apa. Saya gak akan memintamu menjadi seorang ibu. Selamanya saya akan memanggilmu dengan Nyonya asalkan jangan pisahkan saya darinya!"


Nyonya Kamaratih gemetaran, "bukan itu impianku. Aku ingin melihat kamu dan Damar bisa hidup sebagai kakak dan adik. Namun, kamu memilih jalan berbeda. Aku gak bisa menarik semua keputusan yang pernah kamu buat. Jika itu yang kamu inginkan, aku akan merelakan kamu juga keluar dari rumah ini!"


Dayat terdiam. Jika memang impiannya gak bisa terwujud, buat apa juga tinggal ditempat yang gak menginginkannya. Dayat melangkah pergi dengan gontai. Meninggalkan semua impiannya dalam sekejap.


Dari balik pintu, Rani mendengarkan semua pembicaraan itu. Seluruh tubuhnya gemetar dan hampir tak kuat berdiri. Untuk saja ada gagang pintu yang digunakan untuk berpegangan.


Apakah Rani baru saja bermimpi? Ataukah pembicaraan yang didengarnya barusan adalah nyata? Rani hanya ingin menghilang namun tak ada tempat tujuan.


*****


Ken berkali-kali menghubungi hape Luna namun gak aktif juga. Jalan satu-satunya adalah ke kantornya. Mungkin dia masih ada di sana.


"Bapak mau kemana?" tanya sekuriti gedung dimana ada kantor Luna.

__ADS_1


"Mau bertemu dengan Nona Luna di kantornya, pak. Hapenya gak bisa dihubungi. Mungkin, dia masih bekerja di sana!" jawab Damar yang mengutarakan maksud kedatangannya.


"Nona Luna? Setahu saya kemarin Nona Luna di bawa ke rumah sakit. Kantornya juga sudah tutup!" ungkap sekuriti itu.


"Ke rumah sakit? Apa bapak tahu tempatnya?" Damar semakin cemas.


"Maaf! Saya gak tahu, pak."


Damar gak tahu harus mencari Luna ke mana. Sayangnya dia juga gak megang nomor hape adiknya atau salah satu pekerja di kantornya.


Jalan satu-satunya adalah menghubungi Jion. Damar bisa dengan mudah mendapatkan nomor hapenya.


"Hallo, Jion? Ini aku, Damar Wicaksana!"


Jion yang baru sampai ke rumahnya agak heran karena Damar mendadak menghubunginya.


"Iya, Tuan Damar! Ada apa menghubungiku malam-malam?"


"Luna masuk rumah sakit! Tapi hapenya mati. Tolong kasih tahu dimana Luna dirawat!"


"Apa? Luna masuk rumah sakit? Aku akan coba cari tahu!"


Jion segera mematikan hapenya. Dia masih memegang nomor hape Prilly.


*****


Luna gak tahu semalam tidur jam berapa. Dia merasa tertidur sangat nyenyak sampai gak bermimpi sama sekali. Sangat nyaman seperti ada yang menjaganya.


Ketika bangun, Luna melihat seseorang tertidur di samping ranjangnya. Wajahnya tertutup tangan sehingga kelihatan. Kemudian Luna mencium aroma tubuh laki-laki itu.


"Damar?!"


Tubuh laki-laki itu menggeliat begitu mendengar suara Luna. Dia pun menoleh dan membuka mata. Ya! Dia memang Damar.


"Hoaaam, aku masih ngantuk!" ucap Damar sambil menguap.


"Kapan kamu datang? Darimana tahu aku disini?" Luna masih penasaran mengapa Damar ada di sampingnya.


"Semalam kamu tidur sangat nyenyak. Aku gak tega membangunkanmu. Kenapa hapemu dimatikan? Aku hampir gila karena seharian kamu gak bisa dihubungi!"


Damar enggan mengatakan kalau Jionlah yang sudah memberitahu alamat rinah sakit itu. Luna pasti akan marah kalau tahu soal Jion.


"Aku ingin istirahat. Pergilah! Kamu pasti banyak pekerjaan," ucap Luna yang gak ingin Damar melihatnya terpuruk.

__ADS_1


Damar menarik napas panjang. Dia benar-benar gak bisa menahan rasa khawatirnya kepada Luna.


"Aku sangat mencemaskanmu, Luna. Aku tahu soal perusahaanmu. Izinkan aku membantumu!" ungkap Damar tulus.


"Aku gak apa-apa, kok. Jatuh dan bangun itu sudah biasa dalam dunia usaha. Aku hanya bersiap untuk bangkit lagi!"


Damar menarik napas panjang begitu mendengar jawaban Luna. Dia tahu Luna menyimpan sesuatu di hatinya.


"Maafkan aku soal dirumahku. Aku memang terlalu takut jika ada orang lain masuk ke kamarku. Kalau kamu itu berbeda. Kamu bisa masuk ke kamarku kapan aja kapanpun kamu mau," jelas Damar yang mengklarifikasi sikapnya waktu itu.


Luna terdiam. Dia sangat tahu penyebab Damar seperti itu. Luna gak mau memaksakan diri masuk ke kamar Damar, apalagi ke dalam hatinya.


"Aakh! Aku udah gak ingat soal itu, kok. Aku juga sangat marah kalau Luky masuk ke kamarku. Sudahlah! Pergilah. Nanti siang juga aku akan pulang!"


"Apa kamu gak suka aku disini? Apa kamu lebih suka Jion yang datang?"


Nah! Damar mulai kumat deh. Ngapain nyebut nama Jion di depan Luna?


"Jion? Ada apa sama dia? Apa kamu menghubungi Jion?"


Luna benar-benar marah karena Damar menghubungi Jion. Dia hanya gak mau Jion melihatnya terpuruk sekali lagi.


"Emang kenapa aku menghubungi Jion? Kamu gak punya perasaan lagi sama dia, kan?"


"Damaaar!!!"


Emosi Luna sudah sampai ubun-ubun. Dia mengangkat tangan tinggi dan ingin mengacak-acak rambut Damar. Luna sangat geregetan apalagi rambut Damar selalu rapi setiap waktu.


Padahal rambut Damar adalah kehormatan baginya. Otomatis Damar menangkap tangan Damar dan menguncinya rapat. Kemudian wajahnya mendekati Luna seperti mau menciumnya.


Luna melotot mengira Damar benar akan menciumnya. Hadeh! Luna menolak gak yak?


"Hallo, Luna Sayang!"


Tiba-tiba, Jion muncul sambil membawa bubur ayam kesukaan Luna. Wanginya menyeruak membuat Luna gak bisa konsentrasi.


"Hei! Kamu mau ngapain Tuan Damar?"


Jion histeris melihat wajah Damar dan Luna sangat dekat. Apa mereka mau berciuman?


"Hhmmm, aku gak mau ngapa-ngapain, kok. Oke, deh kalau begitu aku pergi saja!"


Damar bersiap untuk pergi namun langkahnya terhenti. Ternyata, Luna sudah menarik ujung bajunya. Damar tersenyum. Luna pasti gak mau berduaan dengan Jion!

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2