TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
NGAKU AJA KALAU CEMBURU! #2


__ADS_3

Wadidaw! Akhirnya Damar mengaku kalau sudah cemburu dengan orang yang mengirimkan bunga untuk Luna. Bagaimana kalau tahu yang mengirim bunga itu adalah Jion!


"Jangan bercanda! Aku tahu kamu cuma pura-pura," ungkap Luna yang tersadar dengan permainan Damar. Laki-laki seangkuh dia mana mungkin mau memetik semua bunga itu. Pasti Mang Dayat yang melakukannya!


"Eeeh! Buat apa aku pura-pura. Lihat aja tanganku penuh luka begini. Sakit, tahu!" Damar memperlihatkan telapak tangannya yang terluka karena terkena duri batang mawar.


"Astaga, Damar! Apa yang kamu lakukan sampai terluka begini!" Luna segera menutup pintu mobilnya dan mendekati Damar dengan penuh kecemasan.


"Aku gak apa-apa, kok. Jadi terimalah rangkaian bunga yang penuh perjuangan ini!" ucap Damar seraya mengulurkan tangannya lagi. Wajahnya sesikit memelas.


Mana mungkin Luna gak perduli dengan bunga-bunga itu. Apalagi, Damar sampai terluka karenanya.


"Iya, aku ambil!" Luna mengambil bunga dari tangan Damar. Namun bukannya terpesona dengan bunga itu, Luna malah memasukannya ke dalam mobil.


Damar melotot melihat kelakuan Luna, "kenapa kamu taruh disana?"


"Sudahlah! Ikut aja denganku."


Luna menarik lengan Damar masuk ke dalam rumah. Sementara Damar hanya bisa mengikutinya aja.


"Ada apa, Nyonya muda?" tanya Mang Dayat yang melihat Luna kembali masuk ke dalam rumah sambil menarik lengan bosnya.


"Tolong ambilkan kotak obat, mang!" sahut Luna seraya membawa Damar duduk di sofa.


"Ba-baik, Nyonya muda!" Mang Dayat segera pergi mencari barang yang dicari Luna.


"Sudahlah! Aku gak apa-apa, kok. Ini hanya luka kecil!" ucap Damar cengengesan. Padahal lumayan juga ketika duri itu menusuk tangannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak memakai sarung tangan? Itu kan lebih aman!" ucap Luna seraya menatap Damar tajam.


Damar tiba-tiba merinding begitu melihat tatapan Luna. Namun, Damar senang juga karena Luna sudah mencemaskannya.


"Iya-iya, aku salah. Lagian kenapa juga kamu mau menerima bunga dari orang lain?"


Mang Dayat muncul sambil membawa kotak obat, "biar saya aja yang mengobati luka Tuan Damar," ucapnya.


"Gak apa-apa, mang. Aku juga bisa!" sahut Luna seraya mengobati luka di tangan Damar.


Luna serius mengobati luka Damar. Dia gak bisa bohong kalau sangat mencemaskannya.


"Aku kira kamu yang mengirim bunga itu, makanya aku terima!" ucap Luna lagi pelan sambil menyeka luka Damar dengan cairan pembersih luka.


Damar sedikit meringis begitu terasa perih.


"Terus siapa yang mengirim bunga itu?" Damar gak bisa menutupi rasa cemburunya.


"Siapa?" tanya Damar karena kurang jelas mendengar ucapan Luna.


"Sudahlah! Jangan urusin soal bunga itu. Nanti juga aku buang!" Luna mulai sewot.


"Beneran? Janji, ya. Apa perlu aku sendiri yang membuangnya?"


"Damar!" bentak Luna. Damar mulai ngajak berantem lagi.


Dari balik dinding, Rani memerhatikan Luna dan atasannya. Dia teringat ucapan Nyonya Kamaratih setelah makan siang tadi.

__ADS_1


"Seharusnya kamu gak usah memasak pasta itu. Biarkan aja Nak Luna yang memasaknya!" ucap Nyonya Kamaratih setelah sampai di kamarnya.


Rani sedikit heran, darimana Nyonya Kamaratih mengetahui kalau dirinya yang memasak pasta itu.


"Maaf, nyonya. Nyonya muda yang menyuruh saya," kilah Rani.


"Seharusnya kamu bisa menolaknya. Aku tahu perasaanmu, Rani. Kamu itu memang sudah lama mendampingi puteraku. Tapi Damar hanya menganggapmu sebagai sekretarisnya saja. Jangan berharap lebih!" ungkap Nyonya Kamartih sedikit menyindir.


Rani tertegun. Nyonya Kamaratih mengetahui perasaannya kepada Tuan Damar.


"Maaf, nyonya. Saya akan lebih menjaga jarak!"


Rani gak bisa membantah perkataan Nyonya Kamaratih meskipun benar. Dia mengakui kalau mempunyai perasaan lebih kepada Tuan Damar. Namun hanya bisa menyimpan perasaannya itu dalam-dalam.


*****


"Ayolah ikut denganku!"


Damar langsung berdiri dan menarik tangan Luna. Padahal tangannya baru saja diperban.


"Mau kemana? Aku mau pulang!"


"Sebentar aja!"


Damar terus menarik tangan Luna. Sementara Luna hanya bisa mengikutinya saja. Mereka berjalan melewati halaman belakang. Luna belum sempat melihat tempat itu. Ternyata ada sebuah taman dengan berbagai bunga tumbuh di sekeliling tempat itu seperti taman surga.


Damar menghentikan langkahnya, "aku akan memberikan bunga untukmu setiap hari. Bunga-bunga disini gak akan habis meski dipetik setiap hari!"

__ADS_1


Luna gak mengatakan apapun. Dia masih tertegun melihat pemandangan indah itu. Membuatnya jadi gak ingin pergi. Duh! Gawat ini ...


❤❤❤❤❤


__ADS_2