
Luna menemani Mama Damar yang sedang berjemur di halaman rumah. Sementara Damar sedang menyiapkan pakaian dan berkas yang akan dibawa untuk perjalanan kerjanya ke luar negeri.
Sebenarnya, Damar enggan untuk pergi apalagi ada Luna di rumahnya. Dia merasakan harinya lebih berwarna jika ada Luna dan sedikit mempermainkannya.
Dari jendela kamarnya, Damar bisa melihat Luna yang bisa akrab dengan mamanya. Sedangkan sekian lama, Damar masih tidak bisa mendekati mamanya sendiri.
Trauma masa kecil masih membekas dalam diri Damar. Sejak papanya meninggal, mamanya yang memegang perusahaan. Damar selalu sendirian dan kesepian di rumah. Membuatnya lebih suka di dalam kamar dan tenggelam dengan buku-bukunya.
Luna sempat melihat bayangan Damar yang tengah memerhatikan mereka dari jendela kamarnya. Wajahnya kelihatan sedih. Entah apa yang sedang dipikirkan bocah ingusan itu.
"Lalu, bagaimana kabar mamamu? Apa keadaannya sudah membaik. Maafkan mama yang terlalu egois memintamu menginap disini, Luna Sayang!"
Pandangan Luna teralihkan begitu mendengar perkataan Nyonya Kamaratih.
"Oh, alhamdulillah sudah baikan, nyonya. Maksud saya, mamah. Penyakitnya karena terlalu mengkhawatirkan saya. Mamah ingin saya cepat menikah, apalagi saya sudah cukup umur!" terang Luna yang sangat terbuka. Padahal dia sedikit menyesal karena terlalu jujur soal kemauan mamanya.
"Nah, pas kan! Mamah juga menginginkan hal yang sama dengan Damar. Makanya, kalian cepatlah menikah! Mamah gak mau Damar selalu memikirkan pacarnya yang sudah meninggal. Sejak saat itu, dia gak mau lagi berteman dengan perempuan," ungkap Nyonya Kamaratih.
Luna tertegun mendengar cerita Mama Damar. Ternyata, sikap Damar banyak penyebabnya. Soal kematian ayahnya dan pacarnya.
"Apa pacarnya Damar sudah lama meninggalnya, mah?" tanya Luna ingin tahu.
Nyonya Kamaratih diam sesaat seakan sedang berpikir, "pacarnya meninggal ketika mereka masih SMA. Sebelumnya, papanya Damar juga meninggal. Sejak itu, Damar jadi lebih pendiam dan mengurung diri bersama dengan buku-buku di kamarnya!"
Luna gak bisa ngomong apa-apa lagi. Dilihatnya, Damar sedang berjalan ke arah mereka. Dia sudah siap dengan koper di tangannya.
"Damar berangkat dulu, mah. Keadaan mamah sudah baik, kan? Katanya besok Luna ada rapat di kantornya jadi, biarkan nanti malam Luna pulang ke rumahnya!" jelas Damar yang ingat dengan perkataan Luna tadi pagi.
__ADS_1
"Benarkah? Ya sudah nanti sore kamu pulang saja, Luna Sayang! Kamu juga hati-hati di mana-mana. Jangan melirik gadis lagi, kan sudah ada Luna!" pesan Mama Damar yang sedikit vulgar.
Luna memberi kode dengan memeletkan lidahnya ke arah Damar. Sementara Damar malah melotot kearahnya.
"Mana mungkin Damar gak melihat perempuan lain, mah. Semua rekan kerja Damar kebanyakan perempuan. Kan dulu mamah sendiri yang memintanya," kilah Damar sedikit menggoda Luna.
"Iya-iya. Kan dulu mamah kepingin banyak perempuan yang bekerja untuk membantu keluarganya. Lagi pula, kamu juga gak pernah tertarik dengan mereka kan?"
"Hhmmm, gimana ya, mah. Damar kan juga laki-laki normal. Apalagi mereka semua tergila-gila begitu melihat Damar!" ujar Damar lagi yang semakin membanggakan dirinya.
Luna malah membelakangi Damar agar gak semakin kesal mendengar ucapan Damar.
"Ya, sudah. Cepat pergilah dan cepat pulangnya. Minggu depan ada pertemuan dengan keluarga Luna!"
Sekarang Luna malah terkejut mendengar ucapan Mama Damar. Ternyata Mama Damar serius menjodohkan mereka.
Luna gak menjawab apa-apa. Hatinya terlalu panas untuk mengeluarkan kata-kata.
Nyonya Kamaratih hanya tersenyum melihat sikap puteranya. Dia sangat senang sikap Damar sangat berubah setelah bertemu dengan Luna. Dulu, Damar sangat jarang bicara sekarang dia sudah bisa bercanda.
"Mamah mau minum obat dan iatirahat sebentar, sayang. Kamu ke kamar Damar saja disana banyak buku-buku," ujar Mama Damar setelah panas matahari mulai menyengat.
"Apa gak dikunci, mah?"
Mama Damar tertawa kecil, "dari dulu kamar Damar gak pernah dikunci. Gak ada juga yang berani masuk ke kamarnya. Damar gak suka kalau kamarnya dimasukin orang. Bahkan dia tahu kalau bukunya berubah tempat meski hanya satu!" jelas Mamah Damar.
"Tapi, mah. Bagaimana kalau Damar tahu saya masuk ke kamarnya?" Luna teringat kejadian semalam ketika salah masuk kamar.
__ADS_1
"Kalau kamu sih pengecualian, dear. Kamar itu nanti akan menjadi kamarmu juga!"
Tiba-tiba, tenggorokan Luna menjadi kering. Sepertinya mamanya Damar sangat yakin kalau mereka akan menikah!
Menjelang siang, Luna benar-benar bosan. Pikirannya tertuju kepada urusan perusahaannya. Dia juga gak membawa laptop sehingga gak bisa melihat emailnya. Kalau aja disini ada laptop, Luna gak akan sebosan itu.
"Maaf, mang. Apa mamah sudah makan siang?" tanya Luna berharap bisa makan bersama Mama Damar.
"Belum, Nyonya muda. Sekarang beliau sedang tidur," jawab laki-laki yang biasa mendampingi Mama Damar.
"Eeeh! Jangan panggil saya begitu, mang. Saya belum nyonya muda disini. Lagipula saya juga belum tentu menikah dengan Tuan Damar! Sebenarnya nama mamang itu siapa sih? Biar saya lebih enak ngobrolnya," sergap Luna ketika mendengar ucapan laki-laki itu.
"Namanya saya Dayat, biasanya dipanggil mamang aja.Tapi, memang hanya Nyonya muda yang diterima di rumah ini. Ada sih seorang perempuan yang sering mampir. Tapi Nyonya besar jarang mau menemuinya!"
"Benarkah? Siapa perempuan itu?" tanya Luna mulai kepo.
"Kalau gak salah namanya Nona Yuki!" jawab Mang Dayat.
Luna terpaku mendengar nama itu. Pantas aja, Yuki kelihatan dekat dengan Damar.
"Ya, sudah. Saya mau melihat buku-buku di kamar Tuan Damar. Tadi, Nyonya sudah mengizinkan!"
"Iya, nyonya muda. Silakan!"
Luna sudah yakin akan masuk ke dalam kamar Damar. Namun ketika sampai di depan pintu langkahnya terhenti. Melangkahi pintu itu berarti Luna harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi. Sesaat Luna meragu, akankah dia akan menikah dengan Damar? Atau semua itu hanya sebuah ilusi belaka?
❤❤❤❤❤
__ADS_1