TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MULAI JATUH CINTA #2


__ADS_3

"Bagaimana bungaku, Lun? Sangat indah, kan?" Tiba-tiba Jion muncul di ruang kerja Luna.


Luna gak heran lagi, pasti Jion mencarinya karena bunga itu.


"Lumayan, sih.Tapi udah aku buang!" sahut Luna datar.


"Kenapa dibuang, Lun?"


"Buat apa? Sebentar lagi juga layu!" jawab Luna tanpa menatap Jion.


Jion manggut-manggut. Memang bunga itu diberikannya kemarin. Tapi gak secepat itu layu juga.


"Kamu dapat salam dari Yuki!" ucap Jion lagi seraya duduk di kursi tamu.


Luna mulai gelisah. Ngapain juga Jion lama-lama di depannya?


"Maaf, aku lagi banyak kerjaan. Silakan ke ruangan lain aja. Apa kerjaan kamu udah selesai?" Luna malas membahas soal Yuki. Dia malah mengalihkan ke pertanyaan lain.


Jion tersenyum tipis, "aku dengar, kamu mengambil kekasihnya Yuki! Ngapain juga kalian memperebutkan anak kecil itu?" celetuk Jion.


Kali ini, Luna terpengaruh. Dia gak suka kalau disebut mengambil kekasihnya yuki.


"Siapa? Tuan Damar? Emang dia itu kekasihnya, Yuki? Yang aku tahu, dia malah diusir dari rumah Tuan Damar karena sudah menyerangku!" Luna keceplosan juga. Dia jadi menyesal sudah menceritakan peristiwa itu.


"Yuki menyerangmu? Aku tahu dari dulu kalian gak akur. Tapi masa sih sampai sekarang masih begitu!"


"Tanyakan saja sama Yuki mengapa membenciku! Tolong jangan ganggu aku lagi. Pekerjaanku banyak!" ucap Luna dengan muka garang.


"Oke-oke. Aku hanya masih merindukanmu, Lun. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan. Setidaknya, berikanlah aku kesempatan kedua!"


"Jiooon! Apa perlu aku panggil sekuriti?!" Luna mulai berang.

__ADS_1


"Okee, Luna Sayang. Nanti aku akan menemuimu lagi. Selamat bekerja ya, Beib!"


Luna merasa mual mendengar apa yang dikatakan Jion. Dulu kata-kata itu sangat manis namun sekarang lebih pahit dari kopi.


*****


Yuki merasa semakin membenci Luna. Apalagi setelah tahu kalau Luna akan menikah dengan Tuan Damar. Padahal, Yuki sudah menyukainya sejak lama.


"Mengapa kamu membenci Luna? Aku sangat tahu kalau Luna gak pernah menyakitimu?" tanya Jion yang mengunjungi Yuki di apartemennya.


Yuki membuang pandangannya ke luar jendela. Angin sepoi terasa panas di wajahnya. Padahal belum musim panas.


"Entahlah! Dari dulu aku gak suka sama dia. Sejak papa selalu membelanya jika ada masalah di kantor. Aku pernah berpikir kalau Luna adalah anak haram papaku!" jawab Yuki yang mengungkapkan penyebab kebenciannya kepada Luna.


"Apa kamu gak menanyakan langsung sama papamu?" Jion masih penasaran. Terkadang, dia merasa kasihan sama Luna yang selalu menjadi korban Yuki.


Yuki tersenyum tipis, "aku gak berani menanyakannya. Sejak punya usaha sendiri, aku jarang bertemu papa lagi. Dia lebih percaya orang lain daripada anaknya. Itulah sebabnya aku membuat perusahaan pribadi. Lihatlah! Aku mampu berdiri dengan kakiku sendiri!"


Yuki sangat bangga dengan dirinya sendiri. Dengan sekuat tenaga, Yuki membangun perusahaannya meski dengan menggunakan cara apapun.


Yuki menoleh dan menatap Jion tajam, "aku tahu kamu masih mencintai Luna. Untuk apa sekarang kamu mendekatiku?"


Jion tersenyum tipis, "karena kita mempunyai tujuan yang sama. Aku gak suka Luna dimiliki orang lain. Kamu juga gak suka kalau Luna bersama Tuan Damar. Iya, kan?"


Yuki terdiam kemudian mengangguk pelan, "jadi kamu mendekatiku karena soal Luna! Okelah, jadi kita bisa membalas kelakuan Luna bersama-sama!" jawab Yuki antusias. Baru kali ini ada seseorang yang satu pemikiran dengannya.


"Tapi, ingat! Jangan sakiti Luna. Tadi aku sempat melihat luka dipipi Luna. Aku dengar kamu yang sudah melukainya!" Jion sedikit kurang suka dengan tindakan Yuki yang kasar kepada Luna.


Yuki malah tertawa begitu mendengar ucapan Jion.


"Kenapa? Kamu khawatir aku akan membunuhnya? Itu hanya luka kecil tapi sudah membuatmu begitu. Aku jadi meragukan niatmu!"

__ADS_1


Kali ini, Jion terdiam. Meskipun sekarang bersama Yuki, dia gak akan tinggal diam jika Yuki menyakiti Luna.


*****


Luna masih gak bisa memejamkan mata meski sudah larut malam. Jika sudah begitu, cacing di perutnya malah ngajakin ngemil.


Perlahan, Luna menuju ke dapur dan mencari makanan. Berharap ibu dan adiknya gak bangun gara-gara mendengar suara langkah kakinya. Jiaah! Emangnya rumah Luna dari kayu apa? Tapi, begitulah. Telinga mamah adiknya sangat peka.


Luna tersenyum ketika melihat banyak makanan di kulkas. Ada pizza dan beberapa humberger. Siapa yang sudah membeli makanan sebanyak itu? Siapa lagi kalau bukan adiknya. Mungkin dia lupa memakannya atau sudah ketiduran.


Dengan penuh nafsu, Luna bersiap memindahkan makanan itu ke dalam perutnya.


"Kakak!"


Luna sangat terkejut mendengar suara adiknya. Bahkan kepalanya hampir kejedot kulkas.


"Lukyyy! Ngapain ngagetin segala sih?!" sungut Luna.


Luky cengengesan, "lagian, kenapa kakak diam-diam makannya. Aku juga lapar!"


Luky langsung membawa makanan itu ke atas meja makan. Dengan santai, dia pun melahapnya.


"Darimana kamu membeli semua makanan itu? Kamu minta sama mamah, ya?" tanya Luna yang tahu kalau adiknya gak punya uang banyak. Dia selalu menghabiskan uang jajannya untuk top up gamenya.


"Gak kok, aku dikasih orang. Tadi sore, ada yang kurir yang mengantar makanan ini. Katanya ga ada nama pengirimnya!"


Luna menjadi lemas. Jangan-jangan, makanan itu sudah dikasih racun. Apa Yuki yang sudah mengirimnya?


"Jangan dimakan, Ky. Buang aja. Kakak takut dikasih racun!" jelas Luna yang akan mengambil makanan itu. Tapi Luky malah menahannya.


"Emangnya siapa yang jahat memberikan makanan beracun. Apa kakak punya musuh? Lagipula, sayang-sayang dibuang!" Luky kembali menyantap makanan itu dengan lahap.

__ADS_1


Luna jadi galau. Siapa yang sudah mengirimkan makanan itu? Apa Jion yang sudah melakukannya? Kenapa baru sekarang dia peduli. Sedangkan dulu menghilang di telan bumi!


❤❤❤❤❤


__ADS_2