
Denny siap untuk pergi. Namun dia harus menyelesaikan sesuatu. Sebenarnya, dulu dia sempat jadian dengan Saskia. Saat itu, Denny sering ke sebuah cofee shop. Disana ada seorang gadis pelayan yang membuatnya terpesona. Dia adalah Saskia.
Tidak sampai sebulan, mereka langsung jadian. Saat itu, Denny gak menyangka Saskia langsung menerima cintanya. Namun, tidak sampai dua bulan sikapnya berubah. Denny melihat Saskia mendekati seorang laki-laki yang lebih tua.
"Maafkan aku, Den. Aku akan menikah dan tinggal di luar negeri. Saat ini juga hubungan kita selesai!" jelas Saskia yang dengan mudahnya mengatakan hal itu.
Jelas aja Denny sangat terkejut dengan keputusan Saskia yang mendadak. Padahal dia sendiri belum pernah merasakan manisnya hubungan mereka.
"Maksudmu apa, Saskia? Kita baru saja jadian dan kamu akan menikah dengan orang lain?"
"Kamu selalu sibuk bekerja sehingga kita jarang bertemu!"
"Aku memang baru bekerja jadi harus lebih banyak di kantor. Tapi, bukan berarti aku tidak memerhatikan kamu!" sanggah Denny.
"Terserah apa yang kamu pikirkan! Pokoknya mulai sekarang kita gak ada hubungan apapun lagi!"
Denny hanya bisa menarik napas panjang. Mudah ditangkap tapi tidak mudah ditahan. Itulah Saskia. Akhirnya Denny tahu kalau Saskia menjadi istri muda seorang Ceo yang juga sering datang di Cafe tempatnya bekerja.
Sejak saat itu, Denny gak pernah bertemu dengan Saskia lagi. Sampai akhirnya Denny kembali bertemu dengan Saskia di depan kantor polisi.
Ada satu tempat yang gak akan dilupakan Saskia. Yaitu cafe tempatnya bekerja dulu. Denny berharap bisa bertemu dengannya disana.
Yang diharapkan Denny terjadi juga. Dia melihat Saskia ada di tempat itu sedang menikmati kopi dengan sebatang rokok di tangannya.
"Apa aku boleh duduk disini?" tanya Denny yang langsung duduk di depan Saskia.
Saskia nampak sangat terkejut melihat Denny.
"Mau apa kamu? Aku sedang menunggu seseorang!" sahut Saskia sambil mematikan rokoknya.
"Aku mau pulang ke rumahku di Amerika. Aku hanya ingin menemuimu sekali saja!"
"Amerika? Memangnya kamu pernah tinggal disana?" tanya Saskia heran. Dulu Denny gak pernah cerita kalau tinggal di Amerika.
__ADS_1
"Banyak yang kamu gak tahu soal diriku. Kita hanya berhubungan sekejap mata. Bahkan aku belum sempat mengenalmu lebih dekat!"
Saskia terdiam. Batinnya mengeluarkan kata-kata tanpa bisa didengar siapapun.
"Maafkan aku, Den! Dulu aku memerlukan batu loncatan yang jauh lebih besar agar bisa menyentuh langit secepatnya. Sementara kamu hanyalah kerikil kecil yang hanya menghalangi jalan!"
"Jadi apa maumu sekarang? Aku gak pernah menyesal sudah berpisah darimu dahulu. Seharusnya sekarang kamu sudah sukses. Kenapa masih mencariku?"
Kali ini, Denny yang terdiam. Menyesal mengapa harus berada di tempat itu. Buat apa? Saskia tetaplah gadis ambius seperti dulu.
"Aku hanya ingin meyakinkan hatiku. Semuanya sudah berakhir. Harapanku ternyata hanyalah fatamorgana!"
Denny beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Tidak sampai beberapa langkah, seorang anak muda berjalan menuju Saskia. Denny mengenalinya. Dia adalah anak muda yang bersama Saskia di kantor polisi. Tapi, Denny sudah enggan untuk mencari tahu. Saskia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting.
"Siapa laki-laki itu, kak?" tanya Roby yang sempat melihat ada seorang laki-laki duduk di depan kakaknya.
"Bukan siapa-siapa! Dia hanya kerikil yang gak penting!"
"Sepertinya dia sangat mengenal kakak!" Roby masih penasaran. Dia merasa cemburu melihat Saskia bersama laki-laki lain.
"Tenanglah, kak. Soal itu sudah beres. Aku sudah menyuruh orang itu menyulut api di gudang kita!"
"Pastikan gak ada jejak!"
"Siap, kak!"
Mereka pun tertawa. Sepertinya rencana mereka akan berjalan lancar.
Ternyata di balik tembok, Denny masih ada. Dia mendengar rencana yang akan dilakukan Saskia. Sepertinya mereka merencanakan perbuatan buruk. Denny merasa harus tahu apa yang dilakukan Saskia.
*****
Damar harus melakukan sesuatu agar bisa menyusul Luna secepatnya. Kondisi mamahnya juga membuatnya semakin cemas.
__ADS_1
"Aku harus ke Singapura secepatnya, Ran!" ungkap Damar ketika Rani muncul.
"Ada apa, Tuan. Apa kondisi nyonya semakin parah?" tanya Rani keceplosan. Padahal dia sudah diwanti-wanti Luna.
Damar menatap Rani lekat, "jadi, kamu sudah tahu kondisi mamahku?"
"I-iya, tuan. Menurut saya, tuan harus segera menemui nyonya," sahut Rani tanpa mengatakan siapa yang sudah memberitahunya.
"Baiklah! Hubungi Tuan Ikhsan. Katakan aku harus pergi ke Singapura secepatnya!"
"Baik, tuan!"
Ikhsan adalah pengacara yang handal. Damar yakin dia bisa membantunya mencari cara agar bisa keluar negeri. Pengadilan akan dimulai dalam dua hari. Damar masih ada waktu untuk pergi dalam satu hari.
Sementara itu, Luna kembali mendampingi Nyonya Arana di rumah sakit. Dia semakin khawatir melihat keadaan calon mertuanya itu. Berharap Damar bisa menyusul secepatnya.
"Maaf, nyonya muda. Sebenarnya kemarin malam saya sudah mengatakan kondisi nyonya kepada Tuan Damar!" ucap Dayat ketika Nyonya Arana sedang di ruang terapi.
"Apa? Kamu sudah ngasih tahu Damar? Tapi sikapnya biasa aja di depanku?" Luna sangat heran dengan sikap Damar. Padahal dia sudah menahan kesedihannya.
"Mungkin tuan gak mau membuat nyonya muda bertambah sedih. Tapi tuan juga gak bisa memastikan untuk ke sini!"
Luna terduduk lemas. Mang Dayat juga gak tahu kondisi Damar ketika mereka di singapura.
"Iya, mang. Sekarang Damar belum bisa keluar negeri dengan mudah. Sebenarnya, Damar sempat di penjara selama dua minggu karena kasus yang bukan kesalahannya!" Akhirnya Luna mengatakan soal rahasia itu.
"Di penjara? Bagaimana bisa?" tanya Dayat yang sangat terkejut mendengar berita itu. Apalagi Rani juga gak mengatakan apa-apa.
"Aku juga tidak tahu apa-apa. Setelah bertunangan, Damar menyuruhku ke sini. Sementara dia sendiri masuk ke dalam penjara. Aku baru mengetahuinya ketika pulang kemarin. Kasihan Damar, dia harus bertanggung jawab dan menerima hukuman karena kesalahan orang lain!" jelas Luna dengan mata yang mulai basah. Ternyata, ujian mereka belumlah selesai.
"Astaga, nyonya. Jika saya tahu soal itu, saya mau menggantikannya di penjara! Kenapa harus Tuan Damar?" Dayat merasa dadanya panas. Dia ingin bertemu dengan orang yang membuat Damar sampai masuk penjara.
"Begitulah Damar! Dia hanya ingin bertanggung jawab atas runtuhnya pembangunan hotel di luar kota. Tapi para korban malah mengadukannya ke kepolisian. Namun, semuanya sudah terlewati karena pihak kontraktor dan direktur cabang sudah ditangkap meski Damar tetap harus menjadi saksi di pengadilan!" jelas Luna lagi.
__ADS_1
Dayat sangat menyesal karena tidak bisa membantu Damar. Namun, kecemasannya kepada Nyonya Kamaratih juga gak bisa diabaikan. Karena dia adalah ibunya!
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜