TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
ARTI KELUARGA #2


__ADS_3

Yuki tetap mengantar mamahnya ke dokter. Dia sangat khawatir karena mamahnya gak pernah pingsan sebelumnya.


Namun ketika sedang menunggu dokter, dia melihat Luna baru keluar dari ruang prakter dokter bersama mamahnya. Apa salahnya menemui Luna dan menanyakan kondisi kesehatannya. Yuki juga sangat tahu keadaan Luna sekarang adalah karena dirinya.


"Mamah tunggu di sini, ya. Aku mau menemui seseorang!"


"Jangan lama-lama, Yuki!" sahut Nyonya Arana. Sebenarnya dia enggan ke dokter karena merasa keadaannya sudah membaik. Kemarin dia pingsan karena harua menghadapi kenyataan yang sangat mengejutkan.


"Gak kok, mah!"


Baru saja Yuki akan beranjak pergi, langkahnya terhenti. Dia melihat di belakang Lina dan mamahnya ada seorang laki-laki yang sangat dikenalnya. Dia adalah papahnya sendiri!


Deg! Yuki merasa dadanya berhenti berdetak. Mengapa papahnya bersama Luna? Apa Luna mengatakan kalau Yuki yang sudah menabraknya?


Yuki gemetaran dan kembali ke tempat duduknya.


"Kenapa, Ki? Wajahmu juga jadi pucat. Apa kamu sakit?" tanya Nyonya Arana yang jadi cemas melihat keadaan puterinya.


"Gak kok, mah. Yuki cuma sedikit pusing," sahut Yuki sedikit berbohong.


"Kamu sudah sarapan belum? Apa mau mamah belikan makanan?" Nyonya Arana malah semakin mencemaskan Yuki.


"Gak apa-apa, mah. Nanti aja setelah ketemu dokter baru sarapan!"


Yuki memang gak biasa sarapan di rumah dan selalu di kantornya, kadang juga suka terlambat. Tapi bukan itu yang membuatnya lemas. Tapi papahnya yang mendampingi Luna padahal istrinya juga sedang membutuhkannya.


*****


Tuan Kenta juga menemukan beberapa fotonya ketika masih bersama Arana. Mereka bertemu ketika masih kuliah. Arana adalah gadis tercantik di kelasnya. Dia supel dan mandiri. Mereka sama-sama mengambil kelas karyawan agar bisa bekerja sambil kuliah.


"Jika sudah sukses, aku akan membangun rumah megah untuk keluarga kecil kita!" celetuk Kenta muda ketika memutuskan memulai usahanya dan berhenti kuliah.


"Tunggulah sampai lulus! Kuliah tinggal setahun lagi. Sia-sia kerja keras kamu selama ini kalau berhenti kuliah sekarang!" cegah Arana.


"Mumpung ada kesempatan kenapa masih menunggu lama lagi. Aku sudah memegang kunci kesuksesanku. Aku akan mulai membuka pintunya sekarang juga!" sahut Kenta dengan penuh keyakinan.


"Darimana kamu mendapatkan modalnya? Membuka usaha konstruksi itu harus punya modal yang besar!"


"Aku akan meminjam dari bank dengan jaminan rumah keluargaku," jawab Kenta yang sudah gak mempunyai orangtua. Hanya tinggal adiknya yang juga akan kuliah.


"Masih ada adik perempuan kamu. Apa dia setuju?"

__ADS_1


"Sebentar lagi dia kuliah dan membutuhkan biaya. Aku akan menggunakan sebagian uang itu untuk biaya kuliahnya juga."


Kenta benar-benar melakukan rencananya untuk menjual rumah warisan orangtuanya. Akan tetapi, kesuksesan yang diimpikan tidak juga terwujud. Rumah yang sudah dijaminkan ke bank malah disita.


Adik perempuannya stress dan meninggal kecelakaan tertabrak mobil. Kenta pun hampir gila dikejar-kejar hutang. Untung saja, Arana setelah lulus kuliah langsung mendapatkan pekerjaan yang bagus di perusahaan besar. Arana lah yang membantu Kenta untuk membayar hutang-hutangnya.


Arana juga yang memberikan orderan pembangunan pabrik yang membuat perusahaan Kenta mulai maju. Namun, keadaan tidak pernah menjadi lebih baik. Perusahaan Kenta tidak bisa lebih maju lagi karena selalu kalah dengan perusahaan besar.


Malam terakhir mereka bersama gak akan dilupakan oleh Kenta. Untuk pertama dan terakhir kali, dia menyakiti Arana. Penyesalan itu tidak pernah hilang. Seharusnya mereka selalu bersama apapun yang terjadi.


*****


Damar memang gak bisa meninggalkan pekerjaannya. Apalagi Rani dan Dayat gak bisa membantunya. Ada hal penting yang membuat Damar harus menanganinya sendiri.


"Hotel yang baru dibangun ambruk, tuan. Banyak pekerja yang terluka namun pihak yag bertanggung jawab malah kabur!" ujar Reno, manager lapangan yang mengurus pembangunan hotel.


"Kenapa bisa begitu? Bukankah perusahaan kontraktor itu sudah melewati seleksi ketat?" Damar gak bisa percaya akan mengalami kejadian itu. Padahal semua prosedur sudah dilakukan dengan baik.


"Perusahaan itu memang baru berkembang. Dulu saya sudah peringatkan direktur cabang yang bertanggung jawab. Ternyata dia juga menghilang. Berarti keduanya sudah bekerjasama," lanjut Reno.


Damar terdiam. Perusahaannya juga gak bisa diam begitu saja apalagi banyak yang terluka.


"Baiklah! Urus semua korban dengan baik. Kita akan bertanggung jawab tapi tetap melakukan pelaporan ke polisi. Mereka tetap harus bertanggung jawab!"


"Aku yang akan bertanggung jawab. Baik itu masalah korban atau lainnya. Jangan terlalu khawatir. Yang penting para korban harus mendapatkan penanganan rumah sakit!"


"Baik, tuan!"


Untuk sementara, Reno menyingkirkan kecemasannya. Dia akan melakukan perintah Tuan Damar dulu.


Damar membuang pandangannya ke luar jendela. Bayangan Luna sedang memakai gaun pertunangannya terlintas. Damar hanya berharap, kejadian di perusahaannya gak sampai mempengaruhi rencana mereka.


*****


Rani ternyata sedang berada di rumah Agung dan baru melihat puteranya yang masih berumur beberapa bulan. Rani tertegun melihatnya. Perasaan keibuannya muncul dan ingin memeluk bayi itu.


"Syaqil comel kan, bu?" tanya Syakira ketika Rani menggendong adiknya.


"Iya, Sayang. Dia sangat tampan. Jadi pengen meluk-meluk teyus. Iya kan, chayang?" sahut Rani sambil mencium Syaqil gemas.


Syakira cemberut. Sepertinya dia sedang cemburu karena Rani lebih memerhatikan adiknya.

__ADS_1


"Syakira juga mau digendong!" katanya sambil menarik baju Rani.


"Syakira, jangan begitu. Ibu Rani sedang menggendong adik kamu!" tegur Agung yang sedang menyiapkan susu buat Syaqil.


Syakira menuruti perkataan papahnya. Namun matanya menjadi basah.


"Ibu gak sayang Syakira lagi ...," ucapnya lirih.


Rani mendengar perkataan Syakira. Dia jadi gak tega melihat gadis kecil itu menjadi sedih. Dia segera menyerahkan Syaqil kepada papahnya kemudian menghampiri Syakira.


"Ayo, sekarang kita beli boneka ke supermarket. Kamu suka boneka kan, Sayang?"


Syakira cepat menghapus airmatanya.


"Aku mau, buk! Aku mau yang warna pink!" jawab Syakira lugas. Matanya kembali berbinar.


"Oke! Ayo kita ke istana boneka!"


Namun, hape Rani bunyi. Dia pun segera membukanya. Ternyata dari Tuan Damar.


"Ada apa, tuan?"


"Apa kamu bisa ke kantor sekarang. Ada hal penting yang mau aku bicarakan!"


Gak biasanya, Tuan Damar seperti itu. Biasanya kalau gak terlalu penting, gak akan mencari Rani.


"Maaf, Sayang. Aku harus ke kantor sekarang juga. Bagaimana kalau minggu depan? Kamu mau, kan?"


Wajah riang Syakira kembali hilang. Tapi dia gak mau membuat Bu Rani khawatir.


"Baik, bu. Syakira bisa menunggu sampai minggu depan. Tapi, ibu janji ya!"


"Iya, Sayang! Maaf, mas. Saya harus ke kantor dulu!"


"Biar aku antar! Hari sudah sore pasti jalanan macet kalau naik angkutan umum. Kita naik sepeda motor aja. Kamu mau kan?"


Yang dikatakan Agung benar. Rani juga sering naik kendaraan umum terakhir ini. Jalanan selalu macet kalau di pagi dan sore hari.


"Baik, mas. Naik motor aja!"


Akhirnya Rani ke kantor dengan naik sepeda motor bersama Agung. Dia sangat canggung karena harus memeluk pinggangnya. Tapi, mau gak mau harus dilakukan juga. Apalagi, Agung mengendarai motornya dengan cukup kencang.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2