TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MENYAMBUT HARI BARU #1


__ADS_3

Rani masih duduk di samping Syakira tidur. Dia merasa tenang karena kondisi Syakira sudah membaik. Panasnya sudah normal dan bisa tidur dengan nyenyak. Namun, Rani belum tega untuk meninggalkannya. Sementara di kantor juga banyak pekerjaan. Apalagi Tuan Damar seminggu lagi akan ke Singapura untuk menjenguk mamahnya.


"Syakira sudah sehat, kamu boleh pergi kerja. Maaf kalau semalam sudah merepotkan kamu!" ucap Agung ketika melihat Rani melamun. Mengira kalau Rani berpikir untuk pergi ke kantornya.


"Gak apa-apa kok, mas. Kalau Syakira bangun baru aku akan pergi!" sahut Rani yang masih cemas.


"Pergilah sekarang. Akan lebih sulit kalau Syakira bangun. Dia pasti gak akan melepaskan kamu!" jelas Agung yang memilih Rani pergi saja.


Rani terdiam. Memang akan sulit kalau Syakira bangun. Hatinya jadi merasa bimbang.


"Apa keadaannya sudah baik? Kabari aku kalau terjadi sesuatu!"


"Baik! Sekali lagi maaf jika aku sudah merepotkan kamu!"


Rani beranjak dari tempatnya duduk dan melangkah keluar kamar.


"Ibuu ...."


Terdengar suara. Ternyata Syakira sudah bangun.


Rani berhenti dan langsung berbalik. Sementara Agung cukup terkejut mendengar puterinya memanggil Rani.


"A-ada apa, Sayang? Kamu sudah bangun?" tanya Rani yang kembali menghampiri gadis kecil itu.


"Ibu menikah aja sama papah dan menjadi mamahku! Kata bibik, ibu gak bisa tinggal disini karena belum menikah sama papah. Makanya ibu menikah aja sama papah!"


Deg! Rani tertegun mendengar perkataan Syakira. Menikah? Sesuatu yang hampir dilupakan Rani.


"Syakira, kamu jangan ngomong seperti itu. Kalau menikah itu gak bisa dipaksakan!"


"Ibu gak terpaksa menikah dengan papah, kan?" Syakira malah menanyakan hal lain lagi.


Agung merasa gak enak karena Syakira mendesak Rani untuk nenikah dengannya.


"Ibu Rani sekarang mau pergi kerja, Sayang. Kamu istirahat aja, ya!" ungkap Agung seraya mengusap rambut puterinya lembut.


"Ibu Rani jangan pergi ...."


Syakira mulai menangis. Agung semakin gak enak dengan Rani. Dia pun memberi isyarat agar Rani pergi saja.


Rani terpaksa pergi meninggalkan Syakira yang masih menangis. Pikirannya benar-benar kacau.


"Menikahlah dengan Mas Agung!" Bibiknya malah langsung menembak Rani.


"Bibik! Bagaimana pekerjaanku? Susah payah aku belajar sambil bekerja. Mereka selalu merendahkan tapi aku selalu maju terus. Aku gak akan mau berhenti kerja begitu saja!" ungkap Rani soal perasaannya.


"Ya sudah! Tetaplah bekerja dan gak usah menemui anaknya lagi!"

__ADS_1


"Bibik!"


"Looh, apa bibik salah? Kamu sendiri yang bingung. Usia kamu itu semakin menua. Sudah waktunya untuk berumah tangga. Lebih enak langsung punya anak dari pada mulai awal lagi. Mas Agung juga sangat baik. Dia seorang pengusaha yang sangat bekerja keras!"


Rani terdiam. Bibiknya belum tahu siapa Agung sebenarnya. Apa perlu Rani kasih tahu, ya ....


*****


Yuki memainkan cincin pertunangan yang diberikan Jion. Dia sangat bingung dengan sikap Jion. Kadang dia sangat tegas kadang seperti orang yang sedang bersandiwara. Pernikahan bukan hal mudah. Apalagi Yuki masih trauma dengan pernikahannya yang pertama.


"Kamu gak ke kantor, Yuki? Kok jam segini udah pulang?" Nyonya Arana melihat Yuki cepat pulang.


"Iya, mah. Hari ini ada kerjaan di luar. Menurut mamah, apa Yuki masih pantas menikah lagi?" tanya Yuki yang ingin tahu pendapat mamahnya.


"Menikah? Tentu aja kamu masih pantas menikah, Yuki. Apalagi Nabila sudah besar dan menanyakan papahnya. Apa kamu sudah punya calon? Kamu gak mengharapkan Nak Damar lagi, kan?"


Nyonya Arana masih khawatir kalau Yuki masih menyukai Damar.


"Gak kok, mah. Bukan Damar, tapi Jion!"


Nyonya Arana sangat terkejut mendengar nama Jion. Tubuhnya langsung bergetar. Jangan, jangan Jion! Dia itu ....


"Jangan Jion, Ki. Apa gak ada laki-laki lain?"


"Memangnya kenapa dengan Jion, mah? Terakhir ini Jion selalu berada disisi Yuki dan akrab dengan Nabila. Mamah juga tahu sifatnya jauh dari kata artis. Apa kurangnya Jion, mah?"


Nyonya Arana gak menjawab. Apa yang dikhawatirkannya menjadi kenyataan. Apakah dia harus mengatakan siapa Jion sebenarnya?


Tanpa sepengetahuan Tuan Arya, Nyonya Arana memeriksa Dna Yuki dan Tuan Arya. Ternyata benar. Yuki bukanlah anak Tuan Arya!


*****


"Lihatlah berita ini, tuan. Tuan muda melamar Nona Yuki di depan media!" ungkap Denny sambil menunjukan hapenya kepada Tuan Kenta.


Tuan Kenta melihat berita yang dimaksud Denny. Disana ada video dimana Jion melamar Yuki. Dia pun tersenyum puas.


"Akhirnya dia menuruti keinginanku. Hanya saja, kenapa Tuan Arya malah memilih istri mudanya daripada puterinya sendiri untuk menduduki jabatan direktur itu?" tanya Tuan Kenta heran dengan sikap Tuan Arya.


"Sebenarnya, ada rumor kalau Nona Yuki bukanlah puteri kandung Tuan Arya, tuan!"


Tuan Arya mendongak begitu mendengar ucapan Denny.


"Maksudmu, Yuki bukanlah anak kandungnya?"


"Iya, tuan. Katanya Tuan Arya itu mandul dan gak bisa punya anak," ungkap Denny lagi.


"Tuan Arya gak bisa punya anak. Lalu, Yuki anak siapa?"

__ADS_1


Denny gak berani menjawab, padahal ada rumor lainnya.


"Cari tahu siapa ayah kandung Yuki! Aku ingin tahu siapa dia!"


"Ba-baik, tuan!" jawab Denny sebelum pergi. Sebenarnya dia juga mendengar kalau Nyonya Arana sudah berselingkuh dan hamil. Tapi, dia gak mau Tuan Kenta mendengarnya. Bisa-bisa Tuan Kenta gak akan setuju kalau Tuan Jion menikah dengan Nona Yuki.


*****


"Apa kamu mau ikut lagi ke kantorku, Sayang. Aku merasa lebih semangat kalau kamu ada di dekatku!" ucap Damar yang mulai dengan rayuannya. Untung aja mereka sudah di dalam mobil jadi Mamah luna gak mendengarnya.


"Aku bosan kalau cuma menunggu! Aku akan ke butik aja!" jawab Luna sambil membuka hapenya.


"Kamu kan bisa berlatih taekwondomu. Siapa tahu bisa dapet ban putih!" cetus Damar lagi.


Luna melongo mendengar ucapan Damar.


"Kalau putih itu tingkat dasar, Tuan Damar!" ucap Luna sambil geregetan.


Damar tertawa kecil menyadari kesalahannya.


"Maaf, maaf. Aku kira kalau warna putih itu sudah suhu!"


Tiba-tiba hape Damar bunyi. Tapi, Damar gak bisa mengangkatnya karena sedang menyetir. Dia pun menyuruh Luna untuk mengangkatnya.


"Iya, Ran. Ini aku Luna. Damar lagi menyetir!" ucap Luna ketika sempat melihat nama Rani di layar hape.


"Oh iya, nyonya muda. Maaf hari ini saya gak bisa masuk kerja. Tolong sampaikan kepada Tuan Damar. Saya akan kirimkan jadwal hari ini!"


"Baik, Ran. Aku akan sampaikan!" sahut Luna sebelum menutup hape Damar.


"Ada apa?" tanya Damar kepo.


"Rani gak masuk kerja hari ini!"


"Bagaimana dengan pekerjaannya di kantor? Asistennya belum bisa bekerja sebaik dia. Aku gak bisa kerja kalau gak ada Rani!" gerutu Damar.


Luna terdiam. Dia kurang suka dengan sikap Damar yang terlalu bergantung dengan Rani.


"Ya, sudah. Aku akan menggantikan pekerjaan Rani!"


Kali ini Damar yang terdiam. Dia gak percaya Luna mengatakan hal barusan.


"Apa kamu bisa?" tanya Damar setengah bercanda. Padahal dia sangat senang, Luna akan mendampinginya seharian.


"Aku bisa bekerja seperti Rani. Dulu aku lumayan lama mendampingi Tuan Arya! Apa kamu gak percaya padaku?!" Luna mulai emosi melihat sikap Damar.


"Iya-iya. Aku percaya, Nyonya!"

__ADS_1


Damar tersenyum lebar. Doanya langsung dikabulkan karena ingin bersama dengan Luna lebih lama.


❤❤❤❤❤


__ADS_2