
Damar mengendarai mobilnya cukup kencang. Pikirannya berkecamuk berbagai pertanyaan. Berharap keadaan Luna baik-baik saja. Luna! Bertahanlah. Aku akan segera menemuimu!
Sesampainya di klinik kesehatan dekat butik Luna, Damar segera mencari kekasihnya itu. Dia pun memeriksa semua ruangan satu persatu. Namun, gak ada siapapun di sana.
Akhirnya, Damar melihat seorang wanita tengah terlentang di tempat tidur dengan tertutup selimut. Damar yakin kalau itu Luna meski membelakanginya.
"Sayaaang! Apa yang terjadi padamu? Kamu gak apa-apa, kan?!" ujar Damar sambil memeluk sosok itu.
Sosok perempuan itu diam saja. Aneh! Apa dia sedang tidur?
Tiba-tiba datang seorang perempuan dengan memakai tongkat. Kakinya terluka dan digips.
"Damaaar! Kamu lagi ngapain?" tanya Luna histeris melihat Damar memeluk perempuan lain.
Damar melotot. Itu kan suara Luna! Dia pun segera membalikan badan.
"Lu-luna? Lalu, siapa dia?"
Sosok perempuan itu membalikan badannya. Ternyata dia adalah nenek-nenek!
"Astaga! Ma-maafkan saya, nek. Saya kira nenek adalah pacar saya!"
Nenek itu cuma nyengir aja. Terlihat giginya yang hitam dan sebagian sudah ompong.
"Damaar! Apa aku sudah seperti nenek-nenek?" tanya Luna yang masih gak percaya kalau Damar memeluk nenek-nenek.
Damar segera memeluk Luna, "maafkan aku, sayang. Tadi aku sangat panik!" jelas Damar.
Luna tersenyum di belakang Damar. Sebenarnya dia hanya pura-pura marah aja.
"Iya-iya. Tapi, masa sih kamu sepanik itu?"
Damar melepaskan pelukannya dan menatap Luna lekat.
"Jelas aku sangat panik bahkan aku menyetir seperti kesetanan. Lalu, apa yang sudah terjadi denganmu?"
__ADS_1
"Tentu aja aku baik-baik aja. Untung ada Jion yang seperti Superman. Dia muncul tepat waktu sebelum mobil itu menabrakku!" jelas Luna dengan lugas.
"Superman? Jion?" Damar gak percaya Luna menyamakan Jion seperti Superman.
"Tentu aja aku adalah Superman. Aku akan selalu menjagamu, Luna!"
Tiba-tiba, Jion muncul dengan tangan digips. Wajahnya semringah mendengar Luna memujinya.
"Astaga, Jion! Apa yang terjadi dengan tangan kamu?" tanya Luna yang langsung mendekati Jion. Dia gak tahu tangan Jion sampai terluka parah.
"Aku gak apa-apa, kok. Hanya luka sedikit aja!" sahut Jion sambil menatap Luna dengan mata berbinar.
Damar gak bisa lama-lama melihat adegan memuakan itu.
"Ayolah sayang, kita pulang!" ujar Damar seraya menggendong Luna tanpa menanyakannya lagi.
"Damaar! Apa yang kamu lakukan? Aku bisa jalan sendiri!" ujar Luna setengah berteriak. Tapi Damar cuek aja.
"Eeeh! Aku pulang sama siapa?!" teriak Jion.
"Ada agenmu. Aku melihatnya tadi ada di depan!" sahut Damar tanpa menoleh lagi.
"Apa tadi Nona Luna? Mengapa Tuan Damar membopongnya seperti itu?!" tanya Frans. Dia adalah agen Jion.
Jion terduduk lemas di sofa. Setidaknya, dia merasa tenang karena Luna gak sampai tertabrak mobil.
"Aku akan membuat perhitungan dengan Yuki! Bagaimana dengan syuting besok? Sepertinya tanganku masih bengkak dalam beberapa hari!" ungkap Jion.
Frans ikut duduk di sebelahnya. Sepertinya ada hal aneh dalam ucapan Jion.
"Yuki? Apa dia yang akan menabrak Luna? Aku gak mengerti dengannya. Kenapa selalu saja ingin menyakiti Nona Luna!"
"Entahlah! Dia sudah membenci Luna sejak lama. Mungkin ada hubungannya dengan rencana papahnya untuk mengangkat Luna sebagai direktur Grup bintang!"
"Oh, pantas dia kayak begitu. Tapi, kamu juga sudah membahayakan diri sendiri hanya karena seorang mantan. Bagaimana kalau kamu juga ikut tertabrak?" tanya Frans keheranan.
__ADS_1
"Iyalah. Luna adalah mantan terindahku. Aku akan melakukan apapun untuknya!"
Hadeh, Jiooon! Apa gak terlambat memikirkannya sekarang???
*****
"Lihatlah, tuan. Ini adalah foto-foto gadis itu. Barusaja dia hampir tertabrak mobil. Untung saja ada yang menolongnya! Anehnya, orang yang di dalam mobil itu cukup lama memerhatikan gadis itu!" terang Denny sambil menyerahkan foto-foto di hapenya.
Tuan Kenta memerhatikan setiap foto yang diberikan anak buahnya itu.
"Aku mengenali gadis di dalam mobil itu. Bukankah dia pewaris Grup Bintang? Untuk apa dia mau menabrak gadis itu? Apa mereka punya hubungan?" tanya Tuan Kenta setelah mengenal gadis di dalam mobil itu.
"I-iya, tuan. Ada rumor kalau pacarnya Tuan Damar itu diangkat menjadi direktur Grup Bintang. Bisa jadi gadis pewaris itu gak suka dengan keputusan papahnya!" jelas Denny yang hanya menebak saja.
"Ya! Pantas aja dia sampai mau membunuh pacarnya Tuan Damar itu. Sepertinya dia punya dendam yang sangat besar. Selidiki terus gadis itu. Kita bisa memanfaatkan dia!" ucap Tuan Kenta yang sudah merencanakan niat buruknya.
"Baik, tuan. Oh, iya. Orang yang sudah menolong gadis itu sepertinya seorang artis terkenal. Namanya adalah Jion!"
Tuan Kenta terdiam mendengar nama Jion. Dia sangat mengenalnya.
"Jion?" Tuan Kenta memerhatikan foto itu lebih dekat. Ya! Dia adalah Jion. Puteranya yang lama hilang!
"Selidiki artis itu juga. Aku mau tahu hubungannya dengan pacarnya Tuan Damar!"
"Baik, tuan!"
Tuan Kenta teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Jion masih sangat muda.
"Aku mau jadi artis, pih. Aku gak mau kuliah ke luar negri!" ucap Jion ketika Tuan Kenta menyuruhnya sekolah di luar negeri.
"Buat apa jadi artis? Kamu gak akan bisa jadi apa-apa!"
"Pokoknya Jion gak mau mengikuti kemauan papih. Jion mau usaha sendiri menjadi artis terkenal!"
"Terserah! Kalau kamu masih membantah, pergilah! Berusahalah sendiri, jangan sebut nama papih!"
__ADS_1
Sejak hari itu, Jion menghilang. Tuan Kenta gak mau mencarinya. Dia sangat yakin kalau Jion akan kembali. Meskipun sampai sekarang Jion gak pernah menemuinya.
*****