
Hari itu pun terjadi. Luna memakai gaun sederhana namun tetap secantik bidadari. Jiaaah! Lebay kalee. Lumayanlah, yang penting tetap cantik.
Sementara Damar hanya memakai kemeja putih. Anehnya aura ketampanannya gak berkurang sedikitpun.
Semua berjalan dengan lancar. Mamah Damar bisa menghadiri pernikahan puteranya meski dia atas kursi roda. Meskipun ada sesikit rasa bersalah karena dirinya sakit membuat mereka menikah dengan sangat sederhana.
Dayat pun menyaksikan dengan penuh perasaan. Dia teringat semalam Damar sempat berbicara dengannya.
"Aku mau minta izin untuk menikah duluan ya, kak!" ucap Damar di depan kamar ruang rawat inap mamahnya.
Dayat yang belum terbiasa mendengar panggilan itu sedikit grogi.
"Saya gak apa-apa, kok. Saya sudah senang kamu dan Nona Luna bahagia!"
"Terima kasih, kak. Apa yang kakak inginkan? Katanya kalau melangkahi seorang kakak karus memberikan barang keinginannya agar dia juga cepat menikah!" ungkap Damar.
Dayat tertawa. Orang semodern Damar masih percaya hal seperti itu.
"Aakh! Itu cuma mitos. Aku gak mau apa-apa. Sudahlah! Yang penting kalian bahagia," sahut Dayat di sela tawanya.
Nyatanya, gak lama kemudian Damar kembali dengan membawa sebuah bungkusan. Isinya adalah sebuah kemeja.
"Aku juga gak percaya mitos. Tapi ini adalah wujud dari doaku agar nanti kakak juga mempunyai pasangan dan keluarga. Tolong diterima!"
Dayat malah jadi terharu dengan ucapan Damar. Mau gak mau dia menerima pemberiannya. Ya! Kemeja itu sekarang melekat di tubuhnya. Seperti doa Damar, Dayat pun menginginkan hal yang sama. Berharap suatu hari nanti akan menemukan seorang gadis yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.
Mamah Luna sudah pasti hadir dalam pernikahan puterinya itu. Doanya selama ini akhirnya terkabul juga. Luna sudah menemukan laki-laki yang akan menyayangi dan menjaganya seumur hidup. Meski hanya sederhana, namun sakralnya gak berkurang sedikit pun.
Sarah dan Prilly juga ada di tempat itu. Menyaksikan sahabat, rekan kerja sekaligus saudara akan menempuh hidupnya yang baru. Air mata mereka tak kuasa mengalir karena begitu banyak ujian yang Luna dan Damar hadapi. Sampai akhirnya dipersatukan dalam maghligai pernikahan.
*****
Anna akan membuat skenario yang pernah dibuat mamahnya Damar dahulu. Dia akan pura-pura meninggal pasti Damar akan menemuinya. Meskipun Damar gak akan kembali padanya namun Luna pasti tidak mau menerimanya kembali.
"Apa kamu yakin akan melakukannya, Anna?" tanya dokter Han yang ikut membantu sandiwara itu. Dia sendiri ragu karena membawa nama baiknya sebagai dokter.
"Tidak apa-apa! Aku hanya akan memakai sebuah ruangan kosong. Hubungi saja handphone Damar. Jika dia datang, suruh aja masuk!" jelas Anna penuh keyakinan.
"Jika kamu melakukannya juga Tuan Damar belum tentu kembali kepadamu. Setelah ini, aku pun tidak akan disisimu lagi!" ucap dokter Han untuk terakhir kali.
Anna sudah tahu resikonya. Impiannya sudah hilang, begitu juga Damar. Dia gak akan bersama dengan siapapun selamanya. Anna tahu soal trauma Damar ketika tahu kalau dirinya meninggal. Anna yakin kalau Damar pasti akan mencarinya dan meninggalkan Luna.
Dokter Han sangat kecewa dengan keputusan Anna untuk melakukan hal buruk itu. Kebersamaan mereka selama sepuluh tahun hanya sia-sia. Hati Anna bukan untuknya.
__ADS_1
Selamat siang, Tuan Damar
Saya adalah dokter Han yang merawat Anna. Saat ini, Anna sedang kritis dan menyebut nama tuan. Tolong temui Anna sekarang juga sebelum meninggal. Saya menunggu tuan!
Dokter Han menarik napas panjang sebelum mengirimkan pesan itu ke handphone Damar. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah berhasil atau tidak?
*****
Saat ini, Damar sudah duduk di sebelah Luna. Penghulu juga ada di hadapannya. Sebentar lagi mereka akan berganti status menjadi suami istri.
Tiba-tiba, terdengar suara pesan masuk dari hape Damar. Seseorang membuka hape itu dan membaca pesannya. Ternyata yang memegang hape Damar adalah Dayat. Dia kelihatan cemas begitu mengetahui pesan itu dari Anna.
Dayat sangat kebingungan. Dia tahu kalau Anna penah mengisi hati Damar. Namun, dia juga gak ingin pernikahan adiknya itu berantakan karenanya.
"Buk, lihatlah!" bisik Dayat kepada ibunya.
"Ada apa?" Nyonya Kamaratih membaca pesan dari hape yang disodorkan Dayat. Wajahnya berubah menjadi pucat.
Nyonya Kamaratih mengenali tulisan itu karena dulu dia pernah menyuruh hal serupa kepada Damar. Dia pun cepat menggeleng.
"Lihatlah apa yang terjadi!"
"Baik, buk!"
Di sebuah ruangan yang sepi, Anna menunggu dengan penuh debar. Dia sangat yakin kalau Damar akan datang karena masih mencintainya. Traumanya itu pasti belum hilang. Damar gak akan mau kehilangan Anna untuk kedua kalinya.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka. Anna yang terbaring di atas ranjang dan tertutup kain putih masih bisa mendengar suara langkah mendekatinya. Namun, tidak terdengar suara Damar atau tangisannya. Suasana masih saja sunyi dan sepi.
Anna ingin sekali mengintip apa yang terjadi. Dia yakin kalau Damar yang tadi masuk. Hanya saja, kenapa dia gak melakukan apapun? Apa sudah waktunya sadiwara Anna berakhir?
"Baiklah! Kenapa kamu gak menangis Damar?!"
Akhirnya Anna sendiri yang mengakhiri sandiwara itu dan membuka kain yang menutup wajahnya. Seketika, Anna tercengang. Yang ada di hadapannya bukanlah Damar melainkan Dayat.
"Apa yang kamu lakukan disini? Dimana Damar?!" tanya Anna dengan nada suara tinggi. Dia gak tahu kalau Dayat dan Damar bersaudara.
"Selamat siang, Nona Anna. Tentu saja saat ini Tuan Damar sedang melangsungkan pernikahannya dengan Nona Luna. Jadi, siapa yang akan meninggal? Apakah nona? Tapi, saya melihat nona dalam keadaan bugar?" tanya Dayat sinis.
Anna sangat kesal. Dia pun segera bangkit dan keluar dari ruangan itu. Di depan pintu, dokter Han masih menunggu. Namun, Anna gak menghiraukannya.
"Terima kasih, dokter. Tuan sudah membantu saya!" ucap Dayat ketika sudah berada di depan dokter Han.
Dokter Han mengangguk pelan. Ternyata, sebelum masuk ke dalam ruangan itu. Dokter Han mengatakan soal rencana Anna. Itu dia lakukan setelah mengetahui kalau bukan Damar yang datang.
__ADS_1
Anna berjalan cepat menuju ke ruangan di mana Damar menikah. Namun, ternyata acaranya sudah selesai. Dia hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Senyuman mengembang menghiasi sudut bibir Damar dan menatap Luna dengan penuh cinta. Seharusnya, Annalah yang ada di dekat Damar. Tanpa terasa airmatanya mengalir. Tidak ada jalan lain lagi. Damar sudah menjadi milik orang lain.
Dayat kembali ke tempat acara pernikahan Damar. Nyonya Kamaratih masih cemas begitu melihat Dayat.
"Apa yang terjadi dengan Anna?" tanyanya pelan.
Dayat menggeleng, "hanya tipuan saja, bu. Untung saja, pernikahan Damar berjalan lancar!"
"Maafkan ibu karena kamu gak bisa menyaksikannya, yat!"
"Gak apa-apa, bu. Saya sangat bahagia Damar sudah menikah dengan Nona Luna," sahut Dayat dengan senyuman.
"Kak Dayat! Dari mana saja? Aku mencarimu dari tadi!" ujar Dayat.
"Iya, kak. Apa kakak gak menyaksikan peristiwa sakral tadi. Bagaimana nanti kakak akan melakukannya? Kakak kan akan menikah juga!" Luna juga mencari Dayat.
Dayat tertawa mendengar ucapan Damar dan Luna.
"Perutku mules jadi aku ke toilet. Ketika kesini lagi acaranya malah sudah selesai. Tapi, kan ada videonya. Nanti aku akan melihatnya disitu aja! Selamat, ya. Semoga kalian bahagia selamanya dan cepat berikan aku keponakan yang lucu!" ungkap Dayat sedikit berbohong.
"Saya sih tergantung Nyonya Damar aja. Gimana? Apa kamu sudah siap membuat keponakan pesanan Kak Dayat?"
Luna melotot mendengar ucapan Damar. Hampir saja tangannya menghadiahkan cubitan di pinggangnya.
"Tunggu sebentar! Ada yang salah dengan ucapan kamu, Damar!"
Damar dan Luna sangat terkejut mendengar ucapan mamahnya. Mereka hanya bisa saling pandang mengira kalau sudah melakukan kesalahan.
"Harusnya kamu bukan hanya membuat pesanan keponakan tapi cucu buatku juga!" seru Nyonya Kamaratih.
"Betul, nyonya. Saya juga mau seorang cucu secepatnya! Tuh, kamu harus bisa bikin adonan yang tokcer, Nak Damar!" sergap mamah Luna yang mendengar pembicaraan mereka.
"Mamah!"
Wajah Luna bersemu merah mendengar ucapan mamahnya yang sedikit vulgar. Sepertinya dia sudah terjebak cinta Damar untuk seumur hidupnya. Luna merasa tenang melihat senyuman di wajah orang-orang yang sangat dicintainya.
Damar malah kesenangan mendapatkan suport dari banyak orang. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan permintaan keluarganya dan mencintai Luna sampai menua bersama. Semangaaat!!!
Selesai
❤❤❤❤❤
Terimakasih sudah mengikuti cerita Damar dan Luna sampai selesai ya guys
__ADS_1
Ikutin terus kisah-kisah selanjutnya, chaiyooo