TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
TERPURUK #3


__ADS_3

Semalaman Luna mematikan hapenya. Dia hanya ingin istirahat dan melupakan masalah yang dialaminya. Hanya saja, tempat istirahat Luna adalah rumah sakit!


"Makanlah, Lun. Aku bawa bakso kesukaanmu!"


Wajah Luna langsung semringah begitu Sarah muncul dengan membawa makanan kesukaannya. Luna memang membutuhkan sesuatu yang menyegarkan. Asal gak ada dokter yang datang aja!


"Asyiiik, makasih ya, Kak Sarah. Padahal aku maunya makan bakso di pinggir pantai, bukan di rumah sakit!" gerutu Luna yang sudah membayangkan liburan ke pantai.


"Kalau semua sudah selesai, kita liburan ke pantai, yuks. Kita pesta piyama dan begadang sampai pagi!" ajak Sarah yang juga pengen liburan.


"Aku ikut, saaay!" Prilly juga datang dan ikutan halu.


"Aakh! Mana bisa kamu ikut, Pril. Ini kan acara anak cewek!" celetuk Luna yang sedikit bercanda.


Prilly langsung manyun, "emangnya aku kurang cewek apa?" sahutnya sambil berlenggak lenggok laksana seorang puteri keraton.


Luna gak bisa menahan tawa melihat tingkah Prilly. Begitu juga dengan Sarah yang sedikit tersedak kuah bakso.


"Sudahlah, Pril. Mending makan bakso aja. Kalo dingin gak enak, looh!" cetus Sarah yang memang membawa bakso bagian Prilly.


"Okelah, kalau begitu. Ayo kita santaap!" serunya tetap gemulai.


Walaupun mereka sedang mendapat masalah tapi tetap kompak. Luna sangat senang mempunyai rekan kerja yang sudah seperti saudara sendiri.


Gak lama kemudian, semua bakso yang dibawa Sarah pun ludes. Sekarang waktunya serius.


"Aku udah membuat laporan ke polisi, Lun. Tagihan dari bank bisa dipending sampai penipu itu ditemukan. Hanya saja, kita gak bisa membayar gedung kantor. Apa kamu mau pindah ke gudang bagian produksi?"


Luna langsung mengangguk, "dulu kan juga kita mulainya dari gudang, kak. Aku gak masalah, kok. Tapi, bagaimana dengan semua pegawai?" Luna malah mencemaskan semua pegawainya.


"Sebagian karyawan terpaksa dirumahkan untuk sementara waktu. Kita diberi konpensasi dari pihak bank untuk menggunakan gudang pabrik asal tetap mengangsur pinjaman!" jelas Sarah. Tenggorokannya jadi terasa sangat kering.


Luna menarik napas panjang. Ujian kali ini terasa sangat berat karena melibatkan karyawannya yang sudah banyak.


"Apa kita masih ada tabungan, kak? Pakai aja untuk mengangsur pinjaman sampai dua bulan ke depan. Sisanya untuk membayar gaji karyawan meski gak full! Tanyakan dulu apa mereka mau bertahan?"


"Ada tapi hanya untuk dua bulan ke depan, Lun. Kalau ada orderan kita gak punya modal lagi!" jawab Sarah.


"Tenang, say. Aku akan menjual mobilku. Aku juga salah karena terlalu percaya dengan penipu itu!" celetuk Prilly yang masih geregetan.

__ADS_1


"Apa kamu gak apa-apa, Pril. Kalau naik angkot, perawatan wajahmu pasti gagal!" ledek Luna.


"Gak apa-apa, say. Wajahku kan emang gak pake perawatan. Cuma pake air putih aja, kok. Soalnya dasarnya aja aku sudah cantik!" sahut Prilly yang membanggakan kulit wajahnya yang mulus seperti keramik. Padahal sih lumayan biaya perawatannya!


Luna juga siap menjual mobilnya jika diperlukan. Apapun akan dia berikan asal usahanya kembali bangkit.


*****


Yuki tersenyum puas ketika mendengar perusahaan Luna terlibat masalah. Sekarang, Luna bukanlah siapa-siapa.


"Ada apa? Apa ada berita menggembirakan?" tanya Jion yang sedang makan siang dengan Yuki.


Yuki gak bisa menutupi kegembiraannya di depan Jion, "mulai sekarang jadilah model di perusahaanku! Perusahaan Luna sudah bangkrut!" ungkapnya masih dengan senyuman rubahnya.


Jion tertegun, "bangkrut? Aku baru kesana beberapa hari yang lalu. Bagaimana dengan kontrakku? Kenapa aku gak dikasih tahu?" tanya Jion yang langsung panik. Bukan karena situasi Luna tapi karena dirinya sendiri.


"Tenanglah! Makanya bergabunglah dengan perusahaanku. Lupakan aja kontrakmu itu. Lagipula nilainya pasti gak seberapa. Aku akan membayarmu tiga kali lipat!"


Wajah Jion langsung semringah. Tapi, dia turut prihatin dengan kondisi perusahaan Luna. Dia harus bertemu Luna secepatnya.


*****


Apakah Luna sengaja menjauhinya karena kejadian kemarin?


Pertanyaan itu membuat Damar gak bisa tenang, ketika meeting pun gak konsen. Wajah pucat Luna ketika di depan kamarnya selalu terbayang.


Rani tahu kalau Damar gak tenang. Dari dulu Damar selalu bisa menempatkan urusan pribadi dan pekerjaan. Kini, hidup Damar gak beraturan lagi semenjak ada Luna.


Seharusnya Rani menyalahkan Luna karena membuat Damar seperti itu. Cinta itu membuat seseorang damai bukannya malah gelisah.


"Apa? Perusahaan Luna Fashion kolaps? Kenapa bisa seperti itu?" Rani baru saja menerima telepon dari koleganya setelah meeting selesai.


"Hutang bank sebanyak itu? Jadi ada orang dalam perusahaan yang menjerumuskannya? Oke, pantau terus apa yang terjadi dan sekalian cari tahu siapa yang mendalangi masalah ini!"


Rani jadi galau apakah harus memberitahukan soal perusahaan Luna sekarang. Nanti malam masih ada pertemuan dengan klien. Rani gak mau konsentrasi Tuan Damar kembali kacau.


Sudah jam sepuluh malam. Semua pekerjaan ini selesai dan berjalan lancar. Rani melupakan soal perusahaan Luna. Mungkin besok saja akan dia beritahukan Tuan Damar.


Ketika di dalam mobil menuju pulang, hape Damar bunyi. Damar mengira kalau Luna yang sudah menelponnya. Wajahnya berubah begitu Ridwan yang sudah menghubunginya. Dia adalah orang kepercayaan Damar yang disuruh menyelidiki soal Best Denim.

__ADS_1


Damar segera memakai earpeacenya agar gak mengganggu Rani yang sedang memejamkan mata. Dia kelihatan sangat lelah.


"Gimana? Apa ada kabar?" tanya Damar sepelan mungkin agar Rani gak terbangun.


"Tadi sore saya sudah memberitahukan Bu Rani, tuan. Hape tuan sedang gak aktif!" ucap Ridwan dari ujung telpon.


"Tadi sore? Aku memang sedang meeting!" Damar mengira mungkin Rani sudah kelupaan.


"Perusahaan Bu Luna sudah kolaps, tuan. Perantaranya dengan Best Denim sudah menipunya. Bahkan mereka meminjam uang di bank dengan menjaminkan perusahaan Bu Luna!"


Damar tertegun. Kejadian separah itu gak mungkin Rani sampai kelupaan. Apakah Rani sengaja gak memberitahukannya?


"Tolong berhenti di depan, mang!" Tiba-tiba, Damar meminta menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Baik, tuan!"


Rani yang merasa mobil berhenti segera membuka matanya.


"Apa kita sudah sampai?" tanyanya yang menyesal karena sudah ketiduran.


"Kalian pulanglah duluan dengan taksi online. Aku masih ada urusan!"


Damar segera pindah ke belakang stir setelah Mang Dayat keluar. Begitu juga Rani yang masih gak tahu apa yang sudah terjadi.


Tanpa banyak bicara lagi, Damar langsung menjalankan mobilnya. Dia hanya akan menuju ke suatu tempat.


"Ada apa dengan Tuan Damar, mang?" tanya Rani setelah mobil Tuan Damar sudah gak kelihatan.


"Gak tahu, bu. Tadi sih ada telepon. Sepertinya membicarakan soal perusahaan nyonya muda!" jawab Mang Dayat yang tadi sekilas mendengarnya.


Rani tertegun, "perusahaan Nona Luna? Apakah sekarang Tuan Damar sudah tahu?"


"Memangnya ada apa dengan perusahaan nyonya muda, bu?"


Rani menatap Mang Dayat tajam, "jangan panggil Nona Luna sebagai nyonya muda, mang. Dia belum tentu menikah dengan Tuan Damar. Apalagi kalau tanpa perusahaannya, Nona Luna bukan siapa-siapa!" jawab Rani agak ketus.


Kali ini, Mang dayat yang terkejut melihat ekspresi Rani. Gak biasanya Rani seperti itu. Sepertinya, Rani gak suka kalau Nona Luna akan menikah dengan Tuan Damar.


Mang Dayat memutuskan untuk naik bus sementara Rani naik taksi online. Ada rasa kecewa melihat sikap Rani barusan. Sejak dulu, Mang Dayat takut kalau sikap Rani berubah karena selalu bersama Tuan Damar. Sekarang, ketakutannya itu menjadi kenyataan.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2