
Yuki melangkah pasti memasuki gedung perusahaan Grup Bintang. Dengan sangat percaya diri, dia langsung menuju ke ruangan yang dipakai Sony sebagai Direktur. Sebelum pengangkatannya, Yuki mau merenovasi ruangan itu sesuai seleranya.
"Maaf, nona gak bisa masuk!" ungkap Fadli, sekretaris Sony. Dia menghadang Yuki di depan pintu.
"Kenapa gak bisa. Aku yang akan menggantikan Om Sony. Cepat buka pintunya! Aku mau merenovasi sebelum ditempati!" tegas Yuki. Dia gak suka sikap mantan sekretaris omnya itu. Yuki pasti akan memecatnya jika sudah menjabat.
"Sekali lagi maaf, nona. Ruangan ini untuk Nona luna. Untuk sementara, semuanya diambil alih Tuan Arya!" jelas Fadli seperti yang diinstruksikan atasannya.
"Nona Luna? Akulah yang akan menjabat direktur dan menempati ruangan ini. Akulah pewaris yang asli, bukan Luna!" Yuki mulai panas. Kenapa juga Luna masih disebut-sebut. Bahkan ruangan itu sudah disiapkan untuknya.
"Silakan nona hubungi Tuan Arya. Kebetulan Tuan Arya sudah ada di kantornya!"
Yuki semakin naik pintam. Jelas sekali kalau Luna memilih membuka butik kecilnya. Mengapa juga masih dipikirkan papahnya.
"Papah! Kenapa aku gak bisa masuk ke kantorku?" tanya Yuki begitu sampai di depan papahnya.
Tuan Arya hanya diam saja. Dia sangat tahu sikap puterinya itu. Sepertinya Yuki belum bisa belajar dari kesalahannya.
"Apa kamu sudah meminta maaf kepada Luna? Apa kamu sudah mengakui kesalahanmu?" tanya Tuan Arya ringan.
Yuki tambah emosi mendengar pertanyaan papahnya.
"Buat apa aku harus minta maaf sama Luna? Emangnya siapa dia?"
Tuan Arya mendongak dan menatap puterinya itu tajam. Sifatnya sama sekali gak berubah. Padahal Luna selalu mengalah padanya.
"Apa mamahmu gak ngomong? Minta maaflah sama Luna. Baru aku akan memikirkan posisi buatmu! Apa sih susahnya?"
__ADS_1
"Apa perlunya aku lakukan itu? Aku gak punya salah apa-apa padanya. Seharusnya dialah yang minta maaf padaku!"
"Yuki! Papah sangat menyesal karena gak bisa mendidikmu dengan benar. Hal mudah saja gak bisa kamu lakukan. Sekarang terserah padamu! Papah gak mau memikirkan kamu lagi," ungkap Tuan Arya yang sudah putus asa dengan sikap Yuki.
Yuki malah tertawa, "emangnya kapan papah memikirkan aku? Selalu saja Luna, Luna dan Luna. Katakan aja kalau dia itu anak haram papah. Semua akan menjadi jelas!" ucap Yuki yang sudah sakit hati.
"Itulah yang sangat aku sesalkan. Meskipun anak haram, Luna tetap lebih pantas menjadi puteriku dibandingkan kamu. Sekarang pergilah! Jangan temui aku jika belum mengakui kesalahanmu!"
Mata Yuki sudah sangat panas. Air matanya sebentar lagi akan tumpah. Tapi, dia gak akan menangis di depan papahnya. Gak akan pernah!
Dendamnya gak akan hilang jika belum melihat Luna hancur. Jika perlu melenyapkannya dari kehidupan ini!
*****
Luna sudah mulai bekerja di butik kecilnya. Prilly mulai merancang baju pengantin yang akan dipakai Luna berikut pakaian yang akan dipakai Damar nanti.
"Whats? Simple? Jemariku ini hanya untuk membuat gaun spekta. Pokoknya kamu harus memilih salah satunya!"
Luna tersenyum melihat ekspresi Prilly. Dia pun membuka hapenya dan mencari sebuah gambar.
"Bagaimana dengan gaun seperti ini? Dia cantik kan? Dia itu menantu ratu looh, gaunnya simple tapi mewah!" ujar Luna sambil menunjukan foto di hapenya kepada Prilly.
Cowok gemulai itu memerhatikan foto yang ditunjukan Luna. Dia manggut-manggut sendiri.
"Iya, Lun. Dia sangat cantik dan elegan. Okelah kalau begitu! Aku setuju gaun seperti ini aja," cetus Prilly.
"Bagaimana dengan Damar? Kamu udah punya rancangan buat dia?" tanya Luna penasaran.
__ADS_1
"Aakh! Tuan Damar itu udah seratus persen ferpekto! Apapun yang dia pakai selalu good looking! Iiikh, kamu beruntung mendapatkannya, saay. Udah tajir, muda dan tampan pula!"
Luna tertawa kecil melihat ekspresi Prilly. Iyalah, Damar memang sempurnaaa!
"Bagaimana posisi direktur grup Bintang sekarang, Lun? Setelah kamu tolak apakah Yuki yang akan mengisi posisi itu?" tanya Sarah yang dari tadi senyam senyum melihat keduanya.
"Entahlah, kak. Sebenarnya Tuan Arya tetap akan memberikan posisi itu untukku. Tapi, sepertinya dia mau menguji Yuki. Aku takut Yuki semakin membenciku jika aku menerimanya!" jelas Luna.
"Iikh! Ngapain kamu berpikiran seperti itu, Lun? Kalau memang benar Yuki bener, papahnya gak akan membuangnya. Aku dengar sebenarnya perusahaan Yuki itu sudah bangkrut. Tapi, pamannya tetap memberikan orderan meski gak jelas. Kalau papahnya tahu soal itu, pasti perusahaan Yuki langsung kolaps!" terang Prilly yang berapi-api.
"Iya, Lun. Tinggal tunggu waktu aja. Tuan Arya pasti tahu dana yang digelapkan Yuki. Meski puterinya sendiri, dia pasti gak akan tinggal diam!" Sarah juga geregetan dengan sikap Yuki.
"Aku harap Yuki baik-baik saja. Entahlah mengapa dia salah jalan seperti itu. Padahal papahnya sangat baik!"
Luna gak habis pikir dengan sikap Yuki. Dia hanya berharap semua akan berakhir bahagia untuk semuanya.
"Sudah waktunya makan siang. Kamu mau makan apa, Lun. Biar aku yang pergi ke depan aja. Di sana ada restoran yang makanannya lumayan enak!" ujar Sarah yang merasa perutnya mulai leroncongan.
"Eeh! Aku aja yang pergi, kak. Sejak keluar dari kantor polisi, aku belum mentraktir kalian. Kita makan disini aja ya, biar lebih santai!"
Luna langsung meraih dompetnya dan ngeluyur pergi. Sarah dan Prilly saling pandang kemudian tertawa kecil. Luna memang seperti itu. Tiba-tiba melakukan sesuatu tanpa bicara apapun.
Suasana di jalanan gak begitu ramai. Luna bisa menyeberang tanpa rasa takut. Hadeh! Luna lupa menanyakan makanan apa yang disukai Sarah dan Prilly. Dia pun berjalan sambil menanyakannya lewat hape.
Namun begitu sampai di tengah jalanan, perhatiannya tertuju kepada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Anehnya, kaki Luna malah gak bisa digerakkan. Dia hanya terpaku melihat mobil itu semakin dekat. Apakah mobil itu akan menabraknya? Apakah Luna akan mati???
*****
__ADS_1