
Akhirnya, Luna kembali ke ruang kerjanya setelah meeting selesai. Selama acara, dia selalu gelisah dan menebak apa yang dilakukan Damar sendirian.
Tak berapa lama, Luna malah tertegun ketika melihat Damar tengah tertidur di kursi. Kelihatannya Damar tidur dengan nyenyak membuat Luna gak tega membangunkannya.
Perlahan Luna duduk di samping Damar. Dia mulai suka memerhatikan tiap lekuk wajahnya. Hidungnya yang mancung dan bulu mata yang menggemaskan. Jika seperti itu, Luna ingin sekali menyentuh bulu mata yang lentik itu.
Aakh! Gila kamu, Lun. Bisa gawat kalau Damar sampai bangun!
Luna nekat juga ingin menyentuh bulu mata Damar. Lagipula orangnya lagi tidur nyenyak. Satu detik aja juga udah cukup!
Nyatanya, sebelum ujung jari Luna menyentuh bulu matanya, Damar keburu membuka mata. Spontan Luna menjauh.
"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu? Kayak maling ketahuan aja!" celetuk Damar ketika melihat ekspresi Luna. Padahal tadi Damar hanya pura-pura tidur aja.
"Maling? Ini kan ruang kerjaku. Apapun yang ada disini adalah milikku!" tegas Luna meski takut ketahuan juga.
"Oh, jadi aku juga milikmu begitu?" tanya Damar menggoda.
"Iih, kalau kamu sih aku gak tahu!" jawab Luna sambil memeluk bantal kursi erat.
"Kalau memang aku ini milikmu, apa yang ingin kamu lakukan? Apa memelukku sesuka hatimu seperti bantal itu?" sindir Damar.
Kali ini Luna gak bisa bicara lagi. Damar memang jago kalau masalah berdebat.
"Sudah, aach! Ayo, katanya mau ke rumahmu," ungkap Luna yang mengalihkan pembicaraan.
"Tapi, aku lapar!"
"Kan bisa makan di rumahmu nanti! Kasihan mamamu menunggu lama," jelas Luna. Dia merasa gak enak karena belum ke rumah Damar juga.
"Aku juga masih mengantuk. Lima.menit lagi, ya!"
Damar malah memejamkan mata lagi. Luna semakin naik pitam melihatnya.
"Ya, sudah. Aku pergi sendiri aja!" ungkap Luna yang langsung melangkah pergi.
"Eeeh! Tunggu aku!"
Damar bergegas menyusul Luna. Dia gak mau kalau Luna bertemu Jion lagi.
__ADS_1
*****
Nyonya Kamaratih memasuki kamar Damar setelah sekian lama gak pernah melihatnya. Terakhir kali ketika membuang semua barang-barang yang bisa mengingatkan Damar dengan Anna. Hari yang akan disesalinya seumur hidup. Karena setelah kejadian itu, Damar malah menjadi depresi.
Ruangan itu masih sama. Letak buku dan perlengkapan lainnya. Nyonya Kamaratih tertegun ketika melihat laptop tua di atas meja. Laptop pertama Damar ketika masuk SMA. Hadiah dari papanya karena bisa masuk sekolah terbaik.
Mungkin itulah sebabnya mengapa Damar masih menyimpan laptop itu. Nyonya Kamaratih juga tidak berani membuangnya. Disentuhnya laptop itu perlahan. Dia juga jadi teringat dengan almarhum suaminya.
"Maaf, Nyonya. Mamah Nona Luna sudah datang sama dengan adik laki-lakinya!" ucap Mang Dayat yang terpaksa masuk ke dalam ruangan itu.
Nyonya Kamaratih sedikit kaget dan tangannya membuat posisi laptop berubah.
"Ajaklah langsung ke ruang makan. Sudah waktunya makan siang. Bagaimana dengan Damar dan Luna? Apakah sudah ada kabar?"
"Katanya Tuan Damar masih di kantor Nona Luna, Nyonya. Mungkin setengah jam lagi baru sampai," jawab Mang Dayat.
"Oke, bawa aku menemui mereka!" Nyonya Kamaratih kembali duduk di kursi rodanya.
"Baik, Nyonya!" Mang Dayat segera mendorong Nyonya Kamaratih ke ruang tamu untuk menemui mamahnya Luna dan adiknya.
*****
Rani masih berada di rumah makan bibiknya. Ketika orang tuanya meninggal, dia tinggal disana dan membantu bibiknya jualan. Disana juga, Rani bertemu dengan Mang Dayat dan membawanya ke rumah Nyonya Kamaratih.
Akhirnya, Rani bekerja di salah satu perusahaan Nyonya Kamaratih sebagai sekretaris pusat. Setelah setahun, Rani sudah mengetahui bagaimana kegiatan semua perusahaan yang tergabung dalam satu grup.
Setelah selesai kuliah, Tuan Damar baru kembali dari luar negeri. Ranilah yang menjemputnya di bandara. Sosoknya yang tampan dan berwibawa membuat Rani terpesona. Saat itulah, Rani merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Kamu ikut Damar aja di kantor. Dia pasti memerlukan seseorang yang mengetahui bagaimana keadaan perusahaan!" ungkap Nyonya Kamaratih sehari setelah kepulangan Tuan Damar.
"Tapi bagaimana dengan Nyonya? Saya pasti gak bisa menjaga Nyonya lagi," sahit Rani yang masoh mencemaskan Nyonya Kamaratih.
"Aku baik-baik aja. Ada Mang Dayat disini!"
Sejak itu, Rani selalu ada di sisi Tuan Damar. Mulai mengenalnya dari hal kecil sampai semua soal di perusahaan. Di belakang sikapnya yang berwibawa ternyata Tuan Damar menyimpan sebuah rahasia. Rahasia itu yang membuat Rani gak bisa berpaling ke lain hati lagi.
"Maaf, mba. Saya mau pesan satu soto sama nasi, ya!" seorang pengunjung muncul dan memesan makanan.
Rani tersadar dari lamunannya dan segera melayani pembeli itu, "baik, pak!"
__ADS_1
Pembeli itu memerhatikan Rani dengan saksama. Sepertinya ada yang dipikirkannya.
"Kamu pelayan baru disini, ya? Saya baru lihat!" tanya pembeli itu. Dia seorang laki-laki yang cukup tampan meski penampilannya sedikit berantakan. Rambutnya gondrong dan hanya memakai kaos oblong dan celana pendek.
"Saya keponakan Bik Narsih, pak!" jawab Rani sambil meletakan pesanan laki-laki itu.
"Apa namamu Rani?" tanya pembeli itu yang langsung menyebut nama Rani.
"I-iya, pak. Darimana bapak tahu nama saya?"
"Nama saya Agung . Bik Narsih sering cerita soal kamu. Tapi, saya gak percaya ternyata kamu sangat cantik. Oh iya, jangan panggil saya bapak. Apa saya setua itu? Memang sih saya sudah ada ubannya tapi cuna uban genit aja kok!" ungkap pembeli bernama itu sambil tertawa kecil.
Tanpa sadar, Rani ikut tersenyum. Apa laki-laki itu yang Bik Narsih ceritakan, ya? Rani merasa sangat malu dan ingin menghilang dari sana. Tapi, Bik Narsih sedang pergi kepasar jadi Rani yang menjaga warung makannya.
Laki-laki itu makan dengan cepat. Dia ingin bicara lebih banyak dengan Rani. Sèpertinya, Agung sangat antusias begitu melihatnya.
Sementara Rani berharap pembeli itu cepat pergi. Cukup hari ini saja, Rani ditempat itu. Pikirannya hanya tertuju kepada Tuan Damar!
*****
"Bagaimana meetingnya? Apa lancar?" tanya Damar sambil menyetir. Dia ingin tahu kabar perusahaan luar negeri yang bekerjasama dengan Luna.
"Semua baik-baik aja! Minggu depan sudah mulai pengiriman barang pertama. Semoga reaksi pasar positif sehingga akan lebih banyak pesanan!" terang Luna. Dia sangat senang semuanya berjalan sesuai rencana.
"Hotel dan universitas yang bekerjasama dengan perusahaanku baru akan dibangun. Nanti semua yang berhubungan dengan pakaian akan bekerjasama dengan perusahaanmu!"
"Oke, aku tunggu!" jawab Luna singkat.
"Eeh, kenapa jawabannya begitu? Apa kamu gak suka mendapat proyek dariku?" tanya Damar setelah melihat reaksi Luna.
"Terus aku harus bagaimana? Apa harus memelukmu?" tanya Luna bercanda.
Tiba-tiba, Damar menghentikan mobilnya ke pinggir jalanan yang sepi.
"Ada apa?" tanya Luna lagi.
Damar menatap Luna tajam. Kemudian merentangkan tangannya.
"Ayolah! Katanya kamu mau memelukku!"
__ADS_1
Apa? Dasar Damar! Luna mulai kliyengan deeh ....
❤❤❤❤❤