TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
BANGKIT KEMBALI #2


__ADS_3

Luna melihat pegawai bagian produksinya yang tinggal lima orang saja. Semua kembali ketika Luna memulai usahanya dulu. Saat itu hanya ada Prilly dan lima orang yang membantunya membuat pakaian. Semua berjalan lancar. Tanpa terasa perusahaannya semakin besar hingga mempunyai pegawai lima puluhan.


Namun, semuanya hancur dalam sekejap. Luna menyadari setiap keputusan selalu ada resikonya. Dia masih merasa beruntung karena ada Sarah dan Prilly bersamanya.


Tiba-tiba, hapenya bunyi. Dilihat yang menghubungi adalah Tuan Ceo Menyebalkan. Luna mulai ragu untuk membuka hape. Saat ini, dia ingin konsen dengan pekerjaannya yang harus mulai dari bawah.


"Maafkan aku, Damar. Apapun alasan kamu mendekatiku, aku tetap gak bisa bersamamu!" ucap Luna lirih.


Entah kenapa hatinya sangat sedih. Sebelumnya semua berjalan sangat lancar. Usahanya maju pesat dan seorang Ceo muda mengajaknya menikah. Siapa yang gak merasa beruntung? Tapi sekarang Luna harus memikirkannya. Dia bukan siapa-siapa. Gak sebanding dengan Damar yang seorang Ceo perusahaan besar.


Damar merasa ada sesuatu dengan Luna. Sudah beberapa kali dia menghubungi hapenya tapi gak dijawab. Apa Luna mengalami kejadian buruk lagi?


Padahal kemarin Luna masih tersenyum di depannya. Gak terlihat kalau dia sedang sakit dan punya masalah pekerjaan. Itulah yang disukai Damar. Luna selalu ceria meski memiliki banyak beban.


"Maaf, tuan. Semua berkas sudah saya siapkan. Apa bisa dikerjakan disini? Saya harus mengirim balik kepada klien malam ini juga!"


Rani muncul dengan kesibukannya. Damar hanya bisa menghela napas panjang. Dia gak bisa konsen sama sekali dan pikirannya sudah terbang ke tempat Luna.


"Aku akan mengerjakannya sekarang!" jawab Damar seraya kembali ke meja kerjanya. Setumpuk berkas sudah ada di atas meja. Damar berharap bisa memeriksa semuanya dalam waktu singkat.


Rani tersenyum puas. Akhirnya Damar gak jadi pergi menemui Luna. Semua kembali seperti semula.


Dayat melihat Rani masih ada di dalam ruang kerja Damar. Padahal, tadi dia sempat mendengar kalau Damar akan pergi ke tempat Nona Luna. Menurutnya ada yang janggal. Rani berusaha menjauhkan Damar dari Nona Luna.


Dayat akan menunggu satu jam lagi. Sekitar jam delapan, dia akan memaksa Rani melepaskan Damar dari penjara pekerjaan. Dia merasa kasihan dengan Damar. Di rumah adalah penjara yang dibuat ibunya dan di kantor adalah penjara yang dibuat Rani.


"Maaf, Bu Rani. Nyonya menyuruh saya mengantar untuk melihat rumah sekarang juga!"


Sudah pukul delapan malam. Dayat harus melaksanakan niatnya.


Rani malah menatap tajam seakan gak suka kalau Dayat muncul.


"Sudah malam! Besok aja juga bisa," sahut Rani yang gak bisa menahan rasa kesalnya.


Damar baru tersadar kalau sudah malam. Dia harus menemui Luna.


"Iya, mang. Besok aja ke lokasi rumah itu kalau sekarang sudah malam. Temani Rani sebentar, aku pulang duluan. Sisanya baru besok aku kerjakan!" Damar langsung berdiri dan memakai jasnya.


Sementara Rani sangat terkejut begitu mendengar ucapan Damar.

__ADS_1


"Gak usah, tuan! Saya bisa sendiri," jawabnya yang bisa melarang Damar lagi.


"Maaf, tapi saya tetap akan menemani Bu Rani!" Dayat kekeh pada pendiriannya.


"Nah! Bagus begitu, mang. Rani memang agak keras kepala padahal kita mencemaskannya. Jaga dia ya, aku pergi duluan. Mobil aku bawa, ya!"


"Baik, tuan!" sahut Dayat seraya menyerahkan kunci mobil kepada Damar.


Kini, di ruangan itu hanya ada Rani dan Dayat. Rani sibuk dengan pekerjaan sementara Dayat duduk setia menunggu. Padahal kedua hati mereka mempunyai banyak kata. Selebihnya hanya ada kesunyian.


*****


Malam semakin larut. Luna masih ada di kantornya. Dia baru selesai membuat porposal ke perusahaan lain. Sarah dan Prilly sudah pulang dan hanya ada dua orang sekuriti yang berjaga di depan.


Tiba-tiba, terdengar suara berisik dari luar ruangannya. Seperti ada orang atau sesuatu di sana. Gak mungkin ada tikus! Bahaya kalau ada makhluk itu di dalam gudang. Bisa-bisa bahan pakaian hancur karena dimakannya.


Luna mendengarkan lagi dengan saksama. Sudah gak ada suara. Mungkin hanya perasaannya aja. Tiba-tiba suara itu datang lagi. Kali ini sangat jelas suara sepatu dan menuju ke arahnya.


Dengan sigap, Luna mengambil apapun yang ada didekatnya. Sebuah vas bunga kosong sudah siap ditangan jika memang ada orang jahat yang datang.


Dadanya berdegup kencang dan situasi semakin mencekam. Luna merasa orang itu akan sampai di ruangannya. Jika begitu, dia akan segera melemparkan vas bunga itu kepadanya.


Seseorang mendorong pintu dari luar. Luna membelalakan matanya, siap siaga jika ada orang yang gak dikenal.


"Siapa kamu?!" tanya Luna kencang siap melemparkan vas bunga dari tangannya.


Namun wajah tegang Luna melumer ketika menyadari siapa yang datang.


"Damar?!"


"Astaga, Luna! Apa kamu mau menyerangku?" teriak Damar yang sangat terkejut begitu melihat ekspresi Luna.


"Aduh! Kenapa juga kamu kesini gak bilang-bilang! Aku kira ada orang jahat," jawab Luna santai dan meletakan vas bunga yang dipegangnya diatas meja.


"Sekuriti di depan menyuruhku masuk. Lagipula kenapa kamu gak mengangkat telponku?" gerutu Damar yang masih kesal.


"Mana ada telpon masuk? Aku gak dengar tuh!" sahut Luna berbohong.


Damar menarik napas panjang dan mengeluarkan hapenya. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia menghubungi Luna.

__ADS_1


Tiba-tiba hape Luna bunyi lagi. Luna pun sedikit mengintip Ternyata Damar yang sudah menghubunginya.


"Nah! Kedengeran, kan? Berarti kamu sengaja gak mengangkatnya!"


"Beneran kok aku gak dengar. Mungkin tadi aku lagi di toilet!" sanggah Luna lagi.


"Sudahlah! Gak usah alasan. Ayolah, pulang. Ini sudah malam!" ungkap Damar yang menyadari sudah jam sepuluhan.


"Aku emang mau pulang, kok. Tapi, aku mau naik taksi aja!" ungkap Luna. Dia gak mau Damar tahu kalau sudah menjual mobil. Itu Luna lakukan daripada Prilly yang menjual mobil duluan.


"Jangan membantah! Apa perlu aku menggendongmu seperti dulu?"


Luna melotot. Dia masih ingat awal-awal pertemuannya dengan Damar.


"Iya, iya!"


Akhirnya, Luna mengalah dan menuruti perkataan Damar. Sekarang dia gak akan mau digendong Damar. Sepertinya bbnya sudah naik beberapa kilo!


"Besok aku akan menjemputmu lagi!" ucap Damar setelah mereka sudah berada di dalam mobil. Damar tahu dari cerita sekuriti kalau mobil Luna sudah dijual. Namun, Damar gak mau mengungkitnya di depan Luna. Dia pasti punya banyak alasannya.


"Gak usah! Kamu kan sibuk. Aku sudah biasa naik taksi atau kereta, kok!" sahut Luna sambil menoleh ke samping. Malahan bayangan Damar memantul di kaca mobil. Bulu mata lentik Damar selalu menggemaskan. Andai punya anak perempuan, pasti bulu matanya selentik itu. Aaakh! Dasar Luna. Kenapa malah ngelantur.


"Apa kamu gak mau melaporkan orang yang menghancurkan perusahaanmu ke polisi?" Damar gak bisa menahan diri. Dia sudah tahu Yuki terlibat dengan semua yang terjadi dengan Luna.


Akhirnya Damar ngomong serius juga. Luna malah cemas kalau Damar ikut khawatir.


"Nanti Kak Sarah yang akan mengurus semuanya. Jangan terlalu dipikirkan. Kerjaan kamu aja sudah banyak!" sahut Luna santai.


"Bukannya begitu! Aku gak mau apa yang terjadi akan mempengaruhi rencana pernikahan kita!"


Nah! Alasan Damar keluar juga. Luna gak tahu harus berkata apa. Sementara hatinya kian meragu.


"Kenapa juga buru-buru, sih? Kapan aja bisa menikah. Tahun depan juga bisa!" celetuk Luna.


Damar tercengang mendengar ucapan Luna, "apa? Tahun depan? Kenapa selama itu?"


Ya! Setahun lagi. Saat itu perusahaan Luna pasti sudah kembali seperti semula. Yang terpenting, Damar harus melupakan kekasihnya yang dulu. Jika tidak, entahlah apa pernikahan itu masih bisa terwujud.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2