TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MULAI JATUH CINTA #3


__ADS_3

Luna curiga kalau semua makanan itu dikirimkan Jion. Kemarin bunga dan sekarang makanan. Apa Jion sengaja biar Luna jatuh cinta lagi sama dia, ya?


Tapi Luna gak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Pertama selalu manis namun akhirnya hanya ada rasa pahit. Seperti itulah Jion. Kalau ada maunya pasti bisa melakukan apapun.


Gak terasa udah seminggu berlalu. Sebenarnya, Luna ingin sekali liburan bersama karyawannya. Namun karena proyek dengan Best Denim semuanya harus bekerja keras.


Mungkin, karena tahu hari minggu Luna malah bangun kesiangan. Lagipula dia lupa menyetel alarm jam kerja.


"Maah! Kenapa gak bangunin Luna, sih?" Setelah rapi-rapi, Luna langsung turun ke bawah. Biasanya mamahnya lagi buat sarapan sendirian. Luky pasti masih molor dan bangun siang.


Tak lama kemudian, terdengar suara seperti orang sedang mengobrol. Siapa yang sudah datang pagi-pagi? Jangan-jangan, Jion! Hadeh, Luna harus kabur secepatnya.


Namun, langkah Luna terhenti ketika melihat mobil Damar ada di depan rumahnya. Luna baru sadar kalau yang datang bukanlah Jion. Tuh kan! Kenapa tadi gak ngintip dulu sih, Lun!!!


"Ekheeem! Selamat pagi, semuanya ...," ucap Luna yang tiba-tiba jadi lembut.


Mamah Luna langsung melotot. Sementara Damar memajang senyuman manisnya.


"Kamu kan tau ini udah siang, Lun. Udah hampir jam sepuluh!" ungkap Mamah Luna masih dengan muka kesal.


"Mamah sih, kenapa gak bangunin Luna!" Luna malah menyalahkan mamahnya.


"Tadi mamah mau bangunin kamu tapi aku larang. Kamu pasti sangat kecapean, ya?" tanya Damar lembut. Dia juga sudah memanggil Mamah Luna dengan panggilan mamah.


Luna cuma cengengesan, "ini akibat pizza dan hamburger semalam. Sepertinya cacing diperutku terlalu nyaman jadi malas bangun pagi!" jawab Luna mencari alasan.

__ADS_1


"Pizza? Siapa yang beli?" tanya mamah Luna yang gak tahu soal makanan itu.


"Gak tahu tuh Luky. Katanya ada yang mengirim makanan itu tapi tanpa nama. Apa kamu yang ngirim?" tanya Luna yang melihat Damar hanya senyum-senyum dari tadi.


"Tebak siapa yang ngirim. Aku atau orang yang ngirimin kamu bunga?" Damar malah ngajak main tebak-tebakan.


"Gak tau, aah. Aku mau kerja. Kalau kamu betah disini silakan aja!" Luna langsung nyelonong pergi.


"Eeeh! Tunggu, Lun. Mamahnya Damar mau kita ke rumahnya. Katanya mau ada acara perkenalan keluarga dan membahas pernikahan kalian nanti!" jelas Mamah Luna sebelum Luna kabur.


"Jadi, acara itu beneran mau dilaksanakan. Tapi, aku mau kerja dulu. Paling siang kalau mau kesana!"


"Ya sudah, aku akan mengantarnu sekalian ke rumahku. Biar mamah dan adikmu dijemput Mang Dayat! Permisi, mah!" Damar langsung menarik tangan Luna tanpa menunggu persetujuannya.


"Tapi, kamu gak perlu ke kantorku, kan? Nanti aku bisa naik taksi ke rumahmu!"


"Aku akan menunggumu sampai selesai. Hari ini aku libur seharian penuh, kok!"


"Damar!"


Damar cuek dengan sikap Luna dan serius mengemudi. Luna kehabisan kata-kata. Pasti heboh kalau karyawannya tahu Tuan Damar, Ceo Santika Grup datang ke kantornya.


*****


Rani gak bisa melarang kalau Tuan Damar memilih pergi sendiri tanpanya. Hanya aja, dia merasakan sesuatu ada yang hilang. Suasana sejuk di halaman belakang rumah itu gak mampu melenyapkan kegelisahan hatinya.

__ADS_1


"Pergilah berlibur kemanapun kamu mau, Ran. Kamu berhak juga untuk libur. Lagi pula Damar sudah pergi dan hari ini ada acara dengan Luna dan keluarganya!" ungkap Nyonya Kamaratih yang melihat Rani sedang sendirian.


Rani sedikit terkejut ketika Nyonya Kamaratih muncul. Biasanya jam segini sedang makan pagi di kamarnya.


"Oh baik, Nyonya. Tapi saya gak ada rencana kemana-mana. Biar saya membantu disini aja!" jawab Rani sigap.


Namun, Nyonya Kamaratih malah menanggapi perkataan Rani berbeda.


"Aku gak mau sampai terjadi kesalahan seperti kemarin. Aku tahu apa maksudmu membantu Luna. Kamu hanya ingin menunjukan kalau kamu itu tahu semua soal Damar, kan?"


Deg! Rani hampir gak bisa bernapas mendengar perkataan Nyonya Kamaratih. Dari dulu memang selaku berkata sedikit pedas tapi sekarang sudah kelewatan.


"Maaf, Nyonya. Saya hanya berniat membantu. Gak ada niat apapun lagi," sahut Rani dengan suara sedikit bergetar.


"Aku bukannya tidak suka denganmu. Tapi aku sudah menganggapmu seperti puteriku sendiri. Seharusnya kamu menganggap Damar juga seperti saudaramu!" lanjut Nyonya Kamaratih. Dia selalu gagal menyadarkan Rani tentang perasaannya. Dia hanya takut kalau perasaan itu membuat Luna ragu untuk menikah dengan Damar.


"Iya, Nyonya. Saya sangat sadar siapa diri saya. Jika memang tidak diperlukan, saya akan pergi! Oh, iya. Perlu Nyonya ketahui, saya tahu mengapa Tuan Damar ingin cepat menikah dengan Nona Luna. Sebenarnya, Tuan Damar juga sama seperti Nyonya. Rasa bersalah gak mungkin hilang dalam sekejap. Apalagi jika berhubungan dengan orang yang sudah tiada!" ungkap Rani tegas. Dia tahu Tuan Damar masih memikirkan kekasihnya yang sudah tiada. Wajah Nona Luna sangat mirip dengannya.


Ada sebuah rahasia yang diketahui Rani. Selama ini, dia selalu tutup mulut. Mengira kalau rahasia itu akan terkubur selamanya. Namun, semuanya berbeda ketika Nona Luna muncul. Kekasih Tuan Damar seperti bangkit kembali!


Nyonya Kamaratih hanya tertegun sampai bayangan Rani menghilang. Dia gak sanggup berkata apa-apa ketika mendengar perkataan Rani. Dia sudah tahu soal keluarganya terlalu banyak. Sudah saatnya, Rani menjauh dari puteranya.


Memang ada sebuah rahasia. Nyonya Kamaratih gak mau mengingatnya. Berharap kehadiran Luna mampu mengobati kepedihan di hati Damar. Ketika melihat senyumannya kemarin. Nyonya Kamartih tahu kalau Damar benar-benar jatuh cinta kepada Luna.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2