TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MULAI DARI AWAL #2


__ADS_3

Damar khawatir setelah tahu kalau Luna kembali ke perusahaannya yang dulu. Apalagi mendengar kalau Luna harus bekerja sebagai sekretaris agar mendapatkan kontrak dari seorang laki-laki bernama Sony.


"Tuan Damar harus melakukan sesuatu! Saya khawatir kalau Luna akan melakukan hal bodoh dan menuruti perkataan Pak Sony!" jelas Sarah lewat hapenya. Dia sangat tahu sifat Luna. Dia akan melakukan apapun untuk orang lain meski membuat dirinya sendiri terluka.


"Apakah harus seperti itu? Apa gak ada jalan lain? Aku akan membantu apapun yang Luna inginkan!" sahut Damar yang menyesal belum bisa membantu apapun untuk Luna.


"Ada satu jalan, Tuan. Tapi, sebaiknya dilakukan tanpa aepengetahuan Luna!" ucap Sarah lagi.


"Apa itu?"


Damar mendengarkan penjelasan Sarah dengan saksama. Dia gak mau membuat harga diri Luna terluka karena sudah membantunya diam-diam. Tapi, Damar juga akan melakukan apapun demi Luna. Meskipun akhirnya Luna gak menginginkan pernikahan!


Sarah merasa tenang sudah mengutarakan semua isi kepalanya kepada Damar.


"Maaf, Lun! Aku terpaksa bekerjasama dengan Damar. Dia adalah seseorang yang paling baik saat ini!" ucap Sarah dalam hati. Dia gak bisa melihat Luna terluka karena orang licik seperti Sony.


Luna sendiri memang memikirkan perkataan Sony. Dia tahu Sony merencanakan sesuatu. Sifat Yuki sama dengan pamannya sama-sama licik. Luna harus tetap waspada. Yuki sudah menjerumuskan perusahaannya dan sekarang pamannya juga mau melakukan hal buruk juga.


"Bagaimana soal kontrak dari Pak Sony, kak. Apakah aman?" Luna tetap memikirkan kontrak itu.


Sarah masih diam dan berusaha merangkai kata-kata.


"Sebaiknya dipending dulu aja, Lun. Dari pihak bank sudah aman kok!" jawab Sarah sebisanya.


"Aman? Tenggang waktunya kan akhir bulan ini, kak. Kita belum menyetorkan angsuran bulan kemarin juga!"


"Oh, iya. Aku lupa kalau Bank sudah memberikan keringan sampai bulan depan, Lun. Kamu tenang aja!"


Luna mengernyitkan kening, "kenapa bisa begitu, kak? Emang sih bagus buat kita. Tapi, mengapa semudah itu?" Luna mulai curiga.


Sarah pura-pura ikut berpikir padahal hatinya tersenyum, "kan ada pangeranmu, Luna!" katanya dalam hati.


*****


Kondisi Dayat sudah membaik. Hari ini, dia akan mengantar Rani melihat rumah yang akan dibelinya.

__ADS_1


"Rumah mana yang ibu pilih?" tanya Dayat dengan gaya bicara kembali seperti biasa. Seperti seorang sopir kepada majikannya.


Rani terdiam. Sikap Dayat sangat aneh. Kemarin gaya bicaranya sudah berubah tapi sekarang kembali lagi.


"Aku mau yang banyak pohonnya dan gak terlalu besar. Cukup untukku dan bibikku!" jawab Rani singkat.


Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Soal perkataan Tuan Damar kemarin yang berhubungan dengan perusahaan Nona Luna.


"Maksud Tuan, kita memberikan jaminan ke bank untuk perusahaan Nona Luna?"


Rani sangat terkejut ketika Damar mengutarakan maksudnya.


"Iya, Ran. Hubungi pihak bank dan tanyakan apa saja syaratnya. Tapi kita hanya memberikan jaminan nama saja. Sebenarnya kita bisa membayarkan hutang perusahaan Luna. Namun Sarah mengatakan harga diri Luna malah akan terluka jika seperti itu. Jadi, mau gak mau kita hanya membantunya sedikit saja!" jelas Damar.


"Tapi, tuan. Bila seperti itu, nama perusahaan kita bisa buruk apalagi kalau perusahaan Nona Luna tidak memenuhi kewajibannya!" sanggah Rani.


Ada yang aneh dari perkataan Rani. "Perusahaan kita". Aakh Rani menyesal sudah mengatakan hal itu.


"Kita sudah sampai, bu. Saya rasa komplek perumahan ini cukup nyaman," tegur Dayat lagi setelah Rani hanya diam saja di sepanjang perjalanan.


Rani melihat sebuah rumah mungil di depannya. Di sebelahnya sudah ada rumah yang cukup besar. Sepertinya dia mengambil dua rumah sekaligus. Di depan rumah itu ada halaman yang cukup luas dan ada taman kecil. Sementara, rumah Rani hanya cukup untuk garasi.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Dayat begitu mereka sudah sampai didepan rumah.


"Ini sudah cukup dan lumayan nyaman. Sepertinya aku akan mengambil rumah ini!" jawab Rani tanpa berniat melihat ke dalam rumah itu.


Dayat merasa aneh dengan sikap Rani yang seakan hanya setengah hati melihat rumah itu. Mungkin juga karena dia gak mau pindah dari rumah Nyonya Kamaratih!


"Ibuuuu ...."


Terdengar suara anak kecil memanggil seseorang. Apa Rani salah dengar, ya? Tapi Dayat juga celingukan mencari arah suara itu.


Sebuah mobil berhenti di depan mereka. Dari jendela menyembul seraut wajah mungil. Rani terkejut ketika menyadari kalau wajah mungil itu adalah Syakira. Gadis kecil puteri dari Mas Agung. Laki-laki yang dikenalkan bibiknya.


Gak lama kemudian seorang laki-laki turun dari mobil. Dia adalah Agung, papanya Syakira.

__ADS_1


"Apa kabar, Ran? Apa kamu yang mau membeli rumah di sebelahku?" tebak Agung yang sempat melirik laki-laki di sebelah Rani. Mungkin mereka akan menjadi suami istri.


"Ibuuu ...," panggil Syakira yang gak sabar menunggu. Dia segera membuka pintu mobil dan berlari ke pelukan Rani.


Spontan Rani sangat terkejut begitu juga Dayat.


"Iya, Syakira. Apa kabarmu?" tanya Rani lembut.


Dayat semakin tertegun melihat anak kecil itu mengenal Rani. Apalagi melihat wajah Rani yang sangat cerah begitu melihatnya.


"Aku baik, bu. Apa ibu mau ke rumah kami. Hari ini kami mau ke kebun strowberry. Apa ibu mau ikut?"


Rani menjadi gugup. Pertanyaan ayah dan anaknya sama-sama membingungkan.


"Ti-tidak, Syakila cantik. Saya sedang ada keperluan!" jawab Rani yang bingung harus menjawab apa.


"Iya, Syakira. Ibu Rani masih ada keperluan. Ayo masuklah dan ambil beberapa barang yang akan dibawa. Oh, iya. Pamitan dulu sama adikmu, ya. Nanti ayah menyusul!" ucap Agung berusaha menghilangkan kegugupan Rani.


"Tapi, yah. Bu Rani sudah janji mau ikut memetik strowberry!" rengek Syakira.


Dayat gak bisa diam aja. Anak sekecil itu sudah memiliki impian. Dia sudah menebak apa yang terjadi pada gadis kecil itu. Sepertinya dia sudah gak punya ibu dan melihat sosok ibu pada diri Rani.


"Iya, sepertinya Bu Rani ikut saja dengan kalian. Hari ini kan hari libur. Soal rumah nanti kita bicarakan lagi!" ucap Dayat yang cukup mengagetkan.


Rani tercengang begitu mendengar ucapan Dayat. Dia gak mengira Dayat seperti itu.


"Tuh, kan. Ayo, bu. Ikut bersama kami. Lagi pula, ibu harus bertemu adikku yang sangat comel. Ayo kita masuk!" ujar Syakira sambil menarik tangan Rani menuju ke rumahnya.


Rani gak sanggup menolak permintaan Syakira. Meski merasa aneh mengapa Dayat mengijinkannya pergi.


"Terima kasih sudah mengijinkan Rani ikut dengan anakku. Maaf kalau sudah merepotkanmu. Apa kalian akan membeli rumah ini setelah menikah?" tanya Agung terus terang.


Dayat tersenyum dan menggeleng pelan, "kami gak akan menikah. Saya hanya seorang sopir dan Bu Rani adalah majikan saya. Maaf, saya permisi dulu. Kalau sudah selesai nanti saya akan jemput!" jelas Dayat sebelum pergi.


Agung gak bisa berkata apa-apa lagi begitu mendengar penjelasan laki-laki itu. Sikap dan penampilannya sangat sopan gak seperti seorang sopir. Sebenarnya, siapa dia juga dengan Rani?

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2