
Tuan Kenta sangat terkejut begitu mengetahui kalau Denny adalah pewaris asli perusahaannya. Ternyata selama ini, Denny menyembunyikan identitas aslinya dengan sangat baik.
"Selamat siang Tuan Kenta! Anda pasti tidak mengira kalau Denny adalah putera saya yang juga seorang pewaris. Aku pernah melihatmu sekali sebelum ke luar negeri. Aku tidak menyangka, andalah yang menjadi Ceo!" ungkap Mamah Denny sedikit menyindir.
Tuan Kenta tersenyum. Dia juga sudah menyiapkan rencana lain yang tidak bisa dielakkan lagi.
"Selamat siang, nyonya. Aku tidak menyangka akan bertemu nyonya lagi. Tapi, sebelumnya aku akan memberi tahu kalau putera anda bukanlah pewaris asli perusahaan ini. Semuanya sudah atas nama almarhum istriku. Berarti pewaris asli adalah putera kami! Dia adalah Jion!" ungkap Tuan Kenta dengan senyuman penuh percaya diri. Dia sudah menyiapkan semuanya dari awal.
Denny berubah pucat mendengar ucapan Tuan Kenta. Dia tidak tahu kalau perusahaan itu sudah bukan atas nama papahnya.
"Jangan berbohong, Tuan. Saya sudah memeriksa semuanya. Surat pengalihan itu tidak ada. Aku hanya menemukan surat surat atas nama papahku!" tegas Denny.
Tuan Kenta tertawa. Kemudian duduk di kursi dengan santai.
"Aku akui kamu adalah orang yang cerdas. Aku bahkan tertipu dengan identitas palsumu. Cara kerjamu juga sangat baik sehingga aku mempercayai semuanya padamu. Tapi, aku sudah menduganya dari awal. Makanya perusahaan langsung aku alihkan atas nama istriku kemudian akulah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan semua kegiatan di perusahaan!"
Denny semakin gemetaran. Ternyata Tuan Kenta jauh lebih licik dari perkiraannya.
"Baiklah! Tapi aku tahu kalau Jion itu bukanlah puteramu, Tuan Kenta! Jadi kamu tidak berhak menjadi Ceo melainkan keponakanku!" ucap Mamah Denny lagi.
Semua terkejut mendengar ucapan Mamah Denny, termasuk Denny sendiri.
"Mamah?" tanya Denny yang ingin tahu kebenaran perkataan mamahnya.
Mamah Denny hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia memang tidak memberitahukan soal itu kepadanya.
Tuan Kenta terdiam. Namun, dia tetap tenang.
"Ya! Jion memang bukan puteraku. Dialah Ceo sebenarnya. Sekarang, dia cukup dewasa untuk mengambil alih perusahaan ini. Silakan tanya langsung kepada Jion sendiri. Masuklah, Jion!"
Dari balik pintu, Jion muncul dengan setelan jas seperti seorang pekerja. Aura artisnya berubah menjadi seorang pekerja kantoran yang berwibawa. Semua terpaku melihatnya dan suasana semakin riuh.
Semalam, Tuan Kenta sudah membicarakan masalah penting itu kepada Jion.
"Lihatlah dokumen itu, Jion!" ucap Tuan Kenta seraya memberikan secarik kertas.
"Apaan ini, pah?" Jion belum mengerti apa maksud Tuan Kenta. Dia pun membaca secarik kertas yang diberikan papahnya.
__ADS_1
Wajah Jion berubah tegang. Ternyata kertas itu adalah hasil tes Dna Tuan Kenta dan Yuki.
"Apa maksud semua ini, pah? Disini dikatakan kalau papah dan Yuki seratus persen satu darah!"
"Iya, Jion. Yuki adalah puteriku. Aku dan mamahnya pernah bersama. Aku melakukan kesalahan sehingga Yuki lahir. Selama ini aku tidak pertah tahu soal Yuki. Sampai akhirnya Mamah Yuki yang mengatakannya!" terang Tuan Kenta.
Jion mulai gemetar dan wajahnya semakin pucat.
"Tapi, pah. Berarti aku dan Yuki bersaudara?" tanya Jion lemas.
"Tidak! Kalian bukan sedarah. Sewaktu aku dan mamahmu menikah, dia sudah hamil. Aku tidak tahu siapa laki-laki yang sudah meninggalkan mamahmu. Aku menikahinya sebelum kamu lahir, Jion!"
Jion semakin lemas. Terlalu banyak rahasia yang baru diketahuinya. Kepalanya belum bisa menerima dengan normal.
"Lalu, bagaimana dengan pernikahan kami? Apakah harus dibatalkan? Bagaimana perasaan Yuki jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya?"
"Tidak! Lanjutkanlah rencana pernikahan kalian. Aku sudah membicarakannya dengan Nyonya Arana. Dia sudah menyetujui kalau kalian menikah. Hanya saja, nanti akulah yang akan menjadi pendamping Yuki!"
Jion terdiam. Dia harus bicara dengan Yuki secepatnya.
"Baiklah, pah. Aku harus menemui Yuki!"
Jion tidak jadi pergi. Dia kembali duduk dan mendengarkan penjelasan papahnya soal situasi perusahaan.
Tadi siang sebelum ke kantor perusahaan papahnya, Jion dalam perjalanan menuju ke lokasi syuting. Dia masih memikirkan rencana papahnya agar dia menjadi Ceo. Mana mungkin Jion menerimanya? Dari dulu dia lebih suka menjadi artis daripada bekerja di kantor.
"Ada apa, Jion? Wajahmu tegang begitu kayak mau melamar pekerjaan aja!" ledek managernya.
"Apa aku pantas jadi seorang Ceo, bang?"
"Kenapa? Apa ada tawaran film jadi Ceo?"
"Abang kan tahu kalau papahku punya perusahaan. Dia berencana menjadikan aku sebagai Ceo menggantikannya. Bagaimana menurut abang?"
"Apa? Jadi ini beneran, Jion? Kalau aku sih terima aja! Tapi kau harus menyelesaikan semua kontrakmu dulu!"
Jion manggut-manggut, "baiklah, bang. Sekarang antarkan aku ke kantor papahku!"
__ADS_1
"Apa? Sekarang?" Manager Jion langsung kliyengan. Ternyata yang dikatakan Jion terjadi saat ini juga.
Beberapa saat kemudian, Jion sudah berada di dalam ruangan meeting. Siatuasinya masih riuh dengan beberapa kenyataan. Dia juga baru tahu kalau Denny adalah adik dari mamahnya. Padahal selama ini, dia bekerja sebagai asisten papahnya.
"Selamat siang semuanya. Perkenalkan nama saya adalah Jion. Mohon bimbingannya!" ucap Jion memperkenalkan diri. Dia sudah memilih untuk menjalani kehidupannya yang baru.
Tuan Kenta tersenyum. Dia yakin kalau Jion berhak menjadi Ceo selanjutnya.
Sementara Denny semakin pucat. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Mamahnya juga begitu. Usahanya datang ternyata hanya sia-sia.
Pemungutan suara untuk memilih Ceo selanjutnya sudah selesai. Akhirnya Jionlah yang dipercaya oleh para peserta rapat. Jion pun resmi menjadi seorang Ceo.
*****
Luna sudah bersiap untuk kembali ke Singapura untuk menemani Nyonya Kamaratih. Jadwal terapi kemonya sebentar lagi.
"Ada apa, Lun? Kenapa kamu bengong begitu?" tanya Mamah Luna yang baru masuk ke kamar Luna.
"Apa kondisi kesehatan mamah baik? Apa sudah kontrol ke dokter lagi?" Luna malah menanyakan kondisi mamahnya.
"Alhamdulillah darah tinggi mamah sudah stabil. Bagaimana dengan kondisi Nyonya Kamaratih? Kenapa berobatnya cukup lama? Sudah hampir sebulan kan, ya?"
Luna menarik napas panjang. Matanya mulai berkaca.
"Mamah Damar bukan sakit biasa, mah. Ternyata beliau terkena sakit kanker!" jawab Luna dengan derai airmata.
"Astaga, Luna. Jadi Nyonya Kamaratih sakit kanker! Bagaimana reaksi Nak Damar?"
Luna menggeleng sambil menyeka air matanya, "Damar belum tahu, mah! Makanya Luna bingung. Mamah Damar gak mau kalau Damar tahu soal penyakitnya. Tapi, kalau terjadi apa-apa, Luna takut Damar gak bisa melihat mamahnya lagi!" terang Luna. Airmatanya kembali mengalir.
Mata Mamah Luna juga berkaca-kaca, "iya, Lun. Lebih baik kasih tahu Nak Damar. Kasihan dia kalau gak disisi mamahnya saat kritis. Mamah juga mau menjenguknya tapi takut malah merepotkan!"
"Iya, mah. Di rumah sakit gak boleh banyak orang. Kalau mamah ikut sama Luna juga nanti malah sendirian. Doakan aja yang terbaik untuk Mamah Damar ya, mah!" ucap Luna dengan bersimbah air mata. Dia sangat tahu kondisi Mamah Damar. Berharap Damar bisa melihatnya untuk terakhir kali.
Mamah Luna memeluk puterinya itu erat. Dia pun ikut menangis karena merasa sedih dengan kondisi calon besannya.
Ya! Luna sudah yakin harus mengatakannya kepada Damar hari ini juga. Damar akan mengantarnya ke bandara sebelum ke kantornya. Saat itulah Luna akan mengatakannya.
__ADS_1
Namun ketika di dalam mobil, Luna hanya terdiam. Tenggorokannya seperti tersumbat dan tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Hanya matanya saja yang basah berusaha ditahan agak tak mengalir. Apakah dia harus memberitahukan Damar soal kondisi mamahnya sekarang juga?
🤔🤔🤔🤔🤔