TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MENUNGGU KEPUTUSAN #3


__ADS_3

Damar sudah gak sabar menunggu keputusan Luna. Apapun keputusannya, Damar akan berusaha menerima. Siapa sih yang gak mau menikah dengannya meski tanpa syarat sekalipun. Hanya Luna yang terlalu banyak berpikir. Bahkan Damar sudah menghapus kisah masa lalunya dan siap untuk melangkah menuju ke masa depan hanya dengan Luna. Pokoknya, Damar harus bertemu Luna sekarang juga!!!


Luna langsung duduk ketika ada orang yang turun dari bus yang ditumpanginya. Hari ini, Luna lagi malas naik kereta dan memilih untuk naik bus yang haltenya dekat dengan kantor. Dia hanya perlu berjalan sepanjang seratus meter saja.


Hueek, hueeek ....


Tiba-tiba terdengar suara orang yang muntah di bagian belakang bus. Aakh! Malasnya kalau naik kendaraan umum selalu begitu. Ada aja kejadian yang membuat perutnya ikutan mual.


"Hei! Sudah sebesar ini masih mabuk. Apa kamu gak pernah naik kendaraan umum?" tegur seseorang laki-laki setengah tua.


"Maaf, maaf!"


Luna melotot mendengar suara yang gak asing itu. Dia pun segera menoleh ke belakang. Matanya langsung terbelalak begitu melihat orang yang mabuk itu adalah Damar! Apa yang dilakukannya di dalam bus?


"Damar! Duduklah disini," panggil Luna sambil berdiri.


Damar menggeleng dan sok kuat. Padahal sudah sangat lama dia gak naik bus. Kepalanya langsung kliyengan begitu mencium bau aneka ragam.


"Sudah duduk aja, Nak. Nanti kamu tambah pusing kalau berdiri!" tegur seorang nenek yang berdiri di dekat Damar.


Masa sih, Damar kalah sama nenek-nenek. Apalagi ada Luna yang tengah melihat kearahnya. Begitu juga semua penumpang bus yang menatapnya dengan pandangan aneh.


Luna gak bisa membiarkan Damar lebih lama. Dia pun segera menghampiri Damar.


"Lebih baik kamu turun aja, Damar! Lagipula ngapain sih pake naik bus segala?!" bisik Luna begitu ada didekat Damar.


"Aku memanggilmu ketika sampai didepan kantor. Kamu gak dengar dan naik bus ini. Ya aku ikutan naik aja! Tapi, sepertinya aku udah gak tahan lagi, nih!"


Luna melihat wajah Damar semakin pucat. Bisa repot kalau dia sampai pingsan.


"Pak sopir! Tolong berhenti di halte depan, ya."


Akhirnya, Luna dan Damar bisa keluar dari dalam bus. Damar sangat senang namun perutnya masih bergejolak. Dia pun berlari ke semak-semak.


"Aku udah gak tahan lagi! Hueeek, hueeek ...."


Luna gak tinggal diam. Dia pun menepuk punggung Damar, "lagian kenapa juga ngikutin aku naik bus! Jaman sekarang mana ada cowok yang mabuk di bus. Baru sekali ini aku melihatnya!" celetuk Luna.


"Jangan nyindir! Kamu juga kenapa gak dengar suaraku. Tenggorokanku sampai sakit. Belum lagi perutku, kepalaku juga pusing. Pokoknya kamu harus bertanggung jawab dan harus menikah denganku!"


Luna melotot begitu mendengar ucapan Damar, "apa hubungannya menikah dengan kejadian ini? Bukan salahku kalau kamu ikutan naik ke bus!" Luna berkeras kalau semua itu bukan salahnya.


Akhirnya, Damar hanya bisa tergolek lemas di bangku halte.


"Aku gak mau naik bus lagi. Cari taksi aja!" celetuknya dengan mata yang terpejam. Kepalanya masih kliyengan kalau membuka mata.


"Mana ada taksi jam segini? Aku cari taksi online aja! Tapi agak lama bisa setengah jam. Hadeh! Merepotkan aja, sih," gerutu Luna.


Mendengar itu, Damar langsung membuka matanya.


"Salah kamu sih! Kan aku sudah kirim pesan mau jemput. Kenapa kamu gak lihat?!"

__ADS_1


Luna diam saja mendengar ocehan Damar. Dia pun membuka pesan di hapenya. Ternyata Damar memang mengirmkan pesan sejak sore. Haduh! Luna jadi malu sendiri.


"Maaf, aku gak buka hapenya. Ya, udah. Nanti aku pesankan taksi dua ya. Aku satu dan kamu satu!"


"Eeh! Kenapa dua? Satu aja kan cukup buat kita berdua!"


"Arah rumah kita kan beda! Sudahlah! Gak usah ngatur. Aku gak mau telat, besok aku mau ke perusahaan tempatku bekerja dulu. Proposalku disetujui!"


Damar terdiam. Sepertinya tubuhnya gak bisa bertahan lebih lama lagi.


"Ya sudah jangan pesan taksi. Aku akan hubungi Mang Dayat aja!"


Sementara itu, Dayat sudah dekat dengan rumah ketika hapenya bunyi.


"Ada apa, tuan?" tanyanya.


Rani ikut mendengarkan Dayat yang tengah menerima telpon.


"Kamu dimana, mang. Bisa jemput aku, gak? Aku akan kirimkan lokasinya!" ucap Damar dari ujung telpon.


"Ada apa, mang?" tanya Rani yang seperti mendengar suara Damar.


"Tuan Damar minta jemput. Kamu bisa kan turun disini?"


Rani melihat keadaan tempat itu yang cukup sepi. Dia pun melirik jam tangan. Hampir jam sembilan malam.


"Aku ikut aja deh! Kayaknya disini menyeramkan!" jawabnya.


Kembali lagi kepada Damar dan Luna. Damar hanya bisa tergeletak lemas dipangkuan Luna. Beberapa orang memerhatikan mereka dan saling berbisik. Sebagian senyam senyum, sebagian lagi memandangi dengan tatapan sinis.


Luna terpaksa memangku Damar, apalagi keadaannya kurang baik.


"Sebaiknya, kamu bangun deh. Orang-orang mulai ribut-ribut melihat kita!" ucap Luna yang mulai gak enak dilihatin orang-orang.


"Biarin aja! Aku kan lagi gak enak badan. Apa mereka bisa menyembuhkan aku?" sahut Damar dengan mata yang masih terpejam. Sebenarnya dia sudah baikan tapi gak mau melewatkan adegan romantis itu.


"Aku gak mau ditangkap satpol pp. Disangkanya kita berbuat mesum lagi!"


Damar tertawa kecil mendengar ucapan Luna.


"Makanya aku gak sabar menunggu keputusanmu. Ayolah kita menikah secepatnya. Aku mau tenang! Setiap hari aku selalu mikirin kalau kamu dekat lagi dengan Jion!"


Luna diam saja. Hatinya sudah bisa menerima Damar namun pikirannya masih terasa berat.


"Aku masih banyak masalah. Gak mungkin menikah dalam situasi seperti ini!"


Damar tahu apa yang dipikirkan Luna. Namun, kalau mereka menikah, masalahnya akan cepat selesai.


"Lupakan soal celotehanku tempo hari. Aku hanya tak ingin memberatkanmu. Tapi, mamahku ingin akhir bulan ini kita menikah. Mamah mau berobat keluar negeri dan gak bisa tenang kalau kita belum menikah!"


Luna gak bisa berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu. Ada satu hal yang belum diselesaikan.

__ADS_1


"Maafkan aku. Waktu itu aku sempat membuka laptopmu dan melihat foto-foto dengan pacarmu. Tapi, aku gak sengaja melihatnya, kok. Sekali lagi maafkan aku," ucap Luna lirih. Dia teringat betapa marahnya Damar waktu itu. Mungkin, sekarang dia juga akan seperti dulu.


Damar menatap Luna lekat kemudian menggengam tangannya erat.


"Aku juga mau minta maaf, Luna. Gadis itu bernama Anna. Dia bukan pacarku tapi kami sangat dekat. Mamah gak suka aku bergaul dengannya karena takut aku gak konsen belajar. Padahal Anna adalah satu-satunya kawanku," ungkap Damar sambil menarik napas panjang. Sudah waktunya mengungkapkan semuanya kepada Luna.


Sementara Luna mendengarkan Damar dengan saksama. Dia gak menyangka, Damar akan menceritakan soal gadis itu.


"Mamah membuat Anna dikeluarkan dari sekolah karena aku gak mengikuti kemauannya. Gak lama kemudian, aku bertemu Anna lagi tapi di rumah sakit. Ternyata selama ini, Anna sedang sakit tapi disembunyikannya dari semua orang. Bahkan aku sendiri gak tahu sama sekali! Semua sudah terlambat karena Anna sudah meninggal.Tapi, aku sudah menghapus semua foto itu, kok. Kalau gak percaya, lihat aja sendiri!"


Luna sangat terkejut mendengar pengakuan Damar.


"Kenapa dihapus? Dia kan bagian dari masa lalumu? Tapi, wajahnya sangat mirip denganku. Aku melihatnya seperti melihat diriku sendiri!" terang Luna. Kini, bisa bicara lebih santai soal gadis di foto itu.


"Ya! Dia mirip sekali denganmu. Dulu aku memang penasaran dengan kemiripan itu. Kini, aku lebih penasaran dengan hatimu. Ayolah! Besok kita menikah aja," celetuk Damar sambil memandangi Luna tanpa berkedip sekalipun.


"Damar!!!"


Damar kumat lagi, deh. Luna jadi geregetan juga sama dia. Kalau aja Damar gak sedang sakit. Sebuah cubitan pasti sudah bersarang ditubuhnya.


Gak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Itu adalah mobil yang dibawa Dayat. Rani sedikit ragu turun dari mobil ketika melihat Damar yang tengah terbaring dipangkuan Luna.


"Apa kamu mau turun? Atau aku aja!" ujar Dayat yang menyadari sikap Rani.


"Aku aja!"


Akhirnya Rani keluar juga dari mobil.


Luna sangat terkejut ketika melihat Rani juga datang.


"Apa yang terjadi dengan Tuan Damar?" tanyanya.


Damar gak langsung bangkit padahal tahu kalau Rani sudah datang.


"Tadi Tuan Damar mabuk di bus. Tolong bawa dia ke klinik, sepertinya kondisi badannya sangat lemah!" sahut Luna yang mengatakan kondisi Damar.


Damar segera bangun begitu mendengar ucapan Luna.


"Aku sudah baikan, kok. Ayo kita pulang!" seru Damar yang langsung segar.


Perhatian Luna sedikit terpengaruh ketika sebuah mobil juga berhenti di dekat mereka.


"Aku akan pulang sendiri. Itu taksi onlinenya sudah datang! Tolong jaga Tuan Damar, ya!" ucap Luna yang langsung nyelonong pergi.


Damar melotot melihat kelakuan Luna. Dia gak tahu kalau Luna juga memesan taksi online.


"Tapi, bagaimana dengan keputusanmu?!" teriak Damar.


"Nanti aja!" jawab Luna sambil melambaikan tangan.


Damar hanya bisa melihat mobil yang membawa Luna lewat di depannya. Hadeh! Malam ini, Damar gak bisa tidur lagi, nih!!!

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2