
Tuan Arya masih bisa menelpon sekretarisnya sebelum pingsan. Anehnya, dia meminta untuk dibawa ke rumah Mamah Luna daripada ke rumah sakit. Entah apa yang ada dipikirannya, dia hanya ingin melihat wanita yang dicintainya untuk terakhir kali.
Mamah Luna sangat terkejut melihat beberapa orang membawa Tuan Arya yang pingsan ke rumahnya. Mereka langsung merebahkannya di sofa.
"Tuan, Tuan Arya? Kenapa dengan Tuan Arya?" tanya Mamah Luna penuh kecemasan. Apalagi Tuan Arya gak bereaksi sama sekali.
"Maaf, nyonya! Sebelum pingsan, Tuan Arya meminta untuk dibawa kesini!" jawab anak buah Tuan Arya yang mengikuti perintah atasannya.
"Kenapa gak dibawa ke rumah sakit? Bagaimana kalau Tuan Arya sakit parah?"
Mamah Luna sangat panik dan gak mengerti mengapa mereka mau menuruti permintaan Tuan Arya begitu saja.
Anak buah Tuan Arya saling pandang. Mereka jadi kebingungan.
"Aku gak apa-apa! Aku hanya mau istirahat disini. Kalian pergilah!" Tiba-tiba, Tuan Arya mengeluarkan suara meski tetap memejamkan mata.
"Tuan! Sebaiknya sekarang tuan ke rumah sakit aja. Saya akan menemani tuan!"
"Gak perlu! Sudahlah, aku cuma mau tidur!"
Mamah Luna terdiam mendengar perkataan Tuan Arya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya?
"Ada apa ribut-ribut, mah?" tanya Luky yang baru turun dari lantai atas. Dia juga mendengar suara berisik di ruang tamu.
"Ada Tuan Arya, beliau lagi sakit!" jawab Mamah luna dengan suara pelan.
Luky yang sudah biasa dengan kedatangan Tuan Arya gak bereaksi apa-apa.
"Oh, aku kirain kenapa. Lanjut aja tidurnya, om!" ucapnya yang tadi sempat mendengar perkataan Tuan Arya.
"Luky! Kenapa kamu malah begitu? Harusnya kamu bantu mamah bukannya malah membela Tuan Arya!" ungkap Mamah Luna yang heran dengan sikap Luky.
__ADS_1
"Gak apa-apa, mah. Kasihan Tuan Arya mau istirahat. Itu kan sofa tempatku tidur siang, berarti ada sewanya. Gak apa-apa deh perlengkapan main game juga boleh!" celetuk Luky yang ternyata ada maunya.
"Oke! Besok aku antarkan apapun yang kamu inginkan. Tapi aku sewa sofa ini selama sebulan!" sahut Tuan Arya yang terpejam meski telinganya tetap mendengar.
"Siap, om! Selamanya juga boleh!" ucap Luky lagi sambil berlari ke tangga sebelum tangan mamahnya melayang.
Tuan Arya tersenyum mengembang. Ternyata Luky anak yang pengertian.
"Luky! Ini kan rumah mamah! Kenapa kamu yang memutuskan? Maaf, tuan. Sebaiknya tuan pulang saja. Kan ada istri tuan, bisa ke istri pertama atau kedua. Saya ini bukan siapa-siapa. Nanti malah jadi omongan!" jelas Mamah Luna yang masih histeris.
"Berisik! Aku ngantuk!" ucap Tuan Arya yang merasa terganggu dengan suara Mamah Luna.
Akhirnya Mamah Luna menyerah. Dia pun pergi untuk mencari ketenangan. Ternyata anaknya malah membela orang lain dibandingkan dengan mamahnya.
Tuan Arya gak peduli dengan sikap Mira. Dia sangat tahu, Mira gak akan mengusirnya.
Benar yang ditebak Tuan Arya. Gak lama kemudian, Mamah Luna kembali dengan membawa segelas teh manis hangat kesukaan Tuan Arya.
Tuan Arya pun duduk dan menyeruput teh manis hangat itu perlahan. Pusingnya sedikit menghilang. Mamah Luna sangat tahu kebiasaannya. Tuan Arya lebih betah berada di rumah itu daripada di rumahnya sendiri. Apalagi ada Mira yang selalu ada di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, wajah Tuan Arya berubah. Dia mencium bau harum dari arah dapur. Membuat perutnya bergemuruh.
"Ada makanan apa? Aku lapar!"
Mamah Luna sangat terkejut mendengar suara Tuan Arya di dapur.
"Kamu kan bisa beli makanan mewah di restoran!" sindir Mamah Luna.
"Aku ingin makan masakanmu!"
"Aku gak sempat masak. Hanya ada nasi goreng. Mau gak!"
__ADS_1
Wajah Tuan Arya langsung cerah.
"Emang itu yang aku inginkan!" katanya sambil tersenyum lebar.
Mamah Luna menaruh sepiring nasi goreng di atas meja. Tuan Arya langsung menyantapnya dengan penuh nafsu. Mamah Luna memang sangat tahu kesukaan Tuan Arya. Hanya saja, gak mengerti mengapa Tuan Arya gak bisa jauh darinya. Apakah kisah masa lalu mereka masih ada di dalam hatinya?
*****
"Apa? Tuan Arya sakit? Sekarang dia ada di mana? Di ruang kerjanya apa di rumah sakit?" tanya Saskia yang terkejut mendengar kabar tentang Tuan Arya.
"Tuan Arya sudah pergi, Nyonya. Tapi bukan ke rumah sakit!" jawab sekretarisnya.
"Kemana? Apa pulang ke rumah istri pertamanya?"
"Bukan, nyonya. Tapi ke rumah Nona Luna!"
"Ke rumah Luna? Apa aku gak salah dengar?" tanya Saskia memastikan.
"Benar, nyonya. Tuan Arya sendiri yang memintanya!"
"Kurang ajar! Kenapa Tuan Arya malah ke sana? Apa gak melihat aku ada di sini?"
"Sebelumnya, Tuan Arya juga memerintahkan untuk memblokir rekening dan kartu kredit nyonya!"
"Apa? Aakh! Aku gak mengerti apa maksud Tuan Arya. Aku harus bertemu dengannya!"
Saskia gak akan mau kehilangan sumber kekayaannya. Apapun yang akan terjadi, dia akan mengikat Tuan Arya. Balas dendamnya belum selesai!
Ya! Balas dendam! Saskia masih ingat jelas ketika perusahaan papahnya bangkrut karena perusahaan Tuan Arya. Masa kecilnya yang dipenuhi kebahagiaan hilang seketika. Keluarganya jatuh miskin. Mamahnya meninggal karena sakit-sakitan. Papahnya keluar masuk penjara karena berbuat banyak kejahatan. Sampai akhirnya papahnya meninggal dibunuh orang dan tubuhnya dibuang di jalanan.
Saskia diadopsi keluarga yang sederhana dan dibawa ke luar kota. Setelah dewasa Saskia bertekad untuk membalas dendam kepada Tuan Arya dengan menjadi gundignya. Sekarang belum saatnya untuk menyerah. Saskia akan bersimpuh di kaki Tuan Arya jika memang diperlukan.
__ADS_1
*****