
Luna mendatangi Rani di kantornya. Dia ingin tahu bagaimana perkembangan kasus Damar.
"Jadi, kapan Tuan Damar akan keluar dari sel tahanan? Aku gak bisa meminta bantuan Tuan Arya. Beliau sudah banyak membantuku sebelumnya," ungkap Luna yang sangat menyesal gak bisa membantu Damar.
"Saya sudah menanyakannya kepada pengacara, nona. Mudah-mudahan besok Tuan Damar sudah bisa bebas!" jelas Rani yang sekarang sudah melunak hatinya. Itu karena sikap Luna yang selalu mencemaskan tunangannya yaitu Tuan Damar.
"Benarkah? Syukurlah kalau memang begitu. Aku pernah merasakan tinggal di dalam sel tahanan meski hanya beberapa hari. Rasanya seperti berada di dunia lain antara hidup dan mati!" ucap Luna yang gak berhenti bersyukur.
"Tapi, nona. Bagaimana keadaan Nyonya Kamaratih? Mengapa beliau gak segera pulang bersama nona?"
Sepertinya Rani juga belum tahu keadaan Nyonya Kamaratih. Apakah Luna harus memberitahukannya? Bagaimana kalau Rani akan menceritakannya kepada Damar? Luna diliputi keraguan.
"Kalau aku ceritakan soal Nyonya Kamaratih. Apa kamu mau berjanji gak akan menceritakannya kepada Tuan Damar? Aku ingin mengajaknya langsung menemui mamahnya setelah bebas nanti!" ungkap Luna lagi.
Rani terdiam dan mencoba mencerna apa yang dikatakan Luna barusan.
"Maksud nona, apakah penyakit nyonya parah? Apakah Tuan Damar belum mengetahuinya?" tanya Rani penuh kecemasan.
Luna menarik napas panjang. Sepertinya dia harus mengatakan soal penyakit Nyonya Kamaratih kepada Rani.
"Berjanjilah untuk gak menceritakannya kepada Tuan Damar. Itu adalah kemauan Nyonya Kamaratih sendiri!" tegas Luna.
"Baik, nona. Saya gak akan mengatakan apapun. Lagipula setelah bebas, nona dan Tuan Damar juga akan menyusul nyonya, kan!"
"Baiklah. Sebenarnya, Nyonya Kamaratih terkena penyakit kanker. Kemarin sudah menjalani kemoterapi dan akan menjalaninya lagi sebulan kemudian. Aku juga baru tahu setelah berada di rumah sakit," ungkap Luna dengan suara lirih.
"Ya, tuhan. Kenapa nyonya harus menutupinya? Penyakit itu bisa menyebabkan kematian kapan saja!" Rani sangat terkejut setelah mendengar perkataan Luna.
"Itu adalah kemauan beliau. Mang Dayat yang tahu dari awal juga gak bisa membantah kemauannya!"
"Jadi, Mang Dayat sudah tahu penyakit nyonya. Pantas saja, kalau ke rumah sakit selalu diam-diam. Saya harap keadaan nyonya menjadi lebih baik."
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Luna tidak tahu harus senang atau bersedih. Jika Damar bebas harus menghadapi kenyataan soal mamahnya juga.
Rani juga tidak bisa menutupi kesedihannya. Meski Nyonya Kamaratih sedikit keras namun selalu memerhatikannya. Rani berharap bisa bertemu dengannya dalam waktu dekat.
*****
__ADS_1
"Apa? Calon suami Luna di penjara?"
Tuan Arya sangat terkejut mendengar berita dari anak buahnya tentang Damar.
"Bagaimana bisa media gak ada yang tahu? Jadi, apa masalahnya sehingga dia ditahan?" tanya Tuan Arya lagi.
"Tuan Damar ditangkap atas pengaduan korban kecelakaan di hotel yang sedang dibangun. Sebenarnya kecelakaan itu bukan salah perusahaan Tuan Damar. Namun dia mau bertanggung jawab sampai pihak yang bersalah ditahan!" jelas seseorang dari tempat lain.
"Apa dia bisa bebas? Apa aku perlu turun tangan?"
"Sepertinya gak perlu, tuan. Dari pihak mereka sengaja menutupinya dari media atau siapapun termasuk kepada Nona Luna! Mungkin sebentar lagi Tuan Damar akan dibebaskan karena yang bertanggung jawab sudah ditangkap. Ternyata ada permainan antara perusahaan konstruksi dengan direktur cabang perusahaannya!"
Ternyata, Luna juga baru tahu soal Damar. Pantas aja dia segera pulang!
Tuan Arya siap membantu Luna meski tidak diminta. Sepertinya ada pembicaraan antara Luna dan istri mudanya. Untuk itulah Luna gak jadi membicarakan soal masalah itu karena ada Saskia.
*****
"Apa rencana kita berjalan dengan lancar?"
Tuan Kenta tersenyum puas. Sepertinya dia berhasil melakukan sesuatu.
Tiba-tiba wajah Tuan Kenta berubah.
"Kenapa dia yang masuk penjara? Harusnya Ceo perusahaan kontraktor itu!"
"Saya tidak tahu, tuan. Ceo perusahaan kontraktor itu sempat melarikan diri. Ternyata dia bekerja sama dengan direktur cabang perusahaan Grup Santika. Berarti kita membantu mengungkap perbuatan mereka secara tidak langsung," jelas Denny.
"Baguslah kalau begitu! Jejak kita akan hilang dengan sendirinya. Hanya saja, kenapa banyak korbannya. Aku sudah bilang kalau rencana itu dilakukan saat tidak ada pekerja!"
"Maaf, tuan. Mereka salah prediksi. Ternyata di dalam gedung masih ada pekerja yang sedang lembur. Ada yang meninggal dan luka berat. Keluarga mereka yang menuntut Tuan Damar padahal sudah diberikan bantuan dari perusahaannya!"
Tuan Kenta menarik napas panjang. Rencana mereka tidak berjalan lancar sehingga ada korban. Itulah yang disesalinya. Namun, dengan begitu kontrak itu akan beralih pada perusahaannya.
"Jangan sampai ada jejak sedikitpun. Suruh orang-orang kita bersembunyi dan tidak menampakan diri dulu!"
"Baik, tuan! Soal Tuan Damar. Mereka menutupi penangkapannya. Media juga tidak ada yang tahu. Apa kita akan bongkar kejadian itu? Perusahaan mereka pasti akan hancur!" ucap Denny yang mengutarakan rencana baru.
__ADS_1
Tuan Kenta menggeleng pelan, "tidak usah. Mereka sudah menyerahkan pembangunan hotel itu kepada kita. Itu sudah cukup!"
"Baik, tuan. Pembangunan hotel itu dipending sampai pengadilan selesai. Sepertinya memerlukan waktu yang cukup lama!"
"Biarkan saja! Aku tidak mau mereka mencurigai kita karena terlalu memaksakan. Kita masih ada kontrak lain yang harus dikerjakan!"
Tuan Kenta memilih cara aman. Dia sedikit khawatir dengan para korban hancurnya pembangunan hotel itu. Tangannya kembali kotor karena keserakahannya!
Di balik pintu, ada seseorang berdiri dengan tubuh gemetar. Tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan Tuan Kenta dan anak buahnya. Dia adalah Jion! Apa yang akan dilakukannya setelah tahu perbuatan papahnya itu? Apalagi menyangkut Tuan Damar. Orang yang selama ini banyak membantunya!
Jion segera meninggalkan tempat itu. Padahal akan mengabarkan kalau hubungannya dengan Yuki mulai berjalan lancar kepada papahnya. Ternyata, papahnya itu masih melakukan cara kotor untuk perusahaannya. Dia harus menemui Luna dan mencari tahu keadaan Tuan Damar.
"Aaiih, ganteng. Ada perlu apa kamu tiba-tiba kesini? Jangan-jangan kamu tahu ya kalau ada Luna?" sambut Prilly ketika Jion datang ke butik Luna.
Jion tersenyum apalagi melihat ada Luna di depannya.
"Tentu aja aku tahu. Aku kan punya telepati! Apa kabarmu, Luna?"
Luna tersenyum tipis. Sebenarnya dia gak mau bertemu Jion karena masih ingat perbuatannya dulu.
"Aku baik, Jion. Makasih ya kamu sudah datang di acara pertunanganku kemarin!"
Meski Jion begitu, Luna tetap menerimanya dengan baik.
"Aku sedih juga kamu gak mengundang. Tapi aku tetap datang, kok! Kamu kan tahu siapa aku," sahut Jion yang langsung duduk di samping Luna.
"Tentu aja aku sangat tahu siapa kamu! Lalu mau apa kamu kesini? Apa mau memesan baju pernikahan kamu dan Yuki?" tanya Luna sedikit menyindir. Dia melihat hubungan Jion dan Yuki semakin dekat.
"Mungkin nanti aku akan memesannya disini. Kami baru aja dekat. Apalagi puterinya sangat senang berada di dekat aktor tampan seperti aku!" Seperti biasa, Jion selalu membanggakan ketampanannya.
Luna hanya tersenyum tipis. Sampai sekarang dia gak begitu mempercayai ucapan Jion.
"Asal kamu jangan macem-macem lagi ya, saay. Kasihan puterinya Yuki kalau kamu kecewakan juga!" celetuk Prilly sambil melotot.
Jion terbahak. Dia sudah tahu ekspresi mereka setelah mendengar perkataannya.
"Tenang aja, Prilly Cantiiiq. Aku kan sudah banyak berubah karena Luna. Aku juga ingin bahagia seperti dia. Lalu bagaimana kabar Tuan Damar, Luna? Aku dengar dia juga ikut denganmu ke Singapura? Apa dia pulang juga? Bagaimana kalau kita makan malam bersama?"
__ADS_1
Deg! Luna tertegun mendengar pertanyaan Jion. Gak biasanya Jion menanyakan Damar. Apa dia mengetahui dimana Damar sekarang?
🤔🤔🤔🤔🤔