
Benar-benar kelewatan. Sudah hampir dua minggu Damar gak ada kabar sama sekali. Luna gak bisa menahan perasaannya lagi. Dia harus menemuinya langsung! Kayaknya Ratu Taekwondo harus turun gunung juga deeh ....
"Mang, besok aku mau pulang dulu. Aku benar-benar penasaran dengan keadaan Damar. Dia sudah sangat kelewatan! Sudah dua minggu hapenya sama sekali gak bisa dihubungi. Jadwal kemo mamah yang kedua masih minggu depan. Aku akan kembali lagi jika sudah bertemu dengan Damar!"
Luna sudah memutuskan untuk pulang kampung dan menemui Damar. Dia harus membuat perhitungan dengannya!
Dayat tertegun. Semalam Rani baru saja menghubunginya. Sesuatu telah menimpa Tuan Damar dan menyuruhnya menahan Nona Luna.
"Sebaiknya tunggu minggu depan aja, Nona. Saya gak tahu harus bilang apa sama nyonya kalau menanyakan nona!" sahut Damar dengan sebuah alasan.
"Aku sudah memesan tiket pesawat.. Dua hari lagi aku pasti akan kesini. Perasaanku gak enak bener. Aku takut terjadi hal buruk menimpa Damar!"
Dayat harus mengatakan rencana Nona Luna kepada Rani.
"Sebaiknya katakan aja apa yang terjadi kepada Nona Luna. Kamu aja yang menelponnya. Aku rasa, Nona Luna akan semakin sedih kalau ditutupi terus!"
"Cegah aja sebisanya, Mang Dayat. Masalahnya seminggu lagi pasti selesai! Itu yang diperintahkan Tuan Damar!" jawab Rani seperti diminta Tuan Damar.
"Kamu tahu seperti apa Nona Luna. Ini sudah dua minggu. Itu adalah batas waktu kesabarannya. Aku gak bisa menahannya lagi. Cepat atau lambat, Nona Luna pasti akan mengetahuinya!"
Dayat benar-benar khawatir. Dia saja tidak tahu apa-apa dengan masalah di perusahaan. Terakhir kali, Dayat tidak diizinkan ke kantor. Sampai akhirnya seminggu berlalu, Rani baru menceritakan masalah itu.
Luna sudah siap untuk ke bandara. Dia hanya tinggal menunggu Dayat untuk menjaga Nyonya Kamaratih. Luna hanya menatapnya yang masih tertidur. Kepalanya gundul karena efek kemotherapi. Sebenarnya, Luna gak tega meninggalkannya tapi hatinya selalu saja gelisah karena Damar.
Gak lama kemudian, Dayat datang. Luna sudah bertekad akan pulang apapun yang akan terjadi.
"Maaf, nona. Apapun yang terjadi nanti tetaplah bersabar!" ucap Dayat yang ingin menguatkan Luna.
"Apa ada sesuatu yang aku gak tahu, mang?" tanya Luna yang merasa aneh dengan perkataan Mang Dayat.
"Nona akan tahu nanti. Maaf, saya gak bisa memberitahu nona sebelumnya!"
Luna tertegun. Kegelisahannya ternyata benar. Ada sesuatu yang terjadi dengan Damar.
"Apa yang terjadi? Katakan aja sekarang!" ucap Luna sedikit meninggikan nada suaranya. Dia benar-benar penasaran maksud perkataan Dayat barusan.
"Ada apa? Apa yang kalian bicarakan?"
Nyonya Kamaratih terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara orang sedang mengobrol.
"Ma-maaf, mah. Saya mau pulang dulu. Saya khawatir dengan mamah saya. Sudah sebulan ini gak kontrol ke dokter!" jawab Luna yang mengatakan alasan kepergiannya.
"Ya, sudah. Kamu pulang aja dan urus mamahmu. Kalau kesini lagi bareng aja sama Damar, ya. Aku sudah lama gak mendengar suaranya!"
"I-iya, mah. Saya akan paksa Damar kesini!"
__ADS_1
Akhirnya, Luna bisa pulang dengan tenang. Nyonya Kamaratih sudah mengizinkannya meski Luna harus memakai mamahnya sebagai alasan. Gak lama lagi, dia akan bertemu dengan Damar. Kerinduan dan kecemasan membuatnya gak bisa tenang.
Tidak sampai setengah hari, Luna sudah berada di kantor Damar. Dia ingin membuat kejutan sekaligus siap memberikan hukuman karena gak pernah mengirimkan kabar.
"Apa Tuan Damar ada?" tanya Luna kepada sekretaris Damar. Baru kali ini, dia ke kantor Damar langsung sehingga gak ada yang mengenalinya.
"Maaf, Tuan Damar tidak ada di tempat. Beliau sedang keluar negeri mengantar ibunya berobat!" jawab Sari yang gak mengenali siapa Luna.
"Mengantar ibunya berobat?" Luna jadi bingung. Setahunya Damar malah banyak pekerjaan sehingga gak ikut bersamanya.
"Iya, nona. Maaf, nona siapa?" tanya Sari lagi.
"Nama saya Luna. Apa saya bicara dengan Nona Rani?"
Wajah Sari berubah tegang begitu mengetahui siapa nama Luna. Jangan-jangan, Nona Luna tunangan dari Tuan Damar!
Rani sedang mengikuti rapat ketika Sari menelpon. Sampai saat ini, media sama sekali gak mengetahui keadaan Tuan Damar. Mereka mengira kalau dia ikut dengan mamahnya berobat ke Singapura.
Rani membuka hapenya. Dia juga baru membaca pesan Dayat kalau Nona Luna sudah berangkat ke Jakarta.
"Ada apa?" tanya Rani setelah tahu Sari menghubunginya.
"Ma-maaf, Nona. Ada Nona Luna di sini!" sahut Sari dengan suara gemetar.
Astaga! Benar-benar kacau. Ternyata Nona Luna malah sudah sampai ke ruangan Tuan Damar.
Untung saja rapat sedikit lagi selesai sehingga Rani bisa keluar ruangan. Dia pun segera ke ruangan kerja Tuan Damar.
Luna semakin curiga kalau terjadi hal buruk kepada Damar. Ruangan itu begitu sunyi seperti sudah lama gak ditempati.
"Apa nona mau minum?" tanya Sari. Sikapnya berbeda setelah tahu siapa Luna.
"Baiklah. Apa ada air putih hangat?" Luna merasa tenggorokannya sangat kering.
"Ada, nona. Sebentar saya akan ambilkan!" Sari segera keluar ruangan untuk mengambilkan air minum yang dipesan Luna.
Diluar ruangan, Sari malah bertemu dengan Rani.
"Di mana Nona Luna?"
"Sudah di dalam, nona!"
"Oke, aku akan menemuinya," ucap Rani yang gak tahu akan berkata apa di depan Nona Luna.
"Selamat siang, Nona Luna!"
__ADS_1
Luna membalikan badannya dan melihat Rani muncul.
"Siang juga. Jadi, dimana Tuan Damar sekarang? Aku sangat tahu kalau dia gak menemani mamahnya berobat!" tanya Luna langsung.
Rani terdiam. Sepertinya dia harus mengatakan kejadian sebenarnya.
"Maaf, nona. Semuanya karena perintah Tuan Damar. Terjadi kecelakaan dalam pembangunan hotel di luar kota. Pengembangnya melarikan diri dan direktur cabang juga menghilang. Para korban sudah mendapatkan haknya namun tetap melayangkan gugatan ke kepolisian!" jelas Rani yang menceritakan masalah sebenarnya.
Luna mulai gemetaran. Dia bisa menebak di mana Damar saat ini.
"Jadi, dimana Tuan Damar saat ini?" tanya Luna sekali lagi.
Rani mengepalkan tangannya. Kenyataan itu juga membuatnya terpuruk. Haruskah dia menjawab pertanyaan Luna?
*****
Sementara itu, ternyata Damar sedang berada di dalam sel tahanan kepolisian. Kabarnya Ceo pengembang dan direktur cabang perusahaannya sudah ditemukan. Tinggal menunggu sebentar lagi maka Damar bisa menghirup udara bebas.
Kondisinya sangat lusuh. Sudah seminggu lebih Damar berada di dalam penjara. Ruangan kecil berjeruji besi yang ditempatinya bersama dua orang lainnya. Mereka datang silih berganti dan gak mengenali siapa Damar sesungguhnya.
Dia terpaksa bertanggungjawab atas perbuatan yang bukan kesalahannya. Akhirnya semua kesabarannya membuahkan hasil.
"Sodara Damar! Silakan ikut kami. Ada seseorang yang mau bertemu!" seorang polisi memanggil Damar.
"Siap, pak!"
Damar segera berdiri. Mungkin yang datang Ikhsan atau Rani. Namun tubuhnya menjadi kaku ketika melihat seorang perempuan tengah berdiri di dalam ruangan kecil. Dia adalah Luna!
"Lu-luna?"
Luna juga terpaku melihat keadaan Damar yang hampir gak dikenali. Tiba-tiba matanya basah dan tubuhnya gemetar.
"I-iya, aku Luna. Mengapa kamu jadi seperti ini?" tanya Lina dengan airmata yang mengalir tak tertahan.
Luna memang pernah masuk ke sel namun hanya sebentar. Itupun rasanya seperti berada di dunia lain. Kini, Damar juga merasakan hal yang sama.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku disini? Seharusnya kamu di Singapura sama mamah! Apa Mang Dayat sudah mengatakan soal aku? Apa Rani?"
"Kamu jahat! Kenapa masalah sepenting ini aku gak dikasih tahu? Pantas saja pertunangan kita dipercepat. Apakah karena semua ini? Harusnya kamu memberitahuku!" ucap Luna yang langsung memeluk Damar erat.
Damar merasakan kakinya sangat lemas. Kesabarannya runtuh dalam sekejap. Apalagi melihat orang yang dikasihinya sampai menangis.
"Maafkan aku, Luna. Harusnya gak selama ini. Ternyata lebih lama dari perkiraanku!" sahut Damar sambil memeluk Luna.
Luna hanya bisa menangis. Mengira kalau perjalanan cinta mereka akan sangat mulus setelah banyak ujian sudah dilewati. Ternyata perkiraannya salah.
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜