
Luna mulai gerah berdua di dalam ruangan kecil itu bersama Damar. Apalagi Damar terus menerus memelototinya. Untung aja, Pak Ikhsan muncul. Luna bisa bernapas lega.
"Bagaimana, Pak Ikhsan? Apa Luna bisa keluar sekarang juga?" Damar gak sabaran.
"Ternyata ada seseorang yang sudah menjamin Nona Luna jadi bisa keluar hari ini juga. Namanya adalah Tuan Arya. Apa nona kenal orang itu?"
"Tuan Arya? Bukankah beliau sedang ada di luar negeri? Beliau adalah Ceo tempat saya bekerja dulu! Apa beliau kesini? Tapi mengapa gak menemui saya dan menanyakan kebenarannya?" Luna bingung dengan sikap Tuan Arya.
"Mungkin karena Tuan Arya mempercayai kamu. Jadi beliau bersedia menjadi jaminan agar kamu bisa keluar dari jeruji. Apakah dia papahnya Yuki?" tanya Damar memastikan.
"Iya. Tuan Arya adalah papahnya Yuki. Beliau sangat baik dan selalu mendukungku. Aku gak menyangka beliau melakukan itu padahal sudah lama kami gak bertemu!" Jelas Luna.
"Baiklah! Ada beberapa berkas yang harus nona tandatangani!" Ikhsan mengeluarkan beberapa berkas. Semua berjalan dengan cepat dan lancar.
Luna segera menandatangani berkas itu. Damar masih memikirkan soal Tuan Arya yang adalah papahnya Yuki. Ternyata sifatnya sangat berlainan dengan Yuki.
"Tunggu! Kamu sudah janji sepulang dari sini, pernikahan kita akan dilangsungkan. Iya, kan?" Tiba-tiba Damar teringat perkataan Luna sebelumnya.
"Pernikahan? Pernikahan siapa?" tanya Luna pura-pura.
"Lunaaa!" Damar tambah geregetan. Andai saja hanya ada mereka berdua, Damar pasti sudah menyekap Luna di dalam pelukannya. Menumpahkan semua kerinduan yang beberapa hari ini tertunda.
*****
Keadaan Sony sudah mulai membaik. Untung aja pisau yang menancap di perutnya gak begitu dalam. Dia ingat ketika perempuan itu masuk dan menyerangnya.
"Aku sudah melayanimu dengan sepenuh hati. Namun, kamu selalu mencari perempuan lain. Kau pantas mati!" ungkap perempuan itu setelah menusuknya dengan pisau.
__ADS_1
"Ka-kamu ... hanyalah mainanku. Kamu bukan siapa-siapa bagiku!" ucap Sony sambil menahan sakit.
"Sekarang rasakan. Kamu gak akan merasakan kenikmatan apapun kecuali kematian!"
Perempuan itu pun pergi. Gak berapa lama Luna datang. Dia mencabut pisau yang menancap di perutnya. Sekarang Lunalah yang menjadi tersangka dan masuk kedalam penjara.
Apakah Sony diam saja dan terus menuduh Luna meskipun gak bersalah? Seperti kejadian dulu. Luna memilih pergi padahal Sonylah yang sudah melakukan perbuatan buruk padanya.
"Papah sudah bangun?"
Terdengar suara yang sangat dikenal Sony. Dia adalah yulia, istrinya.
"Kamu disini?" tanya Sony sinis.
"Tentu dong. Papah adalah suamiku dan ayah anak-anakku. Aku akan selalu berada di sampingmu saat suka ataupun duka!" jawab Yulia pasti.
Sony tersenyum tipis. Saat ini, Yulia seperti seorang istri yang sangat baik.
"Tentu aja aku perhatian. Apalagi kalau suamiku seperti ini. Terbaring tak berdaya!" sahut Yulia. Anehnya dia malah tersenyum melihat suaminya sedang kesusahan.
"Apa kamu tahu siapa yang sudah melukaiku?"
"Iya, aku melihatnya. Perempuan bernama Luna itu sudah menusukmu. Siapa dia? Salah satu mainanmu?"
Sony terdiam mendengar penjelasan istrinya. Dia tahu siapa yang sudah menusuknya tapi bukan Luna. Apakah istrinya gak melihat kejadian sebenarnya?
"Luna adalah cinta sejatiku. Dia gak akan sanggup membunuhku meski aku sudah membuatnya menderita!"
__ADS_1
Yulia tertawa. Perkataan suaminya malah seperti lawakan baginya.
"Cinta sejati? Dia itu mau menghilangkan nyawamu. Apa kamu masih membelanya?!" ucapnya dengan tatapan nanar.
Lagi-lagi Sony tersenyum sinis.
"Aku tahu siapa yang sudah menyerangku. Kenapa kamu malah menuduh Luna? Lagi pula, bagaimana kamu tahu aku ada di hotel dan siapa nama gadis itu? Apa ada seseorang yang sudah memberitahumu?"
Kali ini Yulia gak menjawab. Dia mengetahuinya dari Yuki! Apakah harus dikatakan kepada suaminya?
"Apakah Yuki? Dia pandai merencanakan hal buruk kepada Luna!"
Tebakan Sony sangat tepat.
Yulia tersenyum tipis, "kamu dan Yuki seperti anak kembar. Otak dan hatimu sama-sama busuk! Aku hanya memanfaatkan kejadian itu saja. Kalau tidak! Akulah yang sudah membunuhmu!" sahutnya dengan tatapan penuh dendam.
Sakit hatinya selama ini atas semua kelakuan Sony. Permainannya dengan gadis lain dan tidak pernah memandangnya sama sekali sebagai seorang istri. Yulia merasa hanya tameng jika diperlukan dan setelahnya hanya sampah!
Kejadian sebulan yang lalu. Yulia tahu kalau Sony pergi ke salah satu hotel dengan alasan ada urusan pekerjaan. Dia pun membuntutinya karena curiga Sony selalu mendatangi hotel yang sama.
Sony langsung menuju ke salah satu kamar. Anehnya gak ada siapapun yang mendatangi kamar itu kecuali seorang resepsionis. Dia masih muda dan cantik. Tubuhnya lumayan sexy dibandingkan pegawai yang lain.
Yulia menunggu resepsionis itu keluar bahkan sampai satu jam. Buat apa dia didalam kamar tamu selama itu?
Akhirnya sampai pada kejadian kemarin. Yuki memberitahukan kalau Sony ada pertemuan dengan seorang perempuan di hotel yang sama. Yulia pun mengikuti Sony masuk sampai ke kamarnya.
Alangkah terkejutnya Yulia ketika melihat resepsionis itu menancapkan sebilah pisau di perut Sony. Dia pun segera memanggil polisi. Namun begitu kembali ke kamar itu, perempuan lain sedang memegang pisau yang berlumuran darah itu. Perempuan itu adalah Luna.
__ADS_1
Jelas sekali kalau yang menyerang suaminya bukanlah Luna. Tapi mengapa Yulia menuduhnya? Karena saat itu dia dan polisi melihat yang ada di sana adalah Luna!
❤❤❤❤❤