
Luna yakin akan pergi meninggalkan Damar yang sudah bertemu dengan mantap pacarnya. Mereka sangat serasi dan sama-sama muda. Luna baru tersadar perbedaan usia membuat jurang diantara dirinya dan Damar.
Kejadian waktu itu kembali teringat. Ketika Luna menemukan foto-foto Damar bersama dengan Anna di laptop jadulnya. Wajah mereka sangat mirip. Benar yang dikatakan Anna. Dirinya hanya pelampiasan Damar karena masih mencintai Anna.
Penerbangan pesawat masih ada waktu setengah jam lagi. Luna memilih menunggu di bandara. Dia mulai merasakan kesepian tanpa Damar. Kerinduan pun hadir membuat hatinya tercabik-cabik. Entah kapan mereka akan bertemu lagi? Meski Luna akan memilih menjauh daripada hatinya semakin terluka.
"Luna?"
Luna mendongak. Dia melihat seorang laki-laki yang dikenalnya. Dia adalah Sony.
"Oh, Pak Sony!" sahut Luna. Aach! Kenapa juga bertemu dengannya disini?
"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu sendirian?" tanya Sony yang sudah melihat Luna dari jauh. Dia gak berani mendekat karena takut Luna bersama dengan Damar. Tapi, setelah menunggu agak lama, Luna tetap sendirian juga.
"Saya ada urusan, pak! Dimana istri bapak?" tanya Luna sambil clingak-clinguk mencari istri Sony.
"Dia ada di rumah. Aku mau menemui Yuki. Katanya dia mau menikah dengan Jion!"
Luna tertegun mendengar berita itu, "Yuki mau menikah dengan Jion? Syukurlah mereka akhirnya bisa bersama!" ungkap Luna.
"Pernikahan kamu kapan? Aku dengar kamu sudah bertunangan!"
Lagi-lagi, Luna terdiam. Dia gak tahu harus berkata apa. Impiannya kini sudah sirna.
"Mungkin nanti, pak. Sekarang saya masih sibuk dengan butik saya!" jawab Luna sebisanya.
__ADS_1
"Oh, iya. Sekarang aku bekerja di sini sebagai manager hotel. Sebentar lagi ada pameran gaun pengantin, sebaiknya kamu ikut saja!"
"Tapi butik saya masih belum punya nama, pak!"
"Makanya kamu harus ikut! Aku akan mengabari kamu lagi nanti!" sahut Sony antusias. Dia ingin menebus kesalahannya karena pernah menyakiti Luna.
"Terima kasih, pak. Saya akan membicarakannya dengan para karyawan!"
Padahal kalau Prilly mendengar berita itu, dia pasti akan melompat kegirangan. Dia memang selalu ingin go internasional. Hanya saja, Luna takut ada masalah lagi. Hubungannya dengan Sony seperti kaca yang sangat tipis, akan hancur jika salah perkiraan.
"Aku akan menunggu kabar kamu. Sebaiknya kita masuk ke dalam, sebentar lagi pesawat akan take-off!" ucap Sony sambil melirik jam tangannya.
"Silakan bapak pergi duluan. Saya masih menunggu sesuatu!"
"Oke! Aku pergi duluan aja!"
*****
Damar segera mencari Luna ke apartemennya, mengira kalau Luna sudah pulang duluan dan berharap bisa menemukannya di sana. Damar akan memeluknya dan gak akan melepaskannya lagi. Dia sudah plong dan yakin dengan cintanya kepada Luna. Anna hanyalah masa lalu sementara Luna adalah masa depannya.
"Luna Sayang! Kenapa kamu pergi gak ngomong lagi? Aku mencarimu kemana-mana!" teriak Damar sambil memeriksa ke setiap ruangan. Namun, apartemen itu terlalu sepi.
Damar memeriksa kamar yang ditempati Luna. Ternyata lemarinya sudah kosong! Jangan-jangan, Luna sudah benar-benar pergi!
"Halo, Kak. Luna gak ada di apartemen juga. Apa kakak bisa memeriksanya ke bandara. Apa mungkin Luna pulang sendiri?" tanya Damar lewat hapenya.
__ADS_1
"Baik, Damar. Saya akan memeriksanya!" jawab Dayat yang masih kaku menyebut nama Damar.
"Ada apa?"
Ternyata Nyonya Kamaratih mendengar pembicaraan Dayat dan Damar.
Dayat langsung pucat. Dia mengira kalau ibunya sedang tidur.
"Sepertinya Nona Luna pergi, bu! Mungkin karena ada Nona Anna. Saya sempat melihat Nona Luna berbicara dengan Nona Anna di taman!"
Sebenarnya, Dayat melihat keduanya sedang bicara. Namun, dia gak mengatakannya kepada Damar. Dayat mengira kalau Damar juga akan kembali kepada Anna.
"Hubungi hapenya, aku akan bicara dengan Luna!" ucap Nyonya Kamaratih yang juga cemas. Dia gak mau kehilangan Luna.
"Kata Damar, hape Nona Luna gak aktif. Tapi, saya akan mencoba menghubunginya!"
Dayat segera menghubungi hape Luna. Meski yang menjawab adalah operator yang mengatakan kalau hapenya gak aktif.
Nyonya Kamaratih bisa menebak pasti akan terjadi sesuatu antara Luna dan Anna. Mereka merasa memiliki hati Damar. Hanya saja, dia gak mengira kalau Lunalah yang mengalah.
Dayat segera menghubungi kenalannya di bandara dan mencari kabar soal Luna. Ternyata perkiraannya benar. Nama Luna ada di salah satu penumpang pesawat. Sayangnya, pesawat itu akan berangkat lima menit lagi.
"Hallo, Damar. Nona Luna sudah dibandara. Pesawatnya akan berangkat lima menit lagi!"
"Baiklah! Aku akan segera kesana. Sekalian pesankan aku tiket pesawat penerbangan selanjutnya ya, kak!" ucap Damar yang langsung menyusul Luna ke bandara. Berharap masih ada waktu untuk bertemu dengannya.
__ADS_1
😟😟😟😟😟