
Selesai makan malam bersama Tuan Arya, Damar ingin mengajak Luna ke suatu tempat. Dia melihat kalau Luna masih memakai cincin yang dibelinya dari pedagang asongan kemarin.
Damar jadi merasa bersalah karena sudah memberikan Luna cincin murahan itu padahal dia bisa membelikan cincin berlian untuknya.
"Kita akan mampir ke suatu tempat dulu sebentar!" ucap Damar setelah berada di dalam mobil.
"Kemana? Ini kan sudah malam! Sudah hampir jam sepuluh," ungkap Luna setelah melirik jam tangannya.
"Sebentar aja, kok!"
Luna mau gak mau menuruti Damar. Namun, dia heran juga begitu mereka berhenti di sebuah mall.
"Kenapa kesini, Damar? Bukankah mereka sudah tutup?"
"Gak apa-apa. Aku yang punya mallnya jadi bisa masuk meski tutup!" jelas Damar penuh keyakinan.
Luna merasa gak enak dengan rencana Damar. Pasti dia mau melakukan hal aneh lagi.
Di depan mall, beberapa orang sekuriti dan seorang berpakaian jas rapih sudah menunggu mereka.
"Mari, tuan! Saya akan antarkan ke tempat tuan tuju!" ucap laki-laki berpakaian jas rapih.
"Gak usah! Aku bisa kesana sendiri!" tolak Damar. Tentu aja dia gak mau waktu berduaan dengan Luna jadi terganggu.
"Apa bisa kita pergi sendiri? Mall akan menyeramkan kalau sepi! Lagian emangnya kita mau kemana sih?" ujar Luna yang membayangkan gedung seluas itu hanya ada mereka berdua.
Damar tersenyum mendengar ucapan Luna.
"Kenapa sekarang kamu jadi penakut? Apa karena ada aku? Pengen aku peluk gitu?!" celetuk Damar.
Luna melotot mendengar ucapan damar.
"Jangan mulain, deh! Sudah aah. Aku mau pulang aja!" Luna membalikkan badannya dan berniat mau pergi.
__ADS_1
"Iya-iya. Aku tahu kamu adalah gadis pemberani!" Damar segera menarik tangan Luna dan menggenggamnya erat.
"Ayolah! Kita harus segera sampai. Kita akan naik ini aja!"
Di depan mereka sudah ada mobil kecil yang biasa dipakai di lapangan golf.
"Mana ada mobil seperti ini di mall?" tanya Luna keheranan.
"Di mallku pasti ada, dong. Orang kaya biasanya kesini kalau sudah sepi dan berkeliling mall dengan mobil ini. Ayo, naiklah!"
Seperti yang dikatakan Damar. Mereka berkeliling mall dengan menaiki mobil itu. Damar menunjukkan semua gerai yang ada di sana dengan penuh kebanggaan.
"Apa kamu tahu? Mobil ini adalah satu-satunya yang ada di seluruh mall. Aku pernah menaikinya di luar negeri dan harus ada di mallku!" terang Damar lagi.
Luna hanya bisa diam saja dan memandang takjup dengan isi mall yang gak biasa.
Gak lama kemudian, Damar menghentikan mobilnya di depan sebuah gerai. Ternyata itu adalah gerai perhiasan.
"Untuk apa kita ke sini?" Pernikahan kita kan masih lama!" cetus Luna yang masih gak mengerti apa yang akan dilakukan Damar.
"Aku merasa bersalah karena memberikan kamu cincin ini padahal aku punya toko permata. Pilihlah salah satu untukmu!"
Luna tertegun mendengar ucapan Damar. Padahal dia sangat senang memakai cincin murahan itu.
"Aku sangat senang memakai cincin ini yang membuatku merasa tenang dan bersemangat lagi. Aku gak menilai harganya karena apapun yang diberikan kekasihku akan selalu berharga bagiku!" jelas Luna.
"Luna ..., kamu adalah permata yang paling berharga untukku!" Damar langsung memeluk Luna. Sekuriti yang mengikuti mereka dari jauh malah mesem-mesem sendiri melihat kebucinan keduanya.
"Tapi, tetap aja kamu harus memilihnya untuk pernikahan kita nanti!"
"Damar! Acaranya kan masih lama," protes Luna.
"Pokoknya harus sekarang juga!"
__ADS_1
"Damar!!!"
Hadeh! Baru aja keduanya mesra-mesraan sudah mulain berantem lagi. Namun, mereka sudah gak mencemaskan apapun lagi dan bertekad akan selalu berjalan bersama.
*****
"Mamaaah!
Yuki sampai di rumahnya dengan penuh amarah. Dia baru tahu kalau papahnya akan menyerahkan perusahaan grup Bintang kepada Luna.
"Ada apa, Yuki?" tanya Nyonya Arana yang pura-pura cemas.
Yuki melempar tasnya kasar ke sofa, "apa mamah tahu kalau Luna akan menempati posisi Om Sony?" tanyanya dengan mata melotot. Dia yakin mamahnya tahu soal Luna.
"Mamah gak tahu soal itu, Yuki! Bukankah papahmu masih di Jepang?"
"Jangan bohong, mah! Kemarin Luna keluar dari penjara karena papah sudah memberikan jaminan. Hari ini, papah malah memberikan posisi Om Sony kepada Luna. Lama-lama aku bisa gila! Sebenarnya anaknya papah itu aku atau Luna sih?!"
Nyonya Arana hanya menarik napas panjang, "tanyakan saja kepada papahmu langsung. Pasti ada sebabnya papah memilih Luna!"
"Pokoknya aku gak mau tahu. Mamah harus tanggung jawab dengan semua ini. Mamahlah yang menghubungi papah. Katakan kalau aku yang lebih berhak mendapatkan posisi itu!"
Nyonya Arana diam saja. Sudah lama dia gak bertemu dengan Tuan Arya yang masih berstatus suaminya. Apalagi meminta sesuatu yang sangat mustahil.
"Ingat, Arana. Aku gak akan menceraikanmu karena Yuki. Tapi jangan harapkan kalau Yuki akan mendapatkan warisanku!"
Perkataan suaminya dulu kembali terngiang. Akhirnya saat itu tiba juga. Yuki pasti akan menuntut haknya sebagai seorang pewaris.
*****
Mamah Luna sengaja menunggu puterinya di luar rumah. Dia ingin tahu apa yang dikatakan Tuan Arya kepadanya. Memang, dialah yang menelponnya agar mau menolong Luna. Tapi, dia gak tahu kalau Tuan Arya ternyata memenuhi permintaannya.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Mamah Luna mengira kalau itu adalah mobil puterinya. Seorang laki-laki turun dari mobil dan berjalan ke arahnya. Mamah Luna tertegun. Dia adalah Tuan Arya!
__ADS_1
❤❤❤❤❤