TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
PERTEMUAN ISTIMEWA #1


__ADS_3

Sesampainya di rumah Nyonya Kamaratih, Mamah Luna disambut dengan penuh kehangatan. Bahkan Nyonya Kamaratih sudah menunggu di halaman depan.


"Selamat siang, Nyonya. Saya adalah mamahnya Luna dan ini, adiknya. Namanya Luky," sapa Mama Luna dengan senyuman.


"Ternyata kecantikan Nak Luna menurun dari mamanya. Selamat datang, saya adalah mamahnya Damar!" sahut Nyonya Kamartih sambil mengulurkan tangannya.


Mamah luna pun menyambut uluran tangan Nyonya Kamaratih, "tapi, tinggi anak saya menurun dari ayahnya. Kalau saya mungil, Nyonya!"


"Jangan panggil saya, Nyonya. Panggil aja Mama Damar!"


Mereka langsung akrab. Mungkin karena keduanya mempunyai harapan yang sama kepada anak-anaknya.


Tinggal, Luky yang sedikit bosan. Seperti biasa, dia mengandalkan hape agar gak kesepian. Untung aja, gak lama kemudian Luna sampai bersama Damar.


"Akhirnya, kalian datang juga. Ayo kita makan dulu!"


"Iya, mah. Tapi, sebelumnya ada yang mau saya lakukan dulu!" Luna langsung pergi ke arah dapur.


Nyonya kamaratih dan Mamah Luna agak bingung melihat sikap Luna.


"Apa yang akan dilakukan Luna, Damar?" tanya Nyonya Kamaratih yang penasaran.


"Entahlah, mah. Kita lihat aja nanti. Selamat sore, mah. Luky dimana?" sapa Damar kepada Mamah Luna.


"Tadi sih, ada. Mungkin ada di luar!" jawab Mama Luna yang baru sadar kalau luky menghilang.


Gak lama kemudian, Luna kembali dengan membawa kue ulang tahun yang tadi dibelinya lengkap dengan sebuah lilin yang menyala.


"Siapa yang ulang tahun?" tanya Nyonya Kamaratih.


"Selamat ulang tahun, Mang Dayat," ucap Luna dengan penuh semangat.


Mang Dayat yang dari tadi diam saja menjadi salting. Dia gak pernah menyangka kalau ada yang tahu ulang tahunnya.


"Iya, mah. Ternyata hari ini Mang dayat ulang tahun!" ungkap Damar.


"Benar begitu, mang?"


"I-iya, nyonya. Makasih, nyonya muda. Tapi, darimana nyonya muda tahu kalau hari ini saya ulang tahun?" tanya Mang Dayat bingung.


Yang lebih bingung adalah Mamah Luna yang baru tahu kalau Luna sudah dipanggil nyonya muda di rumah itu.


"Ada deh, mang. Yang penting kue ini untuk Mang Dayat. Semoga sehat selalu dan cepat dapat jodoh ya, mang! Ayo, tiup lilin dan potong kuenya!" ungkap Luna seakan sudah mengenal Mang Dayat lama.


Mang Dayat melihat kearah Nyonya Kamaratih. Setelah melihatnya menganggukan kepala, barulah Mang Dayat meniup lilin.

__ADS_1


"Terima kasih Nyonya muda. Kue ini juga untuk Nyonya karena sudah hadir di rumah ini!" ucap Mang Dayat seraya menyodorkan sepotong kue untuk Luna. Dia tahu kalau nyonya besarnya tidak suka makan kue.


"Ekheeem! Kue ini untukku aja!" Damar langsung menyambar kue yang disodorkan Mang Damar. Sepertinya Damar jadi cemburu.


Luna sangat terkejut melihat sikap Damar. Apalagi, dia langsung memasukan kue itu ke dalam mulutnya. Luna jadi emosi. Dasar, Damar. Lihat aja, nanti ya!


"Selamat ulang tahun ya, mang. Hadiahku nanti aja lewat transfer, ya!" ungkap Damar dengan mulut masih penuh kue.


Nyonya Kamaratih terkejut dengan kelakuan Damar. Setahunya Damar gak suka makan kue, makanya dia gak pernah membelikannya setiap ulang tahun.


"Aku juga selalu mendokan yang terbaik untukmu, mang. Selamat ulang tahun, ya!" ucap Nyonya Kamaratih setelah sadar dari lamunannya.


"Terima kasih, tuan muda dan nyonya!"


"Sekarang, ayolah kita makan dulu. Kemana adikmu, Luna?" tanya Mamah damar.


Luna melihat kesana kemari, adiknya gak kelihatan juga.


"Biar saya yang mencarinya, nyonya!" Mang Dayat langsung pergi dengan membawa kue ultahnya.


Sebenarnya, Luky sedang berada disebuah ruangan yang baginya seperti surga para gamer. Di sana ada perlengkapan gamer yang sangat canggih. Pastilah tangannya sudah gatel untuk masuk ke dalam programnya.


Setelah bisa menyalakan perlengkapan itu, Luky mulai memainkannya bahkan sampai lupa waktu. Dia gak menyangka di rumah seperti istana itu ada ruangan yang seperti itu.


Sebuah bayangan masuk ke dalam ruangan. Luky gak sadar karena memakai earphone. Bayangan itu langsung mendekati Luky dan menepuk bahunya.


"Ma-maaf, saya lancang masuk kesini, kak.Tapi, tempat ini asyik bener," ujar Luky yang memang seorang gamer dengan wajah semringah.


Damar tersenyum, "gak apa-apa. Sebenarnya aku akan menunjukannya padamu nanti. Ternyata penciuman seorang gamer kuat juga sampai kamu bisa menemukan tempat ini!" ujar Damar yang gak marah sama sekali. Bahkan dia senang adik Luna bisa sampai di tempat itu.


"Tapi, kak. Jangan kasih tau Kak Luna, ya. Bisa-bisa kupingku dijewernya nanti!" jelas Luky yang sangat takut dengan kakaknya.


Damar tertawa kecil, "jadi, kakakmu itu sangat menakutkan, ya?" tanyanya ingin tahu.


"Waah! Dia itu kayak singa berbulu domba, kak. Kelihatannya aja manis tapi kalau marah bisa sebuas singa!" terang Luky soal kakaknya kalau sedang marah.


Damar gak berhenti tertawa. Dia juga tahu sifat Luna memang seperti singa kalau sedang marah.


"Iya-iya, aku tahu! Ayo makan dulu, semuanya sudah menunggu!"


"Oke, kakak ipar!" sahut Luky antusias.


Damar tersenyum puas. Sebenarnya, perlengkapan gamer itu baru saja dibelinya khusus untuk adiknya Luna. Dia harus mengambil hatinya agar Luna jadi penurut. Ternyata perkiraannya benar, Luky sangat menyukai ruangan itu.


Makanan yang dikirimkannya waktu itu juga sebenarnya buat Luky, ternyata Luna juga ikut memakannya. Jadi usahanya bisa dua kali berhasil. Sepertinya langkahnya untuk meyakinkan hati Luna sebentar lagi berhasil.

__ADS_1


*****


Gak lama kemudian, Agung menghentikan mobilnya di depan sekolah Sd. Anak-anak sudah pada keluar dan orang tuanya menjemput mereka.


"Kamu tunggu sebentar, ya! Aku akan mencari anakku dulu," ucap Agung sebelum keluar dari mobil.


Rani hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih kebingungan kenapa ada di sana. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?


Karena menunggu cukup lama, Rani memutuskan keluar dari mobil. Sebagian orang tua yang menjemput anaknya sudah pulang. Makanya Rani berani keluar dari mobil.


"Apa ibu menjemput anak ibu juga?" tiba-tiba seorang perempuan menegurnya.


Rani agak terkejut karena perempuan itu menyangkanya sedang menjemput.


"Oh iya, bu." Rani terpaksa mengiyakan agar gak banyak pertanyaan.


"Anaknya kelas berapa bu? Laki-laki atau perempuan? Kalau anak saya perempuan, bu!"


Ternyata perkiraan Rani salah. Pertanyaan lain tetap ada.


Untung saja, Agung muncul dengan seorang gadis kecil berambut panjang. Wajahnya sangat lucu dengan senyuman manis. Rani tertegun melihatnya. Dia seperti melihat dirinya sewaktu kecil.


"Ayo, kita pulang. Syakila, kamu duduk di belakang, ya," ucap Agung lembut.


"Iya, yah!" jawab anak permpuan itu tanpa membantah.


Rani masih berdiri tertegun melihat gadis kecil yang sangat mirip dengannya itu masuk ke dalam mobil.


"Kenapa bengong, ayo masuk!"


Suara Agung membuyarkan lamunan Rani.


"Oh, iya. Aku dibelakang aja!"


Rani segera masuk lewat pintu belakang bersama gadis kecil itu.


Agung hanya tersenyum dan segera menyalakan mobilnya.


Rani masih menatap gadis kecil itu takjup. Dia merasa melihat kembarannya sewaktu kecil.


"Jadi, namamu Syakila ya?" tanya Rani memulai pembicaraan.


Syakila tersenyum dan mengangguk. Dia sama sekali gak heran kalau ayahnya bersama seorang perempuan.


"Iya, tante. Apa tante akan jadi mamaku?"

__ADS_1


Deg! Pertanyaan apaan itu? Rani langsung shock mendengarnya. jadi mamanya?


*****


__ADS_2