TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
KERAGUAN #1


__ADS_3

Luna terjaga ketika sudah hampir gelap. Bahkan dia sampai lupa untuk makan siang. Luna bergegas menemui Mamah Damar.


"Maaf, mah. Tadi, saya ketiduran. Apa mamah sudah makan?" tanya Luna setelah sampai di kamar Mamah Damar.


Mamah Damar hanya tersenyum. Tadi dia mendengar dari Mang Dayat kalau Luna sedang mengobrol dengan puteranya dari telepon.


"Iya, Luna sayang. Kamu pasti mengantuk ya bicara dengan Damar. Dia memang seperti itu kalau bicara sangat lama mikirnya. Sejak remaja dia memang gak banyak punya teman dan lebih suka membaca buku. Kita makan dulu sebelum pulang, ya!"


Luna hanya bisa nyengir. Dia juga sampai tertidur padahal hapenya masih menyala. Damar pasti marah-marah begitu meneleponnya lagi. Untung aja, Mamah Damar mau menemani Luna makan. Kalau gak, Luna memilih untuk makan di rumahnya.


"Maaf, Nyonya. Ada tamu di luar," ujar Mang Dayat.


Mamah Damar berhenti sebentar dan meletakan sendok makannya, "siapa?" tanyanya singkat.


"Nona Yuki, Nyonya!"


"Owh, suruh tunggu aja!"


"Baik, Nyonya," sahut Mang Dayat yang langsung pergi.


"Aku kurang suka dengan perempuan itu!" cetus Mamah Damar setelah beberapa saat.


Perasaan Luna tergelitik juga. Dia ingin tahu mengapa Mamah Damar gak suka sama Yuki.


"Memangnya kenapa, mah. Yuki kan cantik," ucap Luna.


Mamah Damar terdiam. Sepertinya ada yang dipikirkan.


"Apa kamu mengenalnya?"


"Sa-saya pernah bekerja di perusahaan ayahnya, mah!" jawab Luna jujur.


"Benarkah? Berarti kamu sangat tahu bagaimana sifatnya. Baiklah, kamu aja yang akan menemuinya!" ucap Mamah damar tegas.


Luna sedikit jiper juga mengetahui ketegasan Mamah Damar.


"Ta-tapi, mah. Yuki gak menyukai saya," jawab Luna.


"Terus, mengapa kamu harus menyukai orang yang gak menyukaimu?" tanya Mamah Damar


Luna tertegun mendengar perkataan Mamah Damar. Dia juga gak mengerti mengapa selama ini selalu bersikap baik kepada Yuki. Padahal dulu, dia selalu membuatnya kesusahan.


Yuki terpaksa menunggu. Susah sekali untuk bertemu dengan Nyonya Kamaratih. Bahkan ketika di rumah sakit pun gak bisa dijenguk siapapun. Kalau saja bukan karena Damar, Yuki gak mau menemui mamanya yang terkenal galak itu.


Tak berapa lama, Yuki melihat sebuah bayangan muncul. Akhirnya penantiannya berakhir juga. Dia pun segera bangkit dari tempat duduknya.


"Selamat sore, nyonya. Saya ...." Yuki berhenti bicara. Ternyata yang datang bukanlah Nyonya Kamaratih tetapi Luna!


"Ka-kamu! Ngapain di sini?!" tanya Yuki dengan wajah memerah. Jelas sekali dia gak suka melihat Luna apalagi di rumah gebetannya.


"A-aku juga tamu di rumah ini. Mamah sedang istirahat jadi aku yang disuruh menemuimu!" jelas Luna. Hadeh! Luna keceplosan memanggil Nyonya Kamartaih dengan aebuyan mamah.


"Mamah? Mamah siapa maksudmu?" tanya Yuki sambil melotot. Sikapnya gak berubah sama sekali.


"Maksudku Mamah Damar. Beliau sedang istirahat. Katakan aja keperluan kamu nanti aku akan sampaikan!" sahut Luna sedikit meralat ucapannya.

__ADS_1


"Apa kamu jadi asisten Nyonya Kamaratih? Buat apa aku mengatakan keperluanku padamu?" tanya Yuki tambah sengit.


Di balik pintu, Mang Dayat mendengarkan pembicaraan mereka. Itu pun karena suruhan Nyonya Kamaratih. Sepertinya situasinya di luar kendali. Nona Yuki memperlakukan Nona Luna sangat tidak baik.


"I-iya, aku bekerja sebagai asisten Nyonya Kamaratih. Jadi katakan aja maumu!" jawab Luna sebisanya. Dia gak mau Yuki lebih emosi kalau tahu soal perjodohannya dengan Damar.


"Hhmm, aku sudah tebak. Perusahanmu itu sudah bangkrut, kan? Kamu itu gak pantas jadi Ceo perusahaan. Kamu lebih pantas menjadi pelayan seperti sekarang ini!"


"Maaf, Nona Luna bukan seorang pelayan. Tapi, calon Nyonya Muda di rumah ini!"


Tiba-tiba, Mang Dayat muncul. Dia diberikan instruksi dari Nyonya Kamaratih untuk mengatakan siapa Nona Luna sebenarnya.


"Apa? Nyonya Muda? Kalian bersekongkol mengerjai aku, ya? Pokoknya aku harus menemui Nyonya Kamaratih sekarang juga!" teriak Yuki cukup kencang.


Sebenarnya, Nyonya Kamaratih ada di ruang sebelah dan mendengar semua ucapan Yuki. Dia sengaja gak keluar agar tahu apa yang akan dilakukan Luna.


"Maaf, Nona Yuki. Mamah Damar sedang kurang sehat. Kita bisa melanjutkan perdebatan ini di lain waktu!"


Yuki tambah berang mendengar ucapan Luna. Seperti biasa, dia melemparkan tasnya ke arah Luna. Wajah Luna sampai tergores dan mengeluarkan darah.


"Aduuuh!" teriak Luna. Namun, dia memilih gak membalas perbuatan Yuki.


Mang Dayat sangat terkejut melihat perlakuan Nona Yuki. Dia pun segera menghampiri Luna.


"Apa Nyonya Muda gak apa-apa? Apa perlu saya bawa ke rumah sakit?" tanyanya khawatir.


Luna menggeleng dan kembali mendongak meski pipinya terasa perih.


"A-apa yang kamu lakukan, Nona Yuki? Aku bukan pelayanmu lagi. Sebaiknya pergilah sebelum Mama Damar mendengar keributan ini!" ungkap Luna dengan suara gemetar.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit, Nona. Saya takut Tuan Damar akan marah jika melihat nona terluka," ucap Mang Dayat yang sangat cemas.


"Gak usah, mang. Apa bisa ambilkan saya kotak P3K. Saya bisa mengobatinya sendiri. Lagipula, kalau Tuan Damar pulang, luka ini juga sudah gak kelihatan lagi!" ucap Luna sambil mengucap darah yang keluar dari lukanya.


"I-iya, Nyonya Muda. Saya akan ambilkan!" Lagi-lagi, Mang Dayat memanggil Luna dengan sebutan itu.


"Apa yang terjadi? Apa Luna terluka?" tanya Nyonya Kamaratih ketika melihat Mang Dayat sangat cemas.


"I-iya, nyonya. Maaf saya tidak menduga kalau Nona Yuki akan melakukan kejahatan itu. Saya harus mengambil kotak obat dulu, nyonya," jawab Mang Dayat dengan suara gemetar.


"Iya_iya, cepat obati lukanya. Aku juga sangat kaget Yuki bisa melakukan hal itu kepada Luna!" ujar Nyinya Kamaratih yang juga sangat cemas dengan keadaan Luna.


Luna hanya bisa meringis kesakitan. Dulu, Yuki memang sering melakukan perbuatan kasar padanya. Ternyata, sikapnya gak berubah juga meski sudah diberikan cobaan dalam rumah tangganya


"Ada apa, sayang? Apa yang terjadi padamu?"


Nyonya Kamaratih muncul. Dia gak bisa menahan diri begitu tahu Luna terluka.


"Gak apa-apa kok, mah. Hanya luka kecil aja. Nanti juga sembuh!" jawab Luna sambil tersenyum. Dia gak mau Mamah Damar cemas.


"Lihatlah luka itu. Mengapa Yuki bisa sekejam itu sama kamu? Apa ketika kamu bekerja dengannya dulu juga seperti ini?"


Luna terdiam. Dia gak mau membicarakan kejelekan Yuki meski perbuatannya dulu seperti seorang maniak.


"Yuki cuma gak bisa mengendalikan emosi aja, mah. Nanti dia juga akan sadar dan meminta maaf!" jawab Luna sedikit berbohong. Bagi Yuki, kata maaf adalah tabu.

__ADS_1


"Itulah sebabnya mamah gak suka dengannya. Selama ini mamah tertipu mulut manisnya sehingga memberikan penghargaan kepadanya. Akhirnya mamah tahu siapa Yuki sebenarnya. Maafkan mamah, kamu jadi terluka seperti ini ya, sayang!" ujar Nyonya Kamaratih yang menggenggam tangan Luna erat.


"Gak apa-apa, mah. Oh, iya. Tolong jangan kasih tahu Tuan Damar soal kejadian ini ya, mah. Saya khawatir dia jadi kepikiran dan mempengaruhi pekerjaannya," pinta Luna.


"Iya, sayang. Kalau Damar sampai tahu, dia pasti sangat marah! Maafkan mamah ya," ucap Mamah Damar yang meminta maaf untuk kesekian kalinya.


*****


Yuki masih mengingat kejadian di rumah Nyonya Kamartih tadi sore. Dia gak menyangka kalau Luna diperlakukan seperti Nyonya Muda di rumah itu.


Yuki harus melaksanakan rencananya untuk menghancurkan Luna. Dia pasti gak akan diperlakukan sama lagi jika sudah bangkrut. Siapa sih yang mau mempunyai menantu miskin? Yuki tersenyum penuh kelicikan.


"Laksanakan rencana kita. Aku ingin melihat perusahaan Luna hancur secepatnya!" ucap Yuki lewat hapenya.


Tidak ada suara diujung telepon. Tapi, siapapun dia pasti tahu apa yang dimaksud Yuki.


*****


Akhirnya, Luna sudah berada di kamarnya lagi. Dia menatap dirinya di cermin. Sebuah guratan menghias pipinya. Tanda tangan kemarahan Yuki.


Walaupun, Luna sudah gak kerja di kantor Papa Yuki tapi perlakuan Yuki masih sama saja. Luna gak mengerti mengapa Yuki sangat membencinya.


Umur Yuki memang dibawah Luna dua tahun. Tapi Yuki sudah menikah selama beberapa tahun. Dia bahkan sudah memiliki seorang puteri yang cantik. Sayang, pernikahannya kandas karena suaminya sudah selingkuh.


Seharusnya sifat Yuki lebih dewasa karena sudah mengalami ujian dalam hidupnya. Namun, sikapnya kepada Luna selalu sama. Bahkan setelah tahu soal perjodohan Luna dengan Damar membuatnya semakin beringas.


Tiba-tiba, terdengar nada panggil dari hape Luna. Dia pun segera membukanya. Ternyata Ceo Menyebalkan yang sudah menghubunginya.


"Ya, ada apa?" tanya Luna senormal mungkin.


"Apa kamu sudah sampai dirumah?" tanya Damar sembari membuka kemejanya. Dia juga baru selesai meeting.


"Sudah, tadi Mang Dayat mengantarku pulang!" jawab Luna singkat swkaan ak terjadi apapun. Dia gak mau Damar mengungkit peristiwa tadi sore.


"Apa keadaanmu baik-baik aja? Aku takut kamu kecapean mengurus mamah," tanya Damar lagi. Padahal dia tahu soal kelakuan Yuki yang sudah melukai Luna. Mang Dayat selalu melaporkan apapun padanya.


"Aku gak apa-apa, kok. Keadaan mamah juga baik. Sepertinya mamah hanya terlalu banyak pikiran dan perlu refreshing keluar. Mungkin kamu bisa mengajaknya liburan ke pantai atau ke gunung," jelas Luna soal Mamah Damar.


"Aku masih sibuk. Mungkin lain waktu kita bisa pergi dengan mamah!"


"Kita? Kamulah. Aku juga sibuk!" sahut Luna.


"Oke, nanti kalau kamu udah gak sibuk aja. Sekalian honeymoon!"


Luna melotot. Damar mulai kumat lagi.


"Honeymoon apaan? Apa ada kucing kawin?"


Damar tertawa kecil mendengar ucapan Luna.


"Iya, kucingku mau kawin tapi ceweknya masih kabur-kaburan!" jawab Damar setengah menyindir.


Luna terdiam. Dia teringat pacar Damar yang sudah meninggal. Apakah Damar bicara dengannya seperti dengan Luna yang selalu saja membuatnya naik pitam? Pasti gaklah! Damar pasti jaim dan memperlakukan pacarnya seperti puteri.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2