
Sekali lagi, Luna terkejut mendengar ucapan Jion. Bagaimana dia tahu kalau Damar di penjara?
"Jangan bercanda, Jion. Buat apa Damar sampai di penjara? Dia lagi bekerja di luar kota, kok!" jawab Luna sambil menggenggam kedua tangannya.
Jion tersenyum tipis. Dia sangat mengenal Luna. Jika gugup, Luna selalu menggenggam kedua tangannya.
"Iya, aku bercanda aja!" katanya sambil tertawa kecil.
Ya! Luna memang benar-benar gugup. Jion mengetahui soal masalah di perusahaan Damar. Tapi, dari mana dia mengetahuinya?
"Kamu jangan sampai telat makan, Lun. Lihat aja wajahmu loyo seperti itu. Masa mau menikah malah stress. Mending nikah sama aku aja!" celetuk Jion lagi.
Wajah Luna langsung berubah. Matanya melotot seperti mau menelan Jion hidup-hidup.
"Kalau nikah sama kamu, aku bakalan mati hidup-hidup, tahu!" sahut Luna.
Jion semakin tergelak. Setidaknya, Luna bisa melupakan masalahnya meski Jion harus menjadi kambing hitam.
Beberapa orang yang mengenali Jion tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka sungkan meminta foto langsung dan memotret Jion dari jauh, yang pasti bersama Luna juga.
"Siapa perempuan itu? Apa dia pacar Jion?" bisik perempuan muda yang berdandan eksentrik. Gadis disebelahnha juga melihat ke arah yang ditunjuknya.
"Aku seperti pernah melihatnya! Ya, dia itu kan mantan pacar Jion dulu!" katanya lagi.
"Mantan? Apa mereka balikan? Apa perempuan itu tidak kelihatan lebih tua dari Jion? Kenapa Jion masih mau sama dia?"
Hadeh! Kepala Luna mulai kliyengan mendengar pembicaraan mereka. Apalagi banyak kamera ke arahnya. Luna pun menutup mukanya dengan buku menu.
"Ayo kita pergi, Jion. Aku gak enak disini tambah ramai. Kamu sih harusnya pakai topeng jadi gak ada yang mengenalimu!" ujar Luna yang menyadari suasana di restoran itu jadi gak nyaman.
Jion terpaksa mengikuti langkah Luna. Dia harus membayar tagihan makanan sebelum keluar. Sementara Luna sudah menghilang entah kemana.
Ketika sendirian, banyak orang yang berani mendekati Jion. Mereka minta berfoto dan tanda tangan. Padahal Jion sangat mengkhawatirkan Luna. Syukurlah, Luna menunggu Jion di dekat parkiran mobil. Jion pun menjadi tenang melihatnya.
"Maaf, ya. Aku gak nyangka jadi seperti ini!"
"Aku sudah bisa menebaknya. Makanya dulu aku nales kalau makan di restoran sama kamu!" sahut Luna yang masih cemberut.
"Iya-iya. Lain kali aku akan menyewa satu restoran buat kamu!"
"Eeh! Siapa bilang aku akan pergi lagi sama kamu! Ogah!"
Jion tertawa melihat sikap Luna. Hatinya selalu saja penuh warna jika bersama Luna.
__ADS_1
Gak lama kemudian, Jion sampai juga di rumah Luna. Tapi dia gak berani untuk mampir. Dia sangat tahu kalau Mamah Luna masih marah padanya. Ketika di acara pertunangan Luna juga hanya melihatnya dari jauh saja.
Luna juga gak mengajak Jion mampir. Dia gak mau ada berita macam-macam di media.
"Kamu sama siapa, Lun?"
"Astaga, mamah! Bikin Luna kaget aja sih!"
Ternyata dari tadi Mamah Luna mengintip dari jendela.
"Apa dia Jion? Kenapa kamu jalan sama dia? Kamu kan sudah tunangan sama Damar!"
"Jion hanya mengantar Luna pulang aja kok, mah. Tadi sih sempat makan juga sebentar!"
"Tuh kan! Apa kamu masih menyukainya?" cecar Mamah Luna.
Luna tertawa mendengar pertanyaan mamahnya.
"Mamah Sayang, Luna ini bukan anak kecil lagi. Masa lalu adalah masa lalu dan masa kini ya masa kini. Luna tahulah siapa Jion!"
"Mamah hanya cemas kamu kepincut Jion lagi. Dulu kan kamu bucinnya minta ampun sama dia!" ungkap Mamah luna yang teringat bagaimana sikap Luna ketika pacaran sama Jion dulu.
"Mamah!"
Luna masih membenci dirinya sendiri karena sempat mencintai laki-laki seperti Jion. Namun, dia tidak akan terjatuh di lubang yang sama.
"Bagaimana, tuan? Apa tuan jadi menemui Nona Luna?" tanya Ihksan yang membawa mobil itu. Tuan Damar memaksa menemui Luna di rumahnya padahal baru keluar dari kantor polisi.
Damar diam saja. Dia melihat Luna tersenyum lebar ketika bersama Jion. Dia jadi ingat bagaimana Luna menangis ketika melihatnya di tahanan. Luna yang sangat tegar menjadi sangat rapuh.
"Tidak, pak. Nanti saja aku akan menemuinya. Masih banyak yang perlu aku lakukan!"
Perjumpaan itu akan tertunda entah sampai kapan. Damar merasa banyak yang harus dipikirkan. Apalagi soal Luna!
*****
Denny segera ke kantor polisi untuk mengetahui keberadaan Damar. Namun, ketika di parkiran dia malah melihat seseorang yang dikenalnya. Dia adalah Saskia, mantan pacarnya.
Baru saja Denny ingin menghampirinya namun tidak jadi dilakukan. Di dalam mobil itu, Saskia bersama seorang laki-laki yang sangat muda namun tampan dan trandy. Bukankah dia sudah menikah? Apa yang dilakukan Saskia di kantor polisi?
Denny sengaja menelpon Saskia. Dia masih menyimpan nomor hape Saskia meski sudah lama gak berhubungan lagi.
"Hallo, Saskia. Apa kabar?"
__ADS_1
"Aku baik! Apa maumu?"
Sikap Saskia sangat berbeda dengan yang dulu. Biasanya dia selalu ramah.
"Aku mau mengatakan sesuatu. Apa kita bisa makan siang?"
"Maaf aku lagi banyak pekerjaan!"
Saskia langsung menutup hapenya dan pura-pura sibuk. Padahal Denny tahu dia ada dimana.
Gak lama kemudian anak muda yang bersama dengan Saskia turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor polisi. Sementara Saskia masih di dalam mobil. Denny memilih langsung ke dalam tanpa menyapa Saskia lagi.
Di dalam kantor polisi, Denny mencari keberadaan anak muda yang tadi dilihatnya bersama Saskia. Terlihat dia sedang bicara dengan seorang polisi. Denny pun mendekati mereka agar bisa mendengar apa yang dibicarakan.
"Apa saya bisa bertemu dengan Tuan Damar?" tanya anak muda itu kepada seorang petugas.
"Tuan Damar siapa?" Polisi malah balik bertanya.
"Tuan Damar, Ceo Grup Santika!"
Polisi terdiam dan memerhatikan anak muda itu.
"Kamu siapanya?" tanya Polisi itu lagi.
"Saya adalah karyawan di perusahaannya, pak!"
"Apa punya kartu karyawannya? Kartu identitas juga!"
Anak muda itu terdiam. Dia gak mau sampai ketahuan kalau memberikan kartu identitasnya.
"Saya mau menanyakan keberadaan Tuan Damar dulu, pak. Saya gak bermaksud menjenguknya!"
Polisi itu semakin curiga dengannya.
"Maaf, kalau Tuan Damar yang kamu maksud itu gak ada disini. Apa kamu gak tahu dimana dia? Kamu kan kerja di perusahaannya?"
Anak muda itu sudah di skakmat. Sepertinya dia harus pergi secepatnya.
"Baik, pak. Nanti saya tanyakan kepada atasan saya!"
Denny melihat anak muda itu pergi. Dia juga gak akan menanyakan soal Tuan Damar lagi. Keberadaannya sangat dirahasiakan.
Ketika sampai di parkiran, Denny sengaja berjalan di dekat mobil Saskia. Anak muda tadi langsung masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Saskia sangat terkejut ketika melihat Denny. Dia memilih bersembunyi. Apa Denny tahu kalau dia ada di tempat itu juga? Tumben aja tadi Denny menghubunginya. Padahal mereka sudah lama tidak berkomunikasi. Sejak Saskia memutuskan hubungan mereka dan menikah dengan Tuan Arya.
🤔🤔🤔🤔🤔