
Luna hanya duduk di pojokan ruang jeruji di kantor polisi. Meskipun sudah mengatakan gak bersalah, dia tetap harus menginap di sana.
Kejadiannya hampir sama dengan yang dialami Luna ketika masih bekerja di kantor papanya Yuki. Saat itu, luna memilih mengalah meski gak melakukan kesalahan. Apakah kali ini Luna harus mengalah lagi dan harus di penjara? Apa sekarang sedang bermimpi?
Tanpa sadar Luna mencubit pipinya, "aaauch!" teriaknya. Ternyata pipinya terasa sakit, berarti dia gak mimpi.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa. Luna mencari tahu siapa yang sudah menertawakannya. Di pojokan lain, seorang perempuan muda tengah melihat Luna sambil tertawa. Tampangnya sedikit lusuh namun lekuk wajahnya kelihatan kecantikannya.
"Apa kamu kira sekarang sedang mimpi? Ini kenyataan!" ujarnya sambil membetulkan posisi duduknya menghadap Luna.
Luna jadi malu sendiri. Sangat aneh memang menyangka semuanya hanya mimpi. Tapi memang seperti itulah yang dirasakannya. Hanya dalam sebulan sudah berakhir di penjara.
"Oh, iya. Aku hanya iseng aja, kok!" jawab Luna menutupi rasa malunya. Dia memerhatikan perempuan itu seperti gak asing.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu pernah melihatku di salah satu majalah?" tanyanya sambil nyengir. Giginya putih dan rata seperti gigi para model.
"Majalah? Mungkin iya. Apa kamu pernah menjadi model?" tanya Luna sambil terus memerhatikannya. Tubuhnya langsing dan kulitnya bersih meski penampilannya sedikit berantakan.
Perempuan itu kembali tertawa, "iya, aku memang seorang model. Aku lagi apes aja jadi ada disini! Lalu, kamu juga kenapa bisa masuk kesini? Penampilanmu cukup rapi. Tapi ..., kenapa baumu amis begini?" tanya perempuan itu kepo. Dia melihat Luna bukan orang biasa.
Luna terdiam dan melihat bajunya yang masih ada noda darah.
"Aku dituduh membunuh orang!" jawab Luna singkat.
"Astaga? Jadi kamu pembunuh?" Perempuan itu sangat terkejut dengar jawaban Luna.
"Bukan, bukan! Ada yang menjebakku. Aku menemui seorang laki-laki dan dia sudah tertusuk pisau di perutnya, kemudian aku mencabutnya. Setelah itu istrinya datang dan menuduhku sudah membunuhnya!" jelas Luna.
Perempuan itu terdiam, "kenapa istrinya datang tepat sekali? Apa dia yang sudah menjebak kamu?" tanyanya polos.
Luna baru sadar ketika mendengar perkataan perempuan itu.
"Aku gak tahu pasti. Dia datang bersama polisi! Kenapa kejadiannya tepat sekali, ya?" tanyanya kebingungan.
"Aakh! Aku aja yang orang awam bisa menebaknya. Sangat jelas kalau istri laki-laki itu yang sudah menjebakmu. Jangan-jangan, dia juga yang sudah menusukan pisau itu kepada suaminya!"
Luna manggut-manggut. Kemudian perhatiannya kembali ke perempuan itu.
__ADS_1
"Siapa namamu?"
Perempuan itu tersenyum, "aku adalah Angela, nama panggungku Princess Angel!"
Astaga! Luna merasa tubuhnya gemetar mendengar nama itu. Ternyata dia adalah model yang dulu selingkuh dengan Jion!
"Ya! Aku pernah melihatmu beberapa kali di majalah. Kamu pacarnya artis Jion, kan? Apa kalian sudah menikah?" tanya Luna pura-pura gak kenal Jion.
"Jion?" Angela malah terbahak mendengar namanya.
"Kenapa kamu tertawa? Aku dengar kalian dulu sangat dekat!"
"Jion itu cowok pesakitan. Dia terobsesi dengan mantan pacarnya yang bernama Luna. Aku sampai bosan mendengar namanya selalu disebut. Makanya aku memilih meninggalkannya!"
Luna terdiam. Apakah Jion seperti itu? Apakah dia masih memikirkan Luna sampai sekarang?
"Memang seperti itu seorang artis. Gak bisa dipegang hatinya. Terus kenapa kamu ada disini?" Luna juga jadi kepo.
"Aku sedang memakai narkoba bersama teman-temanku. Sialan! Ada seseorang yang mengadukan kami. Polisi menggerebek kami semalam. Jadi, disinilah aku!" jawab Angela tanpa penyesalan sedikitpun. Sepertinya, dia hanya korban narkoba bukan pengedar.
"Mintalah hukuman rehabilitasi. Kamu masih punya masa depan dan membangun karirmu lagi. Kalau sudah sembuh, hubungi aku. Mungkin aku akan sedikit membantumu!"
"Kau ini sangat aneh. Pikirkanlah dirimu sendiri! Hukuman karena.membunuh itu sangat berat. Bisa hukuman mati!"
Deg! Luna baru sadar kalau dirinya juga seorang pesakitan. Bukan hanya tubuhnya yang kini sedang terkurung, tapi juga hatinya. Hukuman mati? Apakah sampai disini akhir hidupnya?
*****
Yuki semakin resah ketika teringat ucapan Jion bahwa dia masih memegang video Cctv yang berhubungan dengan Luna dulu. Bukankah video itu sudah dimusnahkan? Mungkin Jion hanya menggertaknya saja. Dulu, dia sudah memerintahkan sekuriti untuk menghapus video itu.
Setelah disidang, Luna memilih mengundurkan diri dari perusahaan papanya. Jion menemuinya untuk mengatakan sesuatu.
"Apa maumu? Kamu mau membela kekasihmu itu?" tanya Yuki ketika Jion menemuinya di cafe. Saat itu, Jion memang masih berstatus pacar Luna.
"Aku akan memperlihatkan sesuatu padamu!" jawab Jion sambil mengeluarkan hapenya dan menyodorkannya kepada Yuki.
"Lihatlah! Sangat jelas kalau kamu sudah berbohong. Luna gak pernah merayu Pak Sony. Tapi dia malah menjadi korban. Aku akan mengirimkannya kepada papamu!"
__ADS_1
Yuki sangat terkejut melihat video itu dan segera menghapusnya.
"Buat apa menyimpannya? Luna sudah mengaku salah dan mengundurkan diri!"
Jion diam saja ketika melihat Yuki menghapus video itu. Bahkan dia sedikit tertawa.
"Tapi kamu belum mendapatkan hukuman. Bagaimana kalau papamu tahu soal ini? Kamu akan dihapus dari daftar pewarisnya!" ungkap Jion.
"Apa yang bisa kamu perlihatkan pada papaku? Video itu sudah aku hapus!" ujar Yuki sambil melemparkan hape Jion.
Saat itu, Yuki mengira videonya sudah lenyap. Dia memilih keluar dari perusahaan papanya juga dan membuat perusahaan baru. Dia meminta Sony selalu menyokongnya. Apalagi dia memegang rahasia perbuatan buruknya pada Luna.
Sekarang, Jion mengatakan video itu masih ada. Apa dia berbohong untuk menakutinya? Aakh! Yuki jadi serba salah. Pamannya juga malah hampir mati. Sepertinya bukan Luna yang sudah melukainya. Lalu siapa?
*****
Damar sampai di rumahnya hampir pagi. Mamahnya masih tidur tapi Dayat sudah menunggunya dengan wajah penuh kecemasan.
"Apa yang sudah terjadi, tuan? Saya melihat berita di tv. Apakah itu Nona Luna?" tanya Dayat yang gak bisa mengendalikan rasa ingin tahunya.
"Sssttt! Kamu tenang aja. Jangan sampai mamah mendengar berita itu. Pastikan dia gak melihat berita di tv atau dari hape!"
Dayat mengangguk, "tapi, bagaimana keadaan Nona Luna, tuan?"
"Aku akan berusaha mengeluarkannya dari kantor polisi. Pak ikhsan sedang mengupayakannya. Sepertinya ada seseorang yang menjebaknya!"
"Iya, tuan. Saya yakin Nona Luna gak akan berbuat seperti itu. Saya akan membantu sebisa saya, tuan. Apa yang harus saya lakukan?"
Damar terdiam. Dia sedang memikirkan sesuatu.
"Carilah video Cctv di hotel Horizon. Aku cemas kalau ada yang ingin menghapusnya untuk menutupi jejak!"
"Baik, tuan. Saya akan pergi sekarang juga!"
"Tapi, mang ...."
Dayat langsung bergegas pergi padahal Damar ingin menyuruhnya kalau sudah pagi saja. Meski begitu, dia sangat senang Dayat selalu ada di sampingnya seperti seorang saudara. Ya, seperti seorang kakak!
__ADS_1
❤❤❤❤❤