
Akhirnya Damar merasa yakin kalau bisa membebaskan Luna dari tuduhan. Bukti kuat sudah dipegang sehingga gak ada alasan untuk mengurung Luna lebih lama.
Hanya saja, Damar merasa trenyuh melihat Luna. Wajahnya pucat dan matanya kuyu, "tenanglah, Luna. Aku rasa hari ini juga kamu bisa keluar dari tempat ini. Aku sudah punya bukti kuat kalau ada orang lain yang menjebakmu! Iya kan, Pak Ikhsan?" jelas Damar. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk Luna, namun gak enak ada orang lain diruangan itu.
"Benarkah? Tapi, bukti apa yang kamu temukan?" tanya Luna ingin tahu. Dia mendengar kalau rekaman Cctv audah hilang.
"Iya, Nona Luna. Ada rekaman Cctv sebelum nona datang. Ada seseorang yang sudah menyerang Pak Sony!"
"Tentu saja, pasti orang lain yang melakukannya. Ketika aku datang kondisi Pak Sony sudah tergeletak berlumuran darah!" ujar Luna antusias.
"Baiklah! Saya akan mengurusnya dulu. Maaf, saya permisi!"
Ikhsan segera keluar dari ruangan itu dengan memanggil seorang polisi untuk membuka kunci pintu.
Kini tinggal Luna dan Damar di ruangan itu. Damar menatap Luna tak berkedip. Eeh! Kenapa hati Luna jadi deg-degan ya?
"Jangan pandangi aku seperti itu? Memangnya aku sudah jadi terdakwa!" celetuk Luna mencairkan suasana.
"Aku gak tahu harus bagaimana menghadapimu, Luna. Jika semua selesai, aku akan menikahimu secepatnya!"
Kini, Luna yang menatap Damar lekat. Setelah semua keburukan yang menimpanya, Damar masih memikirkan soal pernikahan.
"Apa kamu masih mau menikahiku? Aku sudah benar-benar hancur," tanya Luna lirih.
Damar menarik napas panjang dan menggenggam tangan Luna.
"Aku mencintaimu tanpa syarat! Kamu harus mempercayaiku," sahut Damar kembali menyakinkan Luna tentang perasaannya.
"Lalu, bagaimana soal pernikahan selama setahun itu? Kamu mau menikahiku hanya karena mamahmu, kan?"
"Akh! Kamu ini. Masa sih kamu masih ingat soal itu. Aku hanya mencari alasan agar bisa menikahimu!" kilah Damar.
Luna terdiam. Sebenarnya dia sudah memikirkan soal tawaran pernikahan kontrak yang pernah dikatakan Damar.
"Bagaimana kalau aku menyetujui pernikahan kontrak itu? Satu tahun cukup mebangun usahaku lagi. Kalau kamu bosan, kita bisa bercerai!"
Damar melotot mendengar ucapan Luna. Kali ini, Luna yang mengajukan syarat pernikahan mereka.
__ADS_1
"Ke-kenapa setahun! Aku memundurkannya menjadi sepuluh tahun bahkan sampai lima puluh tahun!"
"Iikh! Kenapa selama itu? Saat itu aku sudah tua, mana ada yang mau denganku. Kalau setahun, aku masih bisa nyari berondong!"
"Luna!!!" teriak Damar yang hampir meledak.
Sebenarnya Luna hanya bercanda aja, tapi Damar menanggapinya dengan serius. Luna percaya kalau Damar benar-benar mencintainya.
*****
Yuki memikirkan mengapa banyak yang membela Luna. Dia sudah hancur tapi masih ada yang menyayanginya, termasuk Damar.
"Maaf, Nona Yuki. Ada seseorang yang mau bertemu dengan nona!" ungkap sekretaris Yuki.
"Siapa? Aku gak janji dengan siapapun!"
"Aku yang datang!"
Tiba-tiba seorang laki-laki menerobos masuk ke ruang kerja Yuki. Hampir aja, Yuki naik pitam. Namun wajahnya langsung pucat begitu melihatnya.
Yuki tertegun melihat laki-laki yang datang itu adalah papanya. Yaitu Tuan Arya Wiraguna.
"Apa yang papah lakukan di sini? Bukankah lagi di luar negeri dengan istri muda papah?" tanya Yuki keheranan.
Tuan Arya hanya diam aja. Dia langsung di kursi tamu di depan Yuki.
"Sudah berapa lama, Yuki? Tiga tahun atau lima tahun?"
"Maksud papah?"
"Berapa lama sejak perbuatanmu kepada Luna waktu dulu?"
Yuki kebingungan. Apa papahnya tahu soal rekaman Cctv di ruang kerja Om Sony?
"Mengapa papah mengungkit soal Luna? Aku sudah lama gak bertemu dengannya lagi," tanyanya pura-pura gak tahu.
"Papah mendengar kalau Luna masuk penjara karena menjadi tersangka penyerangan kepada Sony. Makanya papah langsung pulang! Sadarlah, Yuki. Apa yang kamu lakukan sudah kelewatan!" ungkap Tuan Arya dengan nada suara tinggi.
__ADS_1
Yuki langsung berdiri begitu mendengar perkataan papahnya. Ternyata papahnya tahu kalau Luna sedang di penjara.
"Memangnya apa yang terjadi pada Luna? Mengapa juga papah langsung menuduhku seperti itu? Papahlah yang sudah kelewatan!" Yuki langsung bereaksi meskipun sedikit berbohong.
"Apa kamu kira papah gak tahu apa yang terjadi waktu itu? Papah tahu Luna gak berbohong. Yang berbohong itu kamu! Sony memang sudah berusaha berbuat tidak senonoh kepada Luna. Sekarang, apa Sony juga sudah menjebaknya?"
Yuki gemetaran mendengar perkataan papahnya. Sekali lagi, papahnya membela Luna.
"Aku gak tahu apa yang terjadi, pah. Itu urusan Luna dengan Om Sony. Bisa juga Luna mau menyerahkan dirinya agar mendapatkan tender dari perusahaan!"
Tuan Arya tersenyum tipis. Akhirnya Yuki membuka rahasianya sendiri.
"Jadi kamu tahu kalau perusahaan Luna mendapat masalah? Baiklah! Selama ini papah diam karena mengharapkan kamu berubah. Ternyata perkiraan papah salah. Kamu tetaplah Yuki yang dulu. Egois dan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginanmu!"
Tuan Arya berdiri dan siap melangkah pergi. Namun, Yuki menghadang jalannya.
"Papah juga gak pernah berubah! Selalu membela Luna. Apa aku ini bukan puteri papah? Apa Luna yang sebenarnya puteri papah?!"
Tuan Arya menarik napas panjang.
"Memang seharusnya Lunalah yang menjadi puteriku. Entah kamu itu menuruni sifat siapa? Mungkin dari mamahmu atau Sony!"
Yuki terdiam dan membiarkan papahnya pergi. Selalu pertengkaran yang sama. Dari mana papahnya tahu soal rekaman itu? Jangan-jangan, Jion yang sudah memberikannya!
Yuki segera menghubungi Jion dari hapenya.
"Hallo, Jion. Apa kamu yang sudah memberitahu papaku soal rekaman Cctv itu?" tanyanya geram.
Jion agak bingung dengan perkataan Yuki.
"Aku gak pernah bertemu papamu. Sangat kebetulan sekali! Aku akan menemuinya sekarang dan memberikan rekaman itu!" Jion malah mengancam.
"Sialan kamu, Jion! Awas aja kalau kamu melakukan itu. Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Yuki jadi tambah murka.
"Kamu mau apa? Apa membunuhku seperti yang terjadi pada istri papahmu yang dulu?"
Deg! Jion ngomong apa? Jangan-jangan, dia tahu soal istri papahnya sebelum menikah dengan mamahnya!
__ADS_1