TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MENGURAI BENANG KUSUT #2


__ADS_3

Damar kembali kepada rutinitasnya di perusahaan. Rani sedang sibuk pindahan rumah sehingga dia mengurus semua sendirian. Untung saja Rani sudah menyiapkan semuanya, apalagi kemarin Damar gak masuk kerja.


"Maaf, Tuan Damar. Ada tamu yang mau menemui tuan!" ungkap Riska, asisten Rani.


Damar mengeryitkan keningnya, "siapa? Aku gak ada jadwal bertemu siapapun hari ini!"


"Seorang wanita, tuan. Katanya mau melamar kerja sebagai asisten pribadi tuan!"


"Asisten pribadiku? Aku sudah ada Rani. Hhmm apa mamahku yang mengirimnya? Suruh masuk aja!"


Damar jadi penasaran siapa wanita itu. Apa mamahnya juga berniat menggantikan posisi Rani?


Seorang wanita masuk dan langsung berdiri di depan meja Damar tanpa bicara sedikitpun.


"Katakan apa maksudmu menemuiku? Apa mamahku yang sudah mengirimmu? Saat ini aku gak memerlukan asisten pribadi!" jelas Damar sambil memeriksa berkas di mejanya tanpa melihat ke arah wanita itu.


"Bagaimana kalau asisten pribadi di rumah tuan aja!" sahut wanita itu.


Damar merasa mengenali suaranya. Dia pun segera mendongak.


"Astaga! Kamu cantik sekali. Ya, sudah. Aku langsung menerima lamaranmu tapi bukan sebagai aspri, melainkan sebagai istriku!" ujar Damar sambil bergurau.


Ternyata yang datang adalah Luna. Dia hanya nyengir aja mendengar ucapan Damar.


"Apa aku bisa lolos kalau melamar jadi istrimu? Aku yakin kriterianya pasti harus sempurna!" ucap Luna juga sambil bercanda.


Damar menatap Luna lekat kemudian berjalan mendekatinya. Malah Luna jadi gelisah. Takut Damar melakukan sesuatu dan dilihat orang lain.


"Cuma satu syarat aja, kok. Aku mau hadiah seperti kemarin. Pasti aku langsung menerima lamaranmu!"


Damar langsung mendekap Luna yang menjadi pucat.


"Damar! Jangan lakukan itu disini. Aku gak mau semua karyawanmu jadi heboh!"


Damar gak bereaksi dengan ucapan Luna.


"Biarin aja mereka mau ngomong apa! Yang penting aku hanya menginginkan kamu seorang!"


Dekapan Damar semakin erat. Luna berusaha berontak dan menyesal mengapa menemui Damar.


"Lepaskan Damar! Cepatlah kerjakan tugasmu. Atau aku pergi sendiri aja menemui Tuan Arya!"


"Apa sekarang juga?"


"Iya, beliau mengundang kita makan malam di restoran Hotel Santika!"


"Hotel Santika? Aku harus memberitahu managernya untuk memberikan fasilitas dan pelayanan yang terbaik. Tapi, berikan aku doping dulu. Badanku sakit semua karena seharian duduk disini. Bahkan aku gak sempat makan siang!"

__ADS_1


"Gak makan siang? Kenapa begitu? Nanti kamu malah sakit!"


Luna sangat cemas mendengar omongan Damar.


"Makanya berikan aku doping!"


"Doping? Apa obat atau perlu aku membelikan makan sekarang?"


Damar menggeleng dan hanya menunjukan bibirnya.


Luna bukan gak tahu apa yang dimaksud Damar.


"Ya, sudah. Mejamkan matamu!"


Damar sangat antusias dan segera memejamkan matanya. Tiba-tiba, Luna mencium pipinya!


"Kok disitu? Disini!" ucap Damar yang kembali menunjukan bibirnya.


"Disitu juga cukup. Aku tunggu diluar, ya!"


Damar segera menarik tangan Luna dan memeluknya erat.


"Aku sangat senang kamu disini. Jadi, jangan pergi kemanapun. Aku janji sebentar lagi pekerjaanku juga selesai!" bisik Damar.


Akhirnya Luna menyerah. Dia pun menuruti perkataan Damar dan menemaninya bekerja. Bahkan dia membantu Damar memeriksa berkas-berkas yang masih menumpuk. Gak sampai setengah jam, akhirnya pekerjaan Damar pun selesai juga.


*****


Sepertinya, Yulia mengetahui hubungan mereka. Makanya malam itu, dia ke hotel Horizon. Namun, yang dia lihat adalah Luna. Sony sangat menyesal karena Luna menjadi kambing hitam masalahnya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuka pintu. Mungkin dia adalah perawat. Sony berpura-pura memejamkan mata. Suara langkah orang itu semakin dekat.


"Seharusnya kamu mati! Kenapa kamu masih hidup?"


Sony tercengang mendengar suara itu. Ternyata yang datang adalah Wanda. Kenapa dia sangat ingin membunuhnya?


Wanda datang dengan membawa sebuah jarum suntik yang sudah berisi cairan beracun. Dia melihat Sony sedang tertidur lelap. Kesempatan bagus! Dia pun segera menyuntikan cairan itu ke selang infus. Dia sangat yakin kalau nyawa Sony sebentar lagi akan hilang. Termasuk juga penderitaannya yang selama ini ditahan.


Wanda teringat ketika membawa Sony yang sedang mabuk ke dalam kamar hotel. Namun, Sony malah merenggut mahkotanya. Malam itu gak akan dilupakan Wanda. Mengira gak akan pernah mengalaminya lagi.


Namun, kejadian itu terulang sampai beberapa kali. Akhirnya, Wanda menyerah dan menjadi simpanan Sony. Sudah terlanjur basah. Dia hanya ingin memanfaatkan penderitaannya. Mengira kalau Sony hanya akan menjadikannya wanita satu-satunya. Ternyata perkiraannya salah. Sony mulai bosan dengannya bahkan membawa perempuan lain.


"Kamu gak akan menyakiti siapapun lagi, Tuan Sony!" ucap Wanda sebelum pergi.


Sony mulai merasakan pengaruh cairan itu. Dadanya terasa sangat panas seakan mau meledak. Napasnya terasa sesak dan jantungnya berdeyut semakin lemah. Apakah ajalnya sudah tiba?


*****

__ADS_1


Rani masih berbelanja bersama Dayat. Si kecil Syakira juga bersama mereka. Saat ini ayahnya sedang pergi karena ada pekerjaan di luar kota.


"Aku capek!" keluh Syakira setelah berkeliling mall.


"Ayo kita pulang aja. Lagipula sudah malam!" ucap Rani yang gak tega melihat Syakira terduduk lemas di lantai.


"Tapi, kita belum makan. Perutku sudah kelaparan!" ungkap Dayat yang mendadak seperti anak kecil.


"Iya, bu. Aku juga lapar!" Syakira juga mengelus perutnya.


"Ya, sudah. Kita makan dulu!"


"Asyiiik! Ayo, Syakira. Naiklah ke punggung om!"


"Asyiiik! Makasih ya, om," ucap Syakira lang langsung naik ke punggung Dayat.


Rani tertegun melihat Dayat yang sangat senang menggendong Syakira. Dia gak menyangka kalau Dayat menyukai anak kecil juga.


Namun baru beberapa langkah, seseorang menegurnya.


"Rani!"


Rani pun menoleh. Ternyata dia adalah Agung. Papanya Syakira.


"Mas Agung? Kenapa ada disini?"


Agung tersenyum, "aku sengaja menyusul kalian. Mana Syakira?" tanyanya sambil celingukan mencari puterinya.


"Itu, sedang digendong Mang Dayat!"


Agung melihat seorang laki-laki sedang menggendong gadis kecil. Dia gak menyangka Syakira mau digendong orang yang gak dikenalnya. Biasanya dia selalu menjaga jarak.


"Oh! Aku gak pernah melihat Syakira akrab dengan orang lain apalagi mau digendong! Berarti dia nyaman dengan orang itu," ungkap Agung.


"Syakiraa! Lihat ini siapa?" panggil Rani yang gak bisa Agung menunggu lama.


Syakira pun menoleh, "papaaa ...!"


Dayat melihat papahnya Syakira berdiri di samping Rani. Dia pun segera menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya.


Syakira pun segera berlari dan memeluk papahnya. Dayat merasa keberadaannya sudah gak diperlukan lagi.


"Baiklah! Sebaiknya aku pergi menjemput bibikmu. Kalian lanjutkan makan aja. Kasihan Syakira kelaparan!" ucap Dayat yang merasa gak nyaman lagi.


"Kenapa pergi? Kenapa kita gak makan bareng aja?" tanya Agung.


"Sudah malam, sebaiknya aku pergi duluan! Bye-bye nona kecil, nanti kita ketemu lagi, ya!" ucap Dayat sambil melambaikan tangan sebelum pergi.

__ADS_1


Rani gak bisa melarang kepergian Dayat meski ada sesuatu yang bergemuruh di hatinya. Seandainya di hati Rani ada sedikit tempat untuk Dayat, mungkin akan menjadi lain. Sayang, Rani gak merasakan apapun.


❤❤❤❤❤


__ADS_2