
Luna masih terbayang kejadian di restoran. Damar selalu saja memanggilnya dengan sebutan istri. Sebagian hatinya merasa tersanjung, sebagian lagi gak mau terlalu berharap.
Entah mengapa, jantung Luna berdegup kencang jika di dekat Damar. Perasaan itu pernah dirasakannya ketika jatuh cinta kepada Jion. Apakah sekarang Luna juga sedang jatuh cinta?
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di hapenya. Luna segera memeriksa hapenya. Ternyata pesan itu dari CEO GANTENG. Iih, Luna lupa mengganti namanya. Itu adalah Damar.
-- Aku mengirimkan bunga untukmu. Jika kamu terima berarti kamu menerima lamaranku. Kalau kamu gak mau, tetap terima. Bunga itu mahal tahu! --
Gila! Pesan apaan ini? Pikir Luna. Bukannya romantis malah bikin hati Luna kembali panas. Dia pun segera mengganti nama Damar menjadi Bocah Ingusan Menyebalkan.
-- Gak usah repot-repot. Aku juga punya banyak bunga di kebunku! -- jawab Luna.
Gak ada jawaban lagi, padahal jelas pesannya sudah centang biru yang berarti sudah dibaca. Meski pun hatinya bergemuruh, Luna masih menunggu jawaban Damar.
*****
Di rumahnya, Damar tersenyum penuh arti. Dia yakin Luna akan menerima bunga itu. Setiap perempuan pasti akan tersanjung bila mendapatkan bunga.
"Mama sudah tua dan sakit-sakitan, Damar. Cepatlah menikah! Kamu jangan memikirkan Raisa lagi. Dia sudah tenang di alamnya! Temuilah gadis bernama Luna. Mama yakin dia bisa menjadi istri yang baik untukmu!" ucap mamanya terakhir kali.
Luna? Apakah gadis yang sama dengan yang dipikirkan
Damar. Raisa, adalah kekasihnya dulu. Dia meninggal karena sakit. Itulah sebabnya, sampai saat ini Damar gak bisa membuka hatinya. Kecuali dengan Luna!
Malam itu, Damar memikirkan perkataan mamanya. Sebenarnya, Damar mendekati Luna hanya untuk bersenang-senang. Dia sangat suka melihat Luna marah-marah. Di mata Damar, Luna seperti gadis kecil yang lucu.
*****
Gak lama kemudian, apa yang dikatakan Damar benar. Seorang kurir mengantarkan serangkaian bunga yang sangat cantik. Luna tertegun melihatnya. Perkataan Damar kembali terngiang.
"Ada apa, Lun?" tanya Mama Luna yang melihat Luna malah bengong di depan pintu.
"Waah, ada bunga cantik. Kenapa gak diterima, Lun? Kasihan abangnya menunggu. Sudah mama aja yang ngambil!" lanjut Mama Luna ketika melihat rangkaian bunga itu.
"Tunggu, mah. Itu bunga lamaran. Apa mamah mau aku menikah dengan orang yang ngirim bunga itu? Bagaimana kalau dia tua dan jelek?" tanya Luna seakan menakuti mamanya.
__ADS_1
Wajah Mama Luna malah semringah mendengar perkataan Luna.
"Gak apa-apa, terima aja! Dia pasti orang yang penyayang karena sudah memberikan bunga ini. Dari pada kamu jadi perempuan tua! Makasih ya, Bang."
Mama Luna langsung mengambil bunga itu dari abang kurir. Dia hanya cengengesan mendengar ucapan Mama Luna.
Hadeh! Luna jadi serba salah. Perkataan mamanya sangat menusuk hatinya. Masalah lamaran Damar malah membuatnya pusing.
-- Bagaimana? Apa kamu sudah menerima bungaku? --
Damar langsung menanyakan jawaban Luna.
-- Mamaku yang menerima --
Jawab Luna singkat. Dia gak tahu harus berkata apa.
-- Berarti mamamu sudah memberikan restu --
-- Belum tentu. Aku bilang, yang melamarku itu sudah tua dan jelek! --
-- Tahu, aah. Lihat aja nanti! --
Luna langsung meletakan hapenya di bawah bantal. Dia tahu, Damar membalas pesannya lagi. Luna pura-pura gak tahu.
*****
"Ada apa sih, saay? Pagi-pagi manyun begitu? Aura kecantikanmu bisa berkurang, looh!"
Prilly langsung menyambut kedatangan Luna di kantornya.
"Aku pusing, Prilly cantik!" jawab Luna yang langsung duduk di kursinya dengan pasrah.
"Aduh, Saay. Bukannya semalam kamu bertemu cowok yang dijodohkan sama kamu? Apa dia itu udah tua dan jelek?" tanya Prilly sambil duduk di sebelah Luna.
"Iya, Prilly sayang. Dia itu tua dan jelek!" jawab Luna sekenanya.
__ADS_1
"Aah, masa? Bukankah dia itu muda dan tampan, Lun?" Sarah muncul, dia mendengar kalau Damarlah yang datang semalam.
"Apa sih, kak? Orang itu emang tua dan jelek, kok!" jawab Luna berkeras.
Sarah tersenyum melihat sikap Luna, "hhmmm berarti yang aku dengar itu salah. Soalnya aku dengan selentingan kalau semalam Tuan Damar yang datang dan langsung melamar kamu!" jelas Sarah.
Luna tercengang mendengar ucapan Sarah, "bagaimana Kak Sarah tahu soal itu?" tanyanya heran.
"Ada deh! Aku kan punya banyak mata-mata," jawab Sarah cengengesan.
"Haduuh, Lunaaa. Jadi beneran kamu mau nikah sama Ceo ganteng itu? Sudah terima aja. Aku seribu persen setuju, saaay!" teriak Prilly histeris.
Luna kelabakan juga melihat ekspresi Prilly. Takut kalau karyawan lain juga mendengarnya, "sudah, aah. Gak usah diomongin lagi soal itu. Aku jadi ga mood mikirinnya. Bagaimana progress usaha kita? Apa sudah banyak kemajuan?" Luna mengalihkan pembicaraan.
Sarah tertawa melihat sikap Prilly meski Luna biasa aja. Dia tahu kalau Luna sedang galau.
"Setelah penghargaan yang kamu dapatkan, cukup banyak orderan masuk. Kebanyakan dari grup perusahaan calon suamimu itu! Pasti karena pengaruhnya," ledek Sarah.
"Kak Sarah! Bukan karena bocah ingusan itu. Karena produk kita memang bagus dan berkualitas!" sanggah Luna. Dia gak mau selalu dikaitkan dengan Damar.
"Iya-iya. Tentu aja karena pruduk kita yang bagus. Oh iya, berkat asisten Prilly yang baru, ada orderan dari luar negeri yang cukup besar. Apa kita ambil juga?" tanya Sarah yang juga mulai serius.
"Asisten Prilly? Apa betul itu?" tanya Luna antusias.
"Bener, saay. Dia itu lama di luar negeri. Perusahaannya yang lama sedang mencari produsen pakaian musim dingin. Kita bisa mendapatkan kontraknya tanpa tender lagi!" jelas Prilly.
"Apa aman jika gak ikut tender? Di luar negeri kan banyak produsen pakaian yang bagus dan bermerk?"
"Pasti aman lah, say. Masa sih asistenku itu mau menjerumuskan kita?"
Luna terdiam. Perusahaan mereka memang belum berani melebarkan sayap sampai ke luar negeri.
"Ya sudah. Bicarakan dengan bagian produksi dan keuangan. Semuanya harus dibicarakan serius!"
Luna gak mau memikirkan masalah bocah ingusan itu terus menerus. Dia juga harus memikirkan perusahaannya. Ada baiknya go publik ke luar negeri. Perusahaannya pasti tambah maju.
__ADS_1
❤❤❤❤❤