
Yuki sangat resah karena gak melihat mamahnya di rumah. Dia pun berusaha menghubungi hapenya namun belum ada jawaban juga. Tiba-tiba hapenya bunyi.
"Mamah? Mamah kemana?" tanya Yuki cemas.
"Ma-mamah di rumah Tuan Kenta, Ki. Kemarilah, jemput mamah!" jawab Nyonya Arana dengan suara sedikit gemetar.
"Haduh! Ngapain mamah ke sana lagi? Ya, sudah. Yuki akan jemput sekarang!"
Yuki gak mengerti dengan mamahnya. Kemarin aja sudah pingsan di rumah Tuan Kenta. Tapi kenapa sekarang pergi ke sana lagi?
Baru saja, Yuki mau mengeluarkan mobilnya, Jion muncul. Kebetulan sekali!
"Kamu mau kemana, Ki? Aku antar, ya?"
Jion memang berniat mengajak Yuki makan malam. Setelah tadi siang sudah melamar Yuki secara mendadak, Jion ingin membuat acara yang lebih romantis.
"Kebetulan sekali! Mamahku ada dirumahmu, Jion. Entah apa yang dilakukan mamah disana!" jelas Yuki yang sangat mencemaskan mamahnya.
"Ke rumahku? Tapi papahku gak bilang apa-apa!"
"Aku jadi bingung dengan mereka berdua. Apa sih yang mereka sembunyikan?"
"Ya, sudah. Aku akan mengantarkan kamu ke rumahku!"
Yuki segera masuk ke dalam mobil Jion. Baru saja akan berangkat, Jion menerima pesan.
-- Tuan muda ditunggu tuan besar di rumah!
Ternyata Denny yang mengirim pesan itu.
"Ada apa?" tanya Yuki melihat wajah Jion berubah.
"Dari asisten papah. Aku ditunggu papah di rumah!"
"Jadi mereka sengaja menyuruh kita ke rumahmu. Mungkin karena tadi aku cerita kalau kamu melamarku. Apa mereka gak setuju, ya? Soalnya sikap mamah tadi sangat aneh!"
Jion diam saja. Sebenarnya dulu papahnya menyuruh Jion untuk mendekati Yuki karena pewaris Tuan Arya. Tapi sekarang Jion benar-benar tulus mencintai Yuki. Bukan karena Yuki seorang pewaris.
Gak lama kemudian Jion sampai di rumahnya.
"Mamah! Apa apa, mah?"
Yuki langsung menghambur ke arah mamahnya dan memeluknya kencang. Mengira kalau mamahnya itu sakit lagi.
"Mamah gak apa-apa, Ki!"
Jion melihat papahnya juga ada disana. Sebuah senyuman mengembang di sudut bibirnya. Jion malah merasa aneh dengan senyuman papahnya itu.
"Aku baru tahu kalau kamu sudah melamar Yuki, Jion!" ucap Tuan Kenta ringan sambil menepuk bahu Jion.
Tuan Kenta dan Nyonya Arana sepakat untuk menyembunyikan soal status Yuki. Mereka akan melakukan tes DNA agar lebih yakin.
"Iya, pah. Tadi aku langsung mengumumkannya di depan wartawan. Maaf gak memberitahu sebelumnya. Maafkan saya juga Nyonya Arana!" ucap Jion.
Nyonya Arana tersenyum, "kalian sudah dewasa dan pantas bahagia. Mamah harap kalian akan bahagia selamanya!"
__ADS_1
"Mamah! Bukankah ketika Yuki cerita soal lamaran Jion tadi mamah kurang suka? Kenapa sekarang jadi berbeda?"
Yuki semakin heran dengan sikap mamahnya.
"Mamah sudah banyak bicara dengan Tuan Kenta. Mulai sekarang, mamah akan selalu mendukung kalian!" tegas Nyonya Arana. Dia sudah merasa tenang setelah bicara dengan Tuan Kenta.
Jion merasa tenang semua berjalan lancar. Apapun alasannya, dia akan selalu menjaga Yuki dan puterinya. Meski cintanya gak sebesar seperti kepada Luna namun Jion berharap akan selalu bahagia bersama Yuki.
*****
Hari sudah malam. Rani masih berada di sisi pembaringan si kecil Syakira yang tengah tertidur nyenyak. Kondisi kesehatannya sudah stabil bahkan seharian bisa bermain dengan penuh keceriaan. Entah kenapa, Rani masih enggan untuk meninggalkannya.
"Apa Syakira sudah tidur?"
Tiba-tiba, Agung muncul. Membuat lamunan Rani buyar.
"Sudah, mas. Bagaimana dengan Syaqil?"
"Syaqil juga sudah tidur. Bagaimana denganmu? Kamu juga perlu istirahat!"
"Iya, mas. Sepertinya besok saya akan masuk kerja. Apa Syakira sudah gak apa-apa kalau saya tinggal?"
Agung terdiam. Dia malah yang gak rela kalau Rani pergi.
"Syakira sudah baikan. Tapi, aku berharap kamu akan kembali lagi. Kali ini, demi aku!"
Kini, Rani yang terdiam. Apa maksud perkataan Agung barusan.
"Maksud Mas Agung?"
"Aku harap, jika kamu kembali lagi bukan hanya untuk anak-anakku tapi juga karena aku. Aku sudah terlalu tua untuk bucin. Tapi aku harap, kamu juga memikirkan aku!"
Deg deg ....
Rani merasakan jantingnya berdegup kencang.
"Maksud cincin itu, apakah Mas Agung melamar saya?" tanya Rani langsung. Dia gak mau mengira lebih lama lagi.
Agung tersenyum malu. Dia seperti anak abg yang lagi nembak cinta pertamanya.
"Tentu saja seperti itu, apa kamu mau menikah denganku?"
"Tentu aja mauu. Iya kan, buu?"
Rani berjingkrak kaget ketika Syakira tiba-tiba berteriak kencang. Ditatapnya wajah mungil gadis kecil itu. Matanya mengerjap menunggu jawaban. Rani serasa menyelam di dalam kolam di bulat matanya yang penuh dengan harapan. Seperti juga Rani yang merindukan sebuah keluarga.
"Baiklah! Aku menerima lamaran papamu, sayang!" ucap Rani penuh keyakinan.
"Asyiiik, akhirnya aku punya mamah juga!" teriak Syakira sampai lupa sakitnya dan melompat-lompat di atas kasur.
Agung gak tahu sedih atau bahagia. Semua bercampur jadi satu. Akhirnya, kebahagiaannya akan dilengkapi dengan cinta Rani.
Rani diam saja ketika Agung meraih tangannya dan menyematkan cincin indah itu di jari manisnya. Sudah waktunya untuk menyambut hari baru dengan penuh kebahagiaan.
"Terima kasih, mas!" ucap Rani lembut. Matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku yang harus berterima kasih karena kamu mau mencintai anak-anakku. Aku harap suatu hari nanti, kamu akan mencintaiku juga!"
Rani tertegun mendengar ucapan Agung. Ya! Hatinya masih menyimpan sebongkah cinta untuk Damar. Saatnya untuk melepaskannya.
*****
"Besok acara pernikahan temanku Tuan Ken dan Nona Ara. Aku harap kita akan kesana bersama. Aku bosan kalau pergi sendirian!" ungkap Damar ketika mobilnya berhenti tepat di depan rumah Luna.
"Tentu aja aku akan pergi. Mereka adalah pelanggan butikku yang pertama. Aku gak sabar melihat gaun yang dipakai Nona Ara. Dia pasti cantik sekali!" sahut Luna sambil membuka pintu mobil.
"Sebentar lagi, aku masih kangen!" ucap Damar seraya mengunci sentral mobilnya.
"Damar! Kita kan sudah seharian sama-sama. Emang kamu gak bosan?"
"Nggak, kok. Aku juga heran kenapa selalu kangen sama kamu. Aach, malam ini aku pasti gak bisa tidur!" cetus Damar.
"Gak bisa tidur gimana? Semalam aja kamu molor di kamar Luky sampai pagi!"
"Kalau semalam aku itu memang lagi kecapean. Aku lagi mikirin kamu eeh kebablasan!" Damar nyengir. Dia juga gak sadar kalau sudah tertidur di kamar adiknya Luna.
"Sudah aach. Aku cape tahu! Aku juga pengen tidur," ucap Luna sambil menekan tombol sentral lock mobil Damar.
"Tunggu!" cegah Damar.
"Apa lagi?"
Damar memonyongkan mulutnya. Luna malah melotot.
"Gak aach! Tuh mamah lagi ngintip di jendela. Bahaya tahu!" ucap Luna yang tadi sekilas melihat bayangan mamahnya.
"Ya, sudah. Besok pagi aja di kantorku!"
"Eeh, siapa bilang aku ke kantormu lagi?!"
"Tentu aja kamu menemani aku lagi. Kalo gak aku akan menginap di rumahmu!"
"Damar!"
Dug dug dug ....
Terdengar suara dari jendela mobil. Luna menoleh dan melihat mamahnya dengan mata melotot.
"Tuch kan ada mamah. Sudah, aku mau keluar!"
"Iya-iya!" Damar segera membuka pintu mobilnya.
"Maaf, mah. Tadi banyak kerjaan dikantor jadi Luna pulangnya malam!" sungut Damar.
"Iya, Nak Damar. Apa kamu mau mampir?"
Luna cepat menggeleng. Berharap Damar menolak ajakan mamahnya. Sepertinya Damar mengerti kode Luna.
"Maaf, mah. Saya mau pulang aja. Bisa-bisa ketiduran lagi kayak semalam!" jawab Damar sambil nyengir.
Luna bisa bernapas lega karena Damar akan pulang ke rumahnya sendiri. Siapa sih yang mau serumah dengan Ceo setampan Damar? Hanya saja, Luna takut kebablasan!
__ADS_1
❤❤❤❤❤