TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
TERPURUK #2


__ADS_3

Luna benar-benar lemas. Kakinya bahkan gak bisa berdiri. Dia hanya terduduk lemah di belakang meja kantornya.


"Aku akan mengupayakan segala hal agar kita terhindar dari kerugian besar. Setidaknya, kita gak disomasi pihak bank!"


Luna hanya diam saja ketika Sarah mengutarakan rencananya. Mata dan telinga Luna seakan gak berfungsi. Bahkan air matanya gak bisa keluar lagi.


"Iya, kak. Lakukanlah sebisanya. Aku pusing!"


Luna berniat untuk bangkit dari tempat duduknya. Namun, tubuhnya limbung dan matanya menjadi gelap. Luna kembali duduk. Yang dia inginkan hanya terpejam.


Sarah sangat panik melihat keadaan Luna, "Luna! Bangun, Lun. Kamu kenapa?" tanyanya sambil menggoyangkan badan Luna. Namun Luna hanya diam saja. Ternyata Luna sudah pingsan.


Beberapa saat kemudian, Luna membuka mata dan tersadar kalau sedang di rumah sakit. Di sebelahnya ada Sarah yang selalu menjaganya.


"Kak Sarah," panggil Luna pelan.


"Kamu udah sadar, Lun? Maafkan aku, ya. Aku yang salah sudah membuatmu jadi begini," ungkap Sarah yang gak bisa menahan rasa bersalahnya. Air matanya deras mengalir tak terbendung lagi.


"Sudahlah, kak. Aku hanya kelelahan aja. Tapi, tolong jangan bilangin mamah. Aku takut mamah sakit lagi. Juga kalau Damar telpon, bilang aja aku lagi sibuk!" jelas Luna yang gak mau orang lain ikut khawatir.


Mendengar nama Damar, Sarah jadi memikirkan sesuatu. Dia pun segera menghapus airmatanya.


"Apa seharusnya ngomong sama Damar, Lun. Dia pasti bisa ngasih solusi. Koneksi dia kan banyak, pasti bisa menemukan orang yang sudah menipu kita!" saran Sarah.


"Jangan, kak. Aku gak mau menyusahkannya. Lebih baik kita mengikuti jalur hukum yang ada. Aku yakin keadaan kita akan kembali seperti semula!" jawab Luna yang memang gak mau melibatkan Damar dalam masalahnya.


Hatinya masih terasa pedih ketika teringat bagaimana sikap Damar di rumahnya. Dia sangat marah ketika Luna masuk ke kamarnya. Juga dengan foto pacar Damar yang ada di laptop. Semuanya itu membuat hati Luna selalu bergemuruh.


Saat ini, gak ada yang bisa dilakukan Luna. Dia benar-benar terpuruk. Yang bisa dilakukannya hanyalah pasrah. Besok pasti akan ada jalan.

__ADS_1


Malam itu Luna menginap di rumah sakit. Sarah mengabarkan kepada Mama Luna kalau Luna ada pekerjaan di luar kota. Seorangpun gak boleh ada yang tahu apa yang terjadi dengan Luna.


*****


"Siapa yang sudah masuk ke kamarku, Mang?" Damar masih penasaran dan menanyakannya kepada Mang Dayat.


"Tadi sih, Nyonya masuk sebentar, Tuan. Tapi, sebelumnya Nona Luna juga pernah masuk. Katanya disuruh Nyonya," jawab Mang Dayat yang selalu jujur.


Damar tertegun. Jangan-jangan, Luna yang sudah membuka laptopnya.


"Ya, sudah. Nanti kalau perlu aku tanyakan lagi, mang!" kata Damar lagi.


"Baik, Tuan. Saya permisi," ucap Mang Dayat sebelum pergi.


"Tunggu, mang. Apa Rani sudah pulang?" tanya Damar yang sedikit mencemaskan Rani. Seharian ini, dia gak kelihatan.


"Sudah, Tuan. Kayaknya ada di kamarnya!"


Sudah hampir jam sebelas malam. Damar semakin gelisah. Bisa jadi Luna sudah melihat foto-fotonya bersama Anna. Mungkin itulah sebabnya, sikap Luna sedikit berubah. Apalagi Damar sempat membentak Luna. Aakh! Damar merasa sangat menyesal dengan kelakuannya.


Sudah waktunya melupakan masa lalu. Yang harus dikejar adalah masa depannya bersama Luna. Damar gak mau kehilangan orang yang dicintainya lagi. Eeh! Cinta? Jadi selama ini, Damar beneran jatuh cinta dengan Luna?


Damar mengambil hapenya dan menekan nomor hape Luna. Disana tertera panggilan kesayangannya, My Love. Ternyata Damar sebucin itu dengan Luna.


Namun, hape Luna sudah gak aktif. Mungkin Luna sudah tidur. Damar hanya ingin memastikan keadaannya. Berharap kalau Luna gak marah dengan kejadian barusan.


*****


"Lihatlah brosur rumah itu, Ran. Pilihlah salah satu yang kamu suka!"

__ADS_1


Pagi-pagi, Nyonya Kamaratih sudah memanggil Rani ke kamar tidurnya.


"Brosur rumah? Buat siapa, Nyonya?" tanya Rani penasaran.


"Tentu aja buat kamu. Sudah saatnya kamu punya rumah sendiri. Aku akan membelikannya buatmu karena sudah bekerja keras membantu Damar! Lagipula, sebentar lagi, Damar akan menikah. Istrinya pasti gak suka kalau ada gadis lain di rumah ini!" jelas Nyonya Kamaratih.


Deg! Ternyata itu adalah alasannya mengapa tiba-tiba Rani disuruh melihat brosur rumah. Ternyata, Nyonya Kamaratih menyuruhnya pindah tapi dengan cara halus.


"Baik, nyonya. Saya akan melihatnya nanti. Sekarang saya harus ke kantor!" Rani mengambil brosur rumah itu sebelum pergi.


Kali ini, Rani gak mau membantah. Dia sudah pasrah apa yang akan terjadi padanya.


Di dalam mobil, Damar sudah menunggu. Dia melihat raut wajah Rani yang kelihatan sedih.


"Ada apa, Ran. Mengapa mamah memanggilmu?" tanya Damar ingin tahu.


"Gak apa-apa, tuan. Nyonya hanya memberikan ini!" Rani menunjukan brosur rumah yang diberikan Nyonya Kamaratih.


"Apa itu brosur rumah?" Damar langsung tahu meski melihatnya sekilas.


"Iya, tuan. Kata beliau, saya disuruh memilihnya!"


"Buat apa? Apa mamah menyuruhmu pindah?" Damar langsung tahu maksud mamahnya.


"Iya, tuan. Sebenarnya saya berniat mau pindah ke runah bibik saya. Tapi, nyonya menyuruh saya membeli rumah saja!" jawab Rani yang gak mau menjelekan Nyonya Kamaratih.


Damar terdiam. Dia tahu sifat mamahnya. Tapi, bukan itu yang Damar khawatirkan. Luna pasti pernah memikirkan soal Rani. Sepertinya, dia sempat cemburu karena Rani selalu didekatnya. Damar memang gak bisa lepas dari Rani. Dia sudah ada sejak Damar mulai bekerja di perusahaan papanya.


"Oh, iya. Tolong cari tahu kabar perusahaan Luna. Aku punya perasaan gak enak karena mendengar soal rumor tentang perusahaan yang bekerja sama dengannya!"

__ADS_1


"Baik, tuan!" jawab Rani singkat. Dia tahu kalau Damar sangat mencemaskan Luna. Setelah sekian lama, akhirnya Damar memikirkan gadis lain selain pacarnya yang dulu. Padahal Rani berharap ada sedikit ruang di hati Damar untuknya.


❤❤❤❤❤


__ADS_2