
Luna sudah yakin akan menikah di rumah sakit. Demi calon mertuanya yang ingin segera melihat mereka menikah. Luna langsung menghubungi mamahnya juga Sarah juga Prilly.
Reaksi mamahnya biasa saja bahkan sangat senang. Terlebih adiknya, yaitu Luky yang memang ingin ke luar negeri. Sarah juga memahami keputusan Luna demi kebaikan semuanya.
Hanya Prilly yang sangat berbeda. Dia sangat panik karena ingin melihat Luna mengenakan gaun rancangannya.
"Hadeh, Lunaaa! Pusing kepalaku. Kenapa harus menikah di sana segala. Lalu bagaimana nasib gaun pengantin yang aku buat untukmu?!" tanya Prilly yang sangat panik.
"Mamahnya Damar sakit parah, Prilly Sayang. Tapi jangan khawatir, nanti aku dan Dama juga mau bikin resepsi di sana. Entah kapan ...."
Akhir perkataan Luna semakin membuat Prilly meradang.
"Lalu kapan? Kapan-kapan begitu?!"
Luna tertawa. Dia tahu kalau reaksi Prilly pasti seheboh itu.
"Tenang aja, saay. Aku punya berita sangat bagus. Kita akan ikut show busana pengantin di sini. Acaranya akhir bulan. Bawa aja gaunku buat pameran dulu. Kalau ada yang naksir berikan aja! Tapi aku lihat harganya sesuai apa gak!"
"No no no! Gaun itu sangat sakral, sayang. Aku membuatnya untukmu dengan sejuta cinta. Okelah! Aku akan membawanya tapi hanya untuk pameran aja. Aku gak akan tega menjualnya kepada orang lain!" tegas Prilly.
"Baiklah, Prilly cantik. Aku akan menyiapkan soal pameran itu. Kalau fix baru akan aku beritahukan kamu lagi!"
Luna menutup hapenya. Setidaknya pameran itu membuat Prilly gak begitu kecewa.
"Pameran disini? Siapa yang memberitahukan kamu soal itu, sayang?"
Luna kaget setengah mati. Dia gak tahu kalau Damar sudah ada di belakangnya. Hanya saja, Damar belum tentu setuju kalau tahu siapa yang memberitahukan Luna.
"Oke, akan aku katakan. Tapi, kamu janji dulu. Apapun yang terjadi kamu pasti akan mendukungku!"
Damar tersenyum, "tentu saja aku akan mendukung kamu, sayang!"
"Hhmmm, kemarin sewaktu aku akan pulang. Di bandara aku bertemu dengan Tuan Sony. Kamu ingat dia kan? Orang yang hampir membuatku masuk penjara!"
__ADS_1
Damar terbelalak. Dia sangat ingat siapa orang itu.
"Tuan Sony? Kamu bertemu dengannya? Apa kamu masih mempercayainya? Dia bahkan pernah melecehkanmu!"
Luna bisa menebak reaksi Damar.
"Tapi, sekarang dia sudah sangat berbeda. Dia tinggal disini bersama istrinya dan bekerja sebagai manager hotel. Istrinya akan membuat pameran busana pengantin. Prilly sudah setuju mau ikut. Setidaknya bisa membuat kecewanya berkurang karena gaun pengantin yang dibuatnya gak bisa dipakai," jelas Luna lebih mendetail.
Damar terdiam. Dia masih geram dengan kejadian yang Luna hadapi sampai masuk penjara karena Sony.
"Tapi hati-hatilah! Jangan terlalu mempercayainya!"
"Jadi, aku boleh ikut pameran itu?"
"Iya-iya. Tapi statusmu harus menjadi istriku baru aku izinkan!"
Luna menatap Damar lekat., terima kasih, sayang. Kali ini, aku akan menuruti semua kemauan kamu!"
Mata Damar langsung berbinar. Otak mesumnya langsung aktif.
"Aku gak sempat! Kita kan ada janji dengan pihak rumah sakit soal tempat menikah nanti!" sahut Luna sambil nyelonong pergi.
"Eeh! Katanya kamu mau melakukan apapun!"
"Bukan itu juga, kaleee!"
Damar mau gak mau mengikuti langkah Luna dengan wajah sedikit ditekuk.
Gak lama kemudian Luna sudah sampai di sebuah ruangan yang gak begitu besar. Paling hanya muat sekitar dua puluh orang.
"Bagaimana? Apa tempatnya cukup?" tanya Damar.
Luna terdiam. Dia membayangkan kalau menikah di tempat itu. Semuanya memang serba sederhana namun sakral.
__ADS_1
"Aku rasa sudah cukup. Gak banyak juga yang akan datang, kan!"
Kini, Damar yang terdiam. Dia malah trenyuh melihat ruangan kecil itu. Sangat berbeda dengan hotel yang dia miliki. Damar mendekati Luna dan menggenggam tangannya.
"Terima kasih, sayang. Kamu mau menerima kemauan mamahku!"
"Gak apa-apa, kok! Jangan terlalu dipikirkan. Yang penting aku akan resmi menjadi Nyonya Damar Wicaksana. Iya, kan?"
Hadeh! Damar hampir hilang ingatan dan memeluk Luna. Beberapa perawat lewat dan memerhatikan mereka. Damar hanya menggenggam tangan Luna lebih erat.
Dari jauh, sebuah bayangan memerhatikan mereka. Dia adalah Anna. Suaminya mengatakan rencana pernikahan Damar di rumah sakit. Sangat aneh! Keluarga kaya malah melakukan pernikahan di tempat yang gak seharusnya.
Anna harus melakukan sesuatu. Dia tahu kelemahan Damar yang gak diketahui siapapun. Pernikahannya dengan Luna gak akan pernah terjadi!
*****
Sementara itu, Rani galau dengan pernikahannya yang sangat mendadak. Dia gak memberitahukan Damar dan Luna. Mereka pasti sangat sibuk dengan kesehatan Nyonya Kamaratih.
Kini, Rani hanya memandangi dirinya di cermin. Kebaya pengantin berwarna putih dan kain batik berwarna senada sudah melekat di tubuhnya. Sebentar lagi, acara pernikahannya akan segera di mulai.
"Saya sangat tegang, bik!" ucap Rani ketika bibiknya masuk ke dalam kamar.
"Tenanglah! Semuanya sudah siap. Syakira dan Syaqil juga ada! Mereka sangat cantik dan ganteng!" sahut Bibik Rani menenangkan.
"Saya merasa bersalah karena gak mengatakan pernikahan saya sama Tuan Damar, bik. Nyonya Kamaratih juga sedang sakit parah! Bahkan saya belum sempat menjenguknya," jelas Rani dengan mata berkaca-kaca.
"Sudahlah, Ran. Yang kamu lihat sekarang adalah keluarga barumu. Ini adalah takdir dan masa depanmu. Jika ada waktu kalian bisa pergi bersama-sama menjenguk Nyonya Kamaratih. Saat itu kamu bisa mengatakan tentang pernikahanmu!" terang Bibik Rani.
Rani mengangguk pelan. Ini adalah takdir cintanya. Dia akan menguntai hari bersama keluarga barunya.
Akhirnya, Rani keluar juga dari kamar. Di depannya sekarang sudah ada keluarganya.
"Ibuuu ...," teriak Syakira yang langsung memeluk Rani.
__ADS_1
Ya! Rani siap menempuh hidup baru bersama suami dan dua anaknya.
❤❤❤❤❤